
Tak terasa hari demi haripun berlalu. Dewi telah menyelesaikan pendidikan spesialisnya beberapa bulan lalu. Namun ia tak langsung pulang ke negaranya karena masih ingin melakukan penelitian dengan profesornya.
Namanya yang juga bisa diperhitungkan di Korea karena termasuk dokter muda yang berbakat dan bertalenta. Kegaungan namanya pun sampai ke telinga Menteri Kesehatan Indonesia. Akhirnya ketika pak Menteri sedang melakukan kunjungan kerja ke negara itu, pak Menteri mengajak Dewi untuk kembali ke Indonesia dan berjanji akan membantu dan memfasilitasi segala kebutuhan Dewi untuk penelitian. Tak lama bagi Dewi untuk menyetujui ajakan itu karena bagaimanapun ia juga ingin mengabdikan ilmu yang telah ia dapat itu untuk warga negaranya.
Hari itu Dewi pulang dan dijemput oleh ketiga sahabatnya di bandara. Mami Lisa dan Rena menunggu di rumah mempersiapkan acara anniversary pernikahan mami Lisa dan papi Arya yang akan diselenggarakan nanti malam dikediaman mereka. Sedangkan papi Arya dan Reza masih sibuk di kantor.
Tania yang melihat Dewi keluar dari pintu kedatangan langsung memeluk sahabatnya itu. Mereka berpelukan erat, meluapkan rasa rindu yang teramat.
“Aaah gue kangen banget sama lo Wi.”
“Sama gue juga kangen banget sama lo Tania.”
“Gimana perjalanannya Wi? Lancar?” tanya Leo yang berada di belakang Tania.
Dewi yang posisinya masih dipeluk oleh Tania menjulurkan tangannya dibelakang punggung Tania dan menyalami Leo dan Candra bergantian.
“Alhamdulillah Yo aman semuanya.”
“Udah tu meluknya. Dilanjutin aja lagi entar di rumah. Gue udah lapar banget ini,” kata Candra sambil memegang perutnya. Kemudian dia langsung mengambil koper milik Dewi untuk dibawa ke parkiran mobil.
Diperjalanan mereka membicarakan tentang persiapan pernikahan Leo dan Tania. Tania dan Leo menjalin hubungan sejak menjalani pendidikan spesialis. Bertemu hampir setiap hari membuat bibit-bibit cinta tumbuh diantara mereka.
“Tuh kan Wi mereka aja hubungannya berhasil, udah mau nikah lagi. Ngapa sih dulu lo gak nerima gue aja?” tanya Candra.
“Mereka berhasil belum tentu kita berhasil Can,” jawab Dewi.
“Ya lo gak mau nyoba dulu gimana mau tau.”
“Gue gak mau nyoba-nyoba soal hubungan”.
“Lagian ya kan sekarang loe udah ada Viona Can,” sambung Leo yang duduk disebelah Candra yang mengemudi.
“Lo jangan macam-macam sama Viona ya Candra. Gue tabrakin lo ke kijang kapsul baru tau rasa lo,” ancam Dewi.
“Can Viona itu anaknya baik lho. Lo jangan mainin perasaan dia,” sambung Tania yang daritadi hanya menjadi pendengar.
“Lo pada suudzon sama gue. Gue serius kok sama Viona. Gue sayang sama dia,” jawab Candra.
“Secepat itu lo Can ngelupain gue? Lo bilang lo sayang sama gue,lo cinta sama gue. Tapi apa? Sekarang lo bilang sayang sama Viona. Candra yang lo lakuin ke gue itu JAHAAAT,” ucap Dewi mendramatisir.
“Lama-lama gue akupuntur juga tenggorokan lo ya Wi,” jawab Candra yang sudah mulai kesal.
Mereka yang mendengar jawaban nyeleneh Candra pun tertawa. Sudah lama mereka berempat tidak berkumpul seperti saat ini. Hubungan pertemanan yang mereka jalin semenjak mereka ikut dalam pertukaran pelajar ke Jerman saat mereka SMA dulu.
Obrolan unfaedah itupun berhenti ketika mereka telah sampai dikediaman megah nan mewah mami Lisa. Candra dan Leo membantu menurunkan koper milik Dewi, sedangkan Dewi dan Tania langsung masuk ke dalam rumah.
“Assalammualaikum,” kompak mereka.
“Waalaikumsalam,” jawab Bik Asih seorang asisten rumah tangga yang paling lama bekerja dengan mami Lisa. “Eh Non Dewi sudah pulang?”
“Bibik Dewi kangen,” ucap Dewi sambil memeluk sang bibik.
“Sama Non, bibik juga kangen sama Non Dewi,” jawab bik Asih sambil membalas pelukan Dewi.
“Eh ada Non Tania juga,” kata bik Asih yang baru melihat Tania juga berada disana.
__ADS_1
“Iya Bik. Bibik sehat?”
“Alhamdulillah sehat Non. Mas Leo sama mas Candranya mana Non? Kok cuma sendiri?”
“Kami disini Bik,” jawab Candra yang baru masuk bareng Leo sambil mendorong koper milik Dewi.
“Ya ampun cakep-cakep malah disuruh bawa koper. Sini bibik aja Mas yang bawa kopernya.”
