
Fa biayyi ālāi rabbikumā tukażżibān (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan). Bacaan surah Ar-Rahman ayat 13 yang diulang sebanyak 31 kali dalam sepanjang surahnya ini benar-benar menjadi pengingat bagi Dewi.
Dia yang sebelumnya bukan apa-apa,sekarang sudah apa-apa. Tidak pernah sekalipun sebelumnya ia bermimpi ataupun berkeinginan menjadi bagian dari keluarga konglomerat di negaranya itu.
Sebelum mengenal keluarga itu, Dewi harus pandai berhemat tiap bulannya dari uang pensiunan mendiang papanya. Tak jarang juga ia harus menjadi joki pembuat skripsi demi mendapatkan rupiah untuk memenuhi kebutuhannya.
Bukan untuk bersenang-senang, berfoya-foya demi gaya hidup. Rupiah demi rupiah dia kumpulkan untuk membeli buku-buku yang menarik hatinya. Bukannya sedikit yang ia dapatkan dari menjadi joki. Apalagi jika itu dari anak orang kaya. Tapi tak pernah dia habiskan untuk membeli barang-barang yang menurutnya unfaedah.
Begitu juga dengan saat ini. Walaupun uang bukanlah masalah buatnya kali ini, tetap Dewi tidak boros untuk membeli barang-barang branded. Lebih baik dia berburu buku. Tidak melulu tentang kedokteran, banyak juga koleksinya tentang agama, ekonomi, biografi seseorang,politik dan juga sejarah.
Dewipun mempunyai julukan perpustakaan berjalan. Saking banyaknya hal-hal yang ia ketahui.
———
Pernikahan Rena dan Reza tak terasa sudah memasuki tahun kedua. 2 bulan setelah menikah Rena positif hamil. Tentu saja ini menjadi kabar baik yang ditunggu-tunggu oleh kedua keluarga.
Rena melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan, yang kelak akan menjadi pewaris dari Hutama Grup. Kalandra Aditya Hutama.
Andra kini berusia 1 tahunan. Andra tumbuh menjadi anak yang aktif dan menggemaskan. Dia juga dekat dengan Dewi yang dipanggilnya Bunda.
Malam itu mereka semua berkumpul untuk makan malam di rumah mewah papi Arya. Kegiatan ini sering mereka lakukan karena bisa dikatakan mereka sudah jarang berkumpul satu sama lain.
Papi Arya dan Reza sibuk dikantor, Mami Lisa sibuk dengan teman-teman sosialitanya, Rena yang dirumah dengan Andra, dan Dewi yang kini sedang melaksanakan program Internship untuk mendapatkan STR (Surat Tanda Registrasi) agar bisa mengurus SIP (Surat Izin Praktek).
Usai makan malam, mereka semua duduk di ruang tengah. Papi Arya duduk di sofa tunggal, Mami Lisa duduk bersama Reza disebelahnya, Rena dan Dewi duduk di bawah beralaskan karpet sambil bermain dengan Andra.
Ketika asim bermain dengan Andra, handphone Dewi berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Diraihnya handphonenya yang dia simpan di saku rok panjangnya. Dewi lihat ada sebuah email yang masuk.
Dewi membaca email itu dengan mata yang membesar dan mulutnya juga terbuka lebar. Selanjutnya ia teriak dan berlompat kesana kemari.
“Yes yes yes. Alhamdulillah. Ya Allah terimakasih ya Allah. Eh eh bentar ngga mimpi kan ini? Eh tunggu baca lagi. Bener. Yees,” teriak Dewi.
Orang-orang yang ada disana menatap heran ke arah Dewi.
“Kamu kenapa Wi?” tanya mami Lisa.
__ADS_1
“Aaaah mami peluk,” kata Dewi histeris.
Dewi lanjut sujud syukur sambil meneteskan air matanya. Selanjutnya dia memeluk Rena dan bergantian memeluk mami Lisa kembali.
Reza yang duduknya tak jauh dari ponselnya Dewi meraih ponsel itu dan membaca ulang apa yang membuat adik istrinya itu sampai sesenang ini.
“Kamu lulus di Yonsei University Wi?” tanya Reza.
“Yonsei? Dimana itu?” tanya mami Lisa.
“Di Korea Tante,” jawab Reza.
“Kapan kamu masukan pendaftaran disana Wi? Kemaren papi tanya katanya belum tau mau ambil apa dan dimana,” kata Papi Arya.
“Hehe maaf Pi kemaren kan belum pasti keterima makanya ngga bilang. Dewi udah daftar sejak 2 bulan lalu Pi,” jawab Dewi. Jujur dia jadi merasa tidak enak hati setelah melihat reaksi Papi Arya. Dewi takut Papi Arya marah karena tidak izin padanya terlebih dahulu.
