Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 61


__ADS_3

“Saya datang sama is—“


“Sama istrinya.”


Dewi yang datang dari arah belakang mengagetkan Siska yang menyangka kalau Reza datang sendirian untuk rapat hari ini. Ia sengaja mendadak memajukan jadwal rapat dengan Reza karena ia yakin asisten ataupun sekretarisnya tidak akan bisa karena sedang mengurus proyek yang lain. Memang sekretaris dan asisten Reza tidak bisa ikut, namun ia tidak menyangka Reza akan membawa istrinya siang ini.


“Bisa pindah tidak, mbak? Ngga enak dilihatin sama yang lain kalau mbaknya duduk di samping laki-laki beristri, apalagi istrinya ada disini,” lanjut Dewi yang melihat Siska masih saja duduk di kursi yang seharusnya untuk dirinya.


Siska terpaksa bangun sambil menggerutu. Wanita itu kini pindah tempat duduk menjadi di depan Reza.


“Lho kenapa masih disini, mbak Siska? Kami mau makan siang, lho,” kata Dewi yang heran melihat wanita yang berada di depannya itu masih saja duduk satu meja dengan mereka.


“Kami nanti mau rapat disini,” jawab Siska ketus. Ia yang awalnya senang karena mengiran akan makan siang berdua dengan Reza kini berubah menjadi super kesal gara-gara istri laki-laki incarannya yang ikut.


“Emang rapatnya jam berapa, Kak?” tanya Dewi yang langsung menoleh ke arah Reza yang duduk di sampingnya.


“Jam 1, setelah makan siang!” Reza menatap tajam wanita yang sudah tidak mempunyai malu yang berada di depannya.


“Sekarang masih setengah 12, masih ada satu setengah jam lagi, jadi biarkan kami untuk makan siang dulu. Seharusnya Mbak Siska, sih harus profesional dalam bekerja. Kalau saya nih, jam 9 buka praktek, ya jam 9 mulai masuk pasien saya. Saya orangnya sangat tepat waktu,” jelas Dewi yang sengaja ingin mengusir Siska.


“Saya, kan hanya makan aja, pembicaraan mengenai pekerjaan bisa kita lakukan tepat di jam 1,” kekeh Siska yang tidak mau pergi dari meja Dewi dan Reza.


“Tapi te-“ ucapan Reza terpotong oleh tanggapan yang diberikan Dewi.


“Oke, tidak masalah. Tapi jangan salahkan kami, ya kalau Mbak Siska harus melihat pasangan yang sedang bucin-bucinnya ini soalnya saya sudah mengingatkan Mbak Siska sebelumnya.”


Pesanan punya Dewi dan Reza sudah datang tetapi pesanan Siska belum siap dikarenakan pesanannya yang menyusul tadi.


“Ini enak banget sih, Kak udangnya. Mau coba ngga?” Dewi menyuapkan Reza udang miliknya.


Mulut Reza terbuka menerima suapan dari istrinya. “Hmm iya,” jawab Reza mengangguk sambil mengunyah makanannya.


“Gantian sekarang kamu coba punya Kakak.” Kini gantian Reza yang menyuapi Dewi dengan makanan miliknya.

__ADS_1


Adegan suap-suapan itu tentu saja disaksikan oleh Siska yang sedari tadi menahan geram dan emosinya terhadap Dewi. Ia sangat tahu bahwa Dewi sangat sengaja melakukan adegan suap-suapan itu di depannya untuk membuat dirinya merasa tidak nyaman. Tetapi ia tidak akan semudah itu untuk pergi, demi misinya untuk mendapatkan Reza ia harus tetap berada didekat mereka.


Setelah makan siang penuh drama suap-suapan ala Dewi Reza dan makan siang tak berseleranya Siska, tepat di jam 1 siang Reza dan Siska mulai membahas tentang pekerjaan. Dewi yang masih setia duduk di sebelah Reza mengeluarkan ponselnya untuk membaca jurnal yang ia dapatkan kemarin. Jurnal terbaru tentang penelitian otak manusia.


Reza melihat sekilas istrinya. Ia sangat kagum karena Dewi yang sangat hobi belajar tak kenal tempat dan waktu untuk terus belajar. Ia selalu merasa dirinya kurang tahu. Pernah sekali Reza bertanya mengapa Dewi hobi belajar dan membaca, jawaban yang Reza dapatkan saat itu cukup membuatnya bangga.


“Socrates pernah berkata, ‘Makin banyak aku tahu, makin banyak aku tidak tahu. Akhirnya aku tahu bahwa hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa!’ Paham ngga Kak Reza maksudnya?” Reza menggeleng tanda tak paham.


