Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 28


__ADS_3

Dewi menggeliat. Tidurnya terganggu karena suara bising yang bersumber dari ponselnya. Diambilnya ponsel miliknya yang daritadi berdering diatas meja nakas disamping tempat tidurnya. Tertulis nama Hong Chae Young, salah seorang rekan residennya di Korea dulu yang menelepon.


“Yeoboseyo (Hallo),” jawab Dewi dengan suara serak khas bangun tidur.


“Neo eodi inni? (Kamu dimana?)”


“Ajig bang-e. Waeyo? (Masih dikamar. Kenapa?)”


“Ppalliwa. Dangsin eun neuj eul geoso (Cepatlah. Kamu akan terlambat).”


“Hmm jamnkkanman (Tunggu sebentar).” Dewi memutus telepon.


Dilihatnya sekeliling. Ia merasa asing dengan ruangan mewah yang ia tempati sekarang. Beberapa saat kemudian ia baru ingat akan kejadian tadi malam yang ia lakukan dengan Reza. Saat ini ia masih berada di kamar mewah Reza. Seluruh badannya terasa sakit karena Reza melakukannya beberapa kali. Tetapi dimana pria itu sekarang. Kamarnya ini terasa sangat sepi. Dewi melihat jam yang ada di ponselnya yang saat ini menunjukkan pukul 7 pagi. Dewi berfikir mungkin Reza sudah turun untuk sarapan atau bahkan sudah pergi menemui kliennya lagi.


Karena dikejar waktu, Dewi langsung memakai pakaian yang tadi malam dilepas paksa oleh Reza. Ia pakai sehelai demi sehelai pakaiannya hingga hijabnya. Sebelum memakai hijabnya, Dewi melihat bekas-bekas merah di sekitar lehernya, hasil karya sang suami. Dewi menghela nafas panjang. Ia terdiam beberapa saat. Kedua tangannya memegang ujung meja hias yang ada di depannya. Dewi menutup mata, kepingan kejadian tadi malam berlalu lalang dipikirannya. Ada rasa yang susah untuk Dewi jelaskan. Ia merasa bersalah dengan Rena karena sudah tidur dengan Reza walaupun notabene Reza jugalah suaminya. Reza juga sebelum melakukannya mengatakan bahwa dirinya adalah suami sah Dewi, jadi sudah seharusnya Dewi memberikan haknya Reza. Setelah helaan nafas panjang terakhir, Dewi segera membuka matanya dan segera keluar dari kamar inap Reza. Dewi akan terlambat kalau tidak segera keluar dari ruangan itu.


Sepanjang hari Dewi tidak bisa konsentrasi dengan kegiatan seminarnya. Rasa bersalah dan telah berkhianat terus saja merasuki hatinya. Apa yang akan terjadi kalau Rena tahu apa yang telah ia dan Reza lakukan tadi malam. Akankah Rena merasa sedih dan marah.


Selain memikirkan perasaan Rena kelak, Dewi juga memikirkan Reza yang tidak ada menghubunginya sepanjang hari. Apakah suaminya itu masih sibuk padahal saat ini sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dewi terus saja bolak balik di kamarnya, ia berfikir apakah ia harus pergi ke kamar Reza.


“Tidak tidak. Gue ngga boleh kesana. Gue tunggu aja kak Reza hubungi gue,” yakin Dewi.

__ADS_1


Sudah dua hari berlalu. Dewi terus saja menunggu Reza menghubunginya. Tak ada pesan maupun telepon dari Reza. Reza juga tak nampak di restoran hotel ketika sarapan.


“Apa mungkin kak Reza sarapan di kamarnya ya?” pikir Dewi.


Hingga akhirnya Dewi memutuskan untuk bertanya kepada resepsionis.


“Maaf saya mau bertanya. Apakah kamar 1105 masih atas nama Rezadian Hutama? Ada barang saya yang tertinggal di dalam.”


“Tunggu sebentar saya cek dulu ya Bu”. Tampak wanita yang berdiri di meja resepsionis itu mengotak atik komputer yang ada di depannya.


“Rezadian Hutama sudah check out dua hari yang lalu, Bu. Ketika beliau check out tidak ada barang yang tertinggal. Mungkin sudah dibawa oleh beliau.” Penjelasan wanita resepsionis ini membuat Dewi terdiam beberapa saat. Sesak yang dirasakannya. Setelah mengucapkan terimakasih Dewi kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar, Dewi langsung duduk di atas ranjangnya. Pandangannya kosong. Selanjutnya ia tertawa yang diiringi tangis.


