Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 35


__ADS_3

5 hari Dewi di rawat belum ada perubahan sama sekali. Ia masih diam bagaikan mayat. Pandangannya pun tampak kosong. Silih berganti para sahabat dan keluarga mengajaknya berbicara tapi tak satupun dari mereka mendapatkan respon dari Dewi. Rena yang diizinkan untuk menjenguk Dewi pun tidak bisa membuat wanita itu berbicara.


“Ren, kakak minta maaf. Karena kakak kamu jadi seperti ini sekarang. Semua karena keegoisan kakak. Kakak ingin pergi dalam keadaan tenang meninggalkan mas Reza dan anak-anak dengan menitipkannya kepada kamu, tapi ternyata keputusan kakak malah menyakiti kamu seperti ini. Kakak minta maaf Wi,” kata Rena sambil memeluk tubuh Dewi.


Rena yang tak diizinkan berlama-lama oleh dokter segera dibawa balik ke ruangannya agar dapat beristirahat. Dibantu Dirga yang mendorong kursi rodanya, Rena kembali ke kamarnya. Sekarang giliran Andra dan Ara yang mencoba berkomunikasi dengan Dewi.


“Bunda cepat sehat ya. Abang kangen sama Bunda. Ngga ada yang bisa ngajarin abang main basket sama ngelatih silat lagi. Oma kemaren udah nyari pelatih silat buat abang, tapi orangnya ngga asik. Enakan latihannya bareng Bunda,” kata Andra.


“Ara juga kangen sama Bunda. Pengen bobok bareng lagi, terus kita pelukan boboknya. Bunda jangan sakit. Mama udah sakit, terus kalau Bunda ngga sembuh Ara sama siapa boboknya?” Ara memeluk tubuh Dewi dengan erat diikuti oleh Andra. Tubuh Dewi tidak bergerak sama sekali, namun air matanya tampak menetes membasahi pipinya yang semakin tirus.


“Bunda jangan nangis. Kalau Bunda nangis, Ara juga nangis.” Gadis kecil berusia 3 tahun itu menangis melihat Bunda yang sangat ia sayangi meneteskan air mata.


Semua orang yang berada disana tampak sedih melihat mereka bertiga yang berpelukan. Tak terkecuali Reza yang turut serta di dalam ruangan itu. Sesekali ia menghapus air matanya yang jatuh melihat istri keduanya yang tak jua bergerak merespon orang-orang disekitarnya.


Ia sadar semua kekacauan ini berasal dari dirinya. Mengacuhkan Dewi karena merasa telah mengkhianati Rena, padahal Dewi juga istrinya yang sah dan Rena sendiri yang memilih Dewi untuk ia nikahi. Akibat kebodohannya ini ia harus kehilangan calon anaknya sebelum ia mengetahui keberadaannya. Selain itu mami Lisa juga enggan melihatnya. Pernah ia mencoba untuk mendekati tantenya itu ketika mami Lisa mengunjungi Rena, tapi yang ia dapatkan adalah penolakan. Mami Lisa berlalu meninggalkannya tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.


Setelah semuanya membubarkan diri, mami Lisa dan papi Arya kaget mendengar suara Dewi yang memanggilnya.


“Mami.” Kecil memang suaranya, tapi mampu menggetarkan hati wanita paruh baya ini.


“MasyaAllah sayang. Wi, kamu sudah mau bicara sayang.” Mami Lisa langsung memeluk erat tubuh Dewi.


“Maaf.”


“Tidak sayang tidak. Kamu ngga salah. Mami yang salah. Seharusnya mami ngga pergi dan ninggalin kamu sendirian disini.”


“Maafin Dewi, Mi,” lirih Dewi.


“Ssst sudah sudah sayang. Kamu jangan minta maaf terus. Sekarang kamu mau apa? Kamu mau makan apa? Biar mami minta papi cariin.”

__ADS_1


“Iya Wi biar papi carikan. Bilang aja kamu mau apa?”


“Kak Reza.”


“Apa?” tanya Mami Lisa.


“Tolong panggilkan kak Reza Pi.”


“Oke papi panggilin Reza ya.”


Reza yang mendapatkan telepon dari papi Arya segera meninggalkan ruangan Rena dan masuk ke ruangan inap Dewi. Papi Arya dan mami Lisa yang melihat kedatangan Reza memilih keluar, membiarkan dua insan manusia itu untuk menyelesaikan masalahnya.


“Wi.”


