
Sementara itu, Reza terlihat duduk di sebuah bangku deret yang ada di luar kamar perawatan Rena. Ia mencoba meredam amarah yang ia rasakan akibat perdebatan dengan istrinya tadi.
Sudah 2 hari ini ia menahan diri untuk tidak bertanya karena selama 2 hari ini juga Ibu Ratna menginap di rumah sakit. Sehingga Reza tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya.
Dirasa sudah cukup tenang, Reza kemudian beranjak dan menuju lift. Rasanya ia sudah sangat ingin pulang dan berkumpul kembali bersama kedua anaknya.
Masuk lift langsung di tekannya angka 1 dimana letak bagian administrasi berada. Kebetulan hanya ia sendiri di dalamnya. Namun ketika baru turun 1 lantai, pintu lift terbuka dan terlihat sosok wanita yang ingin dijadikan madu oleh istrinya.
Dewi sempat kaget beberapa saat dan akhirnya ia bisa mengontrol rasa kagetnya kemudian. Ia langsung masuk, berdiri di samping Reza dan menekan angka 5 tepat lantai ruangannya berada.
Terjadi hening sejenak sebelum akhirnya Reza berbicara.
“Kamu berusaha menghindari Rena?” tanya Reza.
“Mohon tidak membahas apa-apa dulu Kak. Dewi sedang menghemat energi, tenaga dan pikiran karena sebentar lagi Dewi ada operasi yang melelahkan,” jawabnya dengan pandangan lurus ke depan.
“Hmm baiklah. Yang jelas kamu harus tau Kakak tidak tau menau tentang rencana gila kakak kamu itu.”
“I know.”
Ting
Pintu terbuka menandakan telah sampai di lantai 5.
“Dewi duluan Kak,” pamit Dewi yang langsung keluar tanpa melihat ke arah Reza.
Reza menghela nafas panjang. Tak disangka ia dan Dewi akan menjadi canggung seperti ini. Jujur ia sama sekali tidak pernah berkeinginan bahkan terfikirkan sekalipun untuk memiliki istri kedua. Disaat mendapat kabar tentang kesembuhan Rena yang tipis pun, ia masih penuh harap akan kesembuhan wanita yang dicintainya itu. Bahkan kalau memang takdirnya harus ditinggalkan Rena, ia tak akan membesarkan sendiri kedua anaknya tanpa harus menikah lagi. Jelas ia sangat mencintai wanitanya, sehingga tak ingin ada yang menggantikan posisi wanita itu di dalam hatinya.
———
Dewi berjalan dengan langkah gontai menuju ruangannya. Sesekali Dewi terlihat bergumam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kok bisa ada perempuan mau dimadu. Sama orang paling dekat lagi ck. Kalau gue ni ya, gak akan pernah gue mau laki gue nikah lagi walaupun gue mati duluan. Enak aja gue jadi pengasuh lakiknya. Jadi pengasuh anaknya mah mau, nah lakiknya? Udah gede juga ck,” decak Dewi.
Tania yang mendapati Dewi geleng-geleng kepala langsung menghampiri dan memukul pundak Dewi dari belakang.
“Woy geleng-geleng aja tu kepala. Ngapa lo? Pengen ke live music biar bisa geleng-geleng?”
Dewi yang mendengar perkataan Tania itu langsung menghentikan langkahnya dan memandang Tania. Ia maju satu langkah sampai-sampai Tania juga harus mundur.
__ADS_1
“Lo mau temanin gue?”
“Eh seriusan lo Wi? Kok tumben mau? Biasanya nolak terus,” tanya Tania heran.
“Engga bercanda gue. Udah gue mau balik ke ruangan dulu,” kata Dewi.
“Gue mau ke tempat lo juga kok.”
“Mau ngapain lo? Gue mau istirahat bentar.”
“Lo mau ini gak?” kata Tania sambil menunjukkan paper bag bawaannya. “Gue bawa es chocolate sama brownies kesukaan lo. Gue denger lo katanya jam 8 ntar operasi sampai besok pagi.”
“Wah gomawo uri chinggu. Lumayan buat penambah mood gue. Yaudah yuk jalan.”
