
Sesuai jadwal, Dewi mengikuti acara seminar dan menjadi salah satu pembicara di seminar tersebut selama 3 hari. Selama seminar, Reza yang menemani kedua anaknya.
Reza dengan senang hati menemani dan mengikuti permintaan kedua buah hatinya kali ini, mengingat dirinya selama beberapa waktu lalu sangat disibukkan oleh pekerjaannya.
Bahkan ketika akhir pekan juga Reza sering menghabiskan waktunya di ruang kerja. Kali ini ia akan menggunakan waktunya sebaik mungkin untuk menebus waktu-waktunya yang telah terbuang, baik sebelum Rena ada maupun ketika sudah tiada.
Tak banyak tempat yang mereka bertiga kunjungi mengingat tak ada Dewi. Walau demikian kebahagiaan tergambar jelas di wajah kedua anaknya ini.
Tempat-tempat yang mereka kunjungi seperti Parc Guell, taman yang sangat terkenal di Barcelona. Taman ini penuh bangunan artistik karya maestro seni dan arsitek ngetop Spanyol, Antoni Gaudi.
Mereka menghabiskan waktu seharian di taman ini. Karena taman yang cukup luas dan indah membuat Ara terkesima. Sangat indah dihiasi oleh mozaik-mozaik yang terdapat di banyak bagian. Mulai di taman, langit-langit, bahkan dua pavilion yang terletak di depan pintu masuk. Di taman utama, tempat duduk yang terletak di sekelilingnya dihiasi mozaik yang menawan.
Pada hari kedua Reza membawa kedua buah hatinya berburu kuliner dan berbelanja. Tidak banyak kegiatan karena Andra dan Ara yang bangun kesiangan karena kelelahan setelah sebelumnya menghabiskan waktu yang sangat banyak bermain di Parc Guell.
Hari itu Dewi bisa kembali ke hotel sedikit cepat sehingga bisa ikut makan malam bersama mereka.
"Dewi udah selesai sebagai pembicaranya. Mereka juga tau kalau Dewi kesini sama keluarga, makanya mengizinkan Dewi untuk balik duluan," ucap Dewi ketika ditanya Reza.
Saat ini mereka sedang duduk di sofa yang ada di tengah kamar yang mereka tempati sedangkan Andra dan Ara sibuk bermain dengan mainan yang baru saja dibelikan oleh Reza tadi.
Reza yang melihat wajah lelah sang istri berinisiatif memijat istrinya. Diputarnya tubuh Dewi membelakanginya agar ia bisa memijat tubuh istrinya yang tengah hamil itu.
"Bunda capek?"
"Ngga terlalu kok, Kak. Kan, daritadi duduk aja."
"Ngga bosan cuma duduk dalam ruangan aja?"
"Ya engga lah, Kak. Seru banget malah karena bisa dapat ilmu-ilmu baru juga dari profesor-profesor hebat dibawah tadi."
Reza membalikkan lagi tubuh Dewi, dan menaikkan kedua kaki Dewi ke pangkuannya. Dengan lihai kini ia kemudian memijat kedua kaki Dewi.
"Oh iya Kak, tadi Dewi juga ditawari buat ikutan penelitian dengan WHO."
Jemari-jemari Reza yang sedang menari di kaki Dewi terhenti. "Terus kamu mau?"
__ADS_1
"Ya enggaklah. Penelitiannya ngga mungkin cuma sebulan dua bulan, pasti lama. Ngga mungkin Dewi ninggalin suami dan anak selama itu, belum juga udah hamil gini kan," jawab Dewi.
Reza menurunkan kedua kaki Dewi pelan-pelan. Kemudian ia merapatkan duduknya dan memeluk wanitanya itu.
"Terimakasih sudah memilih kami," bisiknya ditelinga Dewi. Tak lupa ia kecup pipi dan bibir manis istrinya.
"Kenapa harus terimakasih, Kak? Sudah kewajiban Dewi sebagai istri untuk mengurus rumah. Dewi malah yang berterimakasih ke Kakak karena ngga nuntut Dewi untuk berhenti kerja."
"Oh iya, kenapa Kak Reza ngga minta Dewi untuk berhenti? Padahal dulu sewaktu Kak Rena Kak Reza nyuruh Kak Rena buat berhenti kerja," tanya Dewi.
Reza melepaskan pelukannya, beralih memegang kedua tangan Dewi.
"Aku lihat dan menjadi saksi bagaimana kamu bisa berada sampai di titik ini. Aku lihat sendiri bagaimana kegigihan kamu untuk meraih gelar dokter spesialis saraf, dan sekarang kemampuan kamu diakui oleh banyak orang, bahkan sampai keluar negeri."
