
"Masih lama ya, Kak disananya?" tanya Dewi yang saat ini sedang melakukan telepon dengan Reza.
"Lusa aku sudah pulang, kok."
"Ada kerjaan apa sih, Kak disana? Tumben lama banget, udah 5 hari lho ini." Dewi berusaha membuat Reza bicara jujur dengan dirinya mengenai masalah yang sedang ia hadapi, namun lagi-lagi Reza tidak berkata jujur.
"Hanya sedang membicarakan masalah proyek selanjutnya."
"Yasudah kalau gitu, semoga pekerjaannya cepat selesai, jaga kesehatan juga disana ya," ucap Dewi. Mungkin saat ini Reza memang belum mau bercerita sehingga Dewi tidak ingin memaksanya.
"Hem kamu juga disana ya jaga kesehatan, titip anak-anak. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."
"Siap, Kak ngga usah khawatir."
"Yasudah aku mau tidur dulu ya udah ngantuk banget. Assalammualaikum sayang."
"Waalaikumsalam."
Reza menghela nafas setelah sambungan teleponnya terputus. Sudah 5 hari ia berada di sini dan belum dapat hasil apa-apa. Chris bahkan sudah sangat susah buat ia jumpai saat ini. Baru kali ini dalam hidupnya ia seperti mengemis kepada orang lain.
Papi Arya sudah menawarkan bantuannya kepada Reza, namun ditolak oleh pria itu. Ia tidak mau membebani om nya dan ia juga ingin perusahaan itu bangkit atas usahanya sendiri.
"Kalau tidak lepaskan saja perusahaan kamu itu, kamu bisa memegang salah satu perusahaan Om. Kalau bukan sama kamu dan Dewi serta anak-anak kamu, kepada siapa lagi harta Om ini akan Om kasih? Kami tidak punya siapa-siapa selain kalian," ucap Papi Arya kala itu di telepon setelah mendapat kabar mengenai perusahaan Reza.
Namun karena ego dan gengsi membuat Reza menolak semua bantuan yang ingin diberikan oleh papi Arya.
Reza hampir putus asa, mungkin ia harus melepaskan perusahaannya ini dan memulai bisnisnya yang baru. Ia sama sekali tidak paham, mengapa pak Wira yang sudah bersahabat sejak lama bersama mendiang ayahnya dulu bisa tega melakukan ini dengan perusahaan dia hanya karena permintaan konyol anaknya yang yang sangat terobsesi dengan dirinya.
"Reza harus bagaimana, yah?" batin Reza.
_____
"Bagaimana, sayang? Masih lemas?" tanya seorang pria kepada gadis kecilnya.
"Masih, Pa," jawab gadis kecil itu.
"Pa, apa ada masalah karena operasi waktu itu?" tanya istri pria itu.
"Papa juga ngga tahu, Ma. Kata dokter dulu anak kita sudah sembuh total, sudah bisa beraktifitas seperti biasa."
__ADS_1
"Terus kenapa Ana sekarang jadi seperti ini?"
"Kita bawa saja lagi ke rumah sakit," putus pria.
"Kita bawa ke dokter wanita itu lagi. Mama rasa dia sudah pulang ke negaranya, waktu itu saja tahun ketiga dia residen," kata sang istri.
"Dia memang sudah balik ke negaranya di Indonesia. Aku juga sudah mendaftarkan Ana disana, kita bisa langsung pergi sore ini. Kamu siapkan semua keperluan selama kita disana ya, Ma. Aku mau hubungi kantor dulu," ucap pria itu.
Keesokan harinya, di Indonesia Dewi berusaha beraktifitas seperti biasa, walaupun dipikirannya saat ini ia tengah memikirkan suaminya.
"Pasien berikutnya dari Singapura, dok. Sebelumnya pernah operasi tumor jinak di Korea dan katanya ketemu dokter Dewi juga disana," kata dokter Kiki yang menjelaskan mengenai pasien selanjutnya yang akan ditangani oleh Dewi.
"Benarkah? Kalau gitu suruh langsung masuk saja," kata Dewi.
