
Teruntuk adik yang paling kusayangi
Ngga lebay, kan. Tapi emang kenyataannya gitu kok, Wi kamu adik kakak yang paling kakak sayang (Dirga sayang juga kok) :)
Kamu ingat ngga, Wi pertama kali kita ketemu, tahun berapa ya itu? Pokoknya itu liburan kenaikan kelas, kakak naik ke kelas 3 SMP kamu baru masuk SMP, kan. Kamu bareng mendiang papa dan mama kamu main ke Bandung dari Sumatra, disitu kakak senang banget ngerasa punya adik cewek yang di pinginin selama ini.
Kamu ingat ngga, kalau kita sering kena marah karena tagihan telepon rumah sering membengkak karena kita yang sering teleponan. Akhirnya sekali seminggu kita telponannya lewat warnet gantian, uangnya hasil nabung uang jajan. Terus kakak selalu nungguin balasan surat-surat kamu juga, sampai akhirnya kakak SMA punya ponsel sendiri kamu waktu itu masih SMP juga udah dapat ponsel sendiri juga. Karena bonus sms nya ada ribuan kita smsan terus, kalau telponannya malam mingguan itu tengah malam nunggu gratisan. Ingat ngga kamu Dek?
Kakak sedih waktu dengar papa sama mama kecelakaan sedangkan kamu masih di Jerman. Kakak waktu itu minta sama ibu buat tinggal lebih lama biar bisa nemanin kamu, tapi karena waktu itu kakak yang baru masuk kuliah jadi ngga bisa lama-lama nemanin kamu. Maaf ya, Dek.
Terus kamu dapat beasiswa buat kuliah di Jakarta, kakak senang banget akhirnya kita bisa dekatan lagi, ya walaupun kita jarang ketemu karena kamu yang sibuk, kakak juga sibuk. Tapi kakak senang banget, Dek seenggaknya kita berada di satu kota yang sama.
Kakak turut sedih atas kehilangan calon anak kamu, Dek. Maafkan kakak, kamu kehilangannya karena kamu yang ingin menyelamatkan kakak hari itu. Maafkan kakak ya, Dek.
Dek, kakak harap kamu ngga marah sama kakak karena meminta kamu untuk nikah dengan mas Reza. Kakak hanya ingin kamu dan mas Reza mendapatkan pasangan yang baik, yang bisa saling menjaga, dan bisa saling mencintai, jadi kakak bisa tenang sebelum pergi. Kalian berdua adalah orang yang kakak sayangi di dunia ini.
Kakak yakin kamu bisa menjadi ibu sambung buat anak-anak, dan kakak juga yakin kamu bisa menjadi istrinya mas Reza. Urus mas Reza ngga susah kok, Dek. Mas Reza ngga banyak nuntut kita kok.
Kamu mau tahu satu rahasia ngga, Dek? Sebenarnya mas Reza itu udah cinta sama kamu, cuma dia ngga sadar sama sekali. Kalau mas Reza dapat pesan dari kamu yang minta izin atau ngabarin mau keluar bareng Candra, mas Reza langsung bad mood, terus cemberut. Apalagi kakak pernah cerita ke mas Reza kalau Candra pernah suka sama kamu. Dia langsung uring-uringan malam itu Wi, tidurnya juga gelisah.
Kakak minta maaf kalau ternyata sikap mas Reza ke kamu kemarin bikin kamu sakit hati, kesal, dan marah. Itu tidak terlepas karena kakak juga. Kakak juga marah karena sama saja dia menyakiti kakak. Kakak harap kamu mau ya maafin mas Reza.
Kakak sangat berharap kalian bisa bersatu lagi. Jodoh kakak dengan mas Reza mungkin hanya sampai disini, selanjutnya kakak kakak titip anak-anak dan mas Reza sama kamu ya, Dek. Mereka semua sayang sama kamu.
Kakak berdoa semoga kalian dianugrahi putra dan putri yang soleh dan soleha.
Kalian harus hidup bahagia ya.
Oh iya kakak sampai lupa. Kamu harus jaga mas Reza ya. Ada satu perempuan, anaknya teman papanya mas Reza. Dia itu suka banget sama mas Reza. Jangan sampai dia ambil mas Reza dari kamu ya. Orangnya jahat dan sepertinya licik. Kamu harus hati-hati ya.
Salam sayang,
Rena
Air mata Dewi tak berhenti mengalir setelah membaca surat yang ditinggalkan Rena untuk dirinya. Dengan ini ia semakin yakin untuk membuka dirinya menerima takdir yang telah ditetapkan untuk dirinya.
Lamunan Dewi terhenti ketika pintu ruangannya di ketuk dari luar.
“Maaf, dok. Sudah waktunya praktek,” ucap dokter Kiki.
“Oh iya, 5 menit lagi saya kesana,” jawab Dewi.
__ADS_1
“Dokter baik-baik saja?” tanya dokter Kiki yang melihat mata sembab Dewi.
“Saya ngga apa-apa. Kamu duluan saja, nanti saya susul.”
Dokter Kiki keluar ruangan Dewi terlebih dahulu karena sudah disuruh. Dewi mencuci mukanya di wastafel, dan kemudian memperbaiki riasan dan juga hijabnya. Ia menutupi bagian matanya yang sembab karena sehabis menangis tadi.
Dirasa sudah siap, Dewi segera keluar menuju lantai 2 tempat ruangan prakteknya. Dewi meminta maaf kepada pasien yang telah menunggu karena terlambat beberapa menit.