Sesampainya di ruangan, Tania duduk di sofa panjang sedangkan Dewi duduk di single sofa disebelah kanan Tania. Tania mulai mengeluarkan makanan dan minuman yang dibawanya.
“Yang lain pada kemana?” tanya Dewi.
“Leo tadi dipanggil ke IGD, kalau Candra masih praktek. Masih rame tadi gue liat.”
“Oooo”
“Wi gue mau tanya sesuatu.”
“Lo ada masalah?”
Dewi hanya diam sambil meminum minumannya.
“Wi kalau lo emang ada masalah, lo cerita aja.”
Dewi memikirkan sejenak haruskah ia bercerita kepada sahabatnya ini.
“Tan, menurut pendapat lo kalau gue nikah gimana?” tanya Dewi.
“Ya bagus dong. Gue nikah 2 minggu lagi, si Candra juga bentar lagi bakalan nyusul. Tinggal lo doang diantara kita yang belum. Tapi lo mau nikah sama siapa? Diam-diam lo udah punya pacar? Kok lo umpetin dari kita.”
“Gue gak punya pacar.”
“Trus lo nikah sama siapa?” tanya Tania tak sabar.
__ADS_1
“Kak Reza.”
“Reza? Reza mana?” Tania tampak berpikir Reza mana yang dimaksud oleh Dewi.
“Ya kak Reza,” jawab Dewi.
“Reza … Reza suami kak Rena?”
Dewi menganggukkan kepalanya.
“Wi lo serius? Kak Rena lagi sakit gini lo nikah sama lakiknya? Wi sadar dia juga kakak lo Wi.”
“Kan kan kan belum gue ceritain aja lo udah beranggapan buruk tentang gue. Gimana orang lain. Di cap pelakor gue yang ada,” sungut Dewi.
“Tunggu tunggu tunggu, kok lo mau nikah sih sama Kak Reza? Cobak cobak ceritain dulu,” kata Tania yang sampai maju duduknya mendekat ke Dewi.
“Jadi gini, kemaren itu Kak Rena ngomong sama gue dan minta gue buat nikah sama Kak Reza. Dia bilang biar Kak Reza ada nemanin dan menjaga dan melayani karena dia merasa udah gak bisa lagi. Gilak gak tu?” cerita Dewi.
“Trus jawaban lo apa?”
“Ya enggak lah gue jawab. Gila aja lo gue jadi istri kedua, mana jadi madunya kakak gue lagi. Sesabar dan ikhlasnya perempuan liat suaminya nikah lagi, pasti sedih juga Tan. Dan gue ngga sejahat itu untuk bikin hati Kak Rena sedih,” jelas Dewi.
“Kak Rena mulai pesimis buat kesembuhannya ya?” tanya Tania dengan nada sendu.
“Kayaknya gitu Tan,” jawab Dewi lirih sambil menatap kesamping dimana terdapat jendela yang memperlihatkan gedung-gedung perkantoran.
Dewi memejamkan matanya sesaat. Seandainya ia cepat tau dan tumor itu bisa ditemukan lebih dini dan berada di stadium awal, pasti masih bisa disembuhkan dengan jalan operasi. Namun karena ini sudah pada stadium yang lebih tinggi, tumor mungkin saja menyebar ke jaringan lain yang terdekat atau bahkan kembali lagi meski pengobatan telah dilakukan. Pada kondisi ini, penderita tumor sulit sembuh secara total. pengobatan-pengobatan yang ia berikan sekarang hanya untuk mengurangi gejala, memperlambat perkembangan tumor, serta memperpanjang angka harapan hidup.
Saat ini mereka hanya bisa berusaha semampunya, sisanya ia serahkan semuanya kepada Sang Maha Pemilik.
Kriiing kriiing kriiing
Suara dering handphone milik Dewi memaksa ia untuk membuka matanya. Nama Kiki yang muncul di layar, segera ia menggesar tombol hijau ke samping.
“Halo Dok, persiapan untuk operasi sudah siap. Tinggal menunggu Dokter saja,” kata Kiki di ujung telfon.
“Ya saya kesana,” jawab Dewi.
“Gue cabut dulu Tan.”
__ADS_1
“Selamat bekerja. Jangan terlalu dipikirin dulu sekarang.”
“Hmmm.”