Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 24


__ADS_3

Usai akad nikah dilangsungkan, acara ramah tamah keluarga dan kerabat menjadi acara selanjutnya. Tak banyak yang datang sesuai permintaan Dewi. Ia tak sanggup membayangkan omongan orang mengenai dirinya yang mau-mau saja menikah dengan pria beristri, yang mana si istri masih bisa dikatakan kerabat dekatnya. Tak banyak yang tahu tentang sakitnya Rena. Biarlah hanya keluarga dan orang terdekat saja yang tahu. Bisa dibayangkan jika orang-orang tau ia menikah dengan laki-laki ini disaat sang istri pertamanya sedang sakit. Tidak. Dewi tidak sanggup membayangkannya. Ia yang selama ini hidup lurus-lurus aja tidak ingin kehidupannya diusik oleh orang-orang usil yang nantinya akan mengomentari kehidupannya.


Lalu bagaimana dengan Andra dan Ara? Ara mungkin karena belum paham ia senang-senang saja akan pesta ini. Apalagi notabene Ara memang sudah kenal dan dekat dengan Dewi yang dipanggilnya Bunda. Untuk Andra sendiri sebenarnya ketika Reza dan Rena berdebat di kamar kemudian ketika pembicaraan di rumah Mami Lisa beberapa waktu lalu, ia mendengarnya. Rena juga sudah menjelaskan kepada Andra secara pelan-pelan kenapa pernikahan ini diadakan. Andra setuju kalau Dewi menjadi Ibu Keduanya. Katanya Dewi tidak pernah cari-cari perhatian terhadap Papanya seperti perempuan-perempuan lain yang ia temui ketika ikut dengan sang Papa ke kantor. Malah Andra berjanji akan menjaga Dewi agar selalu tetap menjadi Bunda mereka. Rena hanya tersenyum mendengarkan penuturan putra sulungnya itu.


Selesai acara, Dewi pamit untuk balik ke apartemennya. Apartemen baru yang dibelikan oleh Reza beberapa hari yang lalu. Mereka berdua tidak mungkin tinggal di apartemen lama Dewi karena di apartemen itu hanya memiliki satu kamar. Dewi dan Reza memiliki kesamaan pemikiran walaupun tidak pernah terucap dibibir mereka, yakni mereka akan tidur di kamar terpisah. Sebagian pakaian Reza juga sudah berada di apartemen.


Rena yang melihat Dewi akan pergi, meminta Reza untuk menyusulnya. Ia meminta malam ini agar Reza tinggal dulu bersama Dewi. Maklum pengantin baru katanya. Sambil menatap jengah istri pertamanya Reza kemudian menyusul Dewi.


“Ayo,” ajak Reza.


“Kemana,” tanya Dewi ketika mereka sudah berada di teras rumah.


“Pulang,” singkat Reza sambil terus berjalan ke arah mobilnya.


“Pulang kemana?” tanya Dewi lagi.


Reza yang hendak membuka pintu mobil mengalihkan pandangannya ke Dewi yang masih berdiri di teras rumah.


“Ya ke apartemen. Mau kemana lagi emang.”


“Gak perlu diantar, Kak. Dewi bisa sendiri,” tolak Dewi.


“Perintah Kakak kamu.”

__ADS_1


“Ck.”


Dewi berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ia pikir malam ini ia bisa beristirahat dengan aman, tentram, dan damai. Tetapi sepertinya tidak.


Sesampainya di apartemen, Dewi dan Reza menuju kamar mereka masing-masing. Tidak ada percakapan lagi malam itu hingga keesokan paginya.


🌸🌸🌸


Sudah satu bulan lebih pernikahan mereka. Sesuai kesepakatan yang diminta Dewi kala itu, bahwa Reza akan tinggal bersamanya selama tiga hari dalam seminggu, yakni senin sampai rabu. Selama itu juga mereka bertatap muka hanya beberapa kali di waktu sarapan pagi. Terkadang Reza yang pulang larut atau Dewi yang pulang telat karena ada pasien yang membutuhkannya di rumah sakit sehingga mereka tidak saling bertemu di malam hari. Di pagi hari juga terkadang Dewi berangkat duluan setelah menyiapkan sarapan untuk Reza. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk suaminya ini.


Namun ada satu malam yang membuat Reza benar-benar tersiksa. Malam itu pekerjaannya tidak terlalu banyak sehingga ia bisa pulang sedikit lebih cepat dari biasanya. Masuk ke dalam unit apartemennya, seperti biasa ia mendapati lampu telah dipadamkan. Tak langsung menuju kamar, ia memilih duduk di sofa ruang tv. Kepalanya ia sandarkan dengan pandangan menatap langit-langit. Sambil memejamkan mata ia memikirkan pernikahan macam apa yang ia jalani saat ini.


Lamunannya buyar ketika ia mendengarkan suara pintu kamar Dewi dibuka. Melihat Dewi malam ini membuat kelakiannya bergejolak. Delapan tahun ia mengenal Dewi, baru malam ini ia melihat Dewi tanpa jilbab yang biasa ia gunakan untuk menutup rambutnya. Ternyata Dewi memiliki rambut yang panjang, hitam dan tebal dan saat ini ia mengikat tinggi rambutnya hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Pandangan Reza turun ke bawah yang memperlihatkan ternyata Dewi hanya memakai tanktop dan celana hot pants. Dewi yang tidak menyadari kehadiran Reza melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum. Gerakan minum Dewi seperti sedang menggoda lawan jenisnya. Reza yang tak tahan akhirnya berdehem agar Dewi tahu kalau ada dirinya disini.


Dewi yang kaget melihat Reza yang sedang duduk di sofa ruang tv reflek berjongkok menutupi tubuhnya yang sebenarnya percuma saja karena masih terlihat jelas juga. Reza yang melihat itu berusaha untuk menahan ketawanya.


“Kamu ngapain jongkok disana,” tanya Reza sambil tersenyum-senyum.


“Kakak yang ngapain. Kayak makhluk astral aja. Tunjukin dong kehadirannya bukan diam-diam kayak gitu,” ketus Dewi dengan posisi yang masih jongkok.


“Yah kamu aja gak lihat dari tadi Kakak udah duduk disini,” jawab Reza sambil berdiri menghampiri Dewi.


“Stop jangan kesini. Berhenti di tempat,” pekik Dewi.

__ADS_1


“Kenapa lagi sih?”


“Kakak mau ngapain?”


“Ya mau ambil minumlah,” jawab Reza santai.


“Stop berhenti,” pekik Dewi.


“Kenapa lagi sih, Wi?”


“Kakak putar badan dulu biar Dewi bisa masuk kamar, baru Kakak ambil makan atau minum terserah, tapi Dewi masuk kamar dulu.”


“Ngapain sih, Wi kayak gitu. Kita juga udah sah. Lagian Kakak juga udah lihat juga tadi,” goda Reza.


“KAK REZA!.”


“Hahahhahaha.” Reza tertawa melihat tingkah Dewi malam ini. Ia berbalik dan menuju kamarnya.


Dewi yang melihat Reza sudah masuk ke dalam kamarnya langsung berlari menuju kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu kamarnya itu.


“Bego bego bego kenapa sampai gak tau kalau Kak Reza udah pulang sih. Bego bego lo Wi,” ungkap Dewi sambil memukul kepalanya.


Sementara itu di kamarnya, Reza tampak masih tertawa mengingat tingkah Dewi yang menurutnya menggemaskan. Karena terlalu mengingatnya, tak terasa sesuatu milik Reza bereaksi dan meronta untuk segera dikeluarkan. Reza mendesah panjang. Memang sudah lama senjatanya tidak diasah sejak Rena sakit. Ia yang tidak ingin Rena merasa terpaksa dan merasakan sakit fisik jadi ia tak pernah meminta haknya. Walaupun ada rekan bisnisnya saat ini yang selalu berpakaian serba minim tapi ia tak pernah merasa tertarik sama sekali. Tetapi malam ini, gara-gara Dewi si istri keduanya itu ia merasakan ketidaknyamanan pada senjatanya.

__ADS_1


“Kayaknya gue mandinya malam ini harus lama. Aaaargh sialan,” umpat Reza.


__ADS_2