
Dewi yang melihat Reza berlari kemudian langsung mengikutinya. Reza langsung keluar menuju mobilnya yang terparkir dan mengemudikannya menjauh dari rumah Papi Arya.
Papi Arya yang melihat mereka berlari dari tangga langsung berdiri dan menanyakan pada Dewi.
"Ada apa, Wi? Reza kemana? Kenapa dia berlari seperti itu?"
"Pi pinjam mobil. Dewi harus nyusul kak Reza!"
"Kemana Reza?" tanya Mami Lisa
"Ke rumah sakit nemuin pak Wira. Dia bilang mau nolak lagi permintaan mereka. Pi, Mi, kondisi Siska sedang tidak baik saat ini. Kalau kak Reza berbicara dengan kondisi dia yang sekarang yang ada makin drop Siska nya."
"Yasudah kita ke rumah sakit sekarang," ajak Papi Arya.
"Mami ikut."
"Mami di rumah aja, Dewi titip anak-anak, ya," pinta Dewi.
"Hmm yasudah kalian hati-hati."
Dewi dan Papi Arya segera menyusul Reza yang sudah tidak terlihat lagi mobilnya. Mereka sama-sama berharap kalau Reza jangan lepas kendali dan malah bikin masalah makin besar.
Papi Arya juga bertanya kepada Dewi tentang kepergian Reza yang seperti itu. Dewi menceritakan tentang kondisi Siska dan keinginannya agar Reza bersedia memenuhi keinginan mereka.
"Papi yakin kedua orangtua kamu bangga disana karena memiliki anak yang sangat baik dan memiliki rasa peduli yang tinggi. Tapi, Nak, sebelum kamu memikirkan orang lain alangkah baiknya kamu memikirkan tentang diri kamu terlebih dahulu. Jangan korbankan perasaan kamu demi perasaan orang lain," kata Papi Arya.
Dewi diam tampak memikirkan omongan Papi Arya barusan. Memang benar seharusnya ia tidak perlu berbuat sampai seperti ini. But, a promise is a promise. Baru kali ini dalam hidupnya ia menyesal karena telah terlanjur berjanji.
"Semoga aku tidak akan menyesal esok hari," batinnya.
Sampai dirumah sakit, Dewi dan Papi Arya segera menuju lift. Ia langsung menekan angka 7 pada tombol lift, beruntung sore itu cukup sepi sehingga lift tidak mampir ke lantai lain.
Sampai di lantai 7 Dewi langsung berlari menuju kamar inap Siska yang berada 3 ruang di samping lift. Tanpa permisi Dewi langsung memutar knop pintu dan mendorongnya. Pemandangan di depan, tepatnya di ranjang pasien membuat ia terkejut sehingga ia langsung berlari menuju ranjang.
Dewi dengan cepat menekan tombol merah yang ada di atas ranjang pasien yang terhubung dengan nurse station.
"Ada yang bisa dibantu," kata perawat jaga.
"Bawa trolley emergency, cepat!" perintah Dewi.
Perawat yang mengenal suara Dewi bahkan sebelumnya juga melihat Dewi berlari menuju kamar itu segera membawakan trolley emergency yang berisikan obat serta alat kesehatan.
Tiba di kamar, 2 orang perawat yang datang itu meminta semua orang yang berada di kamar untuk keluar agar mereka bisa segera melakukan tindakan.
Siska yang masih dalam berteriak dan meronta terpaksa di berikan obat penenang oleh Dewi.
__ADS_1
"Beruntung tidak sampai melukai pembuluh darahnya," kata Dewi setelah melihat luka yang baru saja dibuat oleh Dewi.
"Lukanya sebelumnya belum kering, dibuat lagi dilukain lagi. Heran deh, baru kali ini nemu pasien kayak gini," keluh salah seorang perawat.
"Ssst tidak boleh ngomongin pasien," tegur Dewi.
"Maaf, dok," jawab perawat itu. Dewi dengan teliti dan hati-hati Dewi kembai menjahit luka di tangan Siska.
Di luar ruangan Reza yang tampak shock dibawa sedikit menjauh oleh Papi Arya.
"Apa yang kamu lakukan tadi, Reza?" tanya Papi Arya.
"Reza ngga melakukan apa-apa, Om. Reza cuma bilang kalau Reza tidak akan menuruti permintaan mereka. Tiba-tiba Siska memecahkan gelas yang ada di atas nakas disampingnya dan melukai tangannya lagi," jelas Reza.
Pak Wira yang sedang dilanda emosi langsung datang menghampiri Reza dan menarik kerah baju Reza.
"Kamu mau membunuh anak saya?" teriak Pak Wira.
"Wira sudah, lepaskan Reza. Ini di rumah sakit" kata Papi Arya sambil berusaha melepaskan cengkraman Pak Wira di baju Reza. Dengan kasar akhirnya Pak Wira melepaskan cengkeramannya pada baju Reza.
"Mas sudah, ini bukan saatnya kita untuk ribut," kata Ibu Rita yang langsung memegang suaminya.
