
Wajah Reza menjadi pias setelah menerima telepon dari papi Arya. Di telepon papi Arya mengatakan kalau Dewi baru siap dilakukan tindakan kuret karena mengalami keguguran. Ia baru sadar ternyata sebelumnya Dewi memang sedang hamil anaknya. Lamunannya terhenti ketika melihat ranjang pasien di dorong dari arah luar. Terlihat beberapa perawat mendorong brankar ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruangan Rena. Sahabat-sahabat Dewi berada tidak jauh di belakang brankar.
Reza yang meyakini bahwa yang dibawa itu adalah Dewi langsung menghampiri mereka.
“Wi. Dewi,” teriak Reza.
Candra yang mendengar teriakan Reza memanggil Dewi menoleh dan menghadang Reza yang ingin masuk.
“Mau ngapain lo kesini? Mau nyakitin Dewi lagi?”
“Please Can biarin saya ketemu Dewi. Saya mau lihat Dewi.”
“Dewi gak butuh lo dan Dewi gak mau lihat lo lagi.”
“Saya suaminya. Saya berhak atas istri saya!”
“SUAMI MACAM APA YANG MENINGGALKAN ISTRINYA KETIKA LAGI HAMIL?” bentak Candra.
“Tadi Rena membutuhkan saya,” bela Reza.
“Rena masih ada ibunya yang menjaga, sedangkan Dewi? Asal lo tau ya sampai di ruangan operasi pun dia masih nungguin lo buat dampingin dia. Gue heran kenapa Dewi bisa cinta sama laki-laki kayak lo!”
Leo yang mendengar keributan langsung keluar dan menemui Candra dan Reza.
“Biarin dia ketemu Dewi, Can. Biar gimanapun pengecutnya dia, dia masih suaminya Dewi.”
Candra yang mendengar omongan Leo langsung berjalan dan sengaja menabrakkan bahunya dengan bahu Reza. Reza sempat mundur selangkah akibat dorongan bahu itu. Ia tidak ingin mempermasalahkan itu, karena saat ini keinginannya hanyalah untuk bertemu dengan Dewi.
Leo mempersilahkan Reza untuk masuk. Di dalam masih ada Tania yang masih berdiri di samping ranjang Dewi, sedangkan Leo masih tetap berdiri di depan pintu.
Setibanya Reza di sisi Dewi, Tania mulai membicarakan kondisi Dewi.
“Tadinya kehamilan Dewi sudah memasuki minggu ketiga belas. Dewi mengalami morning sickness yang cukup berat. Di pagi hari ia mengalami muntah hebat, dan di siang sampai malam hari nafsu makannya meningkat. Itu terjadi setiap hari. Untuk memenuhi idamnya, Dewi juga akan pergi mencarinya sendiri walaupun Candra dan Leo sudah menawarkan diri untuk mencarikannya. Anda tidak perlu khawatir dia tidak pernah keluar terlalu malam.”
Reza tampak mengusap kasar wajahnya.
“Maafkan aku Wi,” lirihnya.
“Dewi sengaja tidak memberitahu anda tentang kehamilannya. Sejak dimana anda meninggalkannya sendiri di kamar itu, sampai anda tidak pernah balik ke apartemen kalian, ia beranggapan dirinya seperti seorang j*l*ng yang setelah siap dipakai akan ditinggalkan.”
Reza menggeleng. “Saya hanya….”
“Anda tidak perlu menjelaskan apapun pada saya,” potong Tania.
“Dewi sudah tidak tinggal lagi di apartemen kalian. Sejak tiga minggu dari Singapura ia memutuskan keluar dari apartemen itu dan kembali ke apartemennya yang lama.”
Tania memegang tangan Dewi dan mengelusnya sebelum melanjutkan penjelasannya pada Reza.
“Tindakan kuret bisa saja hanya diberikan bius lokal, tapi melihat Dewi yang terus saja menangis akhirnya saya memutuskan untuk membius total Dewi.”
__ADS_1
Bisa Reza lihat kantung mata Dewi cukup bengkak. Entah berapa banyak air matanya yang tumpah tadi.
“Ini yang mau saya jelaskan pada anda tadi di ruang IGD.”
“Tadi saya tidak ke bawah karena….”
“Sekali lagi anda tidak perlu menjelaskan apapun pada saya. Kami tahu, sangat tahu betapa anda sangat mencintai kak Rena sehingga Dewi tidak berarti apa-apa bagi anda.” Nafas Tania tersengal-sengal menahan emosi yang selama ini sudah dia tahan. Leo datang dan mengusap punggungnya memberikan Tania ketenangan.
“Mungkin tadi ketika jatuh perut Dewi terbentur keras sehingga terdapat luka pada rahimnya. Tentu saja ini ada resikonya untuk ke depan,” lanjut Tania.
“Apa itu?”
Tania menghirup nafas dalam sebelum melanjutkan penjelasannya.
“Dewi akan susah untuk punya anak lagi.”
Reza menutup mata dengan tangan kirinya. Dipijitnya juga keningnya yang terasa pusing. Ia tidak menyangka keputusannya untuk menjauhi Dewi sementara waktu akan berdampak seperti ini.
“Apa tidak ada cara agar Dewi masih bisa hamil?” tanya Reza.
“Dewi hanya perlu beristirahat yang cukup, minum vitamin, dan kemudian melakukan terapi yang bisa mengembalikan kesehatan rahimnya. Itu semua tergantung seberapa parah luka pada rahimnya. Saya baru melihat kalau kondisi Dewi sudah pulih.”
Reza bernafas lega. Seenggaknya masih ada harapan agar Dewi bisa hamil lagi dikemudian hari.
