
Pak Wira dan Siska baru saja keluar dari ruangannya. Reza hanya bisa berdiam diri tanpa bisa berkata apa-apa melihat semua kejadian yang baru saja terjadi tepat didepannya. Kenyataan demi kenyataan yang baru saja diketahuinya ini cukup membuat ia terkejut.
Reza juga tidak habis pikir, kenapa Pak Wira awalnya begitu ngotot untuk menikahkannya dengan Siska padahal ia sendiri tau bahwa anaknya akan terluka jika pernikahan ini tetap dijalankan.
"Pak Wira terlalu memanjakan anaknya."
Ucapan Lia membangunkan Reza dari lamunannya. Rupanya setelah melihat Pak Wira dan Siska keluar dari ruangan bosnya, Lia dan Anton kembali masuk untuk melihat kondisi bos mereka.
"Menunjukkan rasa sayang kita terhadap anak tidak harus selalu dengan menuruti permintaan mereka. Anak-anak menjadi egois bahkan tidak jarang mereka ingin memiliki sesuatu yang jelas-jelas bukan milik mereka, dan itu akibat dari orangtua yang selalu menuruti keinginannya," ucap Lia.
"Tumben benar omongan kamu," ejek Anton.
"Gini-gini saya calon ibu, Pak tinggal beberapa bulan lagi," jawab Lia sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.
"Kalian tambah bikin kepala saya sakit," ucap Reza sambil memijit kepalanya. "Kamu tolong lanjutkan pekerjaan yang tadi Anton, Lia kamu sekalian bantu Anton. Saya mau pergi dulu."
"Lah kemana, Pak?" tanya Lia penasaran. Jam makan siang belum masuk tapi melihat Reza yang ingin pergi membuat ia bertanya-tanya.
"Menurut kamu?" tanya Reza balik.
"Silahkan pergi, Pak biar pekerjaan tadi saya yang lanjutkan," tukas Anton. Pria itu yakin bahwa Reza akan pergi menemui Dewi untuk mengabari kabar yang ia dengar tadi.
"Thankyou, Nton. Saya pergi dulu." Reza mengambil jas miliknya yang sebelumnya ia letak di kursi kerjanya. Pria itu mengambil kunci mobil dan segera berlalu meninggalkan ruangannya yang dimana Anton dan Lia masih berdiri di tempatnya.
"Emang Pak Reza kemana sih, Pak?" tanya Lia. Wanita ini masih belum puas karena belum mendapatkan jawaban atas kepergian Reza.
"Masa gitu aja kamu ngga tahu?" tanya Anton balik.
"Serius saya ngga tahu."
Anton menghela nafasnya panjang. Ia heran kenapa hari ini Lia, sang sekretaris Direktur Utama bisa tiba-tiba menjadi sedikit telmi (telat mikir).
"Memangnya tadi kamu ngga dengar omongannya Pak Wira?"
"Omongan yang mana, Pak?"
"Astaga." Anton menepuk dahinya.
"Bukankah kamu sendiri tadi mendengar kalau Pak Reza dan juga Bu Siska tidak jadi menikah."
"Iya, tadi saya dengar Pak Wira berkata seperti itu," jawab Lia.
"Lalu menurut kamu sekarang Pak Reza mau kemana?"
Lia yang baru menyadari perkataan Anton langsung menepuk jidatnya. "Oalah, kenapa jadi loading gini ya otak aku."
"Baru sadar kamu. Udah sekarang kembali bekerja."
____
Disisi lain, Dewi baru saja selesai dengan pasien terakhirnya. Ia merenggangkan tangannya ke depan dan kemudian menekuk lehernya ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
"Akhirnya selesai juga," ucapnya lega. "Tidak ada lagi, kan?"
"Tidak, dok semua sudah selesai," jawab dokter Ferdi yang pada saat itu merupakan jadwalnya untuk mendampingi Dewi praktik.
Dewi mengambil ponsel miliknya yang ia letakkan diatas meja, disamping komputer yang masih menyala. Ia melihat adakah pesan yang masuk karena sedari mulai praktik tadi, nada dering ponselnya ia matikan.
Tok tok
Atensi mereka teralihkan ke arah pintu. Seorang perawat yang berada di depan ruangannya yang bertugas untuk menerima dan memeriksa kondisi awal pasien melongok di depan pintu.
"Maaf, dok ada yang ingin bertemu dengan dokter Dewi," ucapnya.
"Ha? Siapa? Apa saya ada jadwal bertemu yang saya lupakan, Ferdi?" tanya Dewi pada dokter Ferdi. Ia takut kalau mungkin saja ada jadwal jumpa pasien yang terlewat olehnya.
