
"Assalammualaikum," sapa Dewi ketika masuk ke dalam rumahnya.
Di ruang tengah tampak Ara dan Andra sedang berkumpul bersama menonton tv dengan Reza yang juga baru saja sampai di rumah.
"Lho tadi pagi katanya baru pulang lusa," kata Dewi yang heran melihat suaminya sudah ada di rumah. Dewi menghampiri keluarga kecilnya itu dan duduk tepat di samping Reza.
"Ternyata bisa diselesaikan semua tadi, jadi ya langsung pulang aja," jawab Reza yang langsung mencium kening istrinya.
Dewi yang kaget langsung mencubit kecil pinggang Reza.
"Ada anak-anak," bisiknya.
"Kening doang bukan yang lain," jawab Reza santai. "Kamu darimana? Tumben agak telat," tanya Reza. Dewi jadi mengingat pertemuannya tadi dengan pak Wira. Ia jadi ingat dengan masalah yang sedang dihadapi suaminya sekarang.
"Apa Kak Reza bisa dapat investor baru yang orang Singapura itu?" batinnya.
"Ditanya malah bengong," ucap Reza yang membuyarkan lamunannya.
"Ha, oh tadi mampir dulu ke minimarket beli jajanan, lagi kepengen hehehe," jawab Dewi sambil mengangkat jinjingan kresek putih yang berisikan aneka jajanan yang ia beli tadi. Ia meletakkan kantong kresek itu di atas meja dan langsung menjadi rebutan antara Ara dan Andra.
"Asik ada es klim lasa pisang kesukaan adek," kata Ara yang senang melihat es krim kesukaan ya dibelikan oleh Dewi. "Yang kacang coklat buat Abang," lanjutnya sambil menyerahkan es krim untuk Andra. Andra menerima es krim coklat kacang kesukaannya tanpa mengalihkan pandangannya dari tv.
"Kasirnya juga antri banget tadi, jaringannya rusak gitu katanya, makanya lama sampai rumah," lanjut Dewi ke Reza. "Bunda ada beli banyak yang lain juga, sesekali ngga apa-apa, jadi jangan rebutan ya, Bunda mau ganti baju dulu," sambungnya yang langsung beranjak menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Dewi langsung membuka hijabnya yang seharian ini menutup rambut panjangnya. Ketika ingin meletakkan bros dan jarum ke dalam tempatnya, Reza datang tiba-tiba dan memeluk Dewi dari belakang.
"Kenapa, Kak?" tanya Dewi yang masih dalam posisi seperti tadi.
"Kangen sama kamu aja," bisik Reza di dekat telinga Dewi.
"Gimana dengan pekerjaan yang di Singapura? Lancar?" Dewi mencoba bertanya sedikit demi sedikit mengenai masalah kantor, agar Reza mau bicara jujur dengan dirinya.
"Hem."
Hening beberapa saat. Dewi yakin bahwa Reza belum berhasil mendapatkan investor baru untuk perusahaannya.
"Kamu percaya sama aku, ya," kata Reza tiba-tiba yang memutuskan keheningan.
__ADS_1
Deg
Dada Dewi berdetak cepat. Pikirannya entah kemana saat ini setelah mendengar perkataan Reza yang memintanya untuk percaya dengan suaminya itu.
"Apa Kak Reza akan menikahi Siska biar perusahaannya tetap berjalan?" batin Dewi. Ia merasakan ketakutan saat ini. Memang dirinya dan Reza pernah menjalani pernikahan poligami. Dulu ia diminta oleh Rena menikah dengan Reza dan hubungannya dengan Rena juga masih baik-baik saja sebelum ada masalah itu. Tetapi sekarang wanitanya itu adalah Siska, wanita yang penuh dengan obsesi dan kelicikan yang pasti ingin menguasai Reza seorang diri, bahkan mungkin bisa saja akan menjauhkan Reza dengan anak-anaknya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa hanya ini satu-satunya cara agar perusahaan bisa selamat?" batin Dewi. "Aku ngga boleh egois. Aku ngga bisa cuma mikirin perasaan aku aja, padahal ada ribuan orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan Kak Reza, dan kalau perusahaan Kak Reza colaps, bagaimana dengan mereka. Ini juga perusahaan dari orangtuanya Kak Reza, jadi kali ini aku ngga boleh egois."
"Sayang, kamu percaya, kan sama aku?" tanya Reza lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.
Dewi melepaskan perlahan tangan Reza yang membelit perutnya, kemudian ia berputar menghadap Reza."
