Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 96


__ADS_3

Hari berikutnya di Barcelona, Ara dan Andra kian semangat karena Dewi yang bisa ikut bergabung. Ia mendapatkan dispensasi dari pihak panitia untuk bisa tidak ikut di acara siang ini, namun tetap diwajibkan untuk mengikuti acara makan malam nanti sebagai penutup kegiatan.


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah markas utama salah satu klub sepakbola raksasa di dunia. Stadion Camp Nou menjadi tujuan mereka.


Klub sepakbola FC Barcelona adalah salah satu klub favorit Dewi sejak sekolah. Tak satupun pertandingan dari klub ini terlewatkan oleh Dewi.


Dewi ingat bahkan ketika baru saja tiba di dalam kelas pada pagi hari, ia akan berkumpul bersama teman-teman prianya membicarakan bagaimana jalannya pertandingan yang berlangsung malam sebelumnya.


El Clasico adalah pembicaraan yang sangat panas dibicarakan di dalam kelas, mengingat pertandingan ini adalah pertandingan sepak bola antara klub rival FC Barcelona dengan Real Madrid CF. (Jujurly ini author sih, sampai kuliah bahkan semangat-semangatnya cerita bola sama teman cowo 🤭)


Sayang kali ini Dewi tidak bisa menyaksikan secara langsung pertandingan itu musim La Liga (liga profesional tertinggi dalam sistem kompetisi liga sepak bola di Spanyol) belum dimulai.


"Kak kapan-kapan kita kesini lagi, ya. Mau nonton langsung," rengek Dewi.


"Iya setelah kamu lahiran dan anaknya sudah bisa di tinggal lama kita pergi nonton langsung ke stadionnya," jawab Reza.


"Terimakasih," ucap Dewi sambil menunjukkan senyum termanisnya.


"Ngga cukup dengan terimakasih aja," kata Reza.


"Lalu?"


"Nanti malam," ujar Reza sambil menaikkan kedua alisnya.


"Ih Kak ada anak-anak." Dewi menajamkan matanya menatap Reza.


"Anak-anak ngga ada, tuh lihat udah lari jauh."


Memang benar, kedua anak mereka sudah daritadi memisahkan diri dan berlari kesana kemari, namun tetap masih dalam pengawasan Reza.


"Maksudnya malam kan ada anak-anak," jelas Dewi.


"Berati kalau ngga ada anak-anak, bisa dong?"


Dewi tidak menjawab dan langsung pergi meninggalkan Reza sendirian dibelakang yang sudah tertawa melihat wajah cemberut istrinya.


Sikap Dewi semenjak hamil sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Sekarang Dewi suka manja dengan Reza bahkan juga gampang merajuk. Namun sifat mandiri nya tidak lepas dari sosok wanita itu.


Setelah puas bermain dan mengelilingi stadion dan berbelanja berbagi macam marchandise khas FC Barcelona, mereka memutuskan kembali ke hotel karena Dewi yang mengeluh sedikit kelelahan.


Menghabiskan sisa hari di dalam kamar, itu yang mereka berempat lakukan. Sangat jarang mereka bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini.


Mereka bercanda gurau, bermain bersama, dan mendengarkan cerita dari Ara maupun Andra. Kedua anak mereka bercerita bagaimana keadaan disekolahnya. Ara menceritakan bagaimana seorang teman laki-laki yang bernama Nathan yang sering mengusilinya.


Reza bersyukur masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya, bahkan sebentar lagi anggota keluarganya akan bertambah lagi. Ya lebih kurang lima bulan lagi anak ketiganya akan lahir dan kebahagiaannya akan sungguh lengkap.


"Terimakasih sudah mengirimkan bidadari ini untuk kami, Ren. Kamu bisa istirahat dengan tenang sekarang," batin Reza.


*******

__ADS_1


Tepat pukul 11.30 waktu Swiss, keluarga kecil Reza sudah tiba. Bahkan mereka dijemput langsung oleh mami Lisa dan papi Arya yang memang diminta Reza untuk ikut dalam liburan kali ini.


"Oma... Opa...." teriak Ara dan Andra ketika melihat pasangan paruh baya itu di pintu kedatangan.


"Halo sayang." Mami Lisa langsung memeluk secara bergantian kedua cucunya.


