Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 77


__ADS_3

Dewi pulang dijemput oleh Reza beserta kedua anaknya. Mereka diundang untuk datang ke rumah Papi Arya dengan alasan kangen dengan Andra dan Ara. Dewi merasa berita mengenai perusahaan Reza sudah sampai ke telinganya Papi Arya, maka dari itu mereka diminta kerumahnya.


Selama di mobil, kehebohan terjadi antara Ara dan Andra yang tidak ingin saling mengalah merebutkan sesuatu dan juga tidak berhenti berdebat akan hal-hal yang remeh. Dewi susah payah untuk menenangkan kedua anaknya itu sedangkan Reza hanya diam dan sesekali menimpali obrolan mereka. Kadang Reza mendukung Andra sehingga Ara semakin ribut karena sang papa tidak membelanya. Dewi yang sudah pusing akhirnya mencubit perut Reza yang terus saja mengompori Ara.


"Bukannya bantuin nenangin malah nambahin kericuhan."


"Ampun-ampun, sayang," ringis Reza.


"Kalau ngga mau bantu mending diam!"


Akhirnya Dewi berhasil menenangkan kedua anaknya dengan mengajak mereka bernyanyi bersama lagu-lagu yang sering mereka putar ketika menonton YouTube Chanel Cocomelon, Chanel lagu anak nomor satu di dunia. Bahkan Reza pun ikut bernyanyi bersama keluarga kecilnya sehingga perjalanan yang sedikit macet dan jauh tidak terlalu terasa melelahkan.


Sampai di rumah Mami Lisa, Ara dan Andra langsung berlari ke dalam rumah untuk melihat hewan-hewan peliharaan Dewi yang masih di rawat oleh Mami Lisa. Pengobat rindu katanya sehingga para binatang ini masih dirawat dengan baik. Ada beberapa ekor ikan, mulai dari ikan cup*ng atau bisa disebut ikan aduan yang berwarna warni, ada juga ikan hias lainnya yang Dewi pelihara di kolam ikan belakang rumah. Selain ikan ada juga kucing Persia dan juga kucing Himalaya yang dulu menjadi peliharaan Dewi di rumah besar itu.


"Bunda kucingnya ngga kita bawa pulang aja?" tanya Ara yang kini sedang bermain dengan kucing.


"Boleh, tapi ada syaratnya. Ara harus mau merawat kucing-kucing ini. Memberi mereka makan dan juga membersihkan kandangnya," jawab Dewi yang masih setia mengelus-elus Mpin, kucing jantan Persia kesayangannya.


"Tapi, kan Ala ngga pandai belsihin kandangnya." Ara tampak murung karena takut tidak akan diizinkan membawa kucing-kucing ini pulang kerumahnya.


"Nanti dibantu sama Bik Asih sama Bunda juga. Mau tidak Ara bersihin?" tawar Dewi.


"Mau mau mau." Ara menganggukkan kepalanya dengan mata yang berbinar-binar.


"Ara main ke belakang dulu, ya sama Abang. Opa kemarin ada beli ikan cup*ang yang baru, cantik banget, warnanya merah campur biru," kata Papi Arya.


"Ciee nambah koleksi ikan lagi," goda Dewi. Ia ingat awal-awal dulu Dewi memelihara ikan cup*ang mendapatkan ejekan dari Papi Arya, kayak anak SD katanya.


"Kemarin Papi mampir ke toko langganan buat beli makanannya, eh taunya ada stok baru yang datang," jawab Papi Arya.

__ADS_1


"Ayok bang, kita liat ikannya." Ara menarik tangan Andra untuk ikut dengannya ke kolam yang berada di belakang rumah.


"Kalian berdua ikut Papi ke ruang kerja. Ada yang mau Papi bicarakan." Papi Arya berjalan terlebih dahulu menuju ruang kerjanya. Reza dan Dewi saling menatap dan kemudian Reza menggenggam tangan Dewi dan mengajaknya untuk menyusul Papi Arya. Mami Lisa yang masih berdiri di belakang mereka menatap nanar pasangan itu. Baru rasanya sebentar mereka menikmati pernikahan yang bahagia, kini ada saja batu sandungan dan badai yang menerpa mereka.


"Ada apa, Om?" tanya Reza langsung ketika mereka sudah sampai di ruang kerja Papi Arya.