“Noh Bik pelakunya,” tunjuk Candra ke Dewi.
“Kalian yang nawarin diri ya. Udah deh, oh iya Bik, mami dimana?” tanya Dewi.
“Nyonya ada di taman belakang Non sama Bu Rena. Lagi liat persiapan acara nanti malam”.
“Oke deh Bik, makasih ya Bik. Dewi mau susul dulu. Yuk guys ke dalam,” ajak Dewi ke sahabat-sahabatnya.
Setiba di taman belakang, tampak mami Lisa ditemani oleh Rena sedang mengawasi beberapa orang yang sedang mendekor taman.
“Mami,” panggil Dewi.
“Sayang akhirnya sudah sampai juga kamu,” jawab mami Lisa sambil memeluk putri kesayangannya.
“Dewi rindu banget sama Mami,” ucap manja Dewi.
“Mami apalagi sayang, Mami sampai ngga ada temannya disini.”
“Kak Rena,” Dewi pun bergantian memeluk Rena.
“Selamat menyehatkan warga negara kita, Dek,” kata Rena.
“Lho kok kakak?” tanya Rena sambil melepas pelukannya. “Ini karena kerja keras kamu sendiri Dek. Kita semua hanya menjadi pendukung kamu di belakang.”
“Udah gak usah sedih-sedih. Waktunya kita happy hari ini,” kata mami Lisa mengakhiri.
“Eh ada Tania Leo dan Candra juga ya,” kata mami Lisa.
“Halo Tante,” ucap mereka sambil menyalami mami Lisa.
“Saking senang anaknya pulang sampai gak ngeliat ada orang lain disini,” kata Leo.
“Hehehe maaf-maaf. Jangan ngambek dong. Kalian udah makan? Yuk makan dulu,” ajak mami Lisa.
“Waah kebetulan pas banget kita belum makan nih tante. Udah lapar banget, para pasukan di perut aku udah demo daritadi nih Tante,” jawab Candra.
“Lo dari tadi ingatnya makan muluk Can,” kawa Tania.
“Sirik aja lo.”
“Yasudah ayok kita masuk makan dulu,” ajak mami Lisa.
Mereka semuapun masuk ke dalam menuju meja makan.
“Anak-anak kakak mana?” tanya Dewi yang sedari tadi tidak melihat anak-anaknya Rena.
“Mereka lagi tidur siang, bentar lagi bangun kok,” jawab Rena.
__ADS_1
Tak lama selang terdengar suara gaduh dari lantai atas.
“Mama … Adek nangis ini,” kata Andra, si anak sulung Rena.
“Hwaaa adek kira Mam pelgi tinggalin adek,” kata Ara, anak kedua Rena yang berumur tiga tahun.
“Aduh aduh sayang sini. Mama kan ada dibawah nemanin Oma. Udah jangan nangis yah. Tuh liat ada siapa itu.”
“Halo cantik,” sapa Dewi.
“Undaaa.”
“Iya ini Bunda. Sini peluk bunda doong.”
Ara pun berhambur memeluk erat Dewi.
“Ya ampun gemooy banget sih cantiknya bunda ini. Gemeees ih bunda sama pipinya,” kata Dewi sambil mencubit gemas pipi Ara.
“Hehehe jangan dicubit unda, nanti sakit pipinya Ala.”
“Iya dicium aja deh ya kalau gak boleh dicubit. Muach.”
“Bundaa”
“Abang… sini sini peluk bunda juga,” kata Dewi sambil memindahkan Ara dipangkuan sebelah kirinya, sedangkan Andra berada dipangkuan sebelah kanannya.
“Si ganteng bunda si soleh bunda ini masyaAllah. Udah gede banget sekarang.”
“Ya iya dong abang tambah gede. Kan abang sekarang udah 5 tahun,” jawab Andra tenang.
“Iya iya anak bunda ini udah gede. Ayuk makan dulu yuk kita. Siap makan ntar bunda kasih oleh-olehnya.”
“Asyiiik unda bawa oleh-oleh buat Ala.”
“Buat Ara dan buat abang ada pokoknya bunda bawain oleh-oleh.”
“Yaudah yuk sayang turun dulu,kasihan bundanya pangku kalian berdua itu,” kata Rena sambil menurunkan Ara dan Andra.
“Itu sekalian disapa teman-temannya bunda sayang,” kata Dewi.
“Halooo Om dan Tante,” kata Ara centil sambil menyalami Tania, Candra, dan Leo.
“Halo sayang,” jawab Tania.
“Halo Om Tante,” sapa Andra datar. Andra adalah fotocopynya Reza. Mereka akan terlihat dingin bak kulkas bila bersama orang lain, tapi akan hangat bila bersama keluarganya.
“Fiks mah ini anak bapaknya,” kata Candra.
Andra yang mendengarnya melirik tajam ke arah Candra.
“Ya ampun itu matanya bisa dikondisikan gak bang?” tanya Candra.
Bukannya menjawab, Andra berjalan ke arah omanya dan duduk di samping oma Lisa.
“Yasudah ayuk kita makan dulu,” ajak mami Lisa.
__ADS_1
Merekapun melanjutkan makannya sambil sesekali melempar canda.