Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 87


__ADS_3

"Bagaimana pasiennya?" tanya Dewi kepada perawat yang bertugas malam itu di ruangan PICU.


"Sudah mulai ada respon, dok sejak tadi subuh," jawab perawat.


"Orangtuanya dimana?" tanya Dewi yang melihat tidak ada satupun orangtua Putri yang ada di depan pintu.


"Ayahnya sudah pulang tadi pagi jam 7, kalau ibunya izin ke toilet tadi, dok."


"Oke, saya lihat pasiennya dulu."


____


"Papa darimana aja, sih. Kenapa tidak pulang tadi malam?" cecar Siska ketika melihat sang ayah yang baru saja pulang.


"Papa capek, Siska."


"Papa tunggu dulu." Siska memegang pergelangan tangan Pak Wira sehingga pria paruh baya itu menghentikan langkahnya.


"Pernikahan aku dengan Reza bagaimana? Reza ngga mau ikut aku untuk mengurus pernikahan kami," adu Siska.


"Seharusnya kamu bisa sendiri, Siska. Reza memang sedang sibuk saat ini, jadi sebaiknya kamu jangan mengganggu dia," bentak Pak Wira. Siska yang seumur hidupnya belum pernah dimarahi oleh sang papa kaget dan mundur selangkah.


"Pantas saja Reza tidak pernah tertarik sama kamu. Kamu egois dan selalu memaksakan kehendak kamu. Seharusnya kamu belajar dari Dewi, bagaimana dia bisa mengalihkan cinta Reza dari istri pertamanya dan sekarang Reza sangat mencintai Dewi. Dewi selalu bersikap dewasa, tidak kekanak-kanakan seperti kamu. Kamu seharusnya bisa mencontoh dia."


"Papa kenapa membela Dewi sekarang? Kenapa? Apa Papa juga suka sama dia?" teriak Siska.


"SISKA!" hardik Pak Wira.


"Papa ngga pernah marahin aku, papa juga ngga pernah bentak aku. Tapi sekarang karena wanita si*lan itu Papa bentak aku!"


"Siska, sudah sayang, kamu jangan melawan Papa kamu. Kamu masuk ke kamar sekarang, ya," kata ibu Rita yang menengahi.


Dengan tatapan mata tajam, Siska berlaku masuk ke dalam kamarnya meninggalkan kedua orangtuanya yang masih berdiri di ruang tengah.


"Mas sudah, ya jangan marah-marah lagi. Nanti tensi kamu naik lagi, lho." Ibu Rita mencoba memegang tangan suaminya dan mengelusnya pelan berharap dapat meredakan emosi Pak Wira.


"Kamu urus anak kamu itu," kata Pak Wira.


"Iya, nanti aku coba bicara dengan Siska." Ibu Rita menarik pelan tangan Pak Wira dan mengajaknya masuk ke dalam kamar mereka.


"Kabar Putri bagaimana, Mas?" tanya ibu Rita ketika mereka sudah berada dalam kamar.


"Dia sudah sadar tadi, makanya aku bisa pulang sekarang," jawab Pak Wira sambil melepaskan sepatu dan kemeja miliknya.


"Syukurlah. Aku boleh menjenguknya?"

__ADS_1


"Hmm nanti barengan saja perginya denganku. Tapi pulangnya kamu sendiri saja, karena aku akan tinggal di rumah sakit menemani bundanya."


"Iya ngga apa-apa nanti aku pulang sendiri."


"Aku mau mandi dulu." Pak Wira berlalu meninggalkan ibu Rita yang sedang membereskan sepatu serta pakaian milik suaminya.


______


"Sesuai permintaan suami kamu, saya sudah membatasi kalau kamu hanya menerima 10 pasien rawat jalan saja per hari, dan untuk jadwal operasi kamu juga sudah saya atur semuanya," kata dokter Jimmy yang kini sedang berada di dalam ruangan Dewi.


"Terimakasih, dokter Jimmy. Maaf kalau saya jadi merepotkan," kata Dewi tak enak.


"Tidak apa, saya juga paham kekhawatiran Reza, apalagi kamu pernah mengalami keguguran sebelumnya," jawab dokter Jimmy.


"Kamu itu asetnya rumah sakit ini, dokter Dewi, jadi saya tidak mau sampai kehilangan kamu. Berapa banyak pasien nanti yang akan pergi meninggalkan kita," sambung dokter Jimmy.


"Please jangan berlebihan, dok. Saya hanya manusia biasa. Semuanya atas izin Allah," ucap Dewi.


"Iya memang semua atas izin Allah, tapi melalui tangan kamu. Oh iya sampai lupa, saya kesini mau kasih ini." Dokte Jimmy menyerahkan sepucuk kertas kepada Dewi.