“Kenapa Korea? Kenapa tidak negara lain aja?” tanya Papi Arya.
“Korea masih dekat Pi. Penerbangannya cuma 5/6 jam. Perbedaan waktunya juga 2 jam lebih cepat Korea. Kalau mau komunikasi masih bisa gak terhalang sama perbedaan waktu yg cukup signifikan. Terus kalau Mami sama Papi atau Dewi harus pulang mendadak masih bisa kekejar juga kan. Dewi gak mau kayak dulu pas masih di Jerman,” jelas Dewi.
Dewi langsung berhambur memeluk Mami Lisa.
“Ulu ulu ulu pinter banget sih adeknya Kak Rena ini,” kata Rena sambil mengusel-usel hijab Dewi.
“Ayok sini pelukan bareng,” ajak Dewi. “Aaaah ngga nyangka jujur bisa lulus.”
“Bilang aja biar bisa ketemu sama oppa oppa korea. Pake ngeles bilang biar dekat lagi,” sambung Rena.
“Ya sekali menyelam minum air kak. Yonsei university Hospital termasuk rumah sakit gede lho di Seoul. Kali aja bisa ketemu gitu kan sama Lee Min Ho, Kim Soo Hyun, Lee Dong Wook,” jawab asal Dewi.
“Ih kalau itu mah Kakak juga mau Dek,” kata Rena.
“Yasudah catat aja pengeluarannya berapa ntar Papi tinggal bayar aja,” kata Papi Arya menengahi obrolan unfaedah 2 wanita itu.
“Gak perlu Pi, terimakasih. Itu Dewi juga lulus beasiswanya. Jadi cuma tinggal bawa diri sama pakaian aja Pi. Tempat tinggalnya juga udah disediain disana,” jawab Dewi.
__ADS_1
“Ha serius Dek?” tanya Rena.
“Hem”.
Reza yang masih memegang ponsel Dewi membaca kembali isi pesan itu.
“Wi kamu tahu kalau kamu ini lulus posisinya di nomor 2? Beda dikit poinnya lho sama yang urutan pertama,” tanya Reza.
“Eh seriusan Kak? Tadi Dewi cuma fokus sama Congratulation nya aja gak baca-baca lagi.”
“Kamu kapan belajarnya sayang? Weekdays kamu di puskesmas, hari libur kadang kamu yang naik gunung atau camping sama sahabat-sahabat kamu. Malah kadang kamu latihan silat. Kapan waktunya belajar? Malam Mami liat kadang kamu nonton drakor,” tanya Mami Lisa.
“Mamiku sayang, belajar itu gak penting kuantitasnya. Yang paling penting itu kualitasnya. Walaupun jarang belajar, tapi kalau pas belajar kita fokus banget akan berhasil kok,” jelas Dewi.
“Emang paling the best deh anak Mami ini”.
“Siapa dulu dong. Dewi Anggraini.”
“Kamu ini kenapa ngga pernah repotin Papi sih Nak?” tanya Papi Arya.
“Ih Papi aneh. Orang lain mah ngga pengen direpotin ini malah pengen banget direpotin.”
“Iya Papi kadang dengar cerita-cerita teman Papi mereka ngeluh yang anaknya bermasalah disekolah, nilainya jelek, yang gak mau sekolahlah, banyak pokoknya. Nah kalau kamu ini ni Wi baik budi banget.”
“Dewi ngga baik-baik banget kok Pi. Ada masanya entar Dewi bakalan negerepotin Papi dan Mami. Dewi harap pas waktu itu kalian ikhlas dan sabar ya ngadapin Dewi,” jawab Dewi.
“Eh tapi tapi masih butuh support Papi dan Kak Reza ya soal uang jajan, hehe. Korea Pi mahal kalau mau masak masakan Indonesia.”
Reza hanya menunjukkan jempolnya sebagai tanda dont worry kalau masalah itu.
—
Btw Otor gak tau boleh apa enggak in real life kita mendaftar spesialis pas masih menjalankan intershipnya. Kalau salah mohon dimaafkan ya..
Oia mohon doanya juga saat ini otor lagi kurang sehat banget. Kepala sakit,tenggorokan gatal,batuk kering tapi kayak ada dahak gt trus sakit di dada. Kalau batuk tu jadi pengen muntah. Badan juga meriang. Katanya rata2 pada gitu semua ya sekarang?
__ADS_1
Otor doakan semoga yg sedang sakit diberikan kesehatan. Yuk sama-sama jaga kesehatan kita ya. Ingat hidup iti keras dan kejam,jadi tidak boleh sakit 😁😁