
Dewi mampir sebentar ke lantai 5 tempat ruangannya berada untuk meletakkan tasnya dan mengambil jas dokternya. Kemudian ia keluar menuju lantai 7, lantai dimana pasien VVIP di tempatkan.
Pintu lift terbuka, Dewi langsung berjalan menuju nurse station, dimana dokter Kiki juga sudah menunggunya.
"Sudah siap?" tanya Dewi.
"Siap, dok." Dokter mengangguk. Dewi tidak melupakan sejenak perdebatannya dengan Reza di mobil tadi, ia berusaha untuk profesional dalam bekerja.
Dewi yang di dampingi oleh dokter Kiki dan salah seorang perawat berjalan menuju kamar 714. Dewi berhenti sejenak. Tahun lalu hampir setiap hari ia keluar masuk ruangan ini, dan kini ia harus melakukannya lagi. Pasiennya dulu meninggal di kamar ini, namun kini ia akan berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasien kecilnya yang sudah datang dari jauh ini.
Tok tok tok..
Dokter Kiki membuka pintu kamar dan melihat Ana yang sedang minum dibantu oleh mamanya. Dibelakang dokter Kiki ada Dewi yang menyusul masuk ke dalam.
"Baru selesai makannya?" tanya Dewi ramah pada Ana.
Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum. "Ana mau cepat sembuh makanya Ana makannya banyak."
"Good girl." Dewi mengacak rambut gadis kecil itu.
"Bagaimana hasil endoskopi Ana?" Chris langsung menanyakan to the point mengenai kondisi anaknya itu.
Dewi melirik sekilas ke arah Ana yang juga sedang menunggu jawaban darinya.
"Empat tahun lalu sudah terangkat bersih, tetapi sayangnya tumor itu kambuh kembali," lirih Dewi.
Ana hanya menunduk setelah mendengarkan jawaban dari Dewi, sedangkan Chris dan Laura kini berpelukan saling menguatkan.
"Tapi dia tidak merasa sakit seperti sebelumnya, dok. Hasil tes lanjutan selama ini juga baik," kata Chris. Sungguh ia saat ini juga merasa sangat terpukul ketika harus mendapati putri kecilnya kembali mengidap tumor.
"Astrositoma adalah jenis tumor yang bisa kambuh. Saat ini masih dalam stadium awal sehingga kita bisa melakukan penyembuhan dengan metode pembedahan," jelas Dewi.
"Apa akan kemoterapi lagi, Wi?" tanya Laura.
"Kalau dibutuhkan maka harus di kemoterapi. Kalian bisa berunding terlebih dahulu," kata Dewi.
__ADS_1
"Tidak perlu, persiapkan saja semuanya, dokter," tegas Chris.
"Pa."
"Papa tahu kalau kamu mungkin capek, tapi Papa sama Mama mohon supaya kamu harus tetap kuat dan harus sembuh, supaya kita bisa kumpul bersama lagi," pinta Chris yang langsung memeluk Ana.
"Lalu kakak bagaimana?" Ana malah memikirkan kakak-kakaknya yang saat ini tinggal bersama adiknya Chris di Singapura.
"Papa akan jemput kakak supaya bisa menemani Ana disini, ya. Jadi Ana harus semangat untuk sembuh."
Ana mengangguk dalam pelukan Chris. Perlahan ia melepaskan pelukan ayahnya dan kemudian menatap Dewi yang masih setia berdiri di samping ranjangnya.
"Tapi Ana ditemani dokter cantik juga, kan?" Seperti empat tahun lalu, mata puppy Ana mengisyaratkan untuk disayang dan ditemani oleh Dewi sehingga tidak pernah bisa menolak permintaan gadis kecil itu.
"Aduuh gemes banget sih. Sayang anak dokter yang cowok masih berumur 6 tahun, kalau kalian seumuran pasti dokter akan minta Papa sama Mama kamu buat jodohin kalian," ucap Ana sambil mencubit pelan pipi Ana.
"Memang kamu udah nikah, Wi?" tanya Laura. Karena setahunya Dewi dulu belum menikah, kalaupun sudah kenapa usia anaknya sudah 6 tahun padahal mereka tidak bertemu hanya 3 tahun.
