
Ketika Reza baru saja tiba di ruangannya, pintu terbuka dan memperlihatkan Anton dan Lia yang datang bersamaan.
"Maaf Pak, pagi ini kita ada rapat dengan Dewan Direksi. Mereka ingin tahu mengenai kelanjutan perusahaan kedepannya seperti apa," kata Anton.
Reza menghela nafas panjang. Rapat kali ini pasti akan sangat memakan waktu. Ia juga tidak berhasil membuat Tuan Chris agar mau bekerja sama dengannya, sehingga pasti membuat anggora Direksi menjadi ketar ketir.
"Ayo kita ke ruang rapat sekarang." Reza berjalan dahulu dan dibelakang ada Anton dan Lia yang mengikuti langkah Reza.
Tiba di ruang rapat, tampak seluruh anggota Direksi sudah berkumpul. Raut wajah mereka tampak tegang, memikirkan bagaimana dengan nasib perusahaan dan ribuan karyawan yang terancam terkena PHK.
Rapat dimulai diawali dengan penyampaian Anton yang menjelaskan bahwa Tuan Chris tidak berminat untuk berinvestasi dengan perusahaan mereka yang hampir collapse.
"Lalu bagaimana dengan nasib perusahaan? Kami tidak tahu ada masalah apa sebenarnya antara Pak Reza dengan Pak Wira, sehingga Pak Wira membatalkan kerja sama bahkan membujuk beberapa pemegang saham untuk menarik saham mereka serentak dari perusahaan kita," tanya salah seorang dewan direksi mewakili direksi yang lain.
"Masalah pribadi yang kemudian beliau bawa ke pekerjaan," jawab Reza.
"Saya dengar beliau mengajukan persyaratan agar mau mengembalikan kondisi perusahaan kita. Memang apa syarat dari Pak Wira?" tanya yang lain.
Reza menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Beliau meminta saya untuk menikahi putrinya, Siska."
Ruang rapat tampak sedikit ricuh. Ada yang merasa heran dan kesal, karena masalah percintaan yang mereka anggap sepele bisa mengakibatkan perusahaan hampir collapse.
"Lalu apa masalahnya? Anda hanya tinggal menikahi anaknya saja, maka masalah kita beres. Perusahaan dan karyawan kita semua akan selamat. Anda juga tidak rugi, malah untung karena mendapatkan istri yang cantik dan seksi seperti Nona Siska," jawab salah seorang anggota Direksi yang bernama Wawan. Pria berumur hampir setengah abad itu berbicara sangat ringan tanpa beban. Memang bukan rahasia lagi bahwa pria itu memiliki istri lebih dari satu, bahkan beliau juga memiliki wanita simpanan yang lain.
__ADS_1
"Maksudnya Pak Wawan, anda meminta saya untuk menikahi Siska agar perusahaan selamat?"
"Iya, apa susahnya? Bukankah sebelumnya Pak Reza juga sudah pernah beristri dua? Akur saja kan istri-istri anda. Malah istri kedua anda yang menjadi dokter dari istri pertama Pak Reza. Dokter Dewi wanita berpendidikan, tahu agama juga. Saya rasa beliau pasti mengizinkan Pak Reza untuk menikah lagi dengan Siska, apalagi ini demi keselamatan ribuan karyawan kita."
Ucapan Pak Wawan ini tentu saja mengundang kemarahan dari Reza. Namun pria beranak dua ini berusaha meredam emosinya agar tidak meledak di ruang rapat saat ini. Tetapi justru hal yang tak diduga dilakukan oleh Lia yang duduk di samping Reza.
Gubrak
Lia memukul keras meja yang membuat peserta rapat yang hadir terkejut.
"Hei sekretaris b*d*h, apa yang kamu lakukan?" hardik Pak Wawan.
"Jangan samakan Pak Reza seperti anda yang memang memiliki banyak wanita di sekeliling anda padahal anda sendiri sudah beristri. Apa dengan menikahi nona Siska maka masalah akan selesai begitu saja? Bagaimana kelanjutannya nanti? Apa bisa Pak Reza bekerja seperti biasa kembali? Mohon diingat, sebelum ada masalah ini, Pak Reza sudah membawa keuntungan besar untuk kantong Tuan-Tuan sekalian. Lalu ketika saat ini Pak Reza diterpa masalah, bahkan ini masalah pribadi yang dibawa-bawa oleh pihak sana ke dalam lingkup kerja yang mengakibatkan perusahaan sedang kacau, anda sekalian ingin menumbalkan keluarga Pak Reza agar kantong-kantong anda tetap aman? Tolong dimana hati nurani anda," kata Lia berapi-api.
