
Rena sudah berada dirumah selama empat hari. Selama empat hari itu juga tidak ada obrolan lanjut antara Rena dan Reza mengenai permintaan anehnya itu. Bagi Reza saat ini adalah tentang kesembuhan Rena. Dengan adanya anak-anak disamping Rena, Reza percaya dan berharap semangat untuk sembuh bisa tumbuh lagi dalam diri Rena tanpa ia harus menikah lagi.
Tetapi ternyata itu semua hanya khayalannya saja. Buktinya malam ini ketika mereka sudah berada di dalam kamar, Rena mencoba kembali membujuk Reza untuk mengabulkan permintaannya.
“Mas gak bisa Rena. Kamu kenapa sih harus memaksa Mas menikah lagi?” tanya Reza dengan nada bicara yang ia tahan sedemikian rupa agar tidak di dengar oleh anak-anaknya.
“Mas tolong paham, Rena seperti ini juga untuk kamu Mas, untuk anak-anak juga.”
“Kamu pikir anak-anak mau punya ibu lagi? Ibu mereka itu ya kamu, Rena.”
“Kamu jangan lupa, Mas, selama ini mereka juga menganggap Dewi ibu mereka, Bunda mereka. Makanya Rena memilih Dewi untuk jadi istri Mas karena Rena tau Dewi pasti bisa menjadi ibu dan istri yang baik untuk kamu.”
“Tanpa aku menikahinya pun, mereka juga tetap menganggap Dewi bunda mereka Ren, jadi aku tidak perlu untuk menikahinya.“
“Tapi dia tidak bisa mengurus kamu, Mas kalau kamu tidak menikah dengannya.”
“Kenapa denganku? Aku bisa urus diri aku sendiri, Ren. Kamu juga masih bisa urus aku. Lagi pula aku ngga mau menyakiti hati kamu,” intonasi suara Reza sudah mulai naik.
“Mas, Rena ngga bisa terus-terusan membantu Mas, mengurus Mas Reza. Untuk berdiri saja Rena ngga bisa terlalu lama Mas.”
“Aaaaaarrgggggh,” teriak Reza sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Baik kalau kamu emang mau ngerasain dimadu. Oke, aku akan menikah dengan Dewi. Kamu dengar Rena, AKU AKAN MENIKAHI DEWI!” kata Reza sambil menunjuk Rena dan tatapan matanya penuh kemarahan. Kala itu Rena sedang duduk di atas ranjang.
“Dan ingat kamu Ren, jangan pernah kamu menyesal dengan keputusan kamu sendiri, karena aku cuma ngikutin maunya kamu.”
“InsyaAllah aku ngga akan menyesal Mas.”
“Terserah kamu.”
“Terimakasih Mas.”
Reza langsung keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya. Di dalam kamar Rena menatap nanar punggung Reza yang berjalan keluar.
“Aku mohon jangan benci aku, Mas,” lirih Rena.
Malam ini sepertinya Reza akan tidur di ruang kerjanya. Ia tak ingin emosinya yang saat ini tidak stabil akan menyakiti istrinya itu. Sampai saat ini ia pun tidak paham bagaimana jalan pikiran istrinya itu. Ketika istri-istri di luaran sana tidak ingin memiliki madu, tapi istrinya sangat ingin dimadu, bahkan dengan seorang perempuan yang sudah dianggap adik kandung baginya.
Besok paginya Rena diantar oleh Ibu Ratna ke rumah sakit untuk menjalani kemoterapi. Reza sejak pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor. Ia berasalan ada meeting penting pagi ini makanya ia meminta Ibu Ratna untuk menemani Rena. Padahal Rena tau kalau suaminya itu masih marah terhadapnya.
__ADS_1
Seperti biasa, sebelum melakukan kemoterapi, Rena akan beristirahat sebentar di ruangan perawatannya. Kamar ini sudah seperti rumah kedua baginya. Ia yang sering pusing dan kecapean karena perjalanan dari rumah ke rumah sakit memilih untuk beristirahat di kamar itu.
Ibu Ratna izin sebentar ke bawah untuk makan siang, sehingga beliau meminta tolong Dewi untuk menemani Rena di kamarnya. Dewi yang dimintai tolong Ibu Ratna tentu tak bisa mengelak. Akhirnya dengan langkah gontai Dewi membawa langkahnya menuju kamar Rena.
Tok tok tok
Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Dewi diujung sana. Dewi melangkah masuk dan duduk di samping ranjang Rena. Rena yang melihat kedatangan Dewi tentu saja merasa senang karena sudah seminggu lebih ia tidak bertemu dengan sang adik itu.
“Wi kamu marah sama kakak?”
“Ngga tau.”
“Kenapa kamu gak datang kerumah?”
“Dewi sibuk kak,” jawab Dewi sambil memalingkan pandangannya.
