Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 83


__ADS_3

Prak


Siska menutup keras pintu mobilnya. Ia masih sangat emosi karena dicuekin oleh Reza, bahkan laki-laki yang seminggu lebih lagi akan menjadi suaminya itu tidak segan menunjukkan kemesraannya dengan Dewi.


Ia segera melajukan mobil Audi hitam miliknya dengan kencang menuju kantornya. Ia ingin segera sampai dan mengadukan perihal Reza dengan papanya.


"Papa," teriaknya ketika sudah sampai didepan pintu ruang kerja Pak Wira.


"Kamu bisa sopan tidak sih, Siska. Manggil orangtua teriak-teriak seperti itu," hardik Pak Wira.


Tanpa menghiraukan teguran sang ayah, Siska tetap saja masuk dan berjalan menghampiri meja kerja Pak Wira dan duduk di bangku depannya.


"Apa tidak bisa pernikahan aku dan Mas Reza dimajukan, misal jadi besok? Terlalu lama aku harus menunggu untuk seminggu," gerutu Siska.


Pak Wira menghela nafas panjang, ia juga menyenderkan kepalanya di sandaran belakang kursinya.


"Kenapa kamu tidak begitu sabar, Siska? Hanya tinggal 10 hari lagi dan status kamu akan menjadi istri kedua Reza," jawab Pak Wira.


"Kenapa harus istri kedua sih, Pa? Kenapa aku tidak menjadi istri satu-satunya saja?"


"Kamu seharusnya bersyukur karena Dewi mengizinkan Reza untuk menikahinya."


"Kenapa sekarang Papa jadi membela wanita kampung itu?" marah Siska.


"Papa tidak membelanya, tapi Papa mengatakan kebenarannya, Siska. Kamu pikir ada wanita yang rela untuk dimadu?"


"Dia itu bertahan sama mas Reza karena hanya harta saja, Pa. Kalau tidak dia pasti tidak mau. Perempuan itu hanya ingin hartanya mas Reza, dia tidak benar-benar mencintai mas Reza."


"Kamu pikir warisan yang akan ia terima dari Arya sedikit? Bahkan harta yang akan ia dapat dari Arya jauh lebih banyak dari harta Reza sekarang. Kamu masih berfikir Dewi menikah dengan Reza karena harta?"


"Aaah sudahlah, aku ngomong sama Papa bukannya bikin hati adem malah makin panas. Pokoknya aku ingin pernikahan aku yang terbaik dan harus mewah. Aku ingin semua orang tahu kalau mas Reza itu milik aku, lagian masih banyak, kan yang tidak tahu kalau wanita itu dengan mas Reza sudah menikah," ucap Siska menggebu-gebu.


"Terserah kamu saja, Papa sudah capek mengurusnya. Pekerjan Papa banyak yang terbengkalai karena kebodohan kamu kemarin. Kamu serahkan saja semua sama wedding organizer itu, Papa sudah memilih yang terbaik untuk kamu," kata Pak Wira yang kemudian mengambil salah satu berkas yang meninggi diatas meja kerjanya. Ia buka berkas itu dan meneliti tiap kata dan angka yang tertera.


"Yasudah aku balik ke ruangan aku dulu." Siska kemudian berdiri dan melangkah keluar meninggalkan ruangan Pak Wira.


Lagi-lagi Pak Wira menghela nafas panjang, ia bahkan juga memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


"Kenapa Siska begitu berbeda dengan Leticia?" gumamnya.

__ADS_1


____


Ditempat lain, tepatnya disebuah parkiran restoran Reza baru saja memarkirkan mobilnya. Ia membawa Dewi ke restoran yang tak jauh dari kantornya, karena memang ia tidak bisa berlama-lama karena memang pekerjaannya yang sedang menumpuk.


Reza keluar terlebih dahulu dan memutari mobilnya, ia kemudian membuka pintu mobil untuk Dewi. Ia mengulurkan tangannya dan segera diraih oleh Dewi. Dewi dan Reza berjalan beriringan masuk ke dalam tempat makan itu.


Mereka berdua saling melempar senyum manis, tangan mereka juga saling menggenggam erat bagai orang yang sedang ingin menyebrang jalan raya.


Sampai di satu kursi yang kosong, Reza


menarik kursi untuk diduduki oleh istri tecintanya.


"Terimakasih, Kak."


"Iya sama-sama."


