Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 30


__ADS_3

Dewi sudah berbaring di ranjang pemeriksaan saat ini. Tania menuangkan semacam gel khusus ke atas perut Dewi yang berfungsi untuk mencegah terjadinya gesekan antar kukit dan akat USG, selain itu juga berfungsi untuk memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh. Tania mulai menggerakkan transducer di tubuh Dewi, tak lama tampak di layar janin calon bayi Dewi. Leo dan Candra yang juga ikut pemeriksaan itu juga menyaksikannya di layar tv yang ada di luar bilik pemeriksaan.


“Itu janin gue, Tan?” tanya Dewi lirih.


“Iya Wi. Ini calon bayi lo. Sudah memasuki 9 minggu.” Selesai. Tania langsung membersihkan gel tadi dan membantu Dewi merapikan dirinya kembali.


Mereka kembali bergabung dengan Candra dan Leo. Dewi lebih banyak diam, ia masih memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan ia ambil. Lamunannya baru berhenti ketika Tania menggenggam tangannya.


“Rencana lo sekarang apa Wi?” tanya Tania.


“Kita semua pasti bantu lo kok Wi,” sambung Candra. Leo juga mengganggukan kepalanya.


“Pertama gue mau kalian merahasiakan tentang kehamilan gue dari siapapun. Termasuk dengan mami Lisa dan papi Arya,” pinta Dewi.


“Suami lo?” tanta Tania.


“Apalagi dia. Dia sama sekali gak boleh tahu tentang ini. Lagipula dia gak akan peduli juga,” jawab Dewi.


“Gue rasa dia berhak tau Wi. Biar gimanapun dia tetap ayah dari anak lo,” ucap Leo.


“Setelah apa yang udah dia lakuin ke gue? Yo lo tau gak sih perasaan gue gimana, ketika gue bangun pagi harinya dia udah gak ada. Awalnya gue mikir mungkin karena gue yang terlambat bangun. Tapi ini sampai sekarang, sampaj detik ini dia gak ada hubungi gue sama sekali. Bahkan buat ketemu sama gue aja dia ogah,” terang Dewi dengan air mata yang sudah mulai menetes.

__ADS_1


“Gue ngerasa kayak j*l*ng tau gak sih kalian, yang udah siap dipake terus dicampakkan lalu dilupain. Kalian gak akan paham apa yang gue rasain. Sakiiit… Sakit Tan,” sambung Dewi yang langsung dipeluk oleh Tania.


“Oooh Dewi, gue tau lo kuat. Gue akan selalu berada di samping lo Wi.” Tania terus mengelus pelan punggunh sahabatnya itu yang masih menangis terisak.


“Gue bakalan ngerawat dan ngebesarin anak gue sendiri. Ketika bayi gue lahir, gue akan meminta dia buat ceraikan gue,” mantap Dewi.


Candra yang daritadi hanya mendengarkan, bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya keluar. Melihat Candra yang keluar dengan wajah yang emosi, Leo memutuskan untuk menyusulnya. Tampak di luar ruangan praktek Tania, Candra mengepalkan tangannya dan memukul udara.


“Si*lan.”


“Lo ngapa Can?”


“Lo ingat kata Dewi tadi. Dia gak mau kalau ada orang yang tau tentang kehamilannya selain kita. Saat ini Dewi butuh kita Can. Jangan sampai dia merasakan kesendirian di masa kehamilannya ini,” jelas Leo.


Candra tak menjawab. Saat ini ia masih terlalu emosi. Apalagi jika mengingat tangis pilu Dewi, terasa sakit di hatinya. Mungkin benar saat ini mereka bertiga harus fokus dengan kondisi Dewi terlebih dahulu. Setelah anak itu lahir baru mereka semua membicarakannya lagi.


——


Seperti ibu hamil pada umumnya, Dewi juga mengalami morning sickness pada pagi hari. Di pagi hari ia akan memuntahkan semua sisa-sisa makanan semalam, sedangkan pada siang hingga malam hari ia akan makan makanan yang sangat banyak. Tak pernah ia menginginkan makanan yang aneh pada malam hari, walaupun Leo dan Candra sudah menawarkan diri akan memenuhi keinginan ini hamil satu ini. Mungkin si calon bayi ini tau kalau bundanya hanya seorang diri jadi tidak ingin merepotkan orang lain.