"Sudah, Kak setahunan lalu. Itu anak sambungku, kapan-kapan deh diceritainnya. Nanti Dewi ajak kalian makan di rumah Dewi, ya biar nanti sekalian Dewi kenalin ke suami dan anak-anak."
"Dokter cantik belum jawab Ana, dokter temenin Ana nanti, kan?" desak Ana yang pertanyaannya belum dijawab juga oleh Dewi.
"Tentu dong cantik, dokter akan selalu bersama kamu sampai sembuh. Sekarang dokter keluar dulu, ya untuk lihat pasien lain. Dewi pamit dulu ya, kak Laura, Pak Chris," pamit Dewi. Tak lupa dokter Kiki dan juga perawat lantai VVIP ikut pamit dan mengikuti langkah Dewi keluar dari kamar.
"Sepertinya tadi mereka sempat lelah ya, dok?" tanya dokter Kiki.
"Hem, mereka tahu lelahnya seperti apa dan sekarang harus mengulanginya lagi dari awal, pasti sangat melelahkan. Makanya kita harus kasih semangat buat keluarga itu, baik dengan pasien maupun keluarganya," ucap Dewi sambil menatap dokter Kiki dan perawat bergantian.
"Siap, dok."
____
Sore hari saat Dewi akan pulang, sewaktu Dewi berjalan di lobi rumah sakit menuju parkiran mobil ia dipanggil oleh dokter Ferdi yang meminta ia untuk segera ke IGD karena ada pasien yang baru saja masuk.
"Penyumbatannya sudah cukup parah, kalau dibiarkan terlalu lama bisa menyebabkan kematian," kata Dewi ketika memperhatikan hasil CT Scan pasien tersebut.
__ADS_1
"Keluarga pasien ada?"
"Ada, dok. Sekarang sedang menunggu pasien."
"Kita kesana saja, biar saya yang menjelaskan ke keluarganya. Kamu siapkan operasinya untuk besok pagi, ya. Kita lakukan jam 7 sebelum jadwal praktik dimulai, kalaupun harus telat sedikit praktiknya ngga apa-apa."
"Siap dok."
Dewi dan dokter Ferdi bersama-sama menuju bilik pasien yang masih berada di ruang IGD. Dewi menjelaskan dengan rinci mengenai kondisi pasien sampai dengan langkah-langkah yang akan ia kerjakan besok ketika operasi. Setelah selesai, Dewi pamit untuk pulang ke rumah, namun langkahnya terhenti ketika melihat brankar yang di dorong oleh perawat dan dokter jaga.
Di atas brankar yang di dorong itu terlihat sosok perempuan yang rasanya tidak asing bagi Dewi. Perempuan itu sepertinya dalam keadaan tak sadarkan diri. Tak lama dibelakang rombongan petugas tampak Reza, Pak Wira dan beberapa orang berpakaian jas lengkap berlari menuju ruang IGD.
"Kak Reza ada apa?"
"Wi, Siska." Reza susah berbicara dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Anak saya, tolong anak saya," teriak Pak Wira. Beberapa perawat keluar dan meminta mereka semua untuk keluar.
"Semuanya di harap tenang, biar saya yang melihat kondisinya di dalam." Dewi langsung masuk kembali menyusul Siska yang sudah dibawa untuk diambil tindakan.
Di luar ruang IGD tampak Pak Wira yang emosi memegang kerah baju Reza dan berteriak di depan wajah Reza.
"Kalau terjadi apa-apa dengan anak saya, saya akan tuntut kamu!"
Orang-orang yang berada disana mencoba menengahi keributan antara Reza dan Pak Wira.
"Sudah-sudah semuanya sekarang tenang, ingat sekarang kita lagi ada di rumah sakit." Anton asistennya Reza mencoba menengahi pertikaian mereka.
"Kita berdoa saja untuk kebaikannya nona Siska," lanjutnya.
"Kamu ingat Reza, saya akan tuntut kamu!"
"Bukan saya yang melakukannya, tapi Siska sendiri yang melakukan itu. Kenapa jadi saya yang harus bertanggung jawab?"
"Karena kalau kamu tadi tidak menolaknya maka anak saya tidak akan berbuat nekad. Untung kamu adalah pria pilihan anak saya, kalau tidak sudah lama saya hancurkan kamu, Reza!"
__ADS_1