Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 54


__ADS_3

“Mas Reza!”


Tanpa permisi dan tidak tahu malu, Siska langsung duduk di bangku kosong yang berada di samping Reza. Kenekatan Siska ini tentu saja mendapat tatapan tajam dari Reza.


“Maaf, anda bisa tinggalkan kami? Saya sedang makan malam bersama istri saya,” usir Reza.


“Aku disini bentar aja kok, Mas. Temanku belum datang juga,” jawab Siska enteng.


Reza menatap jengah wanita yang duduk di sampingnya itu. Reza berdiri dan meminta Dewi pindah ke kursi sebelah yang berhadapan dengan Siska.


“Sepertinya kita belum berkenalan dengan benar dulu. Perkenalkan, saya Siska, rekan kerja Mas Reza.”


Dewi melihat tangan Siska sebelum menerima uluran tangannya itu untuk bersalaman.


“Saya Dewi, istrinya Kak Reza, sering mengotak atik kepala manusia.”


Siska menelan salivanya mendengar kata Dewi yang sering mengotak atik otak manusia. Ia segera menarik tangannya dari genggaman Dewi yang dirasa makin erat.


“Saya dengar anda meninggalkan suami anda. Kenapa sekarang anda kembali?”


Reza menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya di bawah meja.


“Ibu Siska!” panggil Reza dengan nada suara yang ditahan. Jangan sampai ia membuat keonaran di tempat umum seperti ini.


Dewi yang melihat tangan Reza mengepal di bawah, mengelusnya dan menggenggamnya. Ia tahu saat ini suaminya sedang menahan emosinya terhadap wanita yang ada di depannya sekarang.


“Ibu Siska, pernahkah anda mendengar ungkapan ‘semakin kamu mencari tahu, semakin cepat kamu mati’. Saya tidak tahu apa motivasi anda sampai mencari tahu tentang kondisi keluarga kami. Sebelum anda semakin jauh mencari tahu, saya peringatkan anda untuk berhenti. Karena apa yang anda cari, tidak akan pernah akan anda dapatkan dari keluarga kami,” ucap Dewi tenang dengan senyum yang tak luntur sejak tadi.


Siska membalas dengan senyum menyeringai mendengarkan ucapan Dewi.


“Kita lihat saja nanti,” ucap Siska. Wanita itu langsung berdiri meninggalkan meja Reza dan Dewi.


“Kenapa kamu terdengar seperti seorang psikopat, Wi?” tanya Reza setelah Siska pergi.


“Kak Reza tidak tahu?”


“Apa?”


“Wanita seperti apa yang Kakak nikahi ini.”


“Memangnya apa?”


Dewi mengambil pisau makan yang ada di atas meja. Diusap-usapnya pisau itu dengan ibu jarinya dari ujung ke ujung dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Reza seperti sedang menyaksikan adegan seorang pembunuh yang bersiap akan mengeksekusi calon korbannya.


“Dewi, kamu apa-apaan sih. Turunin pisaunya,” kata Reza yang berusaha mengambil pisau yang Dewi pegang.


Dewi yang melihat wajah panik Reza akhirnya tertawa karena tidak kuat lagi menahannya. Untung saja pengunjung belum terlalu ramai, kalau tidak mereka pasti akan merasa terganggu dengan suara Dewi.


Dewi mengangguk tanda maaf kepada pengunjung yang lain.


“Kakak takut?” tanya Dewi ketika tawanya sudah reda.


“Kamu itu nyeremin, Wi.”

__ADS_1


“Berarti bisalah kalau udah pensiun dari dokter nanti, Dewi jadi aktris, pemain film genre action kali ya.”


“Ngga ada cerita mau jadi artis segala. Jadi dokter aja, udah!” tegas Reza yang sekali lagi mengundang tawa Dewi.


“Dewi boleh nanya?”


“Tentu.”


“Sudah berapa lama kutu itu di sekitar Kakak?”


“Kutu?”


“Iya kutu. Tahu kutu, kan? Semacam parasit. Kayaknya dia hobi banget nempel sama Kakak kayak parasit. Seharusnya dia itu pergi ke ujung dunia, terus dehidrasi di gurun sahara, terus hilang di segitiga bermuda,” ucap Dewi berapi-api.


“Istilah kamu itu selalu saja aneh-aneh,” ucap Reza sambil menggelengkan kepalanya.


“Ih tinggal jawab aja susah banget.”


Reza menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Dewi.


“Kayaknya setahunan ini deh, sejak dia pulang dari kuliahnya di luar negeri. Dia ditunjuk sama papanya menjadi perwakilan perusahaan mereka dalam kerja sama kami.”


“Ada banyak kerja sama perusahaan Kakak dengan perusahaan dia?”


“Baru selesai satu, sekarang lanjut satu lagi.”


“Bakalan sering ketemuan sama dia?”


“Lumayan.”


“Kadang ada di kantor, kadang ada juga di luar. Aku selalu mengajak Lia ataupun suaminya Lia yang menjabat sebagai manajer pemasaran di kantor,” kata Reza.


