
Disinilah Dewi dan Siska kini berada, disebuah coffe shop ternama yang berada di ruang tunggu bandara. Reza dan kedua anaknya meninggalkan Dewi dan memutuskan untuk menunggu wanita itu di ruang tunggu vip bandara.
Didepan keduanya sudah terhidang minuman pesanan mereka. Belum ada obrolan sejak lima menit lalu ketika mereka telah mendaratkan bokong mereka di sofa empuk milik coffeshop itu.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Dewi yang memutuskan keheningan mereka.
"Emm." Siska masih saja menunduk sambil memainkan sedotan minuman miliknya.
"Aku minta maaf, mbak," lirihnya.
"Ya?" tanya Dewi yang sambil mengernyitkan dahinya. Apa dia tidak salah dengar pikirnya.
"Aku sadar ternyata yang aku lakukan ke Mbak Dewi itu salah dan melukai hati Mbak Dewi. Tapi Mbak Dewi masih tetap baik sama aku. Padahal bisa saja Mbak menyuruh dokter lain untuk menangani aku tapi Mbak yang tetap mau merawat aku".
Dewi hanya diam mendengarkan tanpa menginterupsi omongan Siska.
"Aku udah mulai memperhatikan Mas Reza sejak aku masih kuliah. Aku melihat Mas Reza sebagai sosok yang berwibawa, bertanggung jawab dan sayang dengan keluarganya. Aku tau salah karena telah menyukai pria beristri, tapi pesona Mas Reza benar-benar buat aku mau memilikinya. Apalagi aku tau kalau istrinya Mas Reza yang pertama hanya dari kalangan orang biasa, makanya aku mau merebut Mas Reza dari dia."
"Aku marah pada saat tau Mas Reza menikah lagi. Dia berpoligami tapi kenapa tidak aku wanita itu. Makanya ketika di Singapura waktu itu, aku berencana mendapatkan Mas Reza dengan cara kotor. " Siska berhenti sejenak dan memperhatikan ekspresi Dewi yang masih saja datar, seakan menunggu kelanjutan cerita darinya.
"Aku mencampurkan sesuatu ke minuman Mas Reza, niatnya agar malam itu aku dan Mas Reza menghabiskan malam bersama, tapi Mas Reza menolak dan meninggalkan aku sendiri," cicit Siska.
Dewi menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. Ia kembali mengingat bagaimana malam itu untuk pertama kalinya ia melakukannya bersama dengan Reza. Namun ketika ia terbangun pada pagi hari ia ditinggalkan oleh pria itu seorang diri bahkan selama berbulan-bulan. Jika mengingat kejadian itu ia masih merasakan sesak di dadanya. Namun ia harus bersyukur, malam itu Reza yang sedang dalam pengaruh obat bercinta dengannya, tidak dengan wanita lain, apalagi dengan Siska.
"Aku benar-benar minta maaf, Mbak. Aku tau bagaimana rasa sakitnya hati Mbak karena harus merelakan suaminya untuk menikahi wanita lain. Aku melihat sendiri bagaimana mamaku menangis ketika papa tidak ada dirumah. Bahkan sampai sekarang, walaupun pernikahan poligami yang sudah dijalani papa bertahun-tahun tetap membuat mamaku sedih."
"Aku minta maaf ya, Mbak," ucap Siska tulus. Wanita itu juga sampai mengeluarkan air matanya karena meminta maaf dengan Dewi.
Dewi yang tak tega menggenggam tangan Siska dengan kedua tangannya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sis. Cinta datang tanpa permisi. Kita tidak bisa melarang cinta untuk datang, tapi kita bisa mencegah untuk tidak mencintai sesuatu yang memang bukan menjadi milik kita."
"Kamu cantik dan pintar. Pasti banyak laki-laki baik di luar sana yang akan mencintai kamu dengan tulus. Aku doakan semoga segera kamu mendapatkan kebahagiaan itu ya," kata Dewi.
__ADS_1
"Terimakasih ya, Mbak. Mas Reza beruntung punya istri sebaik dan secantik Mbak Dewi."
Tak tahan akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan oleh Siska turun juga dari matanya. Dewi yang melihat Siska sudah menangis pindah dari duduknya dan duduk disebelah Siska. Tak lupa ia juga menarik gadis itu dalam pelukannya.
