Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 41


__ADS_3

Dewi dan Briggita tiba di Zurich ketika siang hari. Mereka tadi berangkat menggunakan kereta. Setelah mengantarkan koper dan bawaan lainnya ke penginapan, mereka berdua memulai petualangannya di kota ini.


Tujuan pertama mereka adalah Altstadt. Altstadt berasal dari bahasa Jerman yang berarti Kota Tua. Hampir seluruh bangunan yang ada di Zurich merupakan bangunan-bangunan tua yang sudah ada sejak zaman dulu dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.



Bangunan-bangunan ini menampilkan estetika dan nilai seni yang tinggi sehingga sangat sayang jika tidak dinikmati dengan berjalan-jalan disekitar kota.


Kedua wanita ini berfoto ria disetiap sudut bangunan yang menurut mereka cantik. Setelah lelah berswafoto, mereka kemudian mencari restoran karena perut mereka yang juga sudah minta untuk diisi.


Setelah selesai makan, Dewi dan Briggita kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Hari kian sore, mereka kemudia memutuskan untuk berlayar menggunakan perahu di sungai Limmat. Sungai ini berada di tengah-tengah kota. Ditemani semilir angin, bangunan-bangunan tua disepanjang aliran sungai menjadi pemandangan indah yang sayang untuk dilewatkan.



Bangunan-bangunan tua itu menjadi andalan pemandangan kawasan wisata ini. Susunan arsitektur bangunannya sangat menarik, karena itu banyak sekali fotografer yang mengabadikanya menjadi salah satu aset foto di galerinya.


“Sejuk banget disini ya, Bri,” kata Dewi.


“Kamu tahu Wi. Ini juga pertama kalinya aku duduk di sekitaran sungai ini. Ternyata tidak buruk juga,” ucap Briggita sambil tertawa.


Mereka berdua tertawa bersama sore itu. Menceritakan hal-hal receh yang pernah mereka alami, dan mereka saling melempar candaan satu sama lain.


Hari yang mulai gelap membuat kedua wanita beda bangsa ini memutuskan untuk pulang dan beristirahat. Besok rencananya mereka akan bertemu dengan Julian yang akan membawa mereka mengelilingi kota ini.


Pagi harinya Briggita mendapat pesan maaf dari Julian karena belum bisa membawa mereka mengelilingi Zurich karena ada pertemuan penting pagi sampai siang ini. Akhirnya Dewi dan Briggita berjalan berdua kembali di kota ini.


Setelah sarapan, mereka memutuskan pergi ke Botanical Garden. Disini terdapat rumah kaca tropis yang wajib dikunjungi. Selain itu pengunjung juga dapat melihat keanekaragaman tumbuhan yang unik sampai yang tidak biasa.



Berbagai spot foto yang menarik tentu saja tidak terlewatkan oleh kedua wanita itu. Berswafoto dengan berbagai gaya mereka lakukan.


“Setelah ini kita kemana lagi?” tanya Briggita setelah meminum air mineral kemasan yang dibelinya tadi ketika mereka keluar dari tempat penginapan.


“Sebentar aku lihat di handphone dulu.” Dewi mengeluarkan handphonenya dan melihat list tempat wisata yang akan ia kunjungi di Zurich. Sebelum berangkat ke Zurich, ia telah membuat list-list tempat yang sangat ingin ia kunjungi.


“Lindenhof,” ucap Dewi sambil melihat ke arah Briggita yang duduk disampingnya.


“Ayo kita ke Lindenhof.”


——


Reza yang baru saja tiba di Zurich, langsung menuju hotel tempatnya menginap. Berhubung acara pesta pernikahannya akan diadakan malam hari, ia berencana untuk istirahat sejenak di kamar hotelnya.

__ADS_1


Setelah mandi, Reza mengenakan celana pendek dan baju kaosnya dan segera berbaring di ranjang. Reza mencoba memejamkan matanya untuk tidur tapi kantuk itu tak kunjung datang. Akhirnya Reza bangkit dan mengganti pakaian.


Reza keluar dari hotel mengenakan pakaian casualnya. Daripada hanya duduk diam di hotel, lebih baik ia berkeliling menyusuri jalan kota Zurich. Langkah kaki Reza membawa dirinya ke Lindenhof hill.


Lindenhof merupakan kota tua peninggalan Romawi yang memberikan pemandangan indah berupa pemukiman, gereja, hingga universitas. Lindenhof semacam taman yang berlokasi dijantung kota. Disini orang datang untuk bertemu, main catur, sekedar bersantai atau menikmati pemandangan.




Reza duduk disebuah kursi taman yang menghadap ke arah danau. Setelah meminum minuman yang ia beli di salah satu toko, ia membuka email dari ponsel pintarnya. Reza mengecek kiriman email berisikan pekerjaannya yang dikirim oleh sekretaris Lia.


Reza berhenti melihat handphonenya ketika mendengar suara tawa yang sangat familiar di telinganya. Ia menoleh ke segela arah mencari sosok pemilik tawa itu. Tawa yang selalu ia rindukan selama hampir satu tahun ini.


Reza kemudian berdiri, berjalan dan berlari mencari wanita pemilik suara itu. Ia berlari sambil melirik ke kanan dan ke kiri meninggalkan jauh tempat yang ia duduki tadi. Suara tawa itu sudah hilang. Reza mulai ragu apakah tadi ia salah dengar.


“Apa hanya perasaan aku saja karena terlalu rindu dengannya?” lirih Reza.


“Oh sayang, kamu dimana?”


Tetapi entah kenapa Reza sangat yakin kalau ia tidak sedang menghayal atau perasaannya saja. Ia benar-benar yakin suara itu adalah suara Dewi dan wanita itu berada di kota ini.


Kembali ke tempat tadi, Dewi sesekali masih tertawa mendengarkan cerita lucu Briggita yang menceritakan awal mulanya ia dan Julian busa menjadi sepasang kekasih. Sebenarnya posisi mereka duduk dengan Reza tadi tidak terlalu jauh. Reza tidak melihat tadi karena badan Dewi tertutupi oleh badan Briggita yang duduk di depan Dewi, lalu ada sekelompok wisatawan yang berdiri di dekat mereka sehingga Reza tidak dapat melihat keberadaan Dewi.


“Iya katanya selama dia suka jahilin aku itu karena mau cari perhatian aku. Padahal kalau suka tinggal bilang suka aja kan bisa,” ujar Briggita kesal mengingat tingkah Julian yang dulu suka menjahili dirinya.


“Ya kalau Julian langsung bilang suka ke kamu ngga akan ada cerita lucu yang kamu ceritain ke aku ini Bri.”


“Eh iya juga ya.” Briggita dan Dewi tertawa kembali bersama.


“Eh sebentar ini Julian kirim pesan.”


“Apa katanya?”


“Hmm, dia udah selesai dengan pekerjaannya. Sekarang dia sedang menuju kemari.”


“Baiklah.”


Dewi berdiri dari tempatnya duduk kemudian menghirup dalam udara yang segar di taman itu.


“Take me back Switzerland,” kata Dewi sambil memejamkan matanya sembari menikmati semilir angin.


“Balik kesini ngga boleh sendiri ya. Minimal harus berdua dan itu sama pasangan kamu,” kata Briggita yang ikut berdiri.

__ADS_1


“Ha? Pasangan gimana?” tanya Dewi.


“Ya pasangan kamu. Entah kamu balik dengan suami kamu atau dengan pasangan baru kamu kelak. Pokoknya harus berdua.”


“Ada-ada aja kamu. Yaudah yuk kita ke depan aja.”


Dewi dan Briggita berjalan menuju jalan besar. Mereka kembali bersenda gurau sembari menunggu Julian menjemput mereka.


Tin tin tin


Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat dihadapan mereka.


“Ayo masuk.” Kaca pengemudi terbuka dan ternyata sang pengemudi adalah Julian. Julian tidak sendiri, ada seorang laki-laki seusianya yang duduk di samping Julian. Dewi dan Briggita masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang.


“Temanku ikut tidak apa-apa kan? Dia belum pernah berkeliling Zurich walau sudah lama tinggal disini,” ucap Julian.


“Boleh kok, malah seru kalau ramai. Benar kan Wi?” tanya Briggita.


“Iya aku juga ngga masalah.”


“Aku Erkan Fuat. Panggil saja Erkan,” ucap pria temannya Julian. Pria itu mengulurkan tangannya ke belakang untuk bisa bersalaman dengan Briggita dan Dewi.


“Aku Briggita dan ini Dewi,” jawab Briggita yang menerima uluran tangan Erkan.


“Dewi ini berasal dari Indonesia,” sambung Briggita.


“Hon kenapa kamu yang memperkenalkan Dewi padanya?” tanya Julian dari arah depan kemudi.


“Dewi hanya diam saja dari tadi.”


“Hei aku bukannya diam saja. Hanya kau saja yang tidak nyerocos dari tadi, tidak memberiku kesempatan untuk berbicara dengannya,” ucap Dewi.


“Sudah-sudah. Sekarang kita lanjut dulu ya. Kemana ini?” tanya Julian.


Dewi dan Briggita yang duduk dibelakang saling melihat satu sama lain, kemudian tersenyum yang mengandung arti.


“Rhine waterfall,” kata Dewi dan Briggita kompak.


“Oke lets go.”



Wah ngga nyangka udah mau masuk bulan Ramadhan ya. Author mau ucapin Selamat Berpuasa ya bagi yang berpuasa. Marhaban ya Ramadhan 🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2