
Di sebuah ruangan, Dewi yang tengah mengikuti seminar merasakan tidak enak pada perutnya. Ia yang tadi pagi tidak jadi menyantap sarapannya sekarang merasa lapar. Waktu untuk rehat masih ada sekitar satu jam lagi, dan ini benar-benar menyiksanya.
“Aaaargh gara-gara Kak Reza sama si kapindiang (kutu busuk dalam bahasa minang) itu aku yang kelaparan jadinya,” gerutu Dewi dalam hati.
Terjadi perang dua sisi batinnya saat ini.
“Tapi kenapa gue kesal ya lihat mereka berdua?”
“Ya iyalah gue kesal. Ngapain coba dia dekat-dekat sama perempuan kayak gitu.”
“Ya tapi kan mereka lagi kerja.”
“Tapi gak harus berdua.”
“Apa gue cemburu, ya?”
“Ngga, gue gak cemburu.”
“Cemburu kayaknya deh.”
“Ngapain gue cemburu. Jadi istri cuma status doang.”
Peperangan batinnya sendiri terus terjadi sampai-sampai ia menjadi tidak konsentrasi mengenai materi seminar yang diikutinya kali ini.
Jam istirahat tiba. Dewi makan siang bersama beberapa dokter kenalannya terdahulu ketika ia berada di Korea. Bertemu dengan beberapa temannya ini membuat Dewi melupakan kekesalannya tehadap Reza.
Seminar diadakan sampai sore hari. Malam harinya Dewi diajak oleh rekan-rekannya untuk makan malam di Lounge&Bar yang ada di rooftop hotel. Dewipun mengiyakan ajakan temannya.
Ternyata malam itu Reza juga berada disana bersama dengan Siska, Mr.Cho dan beberapa rekan bisnisnya juga. Mereka berada di ruangan private. Siska yang mempunyai rencana licik untuk mendapatkan Reza akan memulainya rencana kotornya malam ini. Ia berencana mencampuri minuman Reza dengan obat perangsang. Ketika Reza pamit untuk ke toilet disitulah Siska mencampuri obat tersebut. Tidak ada yang menyadari tindakan Siska karena semua sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Reza datang kembali setelah minumannya sudah dicampur oleh Siska. Reza meminum minumannya hingga tandas karena ingin segera kembali ke kamarnya. Ia ingin menghubungi Dewi yang katanya juga menginap di hotel ini. Disaat berbincang sejenak sebelum pamit dengan Mr.Cho, Reza merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa panas. Reza langsung meminta izin untuk kembali ke kamar.
Reza melangkahkan kakinya menuju lift. Sembari menunggu lift terbuka, Siska datang dan berdiri di samping Reza.
“Ada apa, Mas?”
“Tidak ada apa-apa. Saya mau ke kamar duluan.”
“Beneran tidak apa-apa? Mukanya merah gini.” Siska memegang wajah Reza. Reza langsung menghempaskan tangan Siska begitu saja.
“Tolong jaga sikap anda Bu Siska,” tegas Reza. Pintu lift terbuka, Reza langsung masuk diikuti Siska.
__ADS_1
“Anda maunya apa?” tanya Reza yang melihat Siska ikut masuk ke dalam lift.
“Biar aku temanin malam ini, Mas,” goda Siska.
Reza yang memang dilanda hasrat yang tinggi saat ini berusaha menahan dirinya dari godaan Siska.
“Anda jangan kurang ajar ya.”
Disaat Siska berusaha memegang dada Reza, pintu lift yang tadinya akan menutup kini terbuka kembali. Tampak Dewi berdiri di depan pintu dengan mata yang menatap tajam.
“Dewi?”
“Ngapain kamu tangannya di dada Kak Reza?” Dewi berkata dengan tatapan mata yang tajam mengarah ke Siska.
Reza yang sadar segera menepis tangan Siska yang ada di dadanya. Kemudian Reza menarik tangan Dewi, membawanya ikut masuk ke dalam lift dan memeluk pinggangnya erat.
“Anterin Kakak ke kamar.”
Dewi terkejut dengan yang Reza lakukan. Ia menatap wajah Reza yang berada di sampingnya. Ia menyadari telah terjadi sesuatu dengan Reza setelah melihat wajah pria itu.
“Kakak kenapa?” Dewi memegang wajah Reza yang memerah.
