Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 82


__ADS_3

Hari ini jadwal Reza cukup padat. Dimulai dari pagi hari ia melakukan rapat dengan para staffnya membicarakan semua pekerjaan yang kemarennya terhambat akibat permasalahan yang ditimbulkan oleh Pak Wira, dan kini semuanya bisa berjalan seperti awal.


Dari awal datang sampai sekarang yang menunjukkan pukul 11.30 Reza sama sekali belum mengecek ponselnya. Reza masih disibukkan dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya, sampai tiba-tiba pintu ruangannya terbuka lebar menampakkan seorang wanita yang memaksa masuk yang dibelakangnya ada Lia, sang sekretaris yang berusaha mencegah wanita itu untuk masuk.


"Maaf, Pak, Ibu Siska memaksa masuk," kata lia tak enak hati.Ia cukup tahu bahwa bosnya ini sama sekali tidak ingin diganggu sekarang, apalagi dengan wanita ini.


"Tidak apa, Lia," jawab Reza.


"Siap-siap kamu, ketika saya sudah menikah dengan Mas Reza nanti, kamu akan saya pecat!" ancam Siska.


"Tidak ada yang bisa memecat orang-orang saya kecuali saya sendiri," tegas Reza. Reza juga memberikan tatapan tajam dengan Siska.


Lia yang merasa ingin meledak pamit untuk meninggalkan ruangan bosnya yang sudah mulai terasa panas.


"Kamu tetap disini, Lia," kata Reza cepat ketika melihat Lia yang ingin keluar.


Lia berbalik dan menatap heran ke Reza. Seolah paham dengan tatapn Lia, Reza kemudian berbicara lagi.


"Apa kamu akan membiarkan saya berduaan dengan yang bukan mahrom saya di ruangan ini?"


Siska mendelik menatap tak suka karena ucapan Reza.


"Aku ini calon istri kamu, Mas."


"Masih calon, belum tentu jadi," enteng Reza.


"Kamu mau main-main sama aku?" tanya Siska yang nada bicaranya sudah naik satu tingkat.


"Memangnya kamu bisa memastikan hari esok seperti apa. Nabi saja tidak tahu, apalagi saya atau kamu yang hanya manusia biasa. Manusia hanya bisa merencanakan, Allah nanti yang akan menentukan."


Lia berusaha menahan tawa melihat ekspresi wajah Siska yang tiba-tiba memerah karena menahan marah setelah mendengar jawaban menohok dari Reza.


"Si bos sudah tobat dan menjadi ustad sekarang," batin Lia.


"Cepat katakan mau apa kamu datang? Pekerjan saya sangat banyak hari ini," ucap Reza tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang berada ditangannya.


Siska berjalan berlenggak lenggok manja dan duduk dikursi berhadapan dengan Reza.


"Aku mau ngajak Mas Reza makan siang bareng, sekalian kita membicarakan tentang tema pesta pernikahan kita. Aku udah janjian juga sama wedding organizer nya jam makan siang ini," kata Siska dengan suara manjanya. Lia yang masih bediri di dekat pintu memutar bola matanya dan menirukan gerakan orang yang muntah karena mendengar suara manja yang dibuat-buat oleh Siska.

__ADS_1


"Aku sibuk," jawab Reza cepat.


"Tapi aku udah buat janji, Mas" rengek Siska.


"Terserah kamu, aku hanya ikut saja."


"Mas...."


"Assalammualaikum." Pintu terbuka pelan dan tampaklah Dewi yang kemudian masuk.


"Oh ada tamu, aku tadi lihat di depan Lia ngga ada makanya langsung masuk saja," kata Dewi tak enak hati. Ia belum melihat bahwa yang duduk di depan Reza itu adalah Siska karena Siska yang duduknya membelakangi pintu.


"Iya, dok, saya disini agar tidak timbul fitnah," kata Lia yang membuat Dewi mengerutkan kening.


"Sayang, kok ngga ngabarin kalau mau kesini?" tanya Reza yang langsung berdiri dan berjalan menuju Dewi. Ia bahkan melewati Siska begitu saja, padahal Siska kini sudah melayangkan tatapan seperti ingin membunuh.


Dewi tadi udah nelfon Kak Reza tapi ngga diangkat-angkat," jawab Dewi.


Reza yang sudah dekat dengan Dewi langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya dan mencium kening Dewi.


"Iih Kak Reza, malu ada Lia sama tamu Kakak," bisik Dewi.


"Ehem."


Dewi menggeserkan kepalanya melihat sosok wanita yang duduk di dekat meja kerja suaminya.


"Lho Siska rupanya. Gimana keadaan kamu? Jangan lupa untuk terus kontrol, ya. Obatnya juga terus diminum, karena itu ada vitamin juga," kata Dewi ramah.


