Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 38


__ADS_3

Reza tiba di rumah tepat ketika azan maghrib berkumandang. Karena pertemuannya dengan Siska di kantor tadi membuat moodnya menjadi jelek sehingga memutuskan untuk pulang cepat. Di jalan ia menyempatkan membeli pizza untuk kedua anaknya. Ketika sudah sampai di depan toko pizza, Reza diam sebentar menatap ruko yang ada di depannya. Bukan toko pizza yang ia perhatikan, melainkan toko yang berada di sebelahnya. Itu adalah toko kue langganan Dewi membeli brownies kesukaannya. Reza ingat, kalau Dewi membeli brownies dari toko itu pasti selalu banyak, karena 3 kotak saja hanya untuk dirinya sendiri. Reza tersenyum mengingat hal itu.


Pria itu turun dan pertama kali ia melangkahkan kakinya menuju toko kue itu. Dibelinya 2 kotak brownies kesukaan istrinya. Selanjutnya barulah ia memesan pizza kesukaan kedua anaknya.


“Assalammualaikum,” ucap Reza di ketika memasuki rumahnya.


“Waalaikumcalam,” jawab Ara yang masih bermain di depan tv bersama neneknya.


“Papaaa.” Ara berlari memeluk papanya.


“Oooh princessnya papa. Kangen ngga sama papa?”


“Kangen banget. Papa tumben cepat pulang?”


“Karena papa kangen sama Ara makanya papa cepat pulang. Oh iya ini lihat papa bawa apa.”


“Waaah pizza,” ucap Ara kegirangan.


“Makannya nanti dulu ya. Kita solat maghrib dulu bareng-bareng. Abang mana?”


“Abang dikamar. Ayok Pa kita solat.”


“Bu, Reza ke kamar dulu ya,” pamit Reza kepada ibu Ratna.


Ibu Ratna mengangguk dan tersenyum melihat tingkah laku cucu perempuannya itu. Kemudian dia masuk ke kamarnya untuk menunaikan solat maghrib.


Dikamarnya, Reza melaksanakan ibadah maghrib bersama dengan kedua anaknya. Usai solat Reza melihat kedua anaknya ini berdoa sangat khusyu. Reza tersenyum karena didikan agama sedari kecil yang diterapkan oleh Rena dan Dewi, putra dan putrinya ini tak lupa dengan kewajibannya sebagai muslim.


“Ara tadi doa apa?” tanya Reza.

__ADS_1


“Ala tadi doa semoga Mama ngga sakit lagi di sulganya Allah, telus Ala minta sama Allah buat ketemuin Mama sama Dedeknya Bunda, jadi Mama dan Dedek ngga sedih karena cuma sendirian disana,” polos Ara.


“Kalau Abang doa apa?” tanya Reza sambil melihat putranya.


“Sama. Abang doa semoga Mama dikasih rumah yang bagus, terus minta sama Allah sampein ke Mama untuk jaga Dedeknya Bunda biar Bunda cepat pulang ke rumah dan ngga sedih lagi,” jawab Abang.


Reza tersenyum dan mengelus puncak kepala putra dan putri kesayangannya itu. Ia tak menyangka mereka benar-benar mendoakan Mamanya dan meminta mamanya untuk menjaga adiknya yang harus pergi dahulu sebelum dilahirkan.


“Bunda kapan pulangnya sih Pa? Kenapa lama banget?” tanya Andra.


“Iya Pa. Bunda kok lama banget perginya?” Ara ikut menanyakan keberadaan Bundanya.


“Papa juga ngga tau. Emm kalian udah coba tanya sama oma opa ngga kapan Bunda pulangnya?” Reza ingin mencoba bantuan kedua anaknya untuk mengorek informasi keberadaan Dewi dari Mami Lisa dan Papi Arya.


“Abang udah tanya oma. Kata oma biarin aja dulu bunda pergi liburan biar bunda ngga sedih lagi kalau ingat dedeknya,” jawab Andra.