"Sepenuhnya Dewi percaya sama Kakak," ucap Dewi tersenyum sambil memeluk pinggang Reza.
"Terimakasih, sayang." Reza mendaratkan bibirnya untuk mencium bibir istri yang sangat ia cintai.
_____
"Makan siang nanti aku jemput," kata Reza mengingatkan Dewi kembali.
"Oke oke diingat, Pak. Ayok kiddos salim dulu sama Papa."
" Iya sayang belajar yang rajin, ya," ucap Reza sambil mencium puncak kepala putrinya.
"Abang berangkat, Pa." Sekarang giliran putra sulungnya yang mencium punggung tangannya.
"Abang juga rajin belajarnya ya."
"Hem."
Kedua anaknya sudah masuk ke dalam mobil yang akan dikendarai oleh Dewi.
"Dewi berangkat dulu, ya," pamitnya dengan Reza. Reza mencium kening istrinya itu.
"Hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut."
"Iya suamiku tersayang tercinta."
__ADS_1
"Ih udah mulai ya sekarang. Gimana ke kamar dulu kita," goda Reza dengan mengedipkan nakal matanya.
"Udah bercanda mulu." Dewi mengambil tangan kanan Reza dan mencium takzim punggung tangan suaminya itu.
"Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Dadah Papa." Ara melambaikan tangannya ke Reza dan juga dibalas oleh Reza. Setelah melihat mobil yang dikendarai Dewi keluar dari perkarangan rumah barulah Reza beranjak memasuki mobilnya. Ia akan berdiskusi dengan Anton dan Lia tentang langkah yang harus mereka ambil untuk menyelamatkan perusahaannya setelah gagal mendapatkan kerjasama dengan Chris.
Setelah Dewi mengantarkan kedua anaknya ke sekolah, Dewi kemudian melajukan kendaraannya menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Di tengah perjalanan Dewi mampir dulu ke minimarket untuk membeli susu kotak kemasan. Entah kenapa ia ingin meminum susu uht rasa coklat itu untuk ia minum di rumah sakit nanti.
Selesai berbelanja, Dewi keluar dari minimarket dan berjalan menuju mobilnya. Ketika ingin membuka pintu mobil, Dewi mendengar teriakan seorang wanita yang meminta tolong.
"Copet tolong."
Dewi melihat seorang pria yang berlari kencang sambil menenteng tas wanita. Pria tersebut langsung naik ke atas motor yang memang sudah ditunggu oleh temannya yang lain. Ketika motor itu berjalan tepat di depannya, Dewi langsung menendang pria yang mengemudikan motor sehingga motor oleng dan jatuh ke tengah jalan. Beruntung mobil yang berada di belakang bisa menghentikan lajunya sehingga tidak menabrak kedua copet yang sudah terkapar di tengah jalan itu.
Dewi langsung menghampiri dan mengambil tas wanita yang menjadi korban pencopetan mereka. Aksi itu tentu saja mengundang perhatian warga. Banyak warga yang ingin menghakimi sendiri kedua pelaku. Beruntung saat itu lewat petugas kepolisian yang langsung bisa mengamankan lokasi kejadian.
Dewi yang masih menenteng tas korban pencopetan kaget karena tiba-tiba tas itu dirampas dari tangannya.
"Siniin tas gue."
Dewi menatap wanita yang mengambil secara paksa tas yang sudah ia selamatkan tadi.
"Tas itu punya lo?" tanya Dewi menatap wanita yang berada di depannya.
"Kalau iya kenapa? Jangan berharap gue bakalan berterimakasih sama lo."
"Tau gitu gue biarin aja tu pencopet pergi. Hitung-hitung sedekah dari lo," ketus Dewi.
"Si*lan lo." Wanita itu langsung saja pergi tanpa berterimakasih sama Dewi yang telah menyelamatkan tasnya dari pencopet.
"Apes banget hidup gue. Kemaren ketemu bapaknya di minimarket ini, sekarang ketemu anaknya. Udah ditolongin,bukannya berterimakasih, main pergi aja. Gue tandain ni minimarket," gumam Dewi. Ia langsung pergi meninggalkan tempat menuju rumah sakit.
____
__ADS_1
Hari Senin, jangan lupa votenya ya yeorobun. kembang dan likenya juga jangan sampai lupa 🙏😍😍
oh iya author juga mau ucapin selamat beraktivitas kembali ya. Liburan telah usai, mati kita kumpulin pundi-pundi celengan kita lagi 😅😅