Rena kemudian mengambil tangan Dewi.
“Wi, mengenai permintaan kakak kemarin, kakak serius. Kamu mau ya menikah dengan Mas Reza,” ujar Rena.
“Kak, kenapa sih sampai harus kayak gitu? Demi anak? Dewi pasti akan jaga anak-anak, Kak. Kakak juga harus semangat dong buat sembuh. Kita sama-sama berusaha buat kesembuhan Kakak,” jawab Dewi menggebu-gebu.
“Kalau ternyata Dewi yang duluan pergi? Umur ngga ada yang tau kak.”
“Wi, kakak ngga bisa lama-lama untuk main sama anak-anak. Begitu juga dengan Mas Reza. Dia butuh sosok wanita yang mendampingi dia. Kakak susah saat ini untuk itu. Kakak ngga mau egois. Maka itu kakak minta kamu untuk menikah dengan Mas Reza.”
“Kakak nyuruh Dewi untuk menikah dengan Kak Reza, emang Kak Reza nya mau nikah sama Dewi? Enggak kan?”
“Mas Reza mau kok Wi nikah sama kamu.”
“What? Kalian bercanda?”
“Kakak serius, Wi.”
“Nikah itu bukan bercandaan, Kak. Kakak mikir ngga sih kalau Dewi sama Kak Reza nikah, pasti kami akan ada berdekatan dan tentu saja akan ada hubungan suami istri. Kakak ngga sakit hati?”
“Ya bagus dong, Dek. Kalian akan ngasih adik untuk Andra dan Ara.”
“Gila gila gila. Micheoseo micheoseo,” kata Dewi sambil bangkit dari duduknya. Dewi berjalan berputar. Tangan kanannya memegang kepalanya yang terasa pusing, sedangkan tangan satunya lagi berada di pinggangnya.
__ADS_1
“Kenapa kalian bisa segila ini,” lanjutnya.
“Oke kalau emang itu mau Kakak. Fine. Dewi ikut. Dewi mau nikah sama Kak Reza. Tapi Dewi gak mau sekali aja lihat wajah sedih Kakak selama pernikahan Dewi dan Kak Reza terjadi.”
“Alhamdulillah. Terimakasih ya, Wi,” ucap tulus Rena.
“Emang udah gila ni cewek,” kata Dewi.
Rena yang mendengarnya hanya tertawa. Ia sangat-sangat bersyukur akhirnya Dewi mau menerima permintaannya ini.
Pintu terbuka dari luar oleh Ibu Ratna. Ibu Ratna mengernyitkan alisnya melihat wajah Dewi yang tampak kesal.
“Kamu kenapa Wi? Mukanya kok kayak setrikaan kusut gitu,” tanya Ibu Ratna.
“Tuh tanya sama anak kesayangan Ibu,” jawab Dewi sambil mengarahkan dagunya ke arah Rena.
“Ada apa?” tanya Ibu Ratna lagi.
“Dewi sudah mau Bu,” Rena yang menjawab.
“Mau apa?”.m
“Menikah dengan Mas Reza.”
“Dewi kamu yakin?”
“Kalau Ibu tanya soal yakin, Dewi jawab yakin. Bukannya Kak Rena sendiri yang menyuruh Dewi untuk menikahi suaminya? Ngga masalah buat Dewi menikah dengan Kak Reza. Kak Reza tampan, kaya juga. Siapa yang tidak mau sama dia,” jawab Dewi untuk memanas-manasi Rena. Ditatapnya wajah wanita itu yang daritadi tak hilang senyum manis dari wajahnya.
“Ibu gak mau kalian berdua sedih dan sakit hati. Pernikahan poligami itu gak gampang nak,” ucap Ibu Ratna menatap Dewi dan Rena bergantian.
“Bukan Dewi yang minta, Bu. Tapi Kak Rena yang ingin sangat dimadu. Heran orang diluaran sana bgga mau dimadu, nah yang ini ngebet banget dimadu. Kalau mau madu beli aja sono di supermarket banyak. Atau kalau mau madu hutan asli ada tu Tesso Nilo. Enak banget tu.”
Rena yang mendengar jawaban ngelantur Dewi tertawa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat yakin suami dan anak-anaknya tidak akan merasa terlalu sedih akan kehilangannya nanti ketika ia harus pergi. Ia yakin Dewi bisa menghibur orang-orang yang ia cintai.
“Wi, lusa Kakak akan datang kerumah untuk melamar kamu.”
“Terserah kali ini sungguh aku tak kan peduli,” kata Dewi sambil menyanyikan sepenggal bait dari lagu milik Glenn Fredly.
“Bu, Dewi keluar dulu. Bisa gila lama-lama disini. Nanti akan ada dokter residen yang datang untuk melihat Kak Rena,” kata Dewi kemudian ia pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1