
Reza terus mencari Dewi sampai ke ujung jalan besar, tetapi tak kunjung menemukannya. Reza menghela nafas panjang dan mengusap kasar wajahnya, ia tampak frustasi.
“Apakah benar tadi itu cuma halusinasiku saja? Tapi kenapa terasa sangat nyata suara itu?”
Belum hilang lelah dari penerbangan jauhnya, kini laki-laki itu harus berjalan dan berlari mencari istrinya. Lelah mencari akhirnya Reza memutuskan untuk kembali ke hotel.
Tiba di lobbi hotel, Reza melihat sosok wanita seperti Siska sedang berjalan bersama dengan seorang pria bule. Tangan wanita itu memeluk manja pinggang si pria sambil menyenderkan kepalanya di pundak pria bule itu, sedangkan tangan si pria bule merangkul pundak Siska. Mereka berjalan dan masuk ke dalam lift. Sekilas Reza melihat kedua makhluk beda jenis kelamin itu berciuman di dalam lift saat pintu lift akan tertutup.
“Benar kata Lia, aku harus hati-hati sama wanita berbisa itu.”
Setiba di kamar Reza langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya. Ia termenung dengan pandangan lurus menatap langit-langit kamar.
“Ren bukannya kamu yang memilih Dewi untuk menjadi istriku? Sampai sekarang aku masih belum menemukannya juga. Apa aku benar-benar harus merelakannya?
Wi, apa sejahat itukah aku sampai kamu pergi begitu lama tanpa kabar untukku? Apa tidak ada lagi kata maaf untuk pria bodoh ini? Izinkan aku sekali lagi untuk bisa membahagiakanmu.”
Karena kelelahan dan belum ada istirahat sejak tiba di negara itu akhirnya lama kelamaan mata Reza terpejam dan tertidur beberapa jam sebelum acara pernikahan anak Mr.Cho malam nanti.
Menjelang acara dimulai Reza turun ke bawah dan berjalan menuju mobil yang telah ia pesan sebelumnya dengan pihak hotel. Ketika berjalan di lobi Reza mendengar namanya di panggil oleh Siska yang berada tak jauh dibelakangnya.
“Mas Reza.”
Reza menoleh ke belakang, melihat Siska yang akan berjalan kearahnya, Reza mempercepat langkahnya menuju mobil yang telah terparkir di depan hotel. Reza kemudian langsung menjalankan mobilnya tanpa menghiraukan Siska yang sejak tadi terus saja memanggilnya.
“Si*lan gue ditinggalin,” umpat Siska setelah melihat mobil Reza berlalu jauh meninggalkan hotel.
Reza yang mengemudikan mobil menghela nafas karena berhasil menghindari Siska.
__ADS_1
Reza tiba di sebuah rumah mewah tempat diadakannya acara pesta pernikahan. Sang mempelai wanita yang merupakan anak Mr.Cho adalah seorang desainer terkenal, sedangkan mempelai pria merupakan pengusaha yang sukses juga di negara ini.
Reza merutuki keadaannya yang saat ini berada di pesta pernikahan tanpa membawa pendamping. Ia melihat rata-rata para tamu undangan datang berpasang-pasangan.
“Miris banget hidup, datang kondangan sendirian gini. Aduuh Wi kamu dimana sih?”
Reza kemudian membaur menyapa beberapa tamu yang ia kenal. Ada yang pernah menjadi rekan bisnisnya, ada juga beberapa teman semasa kuliahnya dulu di Inggris yang kini rata-rata mereka telah menjadi pengusaha sukses.
Tentu saja mereka banyak yang bertanya dengan siapa Reza datang malam ini karena sejak tadi mereka hanya melihat Reza seorang diri sejak pertama kali datang.
“Istri saya sedang kurang sehat, makanya saya datang sendiri,” jelas Reza jika ada yang bertanya tentang kesendiriannya malam ini.
Ketika sedang berbincang dengan teman-temannya, tiba-tiba tangan sebelah kanan Reza yang saat itu ia masukkan ke dalam kantung celananya, melingkarlah tangan seorang wanita yang sangat-sangat ingin dihindari oleh Reza.
“Mas Reza kenapa ninggalin Siska sih tadi?” tanya Siska dengan suara yang sengaja dibuat manja.
“Woy Bro jangan kasar-kasar sama cewek. Apalagi cewek cantik ini,” ucap salah seorang teman Reza.