"Ini apa?" tanya Dewi.


"Kamu diundang sebagai pembicara di konferensi dokter saraf yang akan diadakan di Autonomous University of Barcelona," terang dokter Jimmy.


"Barcelona? Spain?" tanya Dewi dengan senyum sumringah.


"Kak Reza gimana ya, dok? Kira-kira diizinin ngga, ya?" kata Dewi ragu.


"Kamu tinggal ajak dia juga. Bilang aja sekalian babymoon. Kalian juga belum ada liburan bareng, kan? Dia jemput kamu ke Swiss kemarin juga kalian belum sempat liburan bareng," usul dokter Jimmy.


"Eh iya bener banget usulan dokter Jimmy. Nanti saya coba bicarakan dengan kak Reza."


Tok tok tok


Obrolan mereka terputus karena ketukan pintu yang menghadirkan sosok dokter Kiki.


"Sudah saatnya untuk kunjungan ke ICU dan PICU, dok," kata dokter Kiki mengingatkan.


"Oke, kita kesana sekarang," jawab Dewi.


"Saya dengar ada anaknya pak Wira di PICU, ya?" tanya dokter Jimmy.


"Iya, anak kedua beliau," jawab Dewi.


"Dari istri kedua," sambung dokter Kiki.

__ADS_1


"Ha? Serius?" tanya dokter Jimmy yang terkejut.


"Sudah-sudah dilarang berghibah," potong Dewi. "Ayok kita pergi, Ki. Dokter Jimmy kami permisi dulu."


"Iya-iya silahkan."


Dewi berjalan beriringan menuju ruangan PICU bersama dokter Kiki.


"Kamu jangan menyebarkan berita yang aneh-aneh ke yang lain," kata Dewi memperingatkan.


"Saya tidak ada nyebarkan berita yang tidak-tidak kok, dok. Semua penghuni rumah sakit juga tahu sama pak Wira kalau beliau orangtuanya nona Siska yang membuat keributan minggu lalu. Istrinya yang orang tahu saat itu ibu Rita. Sekarang ada anak gadis lain yang masuk, ibunya berbeda tapi ayahnya pak Wira. Ya orang-orang, kan bisa menilai kalau itu istri keduanya," terang dokter Kiki.


"Iya, tapi kamu jangan nambah-nambahin. Jangan juga ikut-ikutan."


"Iya siap, dok."


Akhirnya mereka tiba di ruangan PICU. Di ruangan Putri, terlihat ada ibunya Putri, Meri dan juga ada pak Wira beserta ibu Rita, ibu kandungnya Siska.


"Assalammualaikum," sapa Dewi.


"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.


"Permisi, saya mau cek Putri dulu, ya."


"Iya dok, silahkan."


Dewi dibantu dengan dokter Kiki mulai memeriksa kondisi dari Putri, mulai dari respon dari tubuh Putri sampai dengan detak jantung, dan pernafasan Putri.


"Bun, aku mau spaghetti yang kemarin," lirih Putri.


"Iya, nanti kalau kamu pulang, Bunda buatkan lagi, ya," jawab ibu Meri.


Dewi tersenyum melihat keakraban ibu dan anak ini, ia menjadi teringat dengan tingkah Ara yang terkadang juga meminta ia untuk memasak makanan kesukaannya.


"Dia jauh lebih baik daripada tadi pagi. Bicaranya juga sudah mulai jelas," ujar ibu Meri.


"Betul, Bu. Pulih secepat inipun adalah sebuah keajaiban. Regenerasi saraf di otak berlangsung cepat karena dia juga masih muda. Bagian medula sudah tidak tertekan, perdarahan pun sudah tidak ada. Saya rasa dia bisa pulih seperti biasa. Setelah menjalani rehabilitasi, kalian jangan terlalu khawatir. Sepertinya dia bisa pindah ke bangsal biasa sekitar dua hari lagi," terang Dewi yang langsung membuat raut wajah ketiga orang yang berada disana menjadi cerah.


"Terimakasih banyak, dok," kata Ibu Rita tulus sambil memegang tangan Dewi. "Anda sudah banyak membantu keluarga kami," sambungnya.


"Ini bukan apa-apa, Bu. Saya juga merasa bersyukur Putri bisa pulih dengan cepat."


"Saya mendoakan kebahagiaan selalu menyertai dokter dan juga keluarga," doa Ibu Rita.


"Aamiin," kata Ibu Rita dan Ibu Meri kompak.

__ADS_1


Hanya Pak Wira saja yang diam dengan raut wajah yang tidak bisa diduga, entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria paruh baya itu.


__ADS_2