Tak berapa lama seorang gadis kecil kira-kira berusia 8 tahun masuk bersama kedua orangtuanya. Dewi langsung tersenyum karena mengenali pasiennya kali ini.
"Halo, ini Ana, kan? Apa kabar, cantik?" sapa Dewi dengan ramah. Bahkan wanita itu turun dari kursinya dan berjongkok menyamakan tingginya dengan gadis kecil yang bernama Ana itu.
"Dokter cantik masih ingat sama Ana?" tanya Ana yang wajahnya masih saja terlihat pucat.
"Tentu saja masih, bagaimana dokter bisa lupa sama perempuan cantik seperti kamu," jawab Dewi sambil mencubit pelan pipi Ana. "Apa kabarnya, Kak Laura," sapa Dewi pada orangtuanya Ana. Laura langsung memeluk Dewi yang juga sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Selama pengobatan Ana di Korea dulu, Dewi sangat banyak membantu keluarga ini, sehingga Laura sudah menganggap Dewi seperti adiknya.
"Kakak sehat, kamu sendiri bagaimana? Sudah kami duga pasti kamu akan menjadi dokter yang terkenal di Indonesia," ucap Laura sambil melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah seperti yang kalian lihat. Kenapa datang kemari? Aku memang ingin bertemu dengan kalian, tapi jangan sampai bertemu lagi di rumah sakit," kata Dewi yang bergantian menatap mereka.
"Ana beberapa hari yang lalu sempat pingsan di sekolahnya, terus demam dan sekarang dia merasa sangat lemas. Apa ada pengaruh dari operasi waktu itu?" tanya Chris langsung.
"Seharusnya tidak ada, karena pada saat itu tumornya sudah bersih. Tapi sebaiknya kita CT Scan lengkap dulu, ya biar lebih jelas penyebabnya apa," jelas Dewi yang kemudian disetujui oleh Laura dan Chris.
Dewi juga menjelaskan prosedur-prosedur rumah sakit yang harus mereka jalani. Ana dirawat sore itu juga untuk pengecekan lebih lanjut.
Selesai praktek, Dewi kembali ke ruangannya. Tak lama pintu ruangannya diketuk dari luar.
Tok tok tok
Cklek
__ADS_1
"Mau cemilan?" tawar Candra yang berada dibalik pintu.
"Off course." Dewi beranjak dari mejanya dan pindah ke sofa yang ada di ruangannya.
Candra membawakan 6 kantung yang berisikan rujak cingur, pesanan Tania.
"Sebanyak ini?" tanya Dewi.
"Tania dan gue masing-masing dua," jawab Candra cengengesan.
"Memang hantu rujak."
Dewi dan Candra langsung menyantap tanpa menunggu Leo dan Tania terlebih dahulu karena pasangan suami istri itu masih disibukkan dengan pasien-pasiennya.
"Lo ada masalah?" tanya Candra di sela makannya.
"Masalah apaan?"
"Berantem sama Kak Reza?"
"Kagak!"
"Kok gue ngga pernah liat lo diantar jemput lagi sama Kak Reza? Udah lama banget kayaknya," tanya Candra yang memang penasaran sejak kemarin tetapi belum sempat bertanya dengan Dewi.
"Baru juga 3 hari ngga diantar udah bilang lama. Kak Reza lagi di Singapura sejak Minggu, besok juga udh balik katanya," jawab Dewi.
Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Leo dan Tania masuk ke dalam ruangan Dewi.
"Ish ngga nunggu-nunggu," gerutu Tania.
"Kelamaan kalian," jawab Dewi.
"Lanjut yang tadi, tumben lama banget kak Reza. Ada kerjaan?" Ternyata Candra masih dalam tingkat kepo yang tinggi.
"Hem."
"Ada yang mau lo ceritain ke gue?" tanya Candra. Berteman sejak lama dengan Dewi ia bisa melihat wanita di depannya kini sedang menghadapi masalah.
"Perusahaan kak Reza lagi ada masalah. Bisa balik lagi kalau kak Reza mau nikahin anak perempuan orang."
__ADS_1
"APA??"