Praktek Dewi selesai 5 menit sebelum azan zuhur berkumandang. Dewi segera kembali ke ruangannya yang berada di lantai 5 untuk menunaikan solat zuhur. Usai solat, ponsel Dewi bergetar, dan ternyata Reza yang mengirim pesan.
Jangan lupa makan siangnya ya jangan sampai telat. Siang ini aku ada meeting di luar bareng suaminya Lia menemui klien baru yang datang dari Surabaya. Sore nanti aku jemput.
Dewi yang membaca pesan yang dikirim Reza sedikit bingung. Baru kali ini Reza mengirim pesan yang isinya panjang, biasanya pria itu hanya mengirim pesan yang sangat sangat singkat, seperti ‘aku akan pulang telat’ atau ‘jangan lupa sarapanku besok pagi’.
Dewi meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku roknya, wanita itu keluar menuju kantin untuk makan siang. Disana ia telah ditunggu oleh Candra dan Leo.
“Buat lo udah gue pesanin nasi rawon biar ngga nunggu lama,” ucap Leo ketika Dewi baru sampai.
“Iya ngga apa-apa, thankyou.”
“Ngapa lo lemas gitu?” tanya Candra yang melihat wajah lemas Dewi.
“Ngga tau, mau datang bulan kayaknya.”
Setelah selesai makan siang, Dewi bersiap untuk visit ke kamar inap pasien. Sampai di satu kamar terakhir, Dewi masuk ke kamar pasien wanita yang kemarin baru mulai dirawat. Wanita itu sedang bersama suaminya yang sejak kemarin menemani istrinya itu.
“Apa ada keluhan, Bu?” tanya Dewi ketika telah mendekati ranjang pasien.
“Tidak ada, dok,” jawab pasien yang mendapatkan anggukan dari Dewi.
“Hasil biopsinya sudah keluar, letak tumornya tidak menyulitkan dan ukurannya juga masih kecil, jadi seperti yang dijadwalkan lusa kita akan operasi,” jelas Dewi.
“Apa nanti saya bisa sembuh total, dok?”
“InsyaAllah, setelah tumor diangkat anda akan sembuh total.”
Tok tok
Pintu terbuka dan masuklah seorang wanita bersama dengan ketiga anak yang masih kecil-kecil.
“Ibu…,” teriak salah seorang anak mendekati ranjang pasien.
__ADS_1
“Iya sayang, kamu sudah datang?”
“Sudah, tadi aku dijemput sama Mama di sekolah terus langsung kesini. Ibu cepat sembuh, ya biar bisa main sama-sama lagi.”
“Iya kamu doakan Ibu, ya.”
Dewi hanya memperhatikan interaksi pasiennya dengan wanita yang baru saja datang membawa tiga orang anak itu.
“Ini istri kedua suami saya.”
“Ya?”
“Saya divonis tidak bisa hamil, makanya saya meminta suami saya menikah lagi,” kata pasien.
“Alhamdulillah sekarang kami sudah dikaruniai tiga orang anak,” sambung si suami.
“Kami merawat dan membesarkan anak-anak bersama-sama,” lanjut istri kedua.
“Apa tidak pernah ada rasa cemburu diantara kalian berdua?” tanya Dewi yang mulai penasaran.
“Cemburu itu adalah hal yang wajar, dok. Tapi alhamdulillah rasa cemburu kami tidak pernah yang berlebihan,” jawab istri kedua.
“Saya mengenal madu saya sejak kecil. Dia tetangga saya, teman main saya, dia juga yatim piatu. Sejak kecil selalu bermain bersama saya di rumah. Kami tumbuh bersama,” sambung pasien.
Kenapa hampir sama dengan kisah kami, ya, batinnya Dewi.
“Ikhlas, dok, itu kuncinya. Kalau kita berserah diri kepada Allah, insyaAllah semua akan terasa gampang. Istri pertama saya harus ikhlas melihat saya menikah lagi agar kami memiliki keturunan, istri kedua saya harus ikhlas dengan posisinya yang menjadi istri kedua, sedangkan saya harus ikhlas menerima keadaan saat ini. Menjadi suami yang berpoligami tidaklah gampang, kalau berhasil insyaAllah pahala ganjarannya, tapi jikalau gagal neraka yang akan menanti.”
——
Dewi sekarang sudah berada di dalam ruangannya, telah bersiap pulang sambil menunggu kabar dari Reza yang akan menjemputnya. Pikiran-pikiran Dewi masih melayang dengan pasien terakhirnya tadi. Sedikit banyak memiliki kesamaan dengan dirinya.
“Kata ikhlas yang selalu aku dengar selama ini, tapi masih belum bisa aku amalkan. Mungkin karena itu, hati ini masih terlalu sulit untuk menerimanya,” batin Dewi.
Lamunan Dewi terputus ketika mendengar suara pintu ruangannya yang dibuka oleh Reza.
“Lamunin apa kamu?” tanya Reza yang melihat Dewi termenung sambil menyender di meja kerjanya.
Dewi tidak menjawab pertanyaan Reza, wanita itu malah berlari ke arah Reza dan memeluk erat pria itu. Tangannya ia lingkarkan ke perut Reza sedangkan kepalanya ia senderkan di dada pria itu.
Reza yang terkejut dengan sikap Dewi yang tiba-tiba memeluknya hanya bisa berdiri bergeming. Cukup lama baginya untuk sadar dan mulai membalas pelukan Dewi.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Reza.
“Maafkan Dewi, Kak.”