Selanjutnya Reza juga menarik kursi disebelah Dewi untuk dirinya. Tak lama pelayan restoran datang membawa buku menu untuk mereka.


"Kamu mau makan apa?" tanya Reza.


"Hmm apa ya?" Dewi membolak-balikkan buku menu yang ada di depannya.


"Bagaimana kalau tongseng atau sup iga?" tawar Reza.


"Tongseng ayam deh Dewi, Kak," kata Dewi.


"Mbak saya pesan tongseng ayamnya satu, sup iganya satu, dan orange juice nya dua ya," ucap Reza ke pelayan restoran sambil mengembalikan buku menu yang telah ia bolak balikkan sebelumnya.


"Baik, mohon ditunggu sebentar ya, Mas Mbak."


Pelayan wanita tersebut kemudian meninggalkan meja mereka berdua setelah mencatat pesanan. Pasangan yang tenagh bahagia ini lagi saling menggenggam erat tangan mereka, menyalurkan rasa bahagia atas kehamilan Dewi.


"Aku ngga nyangka Allah masih kasih aku kesempatan lagi utnuk menyambut kehadiran anak aku setelah kebodohan yang udah aku lakukan sama kamu dulu," kata Reza yang matanya kembali berkaca-kaca.


Terlihat jelas dimata itu penyesalan yang teramat dalam. Walaupun telah berlalu dan Dewi juga sudah memafkannya, Reza masih saja merasa sedih jika mengingatnya.


Dewi mempererat genggamannya dan mengusap lembut punggung tangan Reza dengan tangan satunya lagi.


"Semua sudah berlalu, Kak. Kakak harus melupakannya agar kita bisa bersama-sama menyambut kedatangan anak kita kelak dengan baik. Yang lalu biarlah menjadi pengalaman dan pembelajaran untuk kita agar tidak mengulanginya kembali,"

__ADS_1


Dewi mengangkat genggamannya itu dan mencium punggung tangan Dewi.


"Terimakasih, sayang karena telah mau menerima aku kembali. Aku berjanji akan menjadi suami dan papa yang baik buat anak-anak."


Dewi tersenyum dan mengangguk. Namun seketika wajahnya yang semula senang tiba-tiba menjadi muram.


"Ada apa?' tanya Reza.


"Bagaimana dengan Ara? Apa dia sudah siap, Kak? Apa dia nanti tidak akan cemburu?" Dewi kini mengkhawatrikan keasiapan anak sambungnya, apakah menerima adiknya ini kelak atau tidak, mengingat bagaimananya Ara yang terkadang masih suka memonopoli Dewi untuk dirinya sendiri.


"Pasti dia senang menjadi kakak dan akan menerima adiknya dengan bahagia. Kamu lupa bagaimana anak itu akhirnya mau tidur sendiri da tidak mau kamu temani lagi?"


"Oh iya, Dewi lupa."


"Pelan-pelan saja kita jelaskan ke anak-anak."


Dewi mengangguk setuju.


"Kamu nanti diantar sama supir kantor, tidak apa, kan? tanya Reza disela makannya.


"Iya tidak apa, Kak. Maaf karena mengganggu Kakak bekerja," ucap Dewi tak enak.


"Ngga perlu merasa tidak enak. Anything for you."


"Oia Siska tadi -"


"Jangan membicarakan dia sekarang, cukup kita saja."


Dewi mengangguk tanda setuju. Tak lama pesanan mereka datang. Mereka kemudian memakan pesanan mereka. Ketika tengah makan, ponsel Dewi yang ia simpan di dalam tasnya berdering dan terlihat nama dokter Kiki yang ternyata meneleponnya.


"Halo."


"Halo dok, maaf mengganggu. Di IDG baru saja datang pasein perdarahan intraserebrum di serebelum, dok. Kondisi semikoma, kedua pupil 0,2, dan hampir tidak ada gerakan motorik," jelas dokter Kiki dijjung telepon.


"Oke, saya datang." Dewi memutuskan panggilan telepon itu.


"Kak maaf."


"Tidak apa, aku antar saja."

__ADS_1


Mereka kemudian segera meninggalkan restoran itu dan Reza mengantarkan Dewi ke rumah sakit karena ia tahu kehadiran istrinya ditunggu oleh pasien dan sepertinya kondiri pasien itu sangat serius mengingat perubahan wajah Dewi.


__ADS_2