
Dewi tetap memaksakan dirinya untuk masuk kerja hari ini walaupun Reza sudah melarangnya. Setelah subuh tadi Dewi kembali muntah dan merasa lemas. Berhubung hari ini tidak ada jadwal praktik karena malam sebelumnya Dewi telah meminta izin untuk libur praktik sehari, akhirnya Reza mengizinkan Dewi kembali ke rumah sakit dengan catatan kalau kembali merasa lemas ataupun mual ia harus menghubungi Reza dan memeriksakan dirinya ke dokter. (Padahal dianya sendiri dokter yak :) )
Sebelum pergi tadi Dewi juga kembali menanyakan mengenai keputusan akhir Reza, dan akhirnya Reza pasrah dan ikut akan keputusan Dewi.
"Aku ikut dengan keputusan kamu."
"Alhamdulillah. Nanti biar Dewi yang kabarin ke mereka."
"Terserah kamu."
"Jangan ngambek dong, please," kata Dewi dengan suara manjanya.
"Kamu nyebelin," kata Reza yang mencebikkan bibirnya.
Entah berasal darimana tiba-tiba Dewi yang jarang bertindak duluan kini mengecup bibir Reza duluan.
Cup
"Eh tumben," kata Reza yang melongo.
"Emang ngga boleh? Ngga suka?"
"Boleh banget. Sini." Reza menarik pelan tengkuk Dewi, ******* pelan bibir manis milik istrinya itu.
"Jadi malas berangkat ke kantornya," kata Reza setelah melepaskan pagutan mereka. Tak lupa ia menyapu bibir basah Dewi akibat dirinya.
"Sama, malah pengen pelukan gini terus. Ih kalau ngga ingat ada pasien yang nunggu rasanya malas masuk kerja," kata Dewi yang kini malah memeluk posesif tubuh suaminya.
"Tumben biasanya semangat banget buat ke rumah sakit," ucap Reza heran.
"Ngga tahu, tiba-tiba malas aja. Mungkin pengen habisin waktu biar lama sebelum Kakak nikah lagi."
"Hmm kenapa rasanya sesak, ya pas kamu bilang aku bakalan nikah lagi. Kamu yakin, sayang dengan keputusan kamu?"
Dewi mengangguk kecil dalam dadanya Reza. "Dewi ikhlas, Kak, dan Dewi yakin Kakak bisa. Kakak terpilih dari Allah untuk bisa menjalankan sunah itu dan membawa kita ke surganya bersama insya Allah."
Reza tak menjawab perkataan Dewi. Ia hanya semakin mengeratkan pelukannya.
"Kakak kenapa ngga protes lagi?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Tidak karena ini pilihan kamu dan keputusan kamu. Cuma satu yang aku mau, kamu jangan sampai menyesal dan menangis. Kalau sampai aku melihat kamu menangis, aku pasti langsung membatalkan rencana pernikahan itu!"
"Sayang Kak Reza banyak-banyak."
"Sayang kamu juga, banyak-banyak."
Dewi menengadahkan kepalanya dan menatap Reza dan Reza ******* kembali bibir istrinya itu.
Dewi sampai pukul 9, sengaja datang lama karena ingin lebih fit sebelum pergi ke rumah sakit. Ia langsung mengunjungi ruang ICU dan PICU melihat kondisi pasien-pasien yang beberapa hari kemarin sempat menjalani operasi. Tak terkecuali Ana, ia juga mengunjungi Ana untuk melihat kondisi gadis kecil itu.
"Kondisi Ana sudah semakin membaik, alat-alat semuanya bisa kita lepas mulai besok jadi besok sudah bisa kita pindahkan ke kamar inap," jelas Dewi pada kedua orangtua Ana.
"Syukurlah kalau begitu," kata Chris.
"Kak Laura dimana?" tanya Dewi yang memang tidak melihat Laura sejak ia masuk ke dalam ruang PICU.
"Saya menyuruhnya balik ke apartemen dulu untuk beristirahat," jawab Chris.
"Ya kalian juga harus tetap menjaga kesehatan, jangan sampai sakit."
"Tadi aku mendengar katanya ada keributan di lantai 7 kamar VVIP, kamarnya tak jauh dari kamar Ana, dan ada hubungannya dengan anda, dok. Apa ada masalah?" tanya Chris. Memang tadi di dalam lift ia sempat mendengar para perawat bercerita mengenai keributan yang terjadi di kamarnya Siska kemarin.
"Istri saya menganggap anda seperti adiknya sendiri, dan berarti kita menjadi satu keluarga. Kalau ada yang bisa kami bantu pasti akan kami bantu. Belum lagi anda sudah menyelamatkan putri kami," kata Chris.
Dewi tampak memikirkan tawaran Chris, dan menurutnya tak ada salahnya untuk mencobanya.
