
"Maaf, kelamaan ya nunggunya," kata Dewi yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Ia baru saja menyelesaikan praktiknya dan segera menyusul Reza yang sudah daritadi menunggunya.
"Ngga apa-apa, akunya juga yang datang kecepatan. Tapi tumben cepat selesainya, hari ini ngga banyak pasien?" tanya Reza yang langsung mematikan komputer kerja milik Dewi. Sembari menunggu Dewi tadi Reza mencoba menghilangkan kebosanan dan kegundahannya dengan memainkan game Solitaire card game di komputer istrinya.
"Iya emang biasanya gitu menjelang akhir pekan sedikit sepi, kecuali hari Senin, beeh membludak kadang, karena banyak yang datang dari daerah juga," jawab Dewi sembari membuka jas dokternya dan menyampirkannya di kursi kerjanya yang saat ini masih di duduki oleh Reza.
"Maaf aku mainin komputer kamu, bosen soalnya tadi," kata Reza yang menarik Dewi untuk duduk di pangkuannya.
"Iya ngga apa-apa, asal jangan dilihat rekam medis pasien Dewi, rahasia soalnya."
"Aku lihat juga ngga ngerti artinya apaan, gambar hitam putih hasil Rontgen, ngga ada keterangannya juga. Mending kalau kurva permintaan dan penawaran, masih paham aku."
"Itusih pelajaran SMP. Udah yuk jalan soalnya nanti kunjungan kamarnya agak banyak." Dewi berdiri dan berjalan ke arah lemari yang terletak di samping untuk mengambil tasnya.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Ketika Reza ingin memutar knop pintu, pintu terbuka dan memperlihatkan dokter Kiki di depannya.
"Ada apa, dokter Kiki?" tanya Dewi. Ia takut dokter Kiki membawa kabar yang mendesak sehingga ia harus membatalkan makan siangnya dengan sang suami.
"Maaf ganggu, dok. Saya cuma mau ngabarin kalau hasil endoskopi Ana sudah keluar," kata dokter Kiki.
"Dan hasilnya?"
Dokter Kiki menghela nafas pendek. "Sesuai perkiraan dokter," lirihnya.
Dewi mengusap wajahnya. Walaupun sudah ia prediksi sebelumnya, namun setelah mendengar langsung hasil pemeriksaan masih membuat ia prihatin akan kondisi gadis kecil itu.
"Yasudah, selesai makan siang kita kunjungi kamar dia dulu. Orangtuanya ada di kamarnya, kan?"
"Tadi pagi mereka pamit untuk balik ke hotel sebentar. Saya rasa sekarang mereka sudah balik ke ruang inap Ana."
"Oke kalau gitu. Saya jalan dulu." Dewi dan Reza beranjak meninggalkan dokter Kiki yang masih berdiri di depan pintu ruangan Dewi.
__ADS_1
Selama perjalanan Dewi kebanyakan diam dan menatap ke samping. Kelemahan Dewi adalah ketika ia harus menghadapi pasien yang masih anak-anak. Mereka terlalu kecil untuk merasakan sakit yang seperti itu.
"Kamu kenapa dari tadi diam?" tanya Reza yang heran melihat istrinya tiba-tiba menjadi pendiam. "Apa karena pasien yang kamu bicarakan tadi sama dokter Kiki?"
Dewi berpindah posisi dan kini menghadap Reza.
"Umurnya baru 8 tahun, cantik banget anaknya, Kak. Pertama kali ketemu dia waktu umurnya 4 tahun, dan pada saat itu dia menjadi pasien Dewi pertama yang anak-anak. Dewi dekat banget sama dia dan ibunya, karena kebetulan ibunya orang Indonesia sedangkan ayahnya orang Singapura. Dewi melihat sendiri bagaimana anak itu dan orangtuanya letih dengan semua pengobatan yang melelahkan. Waktu tahu Ana sembuh, mereka senang sekali bahkan mengirim banyak makanan ke rumah sakit. Terus ngga nyangka sekarang Dewi ketemu mereka lagi, tapi malah ketemu di rumah sakit kembali."
Reza mengambil tangan Dewi untuk ia genggam. "Berarti tugas kamu sekarang untuk bikin anak itu sembuh, dan aku yakin kalau kamu bisa."
"Insya Allah, Dewi akan berusaha agar Ana bisa bermain seperti anak seusianya."