Semenjak mengikhlaskan Siska yang nanti akan jadi bakal madunya Dewi mulai mengubah panggilan menjadi aku kamu. Ia mencoba untuk berdamai dengan calon madunya ini agar tidak ada rasa tidak nyaman dikemudian hari.


Siska tidak menjawab dan memutar bolanya malas mendengar perhatian yang diberikan oleh Dewi untuknya. Ia mengira kalau Dewi hanya bersandiwara baik dengan dirinya karena sedang bersama Reza.


"Kamu kenapa, sayang tumben nyusul ke kantor?" tanya Reza yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Tadinya sih mau ajak makan siang bareng sama Kak Reza sekalian aku mau ngasih sesuatu. Tapi kalau lagi sibuk ngga apa-apa Dewi nanti makan sendiri aja," jawab Dewi.


"Aku bisa kok," jawab Dewi cepat.


"Lho sama aku tadi bilang Mas Reza ngga bisa, lagi sibuk sama kerjaan. Padahal, kan kita mau bicarain konsep pernikahan kita," protes Siska. Wanita ini bahkan langsung berdiri dan mendekati Reza juga Dewi.

__ADS_1


"Kamu, kan yang minta pernikahan ini. Jadi terserah kamu mau seperti apa, saya tidak peduli," jawab Reza.


"Mas kalau mau pergi sama Siska ngga apa-apa. Ntar aku kasih di rumah aja."


"Aku ngga akan kemana-mana. Terus mau ngasih aku apa, sih? Sekarang aja kasihnya."


"Aku mau ngasih penyemangat biar Mas Reza makin giat kerjanya," kata Dewi sambil mengambil amplop yang ada di dalam tasnya. Dewi menyerahkan amplop itu ke tangan Reza.


"Apa ini?" tanya Reza dengan wajah bingungnya.


"Buka aja," jawab Dewi dengan senyum lebarnya.


Perlahan Reza membuka amplop yang diberikan oleh Dewi. Seketika tubuh Reza menegang, matanya berkaca-kaca dan mulutnya terbuka melihat potongan kertas yang kini ia pegang.


"Ini- kam-kamu ...." Reza terbata-bata, tak sanggup melanjutkan bicaranya.


Dewi menarik tangan Reza yang masih membeku memegang kertas hasil USG tadi. Dibawanya tangan itu menuju perutnya yang masih rata.


"Ada anak kita disini, sedang tumbuh menunggu waktunya untuk bertemu dengan kita," ucap Dewi yang matanya juga mulai berkaca-kaca, bahkan tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan karena ia sudah tak sanggup menahannya lagi.


Reza langsung mendekap erat tubuh istrinya itu. Tak lupa ia juga berikan ciuman bertubi tubi ke wajah istrinya, mulai dari kening, kedua matanya, pipi, bahkan bibir Dewi mendapatkan serangan ciuman penuh rasa sayang dan syukur.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih ya Allah, Engkau masih memberikan kami kesempatan untuk memiliki anak lagi," ucap syukur Reza.


Reza melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah Dewi. "Aku janji akan jaga kamu sampai anak kita lahir. Tak akan ada kebodohan lain yang akan membuat kamu celaka nantinya. Aku mencintai kamu, istriku." Reza mendekap kembali tubuh Dewi serta mencium dalam dan lama kening istrinya itu sebagai bentuk rasa syukur dan sayangnya.


Lia yang menyaksikannya juga tak luput berkaca-kaca karena terharu. Ia cukup tahu cerita dari pasangan ini, dan ia sangat bersyukur karena pasangan ini kembali dipercayai oleh Tuhan untuk memiliki momongan lagi.


"Selamat, ya Pak Reza dokter Dewi. Saya ikut senang mendengarnya, Alhamdulillah."


"Terimakasih, Lia," jawab Reza yang masih memeluk Dewi.


"Kalau begitu saya pamit dulu, ya Pak, kan sudah tidak membutuhkan saya lagi. Kan, sudah ada istri tercinta sekarang, Saya mau menemui suami juga dibawah, kami udah janjian mau makan siang bareng. Jadi kangen suami karena lihat kemesraan hakiki Pak Reza sama dokter Dewi." Lia sengaja sedikit berlebihan berucap untuk memanasi Siska yang menatap tak suka dengan Dewi dan Reza yang masih saja berpelukan, tak menghiraukan kehadirannya sama sekali.


Siska keluar dari ruangan Reza dengan langkah yang sengaja ia hentakkan keras ke lantai. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini oleh pasangan itu.


Setelah memastikan Siska telah keluar, kemudian Lia menyusul untuk keluar, memberikan kesempatan untuk atasan serta istrinya itu berduaan, membagi kebahagiaan akan hadirnya buah cinta mereka.


"I love you, Dewi Anggraini."

__ADS_1


__ADS_2