Dewi masih duduk diam tanpa menoleh ke arah Reza. Reza kemudian menarik kursi dan duduk dihadapan Dewi. Pandangan Dewi masih lurus menatap keluar jendela. Reza mencoba memegang tangan Dewi untuk digenggamnya, namun langsung ditepis kasar oleh Dewi. Reza menghela nafas panjang mendapatkan penolakan dari Dewi.


“Aku minta cerai.”


“Wi kamu ngga bisa.”


“Aku minta cerai,” tegas Dewi yang akhirnya memandang Reza. Jika beberapa hari kebelakang pandangan Dewi terlihat kosong, kini sorot mata yang penuh marah diberikan Dewi untuk Reza.


“Kakak tau kakak salah Wi. Tapi bukan dengan perceraian solusi untuk masalah kita.”


“Lalu dengan apa? Di mata Kakak Dewi hanya orang lain. Istri Kakak itu cuma kak Rena, Dewi hanya perusak kebahagiaan Kakak. Bahkan mungkin Kakak menganggap Dewi j*l*ng yang bisa Kakak buang setelah dipake.”


“Wi kakak ngga pernah berpikiran seperti itu.”


“TAPI KENYATAANNYA SEPERTI ITU! Kakak tinggalin Dewi sendiri di kamar itu, terus Kakak chek out dari hotel dan ngga pernah sama sekali nemuin Dewi lagi. Jadwal Kakak yang seharusnya pulang ke apartemen tapi Kakak ngga pernah pulang. Lalu apa Dewi bagi Kakak? Istri? Kalau istri ngga akan mungkin Kakak ninggalin Dewi sendirian disana.”

__ADS_1


“Pada saat itu kakak bingung Wi. Kak takut kalau Rena-.”


“Rena Rena Rena. Cuma perasaan kak Rena yang Kakak pikirkan. Kakak merasa sudah selingkuh dari kak Rena karena tidur dengan Dewi, kan? Tapi pernah tidak Kakak pikirin perasaan Dewi kayak gimana? Hancur Kak. Hancuuur.” Air mata Dewi tak terbendung lagi.


“Wi.” Reza mencoba untuk memeluk Dewi.


“JANGAN SENTUH AKU!” Reza langsung mundur setelah ditepis tangannya oleh Dewi.


“Kakak minta maaf Wi. Sungguh kakak ngga pernah berniat untuk menyakiti hati kamu Wi. Kakak tahu kakak pecundang, pengecut, kakak ngga bisa temui kamu langsung setelah malam itu. Kakak hanya bingung Wi.”


“Kalau Kakak ngga bisa mempertanggung jawabkan perbuatan Kakak, kenapa malam itu kakak ngga usir Dewi aja? Kakak malah menarik Dewi untuk masuk ke dalam kamar kakak. Malam itu Dewi mau bantu Kakak keluar dari pengaruh obat itu. Sewaktu Kakak meminta hak Kakak, Dewi ikhlas Kak karena Dewi sadar kalau Kakak suami Dewi, maka dosa bagi Dewi menolak ajakan Kakak. Dewi ngga berharap untuk dicintai sama Kakak, karena Dewi tahu cinta Kakak cuma untuk kak Rena. Tapi apakah untuk memikirkan keadaan Dewi juga tidak bisa Kak?” lirih Dewi.


“Maafkan kakak Wi.” Reza langsung memeluk erat Dewi tak peduli dengan penolakan wanita itu.


Dewi memukul kuat dada Reza agar melepaskan pelukannya. Bukannya terlepas, malah Reza memeluk makin erat tubuh istrinya itu.


“Lepasin aku lepas,” berontak Dewi sambil menangis.


“Maafkan kakak Wi. Maafin kakak,” bisik Reza ditelinga Dewi. Dikecupnya pucuk kepala sang istri berulang kali agar istrinya tenang. Dewi memang sudah tidak berontak lagi, tapi tangisan wanita itu semakin keras. Reza yang mendengar tangisan sang istri ikut menangis, menyesal karena dirinya telah menyakiti begitu dalam hati wanita itu.


Tangisan Dewi sudah mereda, tampaknya Dewi sudah mulai tenang. Reza mulai melonggarkan pelukannya.


“Izinkan Dewi untuk bahagia Kak.”


“Tentu Wi. Kakak akan bahagiakan kamu mulai sekarang.”


“Tidak.” Dewi menatap wajah Reza.


“Ceraikan Dewi!”

__ADS_1


__ADS_2