"Terimakasih banyak atas tawarannya. Kalau boleh saya minta, maukah Pak Chris bertemu dengan suami saya?"
"Boleh, kapan saya bisa bertemu dengan suaminya dokter?"
"Secepatnya, mungkin ketika Ana sudah diperbolehkan pulang, nanti akan saya kabari lagi. Terimakasih banyak, Pak Chris," kata Dewi yang merasa senang.
"Sama-sama, dok."
"Kalau begitu saya permisi, saya masih harus keliling terlebih dahulu."
"Iya silahkan."
Dewi yang di dampingi oleh dokter Kiki dan dokter Ferdi berkeliling dari satu kamar ke kamar lain untuk mengunjungi pasien mereka. Ketika sudah selesai berkeliling barulah Dewi mengunjungi kamar Siska seorang diri.
__ADS_1
Pada saat Dewi masuk, hanya ibu Rita, mamanya Siska yang menyambutnya. Pak Wira hanya sibuk dengan ponselnya sedangkan Siska membuang muka tak mau melihat Dewi.
"Bagaimana keadaan lo, Sis?" tanya Dewi berbasa-basi.
Siska hanya melirik sebentar ke Dewi lalu kemudian membuang mukanya. Dewi menghembuskan nafas pelan sebelum akhirnya ia melanjutkan pembicaraannya lagi.
"Bisakah hubungan kita baik-baik saja, karena sebentar lagi juga lo akan menjadi madu gue?"
Siska yang mendengarnya langsung membola matanya dan melihat ke arah Dewi. Pak Wira yang terlihat sibuk bermain dengan ponselnya pun langsung berdiri menghampiri ranjang Siska.
"Lo bilang apa barusan?" tanya Siska lagi memastikan. Ia takut kalau dirinya salah mendengar ucapan dari wanita yang ia rasa berada jauh dibawahnya.
"Lo siapin aja semuanya karena kak Reza sudah mau untuk menikah sama lo."
"Pa," pekik Siska dan tangannya langsung digenggam oleh Pak Wira.
"Kamu berhasil, sayang. Papa akan urus semuanya jadi kalian bisa menikah secepatnya," kata Pak Wira dengan wajahnya yang berbinar. Siska juga menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan sang ayah.
"Berapa hari lagi Siska bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Pak Wira ke Dewi.
"Siska bukan pasien saya. Karena lukanya itu sudah 2 kali terbuka bisa jadi selama seminggu ini untuk terus dipantau."
"Berarti 2 minggu lagi pernikahan kamu dengan Reza Papa adakan, dan Papa akan buat pesta pernikahan yang besar untuk kalian," kata Pak Wira.
Deg
Jantung Dewi langsung berdetak sangat cepat kala itu. Nafasnya juga seperti tersendat-sendat setelah mendengar rencana pernikahan suaminya dengan Siska akan diadakan 2 minggu lagi.
Ayah dan anak itu berpelukan, meluapkan kegembiraan mereka. Hanya Ibu Rita saja yang terlihat shock, bahkan matanya berkaca-kaca menatap Dewi. Dewi menganggukkan kepala sedikit tanda pamit. Setelah berada di luar, tak di duga Ibu Rita ikut menyusulnya dan menahan tangan Dewi. Ia kemudian memeluk erat Dewi bahkan menangis.
"Maafkan anak dan suami saya, dok," ucapnya.
"Saya tahu kalau sekarang hati dokter sangat sakit karena ada wanita lain dalam rumah tangga anda. Saya sangat tahu rasa sakitnya seperti apa, dan saya menyesal ternyata anak saya sendiri yang menyebabkan sakit itu. Saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk melarangnya karena ia begitu didukung oleh papanya. Saya hanya bisa meminta maaf sama anda, dok, tolong maafkan putri saya," lanjutnya.
Dewi yang tidak tega mendengar tangisan wanita tua itupun membalas pelukannya. Bahkan sesekali Dewi juga mengusap punggung ibu Rita berharap wanita itu bisa tenang.
"Sudah, Bu saya tidak apa-apa. Saya ikhlas menjalaninya. Mungkin ini salah satu cara buat saya untuk menebus dosa-dosa yang pernah saya lakukan dulu. Saya juga manusia biasa kok, Bu," kata Dewi menenangkan.
Tanpa mereka sadari ternyata Reza menyaksikan itu semua diujung lorong, dekat dengan pintu lift. Ia yang merasa cemas dengan kondisi istrinya itu segera menyusul ke rumah sakit ketika jam makan siang. Ia sempat bertanya dengan dokter Kiki yang ia temui di lobby rumah sakit untuk menanyakan posisi Dewi, dan dokter Kiki mengatakan kalau Dewi sedang berada di lantai 7 dan Reza yakin kalau Dewi sedang mengunjungi Siska.
__ADS_1
"Sungguh, kamu adalah bidadari surgaku, Dewi."