
"Kamu lagi apa?" tanya Reza yang baru saja masuk ke ruang dapur.
"Eh udah pulang," kata Dewi. Wanita ini langsung mencuci tangannya, mengeringkannya dengan kain lap dan menghampiri sang suami. Ia raih tangan suaminya dan ia cium takzim.
"Maaf aku pulangnya telat," ucap Reza sambil mencium kening Dewi.
"Iya ngga apa-apa, kan udah ngabarin juga tadi. Mau mandi dulu ngga?"
"Iya nanti aja. Kamu lagi buat apa?" tanya Reza yang melihat berbagai macam buah terletak diatas meja dapur.
"Mau buat salad aja kok. Tadi pas pulang ikutan sama Leo Tania, mereka mampir ke supermarket dulu jadi Dewi ikutan beli buahan untuk stok. Terus tadi lapar, yaudah buat salad aja buat pengganjal," tutur Dewi. Wanita ini berlalu dan kembali berkutat dengan mengupas buah yang sebelumnya ia tinggal karena kedatangan Reza.
"Emang tadi ngga makan malam?" tanya Reza. Reza mengikuti langkah Dewi dari belakang.
"Ya makan dong. Cuma ya gimana, lapar lagi," jawab Dewi.
"Dedek rewel ngga hari ini?" Reza memeluk Dewi dari belakang sambil mengelus pelan perut wanitanya itu.
"Alhamdulillah hari ini dia baik banget, ngga ada mual-mual yang parah juga. Padahal tadi ketemu dokter Jimmy lho. Sebelumnya mual parah banget pas ketemu dia. Oh kak Reza mau juga ngga? Biar sekalian Dewi buatin."
"Boleh deh, tapi jangan banyak-banyak, ya, sedikit aja. Aku mandi dulu." Reza kemudian meninggalkan Dewi dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Tak lama Dewi juga telah selesai dengan 2 mangkuk salad. Ia membawa kedua mangkuk itu ke dalam kamarnya, dan meletakkannya diatas meja, telat di depan tv yang ada di kamar mereka. Tepat pada saat itu juga Reza baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Gimana di rumah sakit tadi?" tanya Reza menyusul istrinya yang sudah duduk di depan sofa kamar mereka.
"Nothing special. Eh iya gimana acara pernikahan kakak?" tanya Dewi tanpa beban. Reza bahkan menatap heran ke arah Dewi yang terlihat biasa saja. Padahal ia yakin bahwa beberapa hari yang lalu istrinya itu tampak gelisah karena waktu pernikahannya yang sudah dekat.
"Ngga tahu, ngga mau urus juga," jawab Reza singkat.
Dewi dan Reza sama sama sibuk dengan salad yang ada ditangan mereka. TV yang menyala juga hanya menjadi pajangan bagi dua insan yang tiba-tiba saja saling mendiam itu. Mereka berdua kini sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Aku tidur duluan," kata Reza setelah salad bagiannya sudah habis.
__ADS_1
"Langsung tidur?" tanya Dewi yang melihat Reza akan beranjak dari tempat duduknya.
"Iya aku capek banget. Kamu kalau masih mau nonton, ngga apa-apa. Tapi jangan sampai terlalu malam banget, ya," ucap Reza. Pria itu kemudian berdiri dan mencium sekilas kening dan bibir Dewi sekilas sebelum beranjak.
Ada perasaan lain di hati Dewi melihat Reza yang tidur duluan meninggalkannya. Ia sadar perubahan sikap Reza ini juga karena ia yang membicarakan mengenai Siska barusan. Di tengah kegembiraan mereka akan hadirnya calon buah cinta mereka, ia malah menyinggung masalah pernikahan prianya dengan wanita lain.
Melihat Reza yang sudah masuk ke dalam selimutnya, Dewi kemudian segera berdiri. Ia berjalan mematikan lampu utama sehingga menyisakan lampu tidur yang sudah dinyalakan oleh Reza sebelumnya. Ia berjalan menuju ranjang, ia kemudian membaringkan tubuhnya disamping Reza dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan Reza.
Dewi menatap punggung Reza yang kala itu tidur dengan membelakanginya. Rasa bersalah makin kian dirasa oleh Dewi. Atas inisiatifnya sendiri, ia lalu memeluk tubuh lelah suaminya itu dari belakang. Reza yang memang belum tidurpun segera membalikkan badannya dan membawa tubuh Dewi ke dalam pelukannya.