Dewi menaikkan kakinya keatas ranjang, menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Ia menangis sepanjang malam itu. Meratapi kebodohan yang ia lakukan. Ia seharusnya sadar kalau pernikahan ini hanyalah status. Status agar Rena mau menjalani pengobatan dan ia tetap memiliki semangat untuk sembuh. Tapi lihatlah sekarang. Setelah ia memberikan hal yang paling ia jaga selama ini kepada pria yang berstatus suaminya, Dewi malah merasa dicampakkan. Apa mungkin ini karmanya karena sudah berani-beraninya tidur dengan suami kakaknya?


Hari-harinya selama di Singapura ia lewati saja sebagaimana mestinya. Ia mencoba melupakan rasa sakit hatinya. Ia tidak mau rugi terlalu banyak. Sudah kehilangan mahkota oleh suaminya, ia tak ingin juga kehilangan kesempatan untuk belajar dari orang-orang hebat di dunia kedokteran itu.


Seminar selesai. Dewipun pulang ke tanah air. Ia mencoba melupakan kejadian yang menurutnya menyakitkan itu. Besok sudah hari senin. Jadwalnya Reza untuk pulang ke apartemennya. Ia akan berusaha untuk biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Ia masih berfikir positif mungkin saja Reza benar-benar sangat sibuk sehingga belum menghubunginya.


Senin malam, Dewi pulang pada pukul 10 malam karena ada operasi dadakan sore tadi. Tidak ada tanda-tanda kalau Reza sudah pulang. Dewi masuk ke dalam kamarnya untuk segera membersihkan dirinya dulu. Sehabis mandi, Dewi keluar kamar untuk melihat apakah Reza sudah pulang atau belum. Dan ternyata Reza masih belum pulang. Selama tinggal bersamanya, Reza tak pernah pulang lewat dari jam 11 malam. Dewi tak ingin ambil pusing, ia segera masuk ke dalam kamarnya dan segera tidur.

__ADS_1


Sampai di hari Rabu pun Reza tak tampak pulang ke apartemen. Pria itu juga belum sama sekali menghubunginya.


“Dia menganggap aku apa? Kenapa tidak ada menghubungi aku sama sekali?”


Sampai akhirnya di hari Minggu Dewi mendapatkan telepon dari Andra yang memintanya untuk datang ke rumahnya. Dewi awalnya menolak karena tak ingin bertemu dengan Reza. Tapi mendengar suara Ara dan Andra yang mengiba meminta ia untuk datang, hatinya luluh juga. Tepat di jam makan siang Dewi tiba di rumah Rena. Tampak mereka sudah bersiap untuk segera makan. Rena mengajak Dewi untuk sekalian makan. Dengan terpaksa Dewi menerima ajakan itu, sehingga posisinya di meja makan saat ini Reza yang berada di ujung meja dengan Rena disebelah kanannya dan Dewi disebelah kirinya. Sedangkan Ara duduk disebelah Rena dan Andra disebelah Dewi. Rena mengambil makanan untuk Reza. Selama makan hanya terdengar suara dentingan sendok saja. Rena menyadari ada ketidakberesan diantara suaminya dan Dewi.


“Ren, Mas pergi dulu ya. Sudah ditunggu sama Farel.” Reza yang telah siap makan langsung berdiri pamit. Sebelum pergi dikecupnya pucuk kepala Rena terlebih dahulu dan kemudian mengacak pelan rambut Ara yang berada di samping Rena.


“Lho Mas, ini Dewi.” Reza berjalan terus tanpa mendengarkan Rena. Pandangan Rena langsung mengarah ke Dewi yang berada di depannya. Dewi seperti tak terpengaruh oleh sikap Reza. Wanita itu masih saja melanjutkan makan siangnya.


Usai makan, Rena membawa Dewi duduk di taman belakang. Rena sangat penasaran dan yakin bahwa telah terjadi sesuatu antar Dewi dan Reza.


“Wi, kamu bertengkar dengan Mas Reza?” tanya Rena.


“Tidak, Kak. Kami baik-baik saja,” jawab Dewi.


“Mas Reza kenapa lebih banyak diam ya sejak pulang dari apartemen kamu kemarin?”


“Apartemen?”


“Iya apartemen. Kan senin sampai rabu Mas Reza jadwalnya tempat kamu.”

__ADS_1


“Ternyata kak Reza ngga pulang ke rumahnya. Lalu kemana dia?” batin Dewi.


__ADS_2