Wanita yang sedang hamil ini tentu saja sangat menolak keras pernikahan itu. Bukan karena ia memiliki perasaan dengan Reza, tetapi ia tahu bagaimana keluarga Reza yang baru saja kembali bahagia setelah sebelumnya juga diterpa masalah. Dimulai dari istri pertamanya Rena yang meninggal, dan Dewi yang pergi meninggalkannya. Lia tahu semua.
Keluarga Reza sangat baik terhadap ia dan keluarganya. Berawal dari dulu menjadi mahasiswa magang, karena kepintarannya, Lia langsung diterima kerja setelah lulus kuliah. Awalnya ia menjabat sebagai asisten sekretaris Reza yang sebelumnya. Namun si sekretaris harus resign karena hendak ikut suami yang dipindah tugaskan di tempat lain, sehingga Lia naik posisi menjadi sekretaris Reza. Beberapa kali Reza juga membantu biaya pengobatan orangtua Lia yang memang memiliki riwayat penyakit jantung. Sejak itulah ia memutuskan untuk selalu mendukung dan menjaga Reza dari para godaan-godaan setan yang ingin merusak keluarga bosnya.
Reza mengangkat tangannya, meminta Lia untuk berhenti ketika melihat wanita itu hendak menjawab ucapan Pak Wawan.
"Tidak ada yang bisa memecat dan memberhentikan sekretaris saya, kecuali saya sendiri," tegas Reza. Reza tahu maksud dan tujuan Lia sangat baik, namun ia tidak mau Lia ikut-ikutan membelanya dengan cara melawan dewan direksi yang tamak itu.
"Lalu apa solusi selanjutnya dari anda, Pak Reza?"
"Saya akan berusaha untuk mencari investor lain. Saya tegaskan saya tidak akan pernah menikahi anaknya Pak Wira dan menyakiti istri saya yang memang tidak tahu apa-apa dengan masalah ini," tegas Reza.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, Reza langsung keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Lia. Sedangkan Anton masih tertinggal di ruang rapat untuk menutup rapat hari ini.
"Maafkan saya, Pak Reza. Tadi saya terpancing emosinya karena ucapan-ucapan Pak Wawan," kata Lia. Wanita itu berdiri di belakang Reza yang saat ini berdiri menatap ke arah jendela, memperlihatkan jalanan ibukota yang padat diisi oleh kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat.
"Tidak apa-apa. Lain kali saya harap kamu tidak terpancing sehingga kehilangan kontrol seperti tadi."
"Baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf," ucap Lia tulus.
"Hem."
" Lalu kalau boleh saya tahu, selanjutnya bagaimana, Pak?" tanya Lia yang memang penasaran langkah apa yang selanjutnya akan ditempuh oleh Reza.
"Entahlah, saya sendiri juga bingung. Mungkin saya akan menerima jika perusahaan ini akan di akuisisi oleh Pak Wira," lirih Reza.
"Bukankah perusahaan ini peninggalan mendingan orangtua Pak Reza? Apa Pak Reza akan menyerah begitu saja?"
Reza menghela nafas panjang. Memang benar perusahaan ini dibangun dan dirintis oleh kedua mendiang papanya Reza dulu. Setelah meninggal, Reza langsung mengambil alih kepemimpinan dan membuktikan ia mampu membawa perusahaan itu menjadi jaya. Lalu apakah sekarang ia harus menyerahkan begitu saja perusaan ini dengan orang yang sudah menghancurkannya?
Reza mengambil jasnya yang ketika masuk tadi ia sampirkan di kursi kerjanya.
"Pak Reza mau kemana?" tanya Lia yang heran melihat Reza mengambil kunci mobilnya.
"Saya terlalu pusing. Saya mau menemui istri saya dulu."
"Iya, Pak. Temui istri saja dulu biar menambah semangat."
__ADS_1