"Kak Reza beneran minta Mami sama Papi buat nyusul?" tanya Dewi.


"Kan aku udh bilang, aku mau ada hari berdua aja bareng kamu," jawab Reza persis di telinga Dewi.


Dewi yang kegelian mencubit kecil pinggang Reza.


"Kapan sampainya, Om?" tanya Reza pada Papi Arya.


"Belum sampai lima belas menit," jawab Papi Arya.


Rombongan ini bersama-sama meninggalkan bandara menuju hotel yang sudah di booking sebelumnya. Walaupun perjalanan ke Iseltwald hanya lebih kurang satu jam, namun mereka memilih untuk beristirahat terlebih dahulu demi menjaga kehamilan Dewi.


Tiba di hotel, mereka memasuki kamar masing-masing. Ara dan Andra dipaksa oleh mami Lisa untuk tidur bareng dengannya dengan alasan masih rindu dengan cucu-cucunya itu.


"Istirahat aja langsung, Wi," ujar Reza ketika mereka sudah memasuki kamar.


"Dewi ngga capek kok, Kak."


Dewi berjalan dan membuka


Reza yang sudah meletakkan kopernya langsung menyusul Dewi yang sudah duduk di sofa.


"Perhatian banget sih suami akoh." Dewi yang dasarnya memang usil kini mulai mengusap-usap dagu Reza.


"Berhenti sebelum aku memakan kamu siang ini."


Dewi yang sejatinya juga merindukan Reza terus memancing suaminya itu sehingga sesuatu yang sudah tertahan beberapa hari bisa dikeluarkan secara semestinya.


******


Sesuai jadwal setelah seharian beristirahat di Zurich, mereka akhirnya tiba di rumah yang Dewi sewa hampir dua tahun lalu dari salah seorang penduduk lokal, yaitu uncle Alex. Barang-barang milik Dewi masih banyak yang tertinggal karena memang ia belum mengembalikan secara langsung kunci rumah ini mengingat terkahir ia pergi terburu-buru setelah mendapatkan kabar kecelakaannya Ara.


Kedatangan Dewi tentu saja sudah sampai di telinga Briggta, sahabatnya selama ia tinggal di desa indah ini. Briggita memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Ia juga turut bahagia dengan kehamilan Dewi saat ini. Tak lupa ia juga mendoakan agar kandungan Dewi sehat hingga persalinan tiba.


Setelah Briggita pulang, Dewi bersama Reza berjalan mengelilingi danau Brienz. Jangan tanya dimana Ara dan Andra, karena mereka berdua kini sudah bersama opa dan omanya yang juga menemani mereka berkeliling danau. Namun mereka lebih memilih arah yang berbeda dengan Reza dan Dewi.


Disinilah Dewi dan Reza berada, di sebuah dermaga fenomenal yang kini sering dikunjungi oleh wisatawan.



Dewi yang berdiri menghadap ke arah danau dan pegunungan dipeluk erat dari belakang oleh Reza. Keduanya hanya diam, menghirup udara yang terasa bersih di paru-paru dan menatap keindahan danau serta pegunungan Alpen yang ada di depan mata.


"Terimakasih," ucap Reza setelah mereka diam cukup lama.

__ADS_1


"Terimakasih karena sudah mau memberikan kesempatan kedua buat aku. Aku tidak tau bagaimana aku harus melanjutkan hidup jika kamu tidak mau memaafkan aku."


"Tujuh bulan adalah waktu terberat dalam hidupku, ditinggalkan hampir secara bersamaan oleh kamu dan Rena, kedua istri yang sama-sama aku sayangi."


"Maafkan aku juga yang telat menyadari kalau sebenarnya rasa sayang dan cinta itu sudah hadir sebelumnya. Aku tidak tau pasti kapan, mungkin ketika kita yang sering duduk berdua bersama disetiap makan malam dan sarapan ketika kita tinggal di apartemen."


"Aku selalu saja menyangkalnya, dan selalu meyakini hatiku bahwa rasa sayang yang aku rasakan adalah rasa sayang sebagai seorang kakak pada adiknya, seperti sebelum-sebelumnya. Padahal aku sendiri tau rasa sayang yang saat itu aku rasakan berbeda, tapi aku selalu menyangkalnya. Maafkan aku, Wi aku sungguh menyesal."


Dewi melepaskan pelan pelukan Reza yang ada di perutnya, ia berbalik dan menatap Reza yang kini juga sedang menatapnya.


"Tidak perlu menyesal, Kak. Cukup dijadikan pembelajaran agar kita menjadi lebih baik. Lagipula, kalau jalan cerita kita tidak seperti itu, belum tentu hari ini kita berdiri disini berdua."


"Dan juga belum tentu ada adik disini yang sekarang sedang menunggu untuk bertemu dengan papa, kakak dan abangnya," ujar Dewi sambil membawa tangan Reza untuk mengelus perutnya.


"Aku bersyukur diberikan istri dan bunda anak-anak yang luar biasa seperti kamu. Wanita cerdas, pekerja keras, mandiri, dan insyaAllah Sholeha, yang akan menuntun aku dan anak-anak ke surga-NYA."


"Aamiin."


Reza melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi berada di pinggang Dewi. Satu tangannya nampak sedang merogoh sesuatu yang berada di kantong sebelah kanan celananya. Tak lama ia kemudian berlutut di depan Dewi sambil menyodorkan suatu benda dan hal itu membuat Dewi beekaca-kaca.


"Jujur ini adalah pertama kalinya buat aku seperti ini. Kamu sendiri juga tau kalau aku bukanlah pria yang romantis, aku hanyalah pria kaku yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku juga tau seharusnya sudah sejak lama aku melakukan ini, jauh sebelum kita menikah.


Dokter Dewi Anggraini, maukah kamu menjadi istriku, ibu untuk kedua anakku dan ibu untuk anak-anakku selanjutnya?" Reza membuka kotak beludru itu dan terlihatlah sebuah cincin yang sangat indah. Cincinnya begitu sederhana namun bermahkotakan berlian sehingga tampak begitu indah dan elegan.


Sungguh Dewi sudah tidak kuat menahan tangis bahagianya kini. Pipinya sudah mengalir begitu deras air mata yang sedari tadi sudah ditahannya.


"Kak, Dewi tidak bisa janji akan menjadi istri yang baik, tapi Dewi berjanji akan mendampingi Kak Reza seumur hidup Dewi," ucap Dewi.


"Ya, Dewi mau," sambungnya lagi.


Reza tersenyum bahagia. Ia berdiri dan kemudian mengeluarkan cincin itu dari tempatnya. Ia pasangkan cincin tersebut ke hari manis istrinya.


"Tak ada kata-kata lagi setelah itu. Reza menarik wajah Dewi yang sudah sembab untuk mendekat kepadanya.


Ia kecup bibir mungil dan manis sang istri sangat lama. Tak ada ciuman menggebu-gebu, yang ada hanya kecupan yang saling mengantarkan rasa sayang dan cinta pada diri mereka masing-masing.


Reza berjanji Dewi adalah pelabuhan terakhir dalam hidupnya. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu mencintai wanita yang sudah memberikan warna baru dalam hidupnya itu.


TAMAT


Terimakasih author ucapkan pada para readers semua yang sudah setia mendukung dengan memberikan like dan komentar cerita author ini. Ini adalah karya author yang pertama, jadi mohon dimaafkan apabila masih banyak terdapat kesalahan dalam cerita.


Maafkan author juga karena beberapa waktu lalu author sempat menghilang karena ada sedikit masalah di real life.


Author juga ingin memberi tau kalau saat ini author sedang mempersiapkan cerita baru tentang Laura dan Chris (masih ingat ngga sama mereka? Itu lho yang bantuin Reza buat nyelamatin perusahaannya).


Cerita ini mau author dedikasiin untuk orang terdekat dan tersayang author, karena sedikit banyak cerita ini author ambil dari kisah hidupnya.


Oh iya tak lupa author juga ingin mengucapkan bela sungkawa sebesar-besarnya atas tragedi yang terjadi di stadion Karunjuhan Malang. Semoga ini menjadi tragedi yang terakhir di dunia olahraga kita.

__ADS_1


Semoga para korban Husnul Khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Mari bersama-sama menjaga nama baik negara di mata internasional. Sungguh ironi kejadian ini menjadi terbesar kedua di dunia.


Sekali lagi terimakasih banyak yeorobun. Sampai jumpa di karya author selanjutnya. Sarangheo ❤️❤️❤️


__ADS_2