Mungkin Dewi sedikit beruntung karena mami Lisa dan papi Arya masih berada di Malaysia mengurus perusahaan cabang mereka, sehingga ia tidak perlu selalu menghindar untuk bertemu. Berbeda dengan Rena dan keluarganya. Dewi selalu menghindari untuk bertemu dengan keluarganya itu. Jika waktu kemoterapi Rena tiba, ia akan meminta Kiki yang mengurus Rena dengan alasan ia sedang sibuk di jam prakteknya ataupun sedang ada operasi. Rena semakin curiga dengan hubungan Reza dan Dewi, karena jika ia bertanya kepada Reza kabar Dewi suaminya itu hanya menjawab baik. Ia yakin telah terjadi sesuatu diantara mereka. Dewi juga jarang mengangkat teleponnya akhir-akhir ini, semakin meyakinkan dirinya bahwa ada yang sedang mereka tutupi dari dirinya.

__ADS_1


Kondisi Rena saat ini belum menunjukkan perkembangan, malah mengalami sedikit penurunan. Meski mampu menghancurkan sel kanker, kemoterapi juga dapat merusak sel sehat yang berada di sekitarnya. Sel sehat yang ikut rusak inilah yang dapat mengakibatkan efek samping. Seperti saat ini rambut Rena sudah banyak yang rontok, sehingga ia memutuskan untuk mulai berhijab. Belum terlambat bukan baginya untuk berhijab. Ia ingin sebelum waktunya habis, setidaknya ia sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslimah. Selain rambut yang rontok, Rena juga kehilangan nafsu makan yang mengakibatkan berat badannya yang turun drastis. Masih banyak lagi efek samping dari kemoterapi yang sudah dirasakan oleh Rena saat ini. Walaupun begitu, Reza suami tercintanya tak pernah mengeluh, pria itu selalu ada disamping istri pertamanya itu. Di jadwal kemoterapi pun ia pasti akan menyempatkan untuk menemani Rena, walaupun nanti ia harus bertemu dengan Dewi.


Ia masih belum bisa untuk bertemu dengan Dewi saat ini. Di malam itu, ketika Dewi sudah tidur di sampingnya ia baru sadar akan kelakuannya. Ia merasa bersalah dengan Rena karena sudah mengkhianati cintanya. Ia juga sebenarnya merasa bersalah dengan Dewi, seharusnya ia bisa menahan diri dari pengaruh obat sial*n itu. Tapi ternyata, ia kalah. Reza belum sanggup untuk menemui Dewi dan meminta maaf. Ia cuma berharap semoga Dewi bisa melupakan malam itu dan memaafkannya suatu saat.


Siang itu, Reza yang baru saja selesai meeting dengan bawahannya mendapatkan telepon dari nomor rumahnya. Segera ia mengangkat karena takut terjadi apa-apa terhadap anak ataupun istrinya.


“Halo.”


“Pak ibu pingsan.”


“Apa?? Bik panggil supir, tolong bawa Rena langsung ke rumah sakit ya. Saya dari kantor langsung ke rumah sakit nanti.” Menurutnya akan lebih menghemat waktu jika mereka langsunh bertemu di rumah sakit daripada ia harus pulang dulu, akan memakan waktu yang lama.


Reza yang tiba lebih dulu menunggu Rena dan supirnya di depan pintu ruang IGD. Melihat mobil yang membawa Rena sudah masuk dan tiba di depan ruang IGD, Reza langsung membuka pintu belakang dan menggendong Rena. Ia letakkan di brankar pasien yang sudah disiapkan sebelumnya oleh perawat. Rena diperiksa menyeluruh oleh dokter Kiki. Rena diminta untuk di rawat inap dulu untuk dilakukan observasi lanjutan. Reza menyetujui dan Rena langsung dipindahkan ke ruang rawat inap di lantai 8. Ketika dokter Kiki ingin pamit undur diri, Reza menghentikannya sejenak.


“Maaf dok, dokter Dewi ada dimana?” tanya Reza.


“Dokter Dewi sedang menangani pasien herniasi otak pak sekarang.”


“Oh begitu, baiklah terimakasih dok.”


“Sama-sama pak. Kalau begitu saya permisi.”

__ADS_1


__ADS_2