"Akan sangat egois aku jika menyuruh kamu untuk berhenti. Sangat banyak orang diluar sana yang membutuhkan kedua tangan kamu ini untuk kesembuhan orang tersayangnya."
"Tapi aku hanya minta satu, aku mau sebelum aku pulang kerja kamu udah sampai di rumah. Aku mau ketika aku lelah seharian bekerja ada anak dan istri aku yang menyambut aku pulang dan itu membuat lelah aku hilang."
"Kalau kamu kecapean juga, aku juga bisa membantu kamu untuk menghilangkan lelah itu. Kalau pada saat malam kamu harus kembali ke rumah sakit lagi, aku ngga masalah. Dengan senang hati aku akan mengantarkan kamu bahkan menunggumu hingga selesai."
"Aku akan selalu mendukung karir kamu, asal kamu tidak lupa dengan keluarga kamu, sayang."
"Terimakasih, suamiku," ucap Dewi.
"Sama-sama, istriku," jawab Reza. Ia juga membantu mengusap pipi Dewi yang basah karena air matanya.
Dewi memajukan wajahnya, dan mengecup pelan bibir Reza. Ketika Dewi ingin menjauhkan wajahnya, Reza yang memang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sangat jarang ini, dimana Dewi yang memulai duluan untuk menciumnya, menahan tengkuk leher Dewi dan memperdalam ciuman itu.
Ciuman berakhir ketika suara lekingan Ara yang membuat Dewi langsung mendorong keras dada Reza.
"Bunda..., Ara lapeeer," rengek Ara.
"Uluh uluh sayang Bunda ini udah lapar?" tanya Dewi yang membawa Ara di pangkuannya.
"Abang juga udah lapar," sambung Andra yang juga baru datang.
"Kamu masih capek, Wi?" tanya Reza. Dewi menggelengkan kepalanya sambil terus menciumi dan menggelitik Ara yang masih setia duduk dipangkuan bundanya.
__ADS_1
"Yasudah semuanya siap-siap ya. Setelah makan malam, kita jalan lihat lampu," ajak Reza.
"Lihat lampu ngapain jauh-jauh. Disini juga ada lampu," ejek Dewi.
"Udah jangan menjawab aja kamu."
******
Usai makan malam disalah satu restoran, dengan menggunakan taksi, Reza bersama keluarga kecilnya menuju Mountjuic, sebuah lingkungan perbukitan yang indah di Barcelona.
Banyak tempat wisata populer ditemukan di Parc de Montjuic, sebuah taman luas dengan Castell de Montjuic di puncaknya. Juga di taman ini adalah Magic Fountain Montjuic yang mempesona, yang menampilkan pertunjukan cahaya spektakuler, dan Museum of Catalan Art, yang berfokus pada seniman di wilayah Catalonia.
Tujuan mereka kali ini adalah Magic Mountain Montjuic. Ada banyak wisatawan yang berada disini, baik itu lokal maupun mancanegara. Mereka semua menikmati air mancur yang menari indah.
Lebih dari 100 katup hidrolik menyemburkan air dan 4.000 lampu menerangi air mancur untuk pertunjukan cahaya spektakuler dan akrobatik air menari dan juga diiringi oleh musik.
Sejak masuk Reza tak berhenti menggenggam tangan Dewi yang berada di kanannya, sedang tangan kirinya menggendong Ara. Andra digandeng dan berada disebelah kanan Dewi. Orang yang sangat ramai dimusim panas kali ini membuat mereka takut kedua anaknya hilang.
"Ara suka disini," kata Ara yang tak henti menatap takjub air mancur yang ada dihadapannya.
"Kapan-kapan kita kesini lagi, ya sayang," jawab Reza.
"Janji?" tanya Ara sambil mengulurkan jari kelingking kecilnya pada Reza.
"Janji." Reza mengaitkan kelingkingnya ke jari Ara.
"Oh iya sayang, besok tante Lisa akan nyusul ke Swiss," bisik Reza ditelinga Dewi.
"Lho, kenapa, Kak?" tanya Dewi bingung. Tidak ada pembicaraan sebelumnya mengenai papi dan maminya yang ikut menyusul liburan mereka.
"Biar ada waktu liburan berdua bareng kamu," jawab Reza sambil menampilkan senyum manisnya.
Dewi tertawa pelan mendengar penuturan Reza. Memang sejak menikah belum ada waktu mereka untuk berdua pergi berlibur.
__ADS_1
Kejadian di Swiss tahun lalu belum bisa dikatakan liburan karena mereka yang masih belum menyelesaikan masalah. Ketika mereka mulai dekat kembali, Ara yang berada di tanah air mendapatkan kecelakaan sehingga mereka harus segera pulang.
Bukankah sepasang suami istri harus memiliki waktu berdua untuk makin mempererat hubungan mereka??