
Sebelum pergi ke bandara, Dewi menyempatkan diri untuk ke rumah sakit terlebih dahulu. Ia harus keliling untuk mengecek kondisi pasien-pasiennya, selanjutnya ia akan mengoper pasiennya ke dokter pengganti. Kebetulan hari ini Rena akan menjalani kemoterapi lanjutannya.
Usai berkeliling, saatnya Dewi berkunjung ke ruang perawatan Rena. Disana Rena sedang ditemani oleh adiknya, Dirga yang kebetulan sedang libur sekolah. Dirga pamit untuk keluar sebentar karena ingin menelfon teman perempuannya, jadi tinggallah Dewi dan Rena di dalam kamar itu.
“Dek, kamu udah dikasih tau sama Mas Reza belum kalau dia hari ini ke Singapura?”
“Ada tadi pagi Kak Reza ngasih tau, Kak. Kebetulan Dewi juga nanti sore berangkat ke Singapura gantiin dokter Samsul untuk seminar. Beliau sedang sakit jadi tidak bisa hadir.”
“Kebetulan banget. Nanti kalian berdua sekalian aja liburan bareng disana,” usul Rena.
“Ngapain? Gak ada waktu juga. Tadi lihat jadwal seminarnya itu full, Kak dari pagi sampai malam. Selesai seminar Dewi juga harus langsung pulang karena ada jadwal operasi,” jelas Dewi.
“Tapi kan kalian belum sampat honeymoon, Dek. Jadi sekalian aja.”
“Ngapain honeymoon. Disini juga bisa,” kata Dewi yang sengaja ingin melihat ekspresi Rena. Rena yang mendengar celotehan Dewi hanya memberikan senyuman seperti tak terjadi apa-apa.
“Kak Ren gak ada cemburu apa gitu? Kok biasa aja sih tampangnya.”
“Maksud kamu?” Mengernyitkan alisnya tanda tidak paham.
“Iya Kakak gak ada rasa cemburu gitu atau sakit hati kalau Dewi bilang yang kayak tadi.”
“Ya enggaklah. Kenapa Kakak harus sakit hati. Lagipula Mas Reza melakukannya kan sama istrinya sendiri. Kalau sama perempuan lain yang bukan istrinya, baru Kakak marah.” Rena tersenyum
“Kalau itu mah Dewi juga marah. Terus nih kalau misalnya Dewi hamil gimana menurut Kakak?”
“Ya bagus kalau kamu hamil, Dek. Andra dan Ara jadi punya adik lagi. Ara sering tanyain adik ke Kakak, Wi. Kamu cepetan ya ngasih mereka adik,” tutur Rena santai tanpa beban sama sekali. Melihat Rena seperti ini membuat hati Dewi makin tidak karuan. Entah kenapa semakin membuatnya merasa untuk menjaga jarak dengan Reza.
Dewi pamit karena harus menemui dokter Samsul untuk mengambil berkas-berkas yang diperlukannya selama seminar nanti.
Setelah kepergian Dewi, Rena mengambil ponselnya untuk menghubungi sang suami. Pesan yang sama tak lupa ia kasih ke Reza untuk mengambil waktu honeymoon bersama Dewi. Reza tak menjawab, ia hanya bilang kalau sekarang sudah ditunggu oleh rekan bisnisnya.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Malam hari pukul 7 waktu Singapura Dewi sudah tiba di dalam kamar di salah satu hotel ternama di Singapura. Dewi mandi sejenak untuk melepas penatnya. Usai mandi ia meraih ponselnya yang sejak kedatangannya di Singapura tadi belum ada ia sentuh sama sekali. Tidak ada pesan sama sekali.
“Apa sebaiknya gue kabari Kak Reza ya gue nginap dimana,” pikir Dewi.
“Eh nanti dia ngira gue ngundang dia ke hotel ini lagi. Aaaaargh udah deh biarin aja. Dia nya juga ngga ada menghubungi gue sama sekali.”
Dewi yang merasa kelelahan memesan makanan di restoran hotel untuk diantarkan ke dalam kamarnya. Selesai makan ia langsung tidur karena merasa sangat mengantuk.
Keesokan paginya, Dewi yang telah bersiