
Bab 45
Dewi masih berdiri diam menatap orang yang tidak di duga datang ke rumahnya pagi itu, sampai akhirnya suara sang tamu mulai menyadarkannya.
“Suami datang itu disuruh masuk, bukannya dibiarkan diluar.”
Ya orang yang pagi-pagi sudah datang ke rumahnya itu adalah sang suami, Reza.
Tanpa menunggu Dewi yang menyuruhnya untuk masuk, Reza langsung saja masuk sambil menyeret kopernya.
“Eh yang nyuruh masuk siapa?” tanya Dewi yang mulai kesal dengan tindakan seenaknya Reza.
“Terus kamu mau kakak di luar aja kelaparan? Kakak belum sempat sarapan tadi Wi,” kata Reza menghiba.
“Bodo amat.”
“Siapa Non tamunya?” Bik Asih menyusul ke ruang tamu karena Dewi yang belum juga balik ke meja makan.
“Eh Tuan Reza. Tuan apa kabar?” Bik Asih menghampiri Reza dan menyalami pria itu.
“Bik Asih, alhamdulillah saya baik. Terimakasih karena selama ini Bibik sudah mau menjaga istri saya ini ya Bik,” ucap Reza sambil melirik Dewi yang masih berdiri di sampingnya.
“Sama-sama Tuan. Pakai dijemput segala istrinya. Udah kangen banget ya? Sama Non Dewi juga udah kangen banget sama Tuan Reza, cuma gengsi mau bilangnya,” goda Bik Asih.
“Bibik ngomong apaan sih? Jangan ngarang deh,” kata Dewi yang mulai kesal dipojokkan.
“Bibik ngga ngarang kok. Bibik lihat tiap malam Non Dewi mandangi foto Tuan Reza di HP nya. Kalau ngga kangen lalu apa namanya?”
“Beneran?” tanya Reza sambil tersenyum menggoda Dewi.
“Tau ah, pada nyebelin semuanya,” Dewi yang makin merasa kesal langsung pergi menuju meja makan meninggalkan Bik Asih dan Reza yang tertawa melihat tingkahnya.
Meja makan di rumah itu berbentuk bulat yang bisa menampung 5 orang. Dewi menarik salah satu kursi dan duduk di kursinya. Kemudian disendoknya mie goreng yang menjadi menu sarapan mereka pagi itu. Reza yang menyusul duduk di samping kirinya, sedangkan Bik Asih duduk di sebelah kanan Dewi dengan memberi jarak 1 kursi.
“Tuan Reza mau bibik ambilkan mie gorengnya?” tanya Bik Asih yang melihat Dewi belum juga mengambilkan sarapan untuk Reza.
“Pengennya sih diambilin sama istri Bik. Tapi sepertinya istri saya lagi lapar banget, yasudah minta tolong Bibik yang ambilin punya saya ya,” ucap Reza yang masih juga menjahili Dewi.
“Siniin piringnya.” Dewi langsung menarik piring yang sudah Reza pegang.
“Terimakasih istriku sayang.”
__ADS_1
“Lebay!”
Bik Asih tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku pasangan suami istri yang ada dihadapannya kini. Jauh di lubuk hatinya ia mendoakan agar kebahagiaan selalu menghampiri rumah tangga anak dan keponakan majikannya ini.
Setelah sarapan Dewi masuk kembali ke kamarnya. Ia masih malas untuk bertemu dengan Reza. Sedangkan Reza masuk ke dalam salah satu kamar yang kosong untuk mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Walaupun ia sedang tidak berada di kantor, namun ia harus menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai atasan.
Pukul 10 Dewi keluar dari kamarnya. Ia yang tidak mendapati Reza akhirnya bertanya dengan Bik Asih mengenai keberadaan Reza. Mendapat jawaban kalau Reza sedang di kamarnya, Dewi pergi keluar untuk berjalan-jalan disekitaran danau.
Pertemuannya dengan Reza saat ini sangat mendadak. Ia memang sudah memaafkan pria itu, namun ketika mengingat malam yang dirinya ditinggalkan setelah ‘dipake’ membuat rasa kesal dan marah datang lagi.
Ketika sedang asyik berjalan seseorang datang menyapanya.
“Halo Dewi.”
“Oh Erkan. Kok bisa ada disini?”
“Ikut dengan Julian dan Briggita. Pengen lihat juga tempat yang katanya wajib didatangi kalau ke Swiss. Ternyata emang sebagus dan seindah yang dibilang ya tempatnya.”
“Hem tempatnya emang indah banget.”
“Kamu kemana tadi malam? Aku balik ke meja kamu udah ngga ada. Aku juga ngga punya nomor telfon kamu jadi ngga bisa hubungin kamu.”
“Maaf ada hal yang mendesak jadi aku harus pulang.”
“Aku tidak hafal nomornya karena baru beli beberapa hari yang lalu. Ponselku juga tertinggal. Maaf,” ucap Dewi.
Sebenarnya Dewi sangat hafal nomor ponselnya, namun ia tidak mau memberikan ke sembarang orang apalagi orang yang baru ia kenal. Ponselnyapun sebenarnya ada di dalam saku roknya, ia berharap ponselnya tidak berbunyi sehingga ia tidak akan ketahuan karena telah berbohong.
“Baby.” Dewi menoleh ke belakang dan melihat Reza yang datang menghampirinya.
Reza datang langsung memeluk pinggang Dewi erat seakan ingin mengatakan kepada pria di depannya kalau wanita ini adalah miliknya.
“Kamu kakak cariin di rumah ngga ada rupanya lagi jalan-jalan ya. Kenapa ngga tunggu kakak sih sayang,” ucap Reza.
Dewi yang mendengar omongan Reza menatap delik ke arah pria itu sambil berbisik. “Apaan sih.”
“Hai saya Reza, suaminya Dewi,” kata Reza memperkenalkan dirinya kepada Erkan.
“Saya Erkan. Baiklah kalau begitu saya permisi mau lanjut jalan-jalan dulu.” Erkan langsung pergi meninggalkan Dewi dan Reza.
“Udah ah Kak lepas, orangnya udah pergi,” kata Dewi sambil melepaskan pegangan Reza di pinggangnya. Dewi lanjut berjalan tanpa menunggu Reza yang masih kaget karena Dewi melepaskan pegangannya begitu saja.
__ADS_1
“Tungguin kakak dong sayang.”
“Apaan sih, pulang sana.”
“Ngga mau, maunya ikut kamu aja.”
Dewi berjalan menuju bangku yang ada disekitaran danau Brientz. Ia duduk sambil menatap keindahan danau dan pegunungan Alpen yang tidak ada bosannya untuk dipandang. Reza duduk sedikit menjarak dari tempat Dewi duduk.
“Kenapa kakak ngga kepikiran dari dulu ya kalau kamu akan pergi kesini. Kakak pikir gambar itu hanya sekedar gambar saja,” ucap Reza yang memutuskan keheningan yang tercipta sejak mereka duduk tadi.
“Maksudnya?”
“Bangku ini, danau, gunung dan kastil itu,” ucap Reza sambil menunjuk kastil yang menjadi ikon terkenal di Iseltwald.
“Itu menjadi walpaper di HP kamu kan?” tanya Reza sambil melihat Dewi yang duduk di sampingnya.
“Kok Kak Reza tahu?”
“Sepertinya walpaper itu sejak kamu masih kuliah ya kamu pakai. Kalau sekarang masih dipakai juga?” Bukannya menjawab, Reza malah bertanya balik.
“Tau darimana?” tanya Dewi lagi.
“Kak pernah lihat sewaktu HP kamu kakak pegang pas pengumuman kelulusan kamu untuk lanjut ke Korea. Terus sewaktu di apartemen, sewaktu kamu lagi masak untuk makan malam kita kakak lihat HP kamu terletak di atas meja dan walpaper kamu masih gambar itu walau HP kamu udah ganti. Kenapa ngga kepikiran sama sekali ya,” jelas Reza.
Dewi hanya diam mendengar penjelasan Reza. Sungguh ia tidak menyangka kalau Reza bisa ingat dengan walpaper HP nya yang memang memakai gambar danau Brientz dengan latar pegunungan Alpen dan kastil.
Keadaan kembali hening. Mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Reza lagi memulai pembicaraan.
“Apa kamu sudah memaafkan kakak Wi?” tanya Reza.
Dewi masih saja diam dengan pandangannya yang lurus melihat danau, sampai akhirnya Reza berdiri dan berjongkok di depan Dewi. Ia mengambil dan menggenggam kedua tangan Dewi.
“Kakak minta maaf Wi. Kakak sungguh-sungguh minta maaf. Kakak tahu sikap kakak pasti sangat menyakiti hati kamu. Kakak mohon pulang ya, kita masih bisa perbaiki lagi hubungan kita ini. Kita mulai semuanya dari awal. Kamu mau kan?” tanya Reza sambil menatap mata Dewi.
Dewi bisa melihat ketulusan dari mata Reza. Tetapi rasa sesak masih menyelimuti hatinya jika mengingat semuanya.
“Dewi ngga tahu Kak. Dewi masih bingung. Jujur Dewi kadang masih sesak, marah, dan kecewa kalau mengingatnya,” ucap Dewi.
Reza melepas salah satu genggaman tangannya untuk menghapus air mata Dewi yang membasahi pipi istrinya itu. Dikecupnya kening Dewi lama, kemudian dibawanya Dewi ke dalam pelukannya.
__ADS_1
“Karena Kakak yang menyakiti hati kamu, maka kakak juga yang akan menyembuhkannya,” ucap Reza yang terus mengecup puncak kepala Dewi terus menerus.