“Kalau di luar dimana ketemuannya?” tanya Dewi lagi.


“Di restoran, kadang juga di hotel.”


“Hotel?” tanya Dewi yang matanya membola.


“Di restorannya, sayang,” jelas Reza.


“Kamu kenapa, sih? Cemburu?”


“Engga. Siapa yang cemburu,” ucap Dewi cepat. Dewi langsung mengambil ponselnya dari dalam tas dan membuka sosial media miliknya. Mendengar penjelasan Reza yang sering bertemu dengan Siska entah kenapa membuat hatinya sedikit tidak tenang. Bukan tidak percaya dengan suaminya, hanya khawatir dengan perempuan licik seperti Siska yang menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan apa yang dia mau.


Reza yang melihat Dewi kesal segera mengambil ponsel Dewi dan meletakkannya di atas meja. Tangan Dewi yang menggantung segera digenggam oleh Reza.


“Ngga usah khawatir. Aku ngga akan mungkin tergoda dengan dia. Kalau memang ada niatan aku, pasti sebelum kamu kembali aku udah menjalin hubungan dengannya. Aku ngga mungkin mengkhianati hubungan kita. Hubungan kita ini saja baru akan kita mulai kembali. Aku sudah pernah hampir kehilangan kamu, dan aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Cukup sekali itu saja. Tidak akan ada yang kedua, ketiga, ataupun selanjutnya. Aku mungkin memang bukan suami yang baik dan sempurna. Aku bahkan tidak tahu kalau Rena sering merasakan sakit sampai akhirnya aku tahu kondisinya ketika dia sudah di stadium akhir. Untuk itu, aku meminta bantuan kamu agar aku tidak kembali melakukan kesalahan-kesalahan bodoh yang akan menyebabkan kamu ataupun anak-anak terluka. Kamu mau, kan membantuku untuk menjadi suami yang bisa kamu cintai dan ayah yang bisa dibanggakan oleh anak-anak kita?”


Dewi terlihat berkaca-kaca mendengar penuturan Reza. Ia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum menganggukkan kepalanya.


Reza tersenyum. Laki-laki inipun sangat bersyukur karena Dewi masih mau menerimanya kembali atas kebodohan yang telah ia lakukan sebelumnya. Ia berjanji dalam dirinya, tak akan pernah lagi ia membuat wanitanya ini menangis dan terluka karena dirinya.


“Udah ya, ngga usah bahas dia lagi. Aku ngga mau kencan kita jadi rusak karena dia,” ucap Reza yang mendapatkan anggukan kembali dari Dewi.

__ADS_1


Tak lama pesanan mereka datang. Beberapa saat hanya terdengar suara dentingan garpu, pisau dan piring yang saling beradu, sampai kemudian suara Reza memecahkan kebisuan mereka.


“Tukeran piringnya, ini udah aku bantu potong-potongin steaknya,” ucap Reza menyerahkan piring miliknya dan mengambil piring milik Dewi.


Dewi yang melihat tindakan Reza ini sontak membuat hatinya berbunga-bunga. Dewi yang sejak dulu tidak pernah berpacaran, dan malam ini melakukan kencan pertama kali dalam hidupnya, dan itu ia lakukan bersama pacar halalnya. Dirinya merasa sangat dicintai oleh lelaki di depannya ini.


“Kenapa senyum-senyum?” Rupanya sejak tadi Reza memperhatikan Dewi.


“Siapa yang senyum?”


“Kamu. Kenapa?”


“Ngga ada. Cuma ….”


“Cuma apa?”


“Biasanya cuma lihat di drama, ini langsung di depan mata.”


“Apanya?” tanya Reza tak sabar.


“Si laki-laki bantuin si perempuan buat motongin steaknya.”


“Suka?”


“Hem, lumayan.”


Alunan piano yang dimainkan oleh pianis menemani makan malam mereka. Lagu yang dimainkan adalah lagu Can’t Help Falling in Love. Semakin menambah kesan bagi Reza dan Dewi malam ini.


Usai makan Dewi meminta Reza untuk segera pulang. Wanita itu mengkhawatirkan Ara yang akan rewel kalau mereka berdua pulang telat. Walaupun ada ibu Ratna saat ini di rumah, ia tak mau sahabat mendiang kedua orangtuanya itu kesusahan menghadapi rewelnya Ara.


“Lain kali kita pergi berdua lagi, ya. Kamu mau kemana?” tanya Reza ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Hem kemana ya?” Dewi tampak berfikir.


“Naik gunung.”


“Kalau naik gunung versi kamu, aku ngga mau,” tolak Reza.


“Jadi?” tanya Dewi dengan dahi mengernyit.


“Naik gunung versi aku.”


“Emang gimana naik gunung versinya Kak Reza?”


“Nanti kamu juga bakalan tau,” jawab Reza dengan senyuman menyeringai.


——


Yok naik ke puncak gunung yoook..


naik naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali


Kiri kanan ku lihat saja banyak pohon pohonya oooo

__ADS_1


kiri kanan ku lihat saja banyak pohon pohonnya


__ADS_2