Reza tidak menjawab ucapan temannya itu, malah segera beranjak dan pamit meninggalkan teman-temannya.
“Mas Reza tunggu.” Siska terus saja mengekori Reza.
“Bisa tidak jangan ikuti saya terus,” kata Reza tanpa menghentikan langkahnya. Siska yang kesusahan mengejar Reza karena heels dan pakaian yang dikenakannya akhirnya tertinggal dibelakang.
Reza terus melangkah menuju depan hendak menemui Mr.Cho. Pria itu ingin segera meninggalkan acara agar bisa segera terlepas dari wanita berbisa ini.
Dengan alasan kepalanya sedikit pusing akibat belum ada istirahat sejak mendarat, akhirnya Mr.Cho mengizinkan Reza untuk pulang padahal acara baru saja dimulai. Reza kembali diikuti oleh Siska yang sangat ingin bersama dengannya saat ini. Setengah berlari akhirnya Reza bisa meninggalkan Siska dibelakang dan langsung mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Tak mau kehilangan lagi, Siska akhirnya membuka heelsnya dan ikut berlari mengejak Reza. Melihat Reza yang sudah masuk ke dalam mobil, akhirnya Siska berlari ke arah mobilnya untuk mengejar Reza yang sudah terlebih dahulu pergi dengan mobilnya.
“Kali ini gue harus bisa milikin Mas Reza,” ucap Siska.
Sebetulnya bukan rasa cinta yang dimiliki oleh Siska terhadap Reza. Melainkan obsesi ingin memiliki pria tampan itu. Bagaimana tidak, selain memiliki wajah tampan dan tubuh yang proporsional, Reza juga sukses di usia mudanya. Semenjak perusahaan orangtuanya dipimpin oleh Reza, perusahaan itu semakin tumbuh maju dan berkembang pesat.
Siska terus mengikuti mobil Reza dari belakang. Mobil Siska terhalang dengan 5 mobil di depannya, namun ia masih bisa melihat ke arah mana Reza pergi.
Ia sempat tertinggal jauh karena terhalang oleh lampu merah. Mungkin karena kegigihannya, akhirnya ia menemukan Reza yang sedang berjalan masuk ke dalam area sebuah cafe. Wanita itu memarkirkan mobilnya dan segera turun mencari Reza.
Berhubung malam ini adalah malam minggu, pengunjung cafe yang bertema outdoor ini sangat ramai. Cukup sulit awalnya bagi Siska untuk mencari keberadaan Reza. Setelah menyusuri ramainya pengunjung akhirnya Siska melihat Reza sedang duduk di salah satu meja. Siska segera berjalan ke arah Reza dan duduk di samping pria itu.
“Kenapa ninggalin aku terus sih Mas?” tanya Siska.
Reza kaget dengan kedatangan Siska tiba-tiba duduk disebelahnya.
“Bukankah saya sudah bilang untuk jangan dekat-dekat dengan saya” kata Reza.
“Mas Reza kok jahat sih. Kan aku cuma mau nemenin Mas Reza aja. Daripada Mas Reza sendirian mending aku temenin kan.”
Capek berdebat akhirnya Reza membiarkan Siska duduk di sampingnya. Rasanya terlalu lelah ia malam ini untuk bertengkah dengan perempuan yang tidak tahu malu itu. Cukup mendiamkan menganggap tak ada orang rasanya cukup untuk saat ini.
Suasana cafe sangat ramai. Banyak lampu yang membentang diatas diantara pohon dan tiang. Saat ini juga ada sekelompok orang yang sedang memainkan lagu. Melihat dari wajahnya sepertinya mereka berasal dari Asia. Dan benar saja lagu yang mereka bawakan berbahasa Korea. Walaupun tidak tahu artinya, Reza meyakini kalau lagu ini merupakan lagu galau. Reza mengedarkan pandangannya ke segala arah, sampai akhirnya pandangannya beradu pada seseorang yang duduk di satu meja di depan sana.
Mata Reza membola dengan mulut terbuka sedikit, raut keterkejutan yang tergambar di wajahnya. Ia berharap bahwa ini bukanlah mimpi maupun khayalannya, akhirnya ia menemukan wanita pemilik separuh hatinya yang telah lama pergi meninggalkannya.
“Dewi,” lirih Reza.
__ADS_1