“Semakin kita belajar, kita semakin sadar ternyata banyak banget sebenarnya ilmu yang kita tidak tahu. Jadi sangat beruntung orang-orang yang merasakan hal begitu, karena dia akan menjadi pribadi yang rendah hati dan tidak sombong. Dia sadar ternyata ilmu yang ia miliki saat ini masih sangat kecil, bahkan mungkin masih belum bisa dikatakan ilmu, karena emang hanya sedikit banget, kan. Banyak ternyata orang yang lebih pintar dari kita. Dari hal tersebut mengakibatkan kita menjadi kita penasaran dengan sebuah ilmu, ngga pernah puas dengan ilmu yang kita miliki sekarang. Jangan hanya merasa tidak puas dengan harta, tapi dengan ilmu juga, karena harta yang tak ternilai itu selain keluarga adalah ilmu, yang akan terpakai sampai akhir hayat kita,” terang Dewi kala itu.


Reza tersenyum-senyum sendiri mengingatnya, sampai suara Siska membangunkan Reza dari lamunannya.


“Mas Reza dengar ngga sih aku jelasin daritadi?”


Reza tersentak dan kemudian langsung mengalihkan pandangannya ke depan menghadap Siska. Dewi yang juga kaget mendengar suara Siska yang sedikit keras langsung mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


“Mas Reza bisa fokus ngga, sih? Tadi cuma bisa bilang aku yang ngga profesional, sekarang Mas Reza sendiri yang ngga profesional. Aku jelasin daritadi tapi pandangannya ke perempuan ini aja. Kehadirannya cuma mengganggu disini,” ketus Siska.


Dewi hanya mendengar saja perdebatan mereka tanpa menjawab sama sekali karena ia sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ia bisa melihat dengan jelas wajah kesal Siska. Sepertinya kehadirannya saat ini benar-benar membuat wanita itu kesal. Niat ingin berduaan dengan suaminya tidak bisa tercapai. “Tidak akan semudah itu, Ciripa kau mendekati suamiku,” batin Dewi.


Rapat hari itu selesai dengan adanya kesepakatan diantar Reza dan Siska yang mewakili masing-masing perusahaan. Reza langsung pergi meninggalkan restoran dengan menggenggam erat tangan Dewi. Kepergian mereka dilihat dengan mata tajam penuh kekesalan dan kebencian dari Siska. Siska langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Pa, aku minta papa lakuin sesuatu buat aku.”


Sedangkan di mobil, Reza melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


“Kamu mau langsung pulang apa balik ke rumah sakit?”


“Ke rumah sakit aja, Kak. Dewi belum ada keliling visit pasien,” jawab Dewi.


“Jadi mau ke rumah baru?”


“Kayaknya ngga jadi deh, udah jam segini juga. Kak Reza sih lama banget,” keluh Dewi.

__ADS_1


“Emang kamu mau aku cuma berdua aja sama dia tadi?”


“Ya engga maulah, keenakan dia tuh dekat-dekat sama suami orang. Kak Reza tegas juga dong, jangan mau dideket-deketin kayak gitu.”


“Kurang tegas gimana sih aku, Wi. Kamu sendiri lihat kan gimana aku nolak dia. Cuma kekerasan aja yang belum aku lakuin ke dia.”


“Eh jangan main kekerasan, walaupun sama perempuan kayak begitu. Emang dia aja urat malunya udah putus. Udah ngga usah lanjutin bahas dia, bikin mood jadi jelek.”


Sesampainya di parkiran rumah sakit, Dewi langsung pamit dengan Reza.


“Kalau udah pulang nanti langsung pulang, ya. Kabari juga aku,” ucap Reza.


“Iya nanti Dewi kabari.” Dewi langsung salim dengan Reza. Ketika ia ingin keluar tangannya ditarik lagi oleh Reza.


“Apa Kak?”


“Ini belum,” jawab Reza.


“Ini apa?” tanya Dewi yang tidak paham.


“Ini!”


“Apaan sih.”


Reza langsung mencium lembut bibir Dewi.


Cup


“Ih Kak Reza.”


“Biar semangat kerjanya. Sudah turun.”


Dewi kemudian turun dengan wajahnya yang memerah bagaikan kepiting yang direbus. Reza tersenyum di dalam mobil melihat Dewi yang berjalan sambil memegang pipinya masuk ke dalam rumah sakit. Setelah melihat Dewi sudah masuk, Reza kemudian melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2