"Om sudah tahu semua, Reza tentang perusahaan kamu. Om juga sudah menambah 15% saham disana agar kamu tetap bisa menjabat sebagai Direktur Utama."


"Ya aku tahu. Anton sudah mengabari aku tadi, terimakasih. Tapi itu belum cukup, Om."


"Ya, Om tahu. Lawan kamu kali ini berat. Om juga sudah menghubungi Wira, tapi dia tetap menolaknya. Beberapa investor dan dewan direksi adalah orang-orang dia, jadi mereka bersatu untuk melawan kamu."


"Mengapa mereka melakukan ini? Padahal Papa dulu selalu membantu mereka. Lalu mengapa sekarang mereka ingin menjatuhkan ku?" kata Reza dengan nada yang mulai meninggi. Ia sungguh emosi mengingat bagaimana orang-orang itu sangat ingin menjatuhkannya.


"Kak, sabar." Dewi yang duduk di sampingnya terus berusaha menenangkan Reza dengan mengusap punggungnya sedangkan tangannya 1 lagi menggenggam tangan Reza.


"Mami juga sudah coba ngomong sama Rita, katanya dia juga sudah berusaha menentang keinginan Siska, tapi karena Siska di dukung oleh Wira jadinya dia tidak bisa berbuat apa-apa," kata Mami Lisa.


"Oh iya Mami dengar Siska menyayat tangannya, ya? Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Mami Lisa.


"Tadi pagi keadaannya sudah membaik. Kemarin dia masih berusaha menyakiti tangannya yang luka itu beberapa kali," jawab Dewi.


"Kenapa anak itu begitu keras kepala," gumam Papi Arya.


Reza menunduk, ia ingat bagaimana hari itu Siska memecahkan vas bunga yang ada di ruangannya dan menggunakan pecahan kacanya untuk menyayat tangannya. Ia juga lihat sendiri bagaimana darah mengucur deras bagaikan air mancur dari tangan yang dilukai wanita itu.


Dewi yang melihat perubahan raut wajah Reza semakin erat menggenggam tangan Reza. Reza yang sadar langsung menoleh ke arah Dewi. Ia bisa melihat senyum tulus yang cantik dan indah yang diberikan istrinya itu, sungguh menenangkan jiwanya.


"Kak, bukankah ini demi kemaslahatan bersama," kata Dewi yang membuat kening Reza mengerut.

__ADS_1


"Maksud kamu?" tanya Reza bingung.


"Lakukanlah." Satu kata yang sungguh menimbulkan ketakutan untuk Reza.


Reza segera menarik tangan Dewi agar mengikutinya keluar dari ruangan itu. Ia membawa Dewi ke kamar lama Dewi yang berada di rumah besar milik Papi Arya.


Braak


Reza menutup kasar pintu kamar setelah Dewi juga masuk ke dalam kamar lamanya. Tak lupa ia juga mengunci kamar itu agar tidak ada yang mengganggu ketika ia berbicara dengan istrinya ini.


"Maksud kamu apa? Lakukan apa?" tanya Reza dengan suara yang tinggi.


"Tidak ada salahnya kan, Kak untuk menuruti keinginan mereka," kata Dewi.


"Tidak salah kamu bilang. Kamu tahu tidak apa maunya mereka?"


Dewi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Mereka mau Kakak menikahi Siska."


Reza menggelengkan kepalanya, tanda tidak percaya. Istrinya itu kini meminta ia untuk menikah lagi, tetapi dirinya masih bisa tersenyum, persis seperti Rena dulu yang meminta dirinya untuk menikahi Dewi.


"Ada apa dengan kalian? Bagaimana bisa kamu dan Rena menyuruh aku menikah lagi tapi masih bisa tersenyum? Kalian ini bod*h atau terlalu baik?"


Dewi kembali tersenyum. "Kami berdua memiliki kesamaan, yaitu memikirkan Kakak. Dewi tahu kalau perusahaan itu sangat berarti buat Kakak."


"Memang perusahaan itu sangat berarti buat aku, tapi tidak harus mengorbankan pernikahan kita."


"Pernikahan kita akan baik-baik saja, Kak."


"SEKALI TIDAK TETAP TIDAK!"

__ADS_1


__ADS_2