"Tidak ada, dok. Sudah semua," pungkas Ferdi.
"Suruh masuk saja kalau begitu," pinta Dewi. Tak lama masuk seorang pria berjas lengkap dengan senyum manis yang selalu bisa membuat hati Dewi bergetar.
"Waah kalau pasien yang ini ngga harus buat janji temu, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu," goda dokter Ferdi.
"Itu mulut nyerocos mulu," ucap Dewi.
"Hehe maaf, dok. Kalau begitu saya permisi dulu ya, dok, Pak Reza," pamit dokter Ferdi.
Ia dan juga seorang perawat yang ikut membantu dokter Dewi selama praktik tadi keluar memberikan waktu untuk sepasang suami istri ini waktu.
Reza melangkahkan kakinya menuju kursi Dewi. Ia memeluk erat wanitanya itu dari belakang.
"Sengaja, seperti kata dokter Ferdi tadi, aku ngga harus bikin janji temu sama dokter pribadi aku ini, kan."
"Hem iya-iya. Oh iya Kak Reza udah makan siang belum? Dewi lapar," rengek Dewi manja.
Reza melepaskan pelukannya, ia berdiri dengan bersender di meja kerja Dewi.
"Kamu mau makan apa?" tanya Reza.
"Hem apa ya? Sushi gimana? Kayanya enak deh."
"Boleh, yasudah ayo kita pergi." Reza mengulurkan tangannya.
"Tapi males keluar. Kita makan di ruangan Dewi aja mau, kan?"
"Boleh, kita delivery aja kalau gitu."
Dengan senyum yang lebar Dewi menerima uluran tangan lelakinya ini. Mereka berdua berjalan keluar menuju ruangan Dewi berada di lantai 5. Dewi tak melepaskan sejenakpun gandengannya dari tangan Reza, membuat banyak pasangan mata cemburu.
"Gandengan terus, kayak mau nyebrang," celetuk Candra ketika mereka berpapasan di lift.
"Iri? Tiru bos," jawab Dewi sekena.
___
__ADS_1
"Kak Reza kenapa? Kok daritadi senyum terus?" tanya Dewi penasaran. Sejak datang ke ruang praktiknya tadi hingga kini mereka berada di ruangan Dewi senyum Reza tidak luntur sedikitpun.
"Aku lagi senang banget." Reza kembali memeluk Dewi erat.
"Senang kenapa? Menang lotre?"
"Aku ngga jadi nikah."
"Hah?" Dewi mendongakkan kepalanya, menatap Reza.
Reza melepaskan pelukannya, kemudian ia menangkup wajah Dewi.
"Aku ngga jadi nikah sama Siska."
"Beneran?"
Reza mengangguk dan kembali memeluk Dewi.
"Sekarang ngga ada lagi yang bisa ganggu kebahagiaan kita."
"Tunggu-tunggu, kenapa bisa batal?" tanya Dewi heran.
"Kok kamu gitu? Kamu ngga senang aku ngga jadi nikahin wanita itu?" tanya Reza sewot.
Dewi mencubit pelan lengan Reza. "Ih siapa yang ngga senang. Dewi cuma nanya, kenapa bisa sampai ngga jadi? Kak Reza ngga macam-macam, kan?"
"Macam-macam gimana? Aku ngga ngapa-ngapain, Pak Wira sendiri tadi yang datang ke kantor aku terus bilang kalau pernikahan ini batal."
"Kok bisa? Gimana ceritanya dia batalin?"
Reza akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi di kantornya tadi hingga ucapan Pak Wira yang membatalkan pernikahannya dengan Siska.
"Kamu kenapa biasa aja responnya pas aku bilang Pak Wira punya istri dua?"
"Aku udah tahu kalau Pak Wira punya istri 2. Istri kedua namanya ibu Meri," jawab Dewi.
"Darimana kamu tahu?" Reza mengernyitkan dahinya.
"Anak Pak Wira dan Ibu Meri pasien Dewi, Kak."
"Kenapa kamu ngga cerita?"
"Untuk apa? Lagipula waktu itu Dewi ngga yakin mereka suami istri apa gimana, Dewi ngga pernah nanya mereka juga ngga ada cerita." Dewi memeluk Reza kembali.
"Alhamdulillah, yang terpenting sekarang ngga ada lagi yang akan mengganggu keluarga kita," ujar Dewi.
"Hem, sekarang kita bisa fokus sama bayi kita," jawab Reza.
"I love you, suamiku."
Iiih meluk-meluk terus nih daritadi Reza-Dewi, kan jadi pengen juga. Author manggil babang Massimo dulu ah, pengen dipeluk juga 🤭🤭🤭
__ADS_1