
Flashback beberapa jam lalu
Julian memenuhi janjinya mengajak sang kekasih Briggita dan Dewi berkeliling kota Zurich. Ditemani temannya Erkan yang juga belum pernah pergi ke tempat-tempat wisata di kota ini. Sebelum ke air terjun Rhine, mereka terlebih dahulu ke Museum Nasional Swiss yang kebetulan mereka lewati.
Museum Nasional Swiss merupakan sebuah museum megah yang dibangun pada tahun 1898 oleh Gustav Gull dengan bebtuk istana perkotaan bergaya Renaisans Prancis. Museum ini mempunyai bangunan yang luas dengan berbeda tema desain di setiap bagian-bagiannya. Museum ini menawarkan beragam koleksi seperti patung, lukisan, hingga altar yang diukir.
Briggita dan Julian berjalan berdua di depan meninggalkan Dewi dan Erkan di belakang. Dewi memahami mungkin Briggita yang sedang ingin berduaan dengan Julian. Awalnya Dewi sempat merasa sungkan ditinggalkan berdua dibelakang dengan Erkan, jadi ia sedikit memberi jarak ketika harus berjalan dengan pria yang baru saja ia kenal. Erkan yang seorang muslim juga merasakan ketidaknyamanan Dewi.
“Sudah berapa lama disini?” tanya Erkan memecah keheningan.
“Cukup lama, sepertinya sudah 7 bulan,” jawab Dewi.
“Sudah kemana saja selama di Swiss?”
“Baru kali ini aku keluar dan berjalan-jalan. Kemarin aku hanya berada di rumah saja.”
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa hanya di rumah saja?” tanya Erkan. Pria ini segera menyadari kalau pertanyaan yang baru saja dilontarkannya bisa membuat Dewi tidak nyaman.
“Maaf sepertinya aku terlalu banyak bertanya,” ucap Erkan tak enak hati.
“Tidak apa. Aku akan menjawab yang bisa aku jawab,” kata Dewi sambil tersenyum simpul ke Erkan.
“Cantik.” Satu kata yang terlontar di hati Erkan ketika melihat senyum Dewi.
“Selama ini aku hanya berdiam diri saja di rumahku yang berada di Iseltwald. Sesekali aku berjalan disekitaran Danau Brienz sampai akhirnya aku diajaka Briggita dan Julian berjalan-jalan,” jelas Dewi.
“Sepertinya kamu sedang mencari ketenangan di negara ini. Kata orang tempat ini sangat cocok bagi mereka yang ingin healing, dan sepertinya benar.”
“Iya memang benar.”
__ADS_1
Obrolan-obrolan kecil terjadi selama mereka berada di museum. Mulai dari membahas tentang pekerjaan, negara, dan tentang barang-barang bersejarah yang di pamerkan di museum ini. Dewi takjub karena ternyata Erkan banyak mengetahui tentang batang-barang bersejarah ini.
“Karena aku suka dengan sejarah,” jawab Erkan ketika ditanya kenapa bisa tahu hampir semua barang bersejarah yang ada disana.
“Hmm menarik. Aku jadi ingat kata presiden pertama Indonesia, jangan pernah melupakan sejarah,” kata Dewi.
Usai dari museum, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju air terjun Rhine. Rhine Falls atau Air Terjun Rhein adalah air terjun terbesar di Eropa yang terletak di Rhein, perbatasan antara kanton Schaffhausen dan Zurich. Panjangnya mencapai 23 meter dan lebar 150 meter, sedangkan volumenya berkisar antara 250 sampai 600 persegi per detik. Pada musim panas, alirannya semakin deras dikarenakan salju dari gunung alpine ikut mencair.
Dewi terus mengapit tangan Briggita karena tak ingin ditinggal lagi oleh wanita itu. Walaupun Erkan adalah pria baik, namun ia sadar kalau dirinya adalah seorang wanita bersuami apalagi saat ini ia sedang berjauhan dengan suaminya. Sesekali Julian datang seperti ingin mengambil Briggita dari Dewi namun gagal karena Julian mendapat tatapan tajam dari Dewi.
Dewi dan Briggita menghabiskan waktu dengan berswafoto di sekitaran air terjun. Kebetulan saat ini sedang musim panas, sehingga banyak bunga cantik yang bermekaran di pinggir aliran air terjun.
Puas bermain di Rhine, mereka melanjutkan perjalanan balik ke arah kota Zurich. Kali ini mereka mengunjungi Danau Zurich.
Julian melihat Erkan yang sedari tadi terus menatap Dewi dengan tatapan yang berbeda.
“Kenapa? Cantik ya?” goda Julian.
“Siapa?” tanya Erkan yang tidak tahu maksud ucapan Julian.
“Jangan dikira aku tidak tahu kalau daritadi kamu melihat Dewi dengan tatapan yang beda.”
“Oo. Bagaimana? Kami berdua terlihat cocok kan?”
“Hmm iya cocok. Tapi sebaiknya cepat hilangkan perasaan kamu itu.”
__ADS_1
“Kenapa?” Erkan mengernyitkan alisnya.
“Dia sudah menikah,” jawab Julian.
“Menikah? Lalu dimana suaminya? Tetapi sepertinya dia sedang bermasalah dengan suaminya kan?” tanya Erkan.
“Memang dia sedang ada masalah dengan suaminya. Walaupun dia sedang bermasalah, jangan pernah sekalipun kamu masuk dalam diantara mereka. Jangan sampai gara-gara kamu hubungan mereka makin hancur,” ujar Julian.
“Aku tidak segila itu. Aku cukup memperhatikannya saja dari jauh. Kalau memang dia tidak bahagia dengan suaminya, baru akan bertindak.”
“Terserah kamu, yang jelas aku sudah memperingatkan kamu supaya jangan menjadi orang ketiga dalam hubungan Dewi dengan suaminya,” tegas Julian.
“Hmm.”
Mereka meninggalkan kawasan danau Zurich ini ketika matahari sudah terbenam. Selanjutnya mereka berjalan menuju cafe sebelum Dewi dan Briggita balik ke penginapan mereka.
Suasana malam di cafe sangatlah ramai karena berhubung hari ini adalah malam minggu. Banyak muda mudi yang mengunjungi cafe ini. Lampu-lampu kecil banyak menggantung diatas sehingga membuat suasana disini begitu asik. Ada juga beberapa orang yang sedang mempersiapkan alat musik di depan sana, sepertinya akan ada pertunjukan live music.
Mereka berempat mencari tempat duduk di depan dekat panggung. Setelah dilihat, ternyata Dewi mengenal personil band ini. Mereka adalah pengisi sebuah acara program musik di salah satu stasiun tv Korea. Mereka sering bernyanyi ditempat keramain baik di dalam maupun luar negeri. Dewi tidak menyangka akan melihat secara langsung dan dekat para penyanyi hebat dari negara ginseng itu.
Menjelang acara itu dimulai, Briggita izin untuk ke toilet dan ditemani oleh Julian. Dewi tak ambil pusing. Ia kemudian duduk di meja itu bersama dengan Erkan. Tak berapa lama Erkan pun pamit sebentar karena ingin mengangkat telepon. Kini tinggal Dewi saja di meja itu.
Musik mengalun. Dewi tahu lagu ini. Lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi pria Tim Hwang sempat hits di awal tahun 2003 kini di nyanyikan kembali di depan sana. Liriknya yang mungkin sesuai dengan perasaan Dewi membuat wanita itu menitikkan air matanya sesekali.
Untuk mengusir kesedihannya Dewi mengalihkan pandangannya dari arah panggung. Ketika ia melihat ke belakang, ia seperti melihat sosok pria yang sebenarnya juga sangat ia rindukan. Pria itu sedang duduk berdua bersama dengan wanita yang terakhir kali ketika mereka bertemu wanita itu ingin menjebak suaminya.
“Oh udah dapat yang baru rupanya,” gumam Dewi.
Tak selang berapa lama akhirnya pandangan mereka beradu. Reza tampak kaget melihat Dewi yang tak jauh dari tempat duduknya. Dewi yang menyadari itu langsung berdiri dan lari menjauhi Reza tanpa mempedulikan teman-teman yang ikut bersama dengannya tadi. Reza terus saja meneriaki nama Dewi
“Dewi tunggu!”
__ADS_1
—
Bagaimana puasa hari pertamanya hari ini yeorobun? Semoga masih kuat ya sampai buka puasa nanti.