Dewi mulai mengerjapkan matanya. Perlahan ia membuka matanya, ditutupnya lagi, sambil mengatur pencahayaan yang masuk ke retinanya. Dilihatnya di sebelah kanan ada Tania yang tersenyum melihatnya bangun. Pandangannya kemudian beralih ke sebelah kiri. Dewi kaget karena melihat Reza yang ada di dekatnya. Seketika ingatannya tentang kejadian hari ini membuatnya teriak histeris.
“Tan anak gue selamatkan? Anak gue selamatkan? Tania jawab anak gue?” Dewi berteriak sambil memegang perutnya menanyakan kondisi kehamilannya.
“Tania jawab anak gue gapapa kan? Anak gue masih ada kan? TANIA JAWAB!”
“Wi kamu tenang dulu ya. Ada kakak disini,” ucap Reza yang ikut menenangkan.
“KAMU SIAPA? KAMU KELUAR DARI SINI. SAYA TIDAK MAU MELIHAT KAMU. KELUAR!”
“Dewi kakak mohon maafkan kakak Wi.” Reza berusaha memegang pundak Dewi tapi Dewi menolak sentuhan Reza.
“KELUAR SAYA BILANG. KAMU KELUAR!”
“Wi maafin gue.” Tania yang dibantu oleh Leo akhirnya menyuntikkan obat penenang agar Dewi bisa istirahat.
Perlahan suara Dewi semakin kecil dan mulai menghilang. Dalam tidurnya sesekali Dewi masih sesegukan.
“Sebaiknya anda keluar dulu. Jangan sampai ketika Dewi bangun dan masih melihat anda disini dia histeris lagi seperti tadi,” tegas Leo.
Ketika mereka bertiga keluar, terlihat mami Lisa dan papi Arya baru keluar dari lift. Kebetulan ketika Candra menghubungi tadi untuk mengabarkan kondisi Dewi, mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah. Kepulangan mereka kali ini memang cukup mendadak sehingga tidak memberi tahu Dewi terlebih dahulu.
“Bagaimana kondisi Dewi, Tania?” tanya mami Lisa yang nafasnya masih tersengal-sengal.
“Dewi tadi sudah siuman Tante. Tapi karena tadi dia teriak histeris akhirnya kita menyuntikkan obat penenang,” jawab Tania.
__ADS_1
“Bagaimana bisa dia jatuh di tangga?” Papi Arya yang bertanya kali ini.
“Menurut cerita dari dokter residen yang sedang bersama Dewi pas jam prakteknya, Dewi berlari karena mendengar pengumuman code blue di ruangannya kak Rena. Mungkin saat itu lift sedang penuh atau gimana, Dewi akhirnya naik tangga. Mungkin Dewi terpeleset di tangga, akhirnya dia jatuh. Benturan di perutnya cukup keras, jadi- maaf Tante Om, Dewi kehilangan calon bayinya.”
Mami Lisa menutup mulutnya tak menyangka kalau Dewi kehilangan calon anaknya. Ia langsung memeluk suaminya yang berada di sebelahnya.
“Papi, Dewi pi. Dewi anak kita.” Mami Lisa menangis tersedu-sedu.
“Sabar Mi, semua pasti ada hikmahnya.”
Reza juga terkejut karena jatuhnya Dewi di tangga karena dia mau ke ruangan istri pertamanya sehingga Dewi melupakan kondisinya sendiri yang sedang hamil.
“Kenapa kamu tidak memberi tahu kami Za kalau Dewi sedang hamil? Kalau tahu Dewi sedang hamil, pasti Tante akan tinggal disini untuk menemani dia,” ucap mami Lisa.
“Maaf Tan. Reza sendiri juga baru tahu tadi kalau Dewi hamil,” lirih Reza.
“Bagaimana kamu bisa baru tahu? Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan kalian?” tanya papi Arya.
“Maaf Om.”
“Om kecewa sama kamu Reza.”
Reza hanya diam menundukkan kepalanya.
“Maaf Om Tante lebih baik tenang dulu. Jangan sampai ada keributan. Kita sedang di rumah sakit.” Leo mengingatkan mereka semua agar lebih menjaga volume suara untuk ketenangan pasien yang lain.
“Tante boleh masuk Tania?”
“Boleh Tan. Dewi juga sedang tidur sekarang.”
“Terimakasih ya.” Mami Lisa langsung masuk setelah diperbolehkan oleh Tania.
“Kalau begitu saya dan Tania pamit dulu Om. Selesai kerja nanti kami akan kesini lagi,” pamit Leo.
“Iya terimakasih sekali lagi ya.”
Akhirnya tinggal papi Arya dan Reza di luar ruangan Dewi.
“Kamu pergi saja temani Rena. Biar Dewi kami yang urus.”
“Tapi Om….”
“Kamu mau kondisinya makin parah? Kamu urus saja istri pertama kamu.” Selesai berucap, papi Arya langsung masuk ke ruangan Dewi meninggalkan Reza seorang diri di luar. Ia tidak langsung pergi. Ia duduk sejenak di kursi dekat pintu kamar Dewi sambil memijit pelipisnya.
Cukup lama Reza duduk terdiam seorang diri sampai akhirnya ia ingat dengan Rena. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju kamar Rena yang terletak di ujung lorong.
Ketika Reza membuka pintu, tampak Rena sedang duduk setengah baring di ranjangnya. Ia tersenyum melihat suaminya sudah kembali.
“Mas Reza darimana?”
__ADS_1
—-
Jempolnya jangan lupa ya yeorobun 🤌🥰🥰