Tak berapa lama mereka sampai di restoran yang mereka tuju. Mereka berjalan beriringan ke dalam restoran. Reza menarik kursi untuk diduduki oleh Dewi barulah kemudian ia juga menarik kursi disebelah Dewi untuk dirinya. Pelayanpun datang untuk mencatat pesanan mereka.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, mereka membincangkan banyak hal. Reza lebih banyak mendengarkan Dewi yang bercerita. Ia sendiri kini merasa waktu yang tepat untuk membicarakan masalahnya, namun ketika ia ingin berbicara makanan pesanan mereka tiba sehingga Reza memutuskan untuk menundanya dulu.
Tak disangka, disaat mereka sedang makan, seorang pria paruh baya menghampiri meja mereka.
"Bukannya mikir gimana kelanjutan perusahaan, malah enak-enak makan bareng istri," cibir pria itu.
"Ini jam istirahat makan siang, tidak ada salahnya saya makan," tegas Reza.
"Siapa, Kak?" tanya Dewi yang sama sekali tidak kenal dengan pria itu.
"Kebetulan kita bertemu disini. Perkenalkan saya Wawan, anggota Direksi di perusahaan suami anda. Ada yang ingin saya bicarakan dengan dokter Dewi," ucapnya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Reza.
"Apa?"
"Jangan macam-macam anda, Pak Wawan," ancam Reza namun tak digubris oleh pria baruh baya itu.
"Saya minta agar dokter Dewi mau membujuk suami anda untuk menikahi anak Tuan Wira agar perusahaan kita ini bisa berdiri kokoh kembali seperti dulu," jelasnya.
__ADS_1
Reza panik, ia takut kalau istrinya ini akan marah karena menganggap dirinya berbohong.
"Sayang, maaf aku belum cerita sama kamu tentang perusahaan. Aku lagi nunggu waktu yang pas tapi belum ketemu juga," jelas Reza. Dewi yang mendengarkan penjelasan Reza hanya diam saja karena dirinya sendiri sudah tahu tentang masalah ini. Kediaman Dewi membuat Reza khawatir, takut istrinya akan marah.
"Saya tidak tahu menahu dengan masalah perusahaan. Kalaupun suami saya menolak pernikahan itu, saya yakin itu keputusan yang tepat. Semua keputusan berada di tangan suami saya, dan saya percaya keputusan suami saya adalah yang tepat," jawab Dewi tegas.
Reza kaget karena bukannya bertanya lebih jauh Dewi malah menanggapi pertanyaan gila dari Pak Wawan.
"Kalau perusahaan sampai gulung tikar, bagaimana? Asal kamu tahu perusahaan itu dirintis dari nol oleh ayahnya Reza dulu," kata Pak Wawan kesal karena ia juga tidak bisa memprovokasi Dewi.
"Saya yakin suami saya tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi."
"Terserah sama kalian, pokoknya kalau sampai terjadi sesuatu, kamu yang harus bertanggung jawab." Pak Wawan pergi meninggalkan meja mereka.
Dewi yang melihat Pak Wawan sudah pergi melanjutkan makannya kembali. Reza menatap heran Dewi yang masih lahap memakan makanannya.
"Wi," lirih Reza.
"Kalau mau ngomong nanti aja, waktu Dewi udah tinggal dikit," potong Dewi.
Akhirnya mau tak mau Reza melanjutkan makannya walaupun selera makannya telah hilang. Tadi ia sempat berhenti makan, namun ia mendapatkan ceramah kultum dari Dewi mengenai makanan sehingga mau tak mau ia pun menghabiskan makanan pesanannya.
Di jalan menuju rumah sakit kembali, Dewi lebih banyak bermain dengan ponselnya. Wanita itu melihat-lihat aplikasi e-commerce tanpa berniat membeli barang apapun. Ragu-ragu akhirnya Reza mulai angkat bicara.
"Maaf tidak memberi tahu kamu."
"Dewi udah tahu semuanya kok."
"Kamu tahu darimana?" tanya Reza heran.
"Mata dan telinga Dewi banyak." Dewi menggeser duduknya dan kini menghadap Reza.
__ADS_1
"Dewi akan dukung apapun keputusan Kak Reza, walaupun itu harus menikahi Siska."
"TIDAK AKAN!"