“Yasudah kalau gitu kita biarin aja bunda liburan dulu ya. Nanti kalau bunda udah ngga sedih lagi, bunda pasti pulang kok,” ucap Reza menenangkan kedua anaknya.


Reza melihat kedua mata anak-anaknya yang menggambarkan kerinduan yang mendalam terhadap Dewi.


“Kalau nanti bunda ngga mau pulang kesini, kita pindah aja kalian mau ngga?” tanya Reza.


“Mau asal sama bunda,” jawab Ara.


“Abang juga. Tapi harus ada lapangan basket ya ya Pa, biar abang bisa latihan basket terus sama Bunda,” pinta Andra.


“Oke. Nanti kita cari rumah yang bagus ya buat tinggal sama Bunda.”


Reza sudah memikirkan akan pindah dari rumah ini kalau Dewi sudah pulang nanti. Bukan karena ingin melupakan Rena, hanya saja ingin membuat Dewi nyaman. Ia ingin memulai hidup yang baru dengan istrinya Dewi dan anak-anaknya. Rumah ini banyak kenangan dirinya dan anak-anak dengan Rena, dan anak-anaknya memiliki hak atas rumah ini. Reza tak akan pernah menjualnya.

__ADS_1


“Abang ngga mau latihan silat lagi? Biar papa cari pelatihnya yang baru,” tawar Reza agar anaknya masih bisa berlatih silat.


“Maunya sama bunda aja Pa. Sama pelatih yang lain ngga asik.”


“Bagusnya abang tetap latihan, biar kalau bunda pulang Abang udah bisa jurus-jurus yang baru. Kan nanti bisa Abang lihatkan ke bunda kalau Abang masih rajin latihan walaupun bunda ngga ada.”


“Oh iya ya Pa. Abang mau Pa latihan silat lagi,” seru Andra.


“Oke, besok papa cari pelatih barunya ya.”


Reza kemudian turun ke bawah dengan Ara dan Andra. Di meja makan telah duduk ibu Ratna yang menunggu cucu-cucunya.


“Nenek, Ara mau makan pizza yang dibeli Papa tadi.”


“Yasudah gapapa, ayo duduk sini samping nenek.”


Ara kemudian duduk di samping neneknya, sedangkan Andra duduk di samping papanya.


Siap makan malam, Reza pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. Ia juga meminta tolong kepada Bik Tini untuk mengantarkan segelas kopi ke ruang kerjanya. Tak lupa Reza juga membawa sekotak brownies yang ia beli tadi ke ruang kerjanya.


Sebenarnya Reza tak terlalu menyukai kue yang berbahan dasar tepung, mentega, gula, telur dan bubuk kakao itu. Namun setelah ia melihat toko langganan istri keduanya itu, entah kenapa Reza sangat ingin memakannya malam ini.


“Kamu dimana sih Wi? Kapan pulangnya?” lirih Reza.


Reza melihat foto pernikahan sederhananya dengan Dewi di handphonenya. Di foto itu tampak Reza berada ditengah, disebelah kanannya ada Rena sedangkan di sebelah kirinya ada Dewi. Di foto itu hanya Rena yang tersenyum ceria, sedangkan Reza dan Dewi hanya senyum terpaksa. Kala itu Reza hanya menjalani pernikahan terpaksa karena Rena.


“Maaf karena aku belum ngasih pesta pernikahan impian kamu Wi. Aku janji ketika kamu pulang nanti aku akan mengadakan pesta pernikahan kita seperti yang kamu mau.”


Jika saat akad dulu ia belum bisa menerima pernikahan keduanya, kali ini ia sudah menerima dan bertekad akan mempertahankan pernikahannya.

__ADS_1


“Maafkan aku Wi. Aku sudah mencintaimu Wi. Kembalilah kepadaku.”


__ADS_2