Reza menegang dan berdesir dengan sentuhan Dewi. Ditambah dengan pengaruh obat itu, Reza benar-benar merasa tersiksa dengan posisinya saat ini. Reza menggelengkan kepalanya.
“Biar saya yang antar Mas Reza ke kamarnya,” tawar Siska.
“Tidak perlu, saya bisa antar Kak Reza sendiri,” jawab Dewi yang kembali menatap tajam ke arah Siska.
“Kamu pasti kesusahan membawa Mas Reza sendiri. Biar saya bantu,” kekeh Siska.
“Saya bisa urus suami saya sendiri!”
“Suami?”
“Dewi istri saya,” ucap Reza tegas.
Ucapan Reza barusan tentu saja membuat Siska bingung karena sepengetahuannya Reza hanya memiliki satu istri yang benama Rena.
“Kamu jangan bercanda, Mas. Bukannya istri kamu namanya Rena?”
“Itu bukan urusan anda. Dan 1 hal yang harus anda ingat Bu Siska. Selama ini saya sudah terlalu bersabar dengan anda. Saya diam saja karena masih menghargai ayah anda yang sudah lama bekerja sama dengan almarhum orangtua saya. Saya harap ini yang terakhir anda berbuat seenaknya. Saya tau anda mencampurkan sesuatu di minuman saya,” jelas Reza berapi-api.
__ADS_1
“Ap— apa maksud Mas Reza?” Siska terbata-bata.
“Anda tahu maksud saya. Tolong keluar sekarang! Anda bisa menunggu lift berikutnya,” usir Reza.
Siska yang diusir keluar dari lift dengan menghentakkan kakinya. Sedangkan Dewi yang dari tadi mendengarkan obrolan mereka menatap heran ke arah Reza.
Pintu lift tertutup, membawa mereka ke lantai tempat Reza menginap. Dewi berusaha melepaskan tangan Reza yang memegang pinggangnya sejak tadi.
“Lepasin Kak.”
“Maaf.” Reza melepaskan tangannya.
“Kakak belum jawab pertanyaan Dewi tadi. Kakak kenapa? Apa yang dia masukkan tadi ke minuman Kakak?”
Reza tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dewi. Saat ini ia terus berusaha untuk mengontrol dirinya agar tidak melakukannya dengan Dewi.
Pintu lift terbuka, Reza langsung melangkahkan kakinya keluar tanpa menunggu Dewi. Ia berjalan cepat menuju kamarnya. Ia ingin segera merendam tubuhnya di air dingin untuk menurunkan hasratnya.
Reza segera membuka pintu kamar dan menutupnya. Namun pintu tersebut tidak bisa di tutup karena ditahan oleh Dewi dari luar. Ia yang melihat Reza keluar terburu-buru dari dalam lift tadi segera menyusul Reza. Ia ingin tahu hal apa yang menyebabkan Reza marah seperti tadi kepada Siska.
“Awas, Wi, Kakak mau tutup pintunya,” usir Reza.
“Ngga bisa. Kakak harus jawab Dewi dulu. Kakak kenapa? Kakak sakit? Biar Dewi bantu kalau emang sakit.”
Reza yang susah payah menahan gelora di dalam tubuhnya, akhirnya membuka pintu dan menarik tangan Dewi untuk ikut masuk ke dalam. Di sandarkannya Dewi ke pintu sambil mengunci tubuh Dewi dengan tubuhnya.
“Kamu yakin mau bantu? Kamu tau apa yg dicampur wanita sinting tadi ke dalam minuman Kakak?”
“Kalau aku bisa akan aku bantu Kakak.”
“Wanita gila itu mencampurkan obat perangsang ke dalam minumanku,” jawab Reza dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Ap—pa?” kata Dewi tergugu.
“Kamu akan membantu Kakak kan?” Ia mengikis jarak wajah mereka.
“Kak tap—tapi.”
Ucapan Dewi terpotong karena Reza yang segera mencium buas bibirnya Dewi. Dewi yang kaget dengan ciuman Reza membuka lebar matanya. Ia terkejut akan tindakan yang dilakukan Reza. Sampai akhirnya ia tersadar dari keterkejutannya dan berusaha melepaskan diri dari ciuman Reza.
“Hhhhhmmmph.”
__ADS_1
Reza melepaskan ciumannya sejenak. “Kamu istri aku, Wi. Aku suami sah kamu!” Reza kembali mencium Dewi, kali ini dengan gerakan yang lebih lembut.