Jujur ia sebenarnya sangat merindukan wanitanya ini. Tetapi karena Dewi yang kembali mengingatkan akan pernikahan yang akan ia hadapi tidak lebih dari seminggu lagi membuat hatinya menjadi tidak karuan. Ia tahu segala persiapan sudah disiapkan oleh Siska untuk pernikahan mereka ini. Ia sama sekali tidak tertarik untuk ikut dalam urusan itu sehingga menyerahkan semuanya pada Siska. Toh wanita itu juga yang begitu menginginkan pernikahan ini terjadi. Namun dalam hatinya yang terdalam ia sangat mengharapkan sebuah keajaiban terjadi sehingga ia tidak perlu menikahi wanita itu. Cukup wanita yang kini ada dalam dekapannya yang akan menemaninya hingga hari tuanya. Bersama dengan Dewi membesarkan anak-anaknya dan hidup menua dan bahagia bersama.
____
"Apa semuanya sudah kamu siapkan?" tanya Reza pada asistennya.
"Semuanya sudah siap, Pak. Kita nanti siang hanya tinggal menemui Tuan Chris dan menandatangani kerja sama ini, Pak," jawab Anton.
"Tempat janjinya?" tanya Reza lagi.
"Oke, jangan sampai ada yang tertinggal. Kerja sama kita kali ini sangat penting."
"Baik, Pak."
Ketika Reza bersama dengan Anton tengah sibuk membahas pekerjaan di ruangan kerjanya, pintu ruangan dibuka paksa oleh seseorang sehingga membuat atensi Reza dan juga Anton beralih ke arah pintu.
"Maaf, Pak. Nona Siska memaksa masuk," jelas Lia yang merasa tak enak karena tidak berhasil menghalau wnaita itu untuk msuk ke dalam ruangan bosnya.
"Tidak apa, Lia."
"Kamu kemana aja sih, Mas. Aku telepon kamu ngga pernah angkat," kata Siska sambil berjalan menuju meja Reza.
"Kamu tidak lihat kalau saya sedang bekerja sekarang," ketus Reza.
__ADS_1
"Apa kamu selalu sibuk? Kan ada waktu luangnya walau sejenak untuk menghubungi aku lagi,"
"Saya tidak punya waktu. Di kantor waktunya saya bekerja, di rumah saya sibuk dengan keluarga saya, dengan anak-anak saya dan juga istri tercinta saya," enteng Reza.
"Kamu lupa kalau aku ini juga calon istri kamu, Mas?" tanya Siska yang sudah mulai terpancing emosinya.
"Hanya kamu yang menganggap seperti itu, saya sendiri tidak beranggapan seperti itu."
"Mas Reza!" pekik Siska.
"Kamu mau apa? Saya sudah terlalu banyak pekerjaan sekarang. Kalau tidak penting silahkan saja keluar."
Siska yang awalnya berdiri di depan meja kerja Reza itu segera beralih berjalan dan berhenti di samping kursi Reza.
"Kita harus fitting baju pengantin kita, Mas," kata Siska dengan suara manjanya. Ia sengaja melakukannya agar Reza luluh dan mau membantunya dalam mempersiapkan pesta pernikahan untuk mereka. Wanita itu bahkan meraih lengan Reza, namun dihempaskan begitu saja oleh Reza.
"Kamu apa-apaan sih, Mas. Kok sekarang kasar begini sama aku," kata Siska yang semakin jengkel dengan sikap Reza.
"Berapa kali saya bilang jangan pernah menyentuh saya!"
"Kamu kenapa sih, Mas ngga pernah bisa lembut sedikit aja sama aku. Aku akan adukan sikap kamu ini ke Papa," kata Siska.
"Silahkan kamu adukan semuanya sama papa kamu, saya sudah tidak peduli!"
"Aku akan kembali membuat perusahaan kamu diambang kehancuran!" pekik Siska. Siska yang murka bahkan melemparkan vas bunga yang ada diatas meja Reza ke sembarang arah. Untung lemparannya hanya mengenai lantai sehingga tidak ada yang terkena pecahan kacanya.
"Siska mengamuk, berteriak bahkan membuang benda-benda yang ada diatas meja Reza. Beruntung Anton dengan sigap menyelematkan laptop Reza yang memang berisikan pekerjaan mereka.
"SISKA!!" teriak Reza.
"Kamu keterlaluan, sudah mengacak-acak kantor saya!"
"Kamu yang keterlaluan, Mas. Kamu abaikan perasaan aku. Pernikahan kita sebentar lagi tapi kamu malah abai dengan semuanya," balas Siska yang juga berteriak.
__ADS_1
"PERNIKAHAN KALIAN SAYA BATALKAN!!"