Reza merapikan pakaiannya dan kemudian menatap tajam ke arah Pak Wira.
"Tapi dengan kamu menolaknya sama saja dengan kamu membunuhnya!" kata Pak Wira dengan emosinya yang dia tahan.
"Lagipula istri kamu juga sudah menyetujui pernikahan kedua kamu, kan."
"Jangan bawa-bawa istri saya!"
"Istri kamu sendiri yang bilang."
"Saya bilang jang...."
"Kak Reza...." Semua perhatian mengarah ke Dewi yang baru saja keluar dari ruang inap Siska. Dewi berjalan perlahan menuju tempat mereka berdiri.
Setelah berada tepat di depan Reza, Dewi tersenyum dan berkata yang membuat Reza diam membeku.
"Dengan Nama Allah, Dewi izinkan."
Dewi bisa melihat tatapan kekecewaan pada mata Reza dan juga Papi Arya. Reza akhirnya pergi meninggalkan mereka semua.
Dewi pulang diantar pulang Papi Arya. Anak-anak masih berada disana sedangkan Reza saat ini tidak bisa dihubungi karena ponselnya juga mati. Akhirnya Papi Arya yang mengantar Dewi dan anak-anak untuk pulang ke rumah.
Hingga jam menunjukkan pukul 12 malam Reza juga belum tampak pulang. Padahal pukul 10 tadi ia mendapat pesan dari Anton yang mengatakan agar tidak perlu cemas karena Reza sedang bersamanya namun Dewi masih saja tetap khawatir.
__ADS_1
Entah mengapa saat ini ia sangat merindukan suaminya dan ingin tidur sambil dipeluk oleh pria itu. Karena badannya yang sudah sangat lelah akhirnya Dewi tidur dengan memeluk bantal yang biasanya dipakai oleh Reza.
Tak lama Reza pulang, ia masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai dan sudah memakai pakaian santai, Reza berjalan menuju ranjangnya. Emosi yang tadi masih tersisa lenyap seketika ketika ia melihat wajah cantik yang sedang tertidur sambil memeluk bantal yang biasa ia pakai.
"Kan, kan rindu, kan. Sok sok bilang ikhlas ikhlas, bantal orang diembat juga," gumam Reza.
Kemudian ia segera membaringkan tubuhnya di samping Dewi. Tak lupa ia mengambil bantal miliknya yang dipeluk oleh Dewi dan menempatkannya di kepalanya, kemudian ia membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Kenapa aku ngga bisa marah terlalu lama sama kamu." Reza mencium kening istrinya dan tak lama ia juga menyusul Dewi ke alam mimpi.
Pagi harinya Dewi yang merasa tidak nyaman dengan perutnya berlari menuju kamar mandi.
Hoeek hoeek
Dewi memuntahkan isi perutnya ke kloset.
Karena gerakan cepat Dewi dan mendengar suara Dewi yang muntah di kamar mandi, Reza segera bangun dan menyusul Dewi ke kamar mandi.
"Kamu kenapa, Wi?"
Reza membantu memegang rambut panjang Dewi ke belakang karena selalu terjatuh ke depan. Reza menepuk-nepuk punggung wanitanya dan menggosok-gosoknya berharap dengan ia melakukan itu Dewi merasa lebih baik.
Dewi yang sudah mengeluarkan semua isi perutnya kini merasa lemas, beruntung Reza yang berada tepat di belakangnya langsung memegang dan memapah Dewi ke wastafel dan membantu istrinya untuk berkumur-kumur. Setelah itu Reza membawa Dewi kembali ke ranjang mereka dan mendudukkannya disana.
"Sudah merasa baik?" tanya Reza penuh perhatian. Ia juga mengelap keringat yang ada di dahi Dewi dengan tisu yang letaknya berada di atas nakas.
Dewi hanya mengangguk lemah, ia kemudian menyenderkan kepalanya dibahu Reza yang duduk di sampingnya.
"Mau ke rumah sakit?" tawar Reza.
"Kan emang mau ke rumah sakit nanti," jawab Dewi lemah.
"Bukan untuk bekerja, tapi memeriksakan kondisi kamu. Kok tumben muntah-muntah gini?"
"Masuk angin, tadi malam juga ngga makan malam karena nungguin Kak Reza ngga pulang-pulang," rengek Dewi.
"Kenapa ngga makan dulu aja?"
"Ya kan, mau bareng-bareng makannya," kata Dewi dengan manja.
"Eh tumben manja-manja gini, ada apa?"
"Ngga tau, pokoknya mau dipeluk." Dewi memeluk erat tubuh Reza seakan tak mau ditinggalkan.
"Yasudah tidur dulu, masih ada waktu setengah jam lagi sebelum subuh." Reza kemudian membawa Dewi untuk berbaring lagi. Reza juga menggosok pelan punggung Dewi hingga terdengar suara nafasnya yang mulai teratur menandakan kalau si punya tubuh sudah tertidur.
__ADS_1