
Akhir pekan ini Reza mengajak keluarganya untuk pergi jalan-jalan di mall. Sudah terlalu lama ia tidak mengajak kedua anaknya keluar rumah di akhir pekan, terlebih lagi pada saat itu Rena yang sedang sakit dan Dewi yang healing ke Swiss.
Setelah itu ia juga berencana mengajak istri dan kedua anaknya berbelanja isi rumah baru yang akan mereka tempati. Hanya tinggal mengisi perabotan maka rumah baru Reza sudah bisa ditempati. Ia ingin Dewi yang mengatur segala sesuatu tentang rumah baru karena Dewilah sang ratu pemilik rumahnya kini.
Pagi sekitar pukul 10 mereka semua berangkat menuju ke ritel perabot. Membutuhkan waktu hampir satu setengah jam menuju toko tersebut.
Ara dan Andra sangat senang karena akan diajak jalan. Mereka dibebaskan untuk memilih tema dan perabotan yang akan mengisi kamar mereka nanti.
Sampai di tempat, Reza segera mendorong troli dan berjalan di belakang anak dan istrinya.
“Kak ini seriusan kita belanja semua disini?“ tanya Dewi yang sejak berangkat tadi selalu menanyakan keseriusan Reza yang mengajaknya berbelanja di toko besar yang bisa dipastikan harganya yang mahal.
“Astaghfirullah, mau berapa kali sih, Wi dibilangin. Belanja aja. Heran aku tuh sama kamu. Kalau istri lain senang diajak belanja sama suaminya, kalau kamu nolak mulu yang ada daritadi,” keluh Reza yang sudah bosan mendengar penolakan Dewi.
“Ya bukannya nggak senang, Kak. Tapi disini mahal-mahal lho harganya,” kata Dewi.
“Kamu meragukan suami kamu ini?”
Dewi menggelengkan kepalanya. “Ya yakin sih kalau Kak Reza lebih dari mampu, bahkan beli tanah toko beserta semua isinya masih bisa.”
“Nah itu kamu tahu. Terus masalahnya apalagi? Kamu itu anaknya Om Arya, pengusaha terkenal di negara ini, masa belanja ginian aja khawatir banget. Malahan ini ya, kalau kamu sudah menerima warisan yang akan diberikan om Arya sama kamu, kekayaan kamu bakalan seimbang dengan punyaku,” jelas Reza.
“Ha? Seriusan, Kak?” tanya Dewi dengan wajah berbinar.
“Itu aja baru senang,” ucap Reza sambil menyentil pelan kening Dewi.
“Sakit,” keluh Dewi dengan suara manja dan sambil mengelus dahinya.
“Manja banget, pelan juga aku nyentilnya.” Reza meniup bahkan mengecup dahi Dewi sekilas. Pria itu berani karena posisi mereka saat ini yang berada dipojok sedangkan kedua anak mereka sudah berjalan duluan di depan meninggalkan kedua orangtuanya yang tak berhenti bedebat sejak tadi.
“Manja sama suami sendiri emang ngga boleh,” ucap Dewi.
“Boleh sayang, boleh banget. Wajib malah,” jawab Reza.
“Jiwa missqueen Dewi itu udah mendarah daging, Kak. Jadi masih shock belanja banyak ditempat ginian,” ujar Dewi yang kembali ke topik awal.
“Berarti kamu harus sering-sering jalan dan belanja ke tempat-tempat yang menjual barang mewah, biar jiwa missqueennya jadi jiwa misskay.”
“Apaan misskay?” tanya Dewi.
“Miss kaya,” jawab Reza.
“Yah makin ngga jelas. Udah yuk susul abang sama adek, ntar mereka makin jauh terus hilang.” Dewi segera menggandeng lengan Reza dan membantu pria itu mendorong troli.
“Enak banget digandeng sama istri,” goda Reza.
__ADS_1
Dewi menghentikan langkahnya. Ia menatap Reza dengan wajah kesal, kemudian melepaskan pegangannya di lengan Reza dan langsung berjalan menyusul kedua anaknya meninggalkan Reza seorang diri dibelakang.
“Makin kesini makin sering ngambek,” gumam Reza yang menatap punggung Dewi semakin jauh meninggalkannya.
——
Setelah selesai berbelanja perabotan, kemudian mereka kini berpindah ke sebuah mall besar yang letaknya tak jauh dari ritel sebelumnya. Karena perut yang sudah lapar, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.
“Adek mau makan sushi, boleh?” tanya Ara yang kala itu sedang berada di gendongan Reza.
“Boleh dong,” jawab Reza sambil menyubit gemas pipi putrinya.
“Bunda juga lagi pengen makan ramen,” ujar Dewi yang berada di sebelah bersama Andra.
“Abang juga pengen ramen, Bun,” timpal Andra.
“Oke, ayo kita cari tempat makannya,” ajak Reza semangat.
Keluarga kecil ini berjalan sambil sesekali bercanda tawa, membuat pengunjung lain merasa iri atas keharmonisan mereka. Suami yang tampan dan gagah, istri yang cantik dengan senyum manis dibalut dengan pakaian panjang dan hijabnya, putra yang tampan seperti sang ayah, dan putri kecil dalam gendongan ayahnya yang manis. Benar-benar membuat yang lain berdecak kagum.
Setiba di restoran Jepang, Reza tampak lihai menyuapi putri kecilnya, sedangkan Andra yang memang sudah besar bisa makan sendiri tanpa bantuan orang lain.
“Kak Reza makan aja, Ara biar sama Dewi,” ujar Dewi menawarkan diri untuk menyuapi Ara.
“Siap makan kita ke playground ya, Pa. Abang udah lama ngga main ke playground,” ajak Andra.
“Boleh, habiskan dulu makannya nanti baru kita ke playground, ya,” jawab Dewi.
Hari ini mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Jika hari-hari biasa Dewi dan Reza sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka, di akhir pekan seperti ini mereka akan menghabiskan waktu untuk keluarga.
Usai makan, mereka langsung menuju ke area playgroun yang ada di lantai 4 mall tersebut. Andra dan Ara masuk ke area bermain sedangkan Reza dan Dewi duduk menunggu kedua anaknya di tempat tunggu yang telah disediakan.
“Oh iya Kak, besok Dewi izin ya mau ke rumahnya Tania. Belum sempa-sempat juga dari kemarin Dewi buat nengokin anaknya,” ujar Dewi sambil sesekali melirik ke arah Andra dan Ara bermain.
“Boleh, tapi agak siangan ngga apa-apa, kan? Aku pagi mau lanjut istirahat dulu,” ucap Reza.
“Kalau Kak Reza capek Dewi pergi bawa mobil sendiri aja, ngga usah diantar sama Kak Reza.”
“Ngga boleh, tetap harus aku yang antar!”
“Ih ngga bakalan kemana-mana juga, kalau udah siap pasti pulang kok.” Dewi cemberut karena tidak mendapat izin dari Reza untuk membawa mobil sendiri.
“Jangan cemberut-cemberut gitu bibirnya,” ucap Reza yang langsung mencubit pelan bibir Dewi.
“Bukannya aku ngga percaya sama kamu, aku cuma pengen habisin waktu sama kamu aja. Pagi sampai sore aku sama kamu kerja, terus malam di rumah kamu dikuasai sama Ara. Lalu waktu sama akunya kapan?” keluh Reza.
__ADS_1
“Iya, Dewi udah kasih pengertian Ara pelan-pelan kok. Sabar ya, ntar dirumah baru deh Dewi bobok sama Kak Reza.”
“Janji! Beneran, ya.”
“Insya Allah.”
“Aah jadi pengen peluk.“
“Ngga usah peluk-peluk, ramai banyak orang.”
“Jadi kalau ngga ramai boleh peluk nih?” goda Reza.
“Boleh, lebih dari peluk juga boleh,” jawab Dewi yang juga ingin menggoda Reza.
“Nanti malam aja deh,” tawar Reza yang sudah tak sabar.
“Ngga bisa malam ini. Nanti aja di rumah baru,” tolak Dewi.
“Kelamaan,” keluh Reza.
“Take it or leave it.”
“Take it take it.”
Dewi hanya bisa tersenyum melihat raut wajah lesu suaminya saat ini. Sepertinya mereka harus segera pindah ke rumah baru agar ia bisa mengurus suaminya dari mau tidur hingga bangun pagi.
Dewi sudah berusaha pelan-pelan untuk menjelaskan kepada Ara agar mau tidur sendiri, tetapi putri kecil Reza itu masih belum mau ditinggalkan sendiri waktu tidur.
Lelah bermain, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Rencana yang sebelumnya ingin berbelanja lagi kebutuhan rumah baru akhirnya harus ditunda karena anak-anak yang sudah kelelahan, Ara bahkan sudah mulai rewel karena mengantuk.
Tak menunggu lama, Ara yang dipangku di kursi depan dengan Dewi langsung tidur dipangkuan ibu sambungnya itu, sedangkan Andra juga telah tidur di bangku belakang dengan menyenderkan kepalanya dikaca mobil.
“Belanjanya besok sepulang dari rumah Tania ngga apa-apa, kan?” tanya Reza yang takut kalau Dewi masih ingin belanja.
“Ya ngga apa-apa, Kak. Anak-anak kasihan, pasti kecapean banget, makanya langsung tidur pas sampai mobil. Ntar Dewi juga bisa beli lewat online aja kok, gampanglah zaman sekarang,” jawab Dewi dengan suara yang mulai lemah karena juga mengantuk.
“Kamu kalau capek juga tidur aja, ntar kalau udah sampai rumah aku bangunin,” ucap Reza.
“Hem.”
Tak butuh waktu lama, mata Dewi terpejam juga dan menyusul Ara dan Andra ke dalam mimpi. Reza yang kala itu berhenti karena lampu merah di depannya, memerhatikan wajah damai sang istri. Di usapnya kepala Ara yang kemudian dikecupnya pucuk kepala sang anak. Sedangkan Dewi, ia mengusap pelan bibir yang sedikit terbuka itu dan kemudian mengecupnya pelan.
“Istriku,” gumam Reza.
Hai hai hai jangan lupa votenya dong, kembangnya juga, jempolnya juga buat uda Reza. Gomawo ya yeorobun 🥰🥰🥰😍
__ADS_1