"Sudah jangan nangis terus, nanti cantiknya hilang lho. Ntar kalau jelek ngga ada bule Paris yang mau sama kamu," goda Dewi.
Siska tertawa kecil menanggapi guyonan Dewi. Ia tak menyangka setelah apa yang ia lakukan wanita di depannya ini masih bisa tersenyum dan memaafkannya.
"Aku doakan semoga pernikahan Mbak dan Mas Reza langgeng hingga tua. Dan juga semoga persalinan Mbak nanti lancar."
"Aamiin. Terimakasih doanya."
******
"Kenapa lama sekali?" tanya Reza langsung setelah Dewi duduk disampingnya.
"Lama apanya? Lima belas menit aja kok."
Setelah obrolan mereka selesai Dewi bergegas menyusul keluarganya di ruang tunggu VVIP. Ia langsung duduk disebelah sang suami, sedangkan kedua anaknya sedang bermain di area play ground yang ada di tempat itu.
"Engga, yang ada baku tembak" jawab Dewi asal.
"Ha?"
"Lah kan iya, tadi malam terjadi baku tembak di kamar. Katanya malam mau selesein kerjaan dulu biar ngga keteteran pagi eh ketiduran. Akhirnya bener kan keteteran paginya," sungut Dewi.
"Ya habis aku kecapean, sayang."
"Gimana ngga capek. Langsung main dua ronde, gak ingat istri lagi hamil gini."
"Kan aku kangen, udah lama ngga jengukin adek juga," jawab Reza sambil memeluk Dewi dari samping. Tak lupa ia meletakkan dagunya diatas bahu sang istri.
"Ih lepasin, Kak malu banyak orang." Dewi berusaha lepas dari jeratan Reza.
__ADS_1
"Ngga apa-apa biarin aja. Melukin istri sendiri kok bukan istri orang lain."
"Iya tapi malu."
"Ngga perlu malu."
"Bundaaa."
"Eh Abang sama Kakak udah selesai mainnya?" tanya Dewi ketika Andra dan Ara menghampiri meja mereka. Dewi juga dengan segera melepaskan pelukan Reza yang masih melilit pinggangnya.
"Udah, Ara haus," jawab Ara dan langsung meminum millkshake coklat miliknya.
Obrolan-obrolan ringan terjadi di meja yang diisi keluarga kecil itu sampai terdengar pengumuman bahwa pintu gate penerbangan mereka sudah dibuka yang menandakan mereka harus segera masuk ke dalam pesawat yang akan membawa mereka ke kota Barcelona.
Di dalam pesawat, Dewi duduk disebelah Ara. Ia harus menjaga agar mood anak perempuannya itu selalu bagus dan tidak rewel selama perjalanan.
"Ara udah tidur, sekarang kamu tidur juga," kata Reza yang membantu Dewi mengubah posisinya agar menjadi nyaman.
"Ada yang sakit, ngga?" tanya Reza. Ia sempat khawatir mengingat ia yang menggempur Dewi hingga tengah malam kemarin padahal paginya mereka harus berangkat.
"Engga kok, kan tiap sejam Dewi tadi stretching jadi ngga terlalu pegel."
"Yasudah sekarang istirahat, ya." Reza membenarkan selimut milik Dewi. Tak lupa ia kecup mesra kening istrinya itu.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 17 jam dengan transit di Turki, akhirnya mereka tiba di kota yang terkenal dengan salah satu grup sepak bola terbesar di dunia.
BIENVENIDOS (SELAMAT DATANG)
******
Hallo yeorobun, maaf lama banget updetnya dikarenakan kesibukan author juga di real life. Belum lagi beberapa waktu lalu kedua anak author sakit dan harus masuk rumah sakit.
Oh iya, cerita ini akan author buat 'End' biar ngga apa kali nanti diapain sama NT (author ngomong apaan sih 😅😅) tapi ceritanya masih lanjut lho ya, ini detik-detik menjelang ceritanya selesai. Jadi terus pantengin cerita Reza dan Dewi.
__ADS_1
Author juga mau ngucapin banyak-banyak terimakasih dengan readers semua, juga sama author2 lain yang terus support author buat nulis padahal sebelumnya author itu bener2 down banget dengan masalah yang sedang author alami. Pokoknya Sarangbeo ❤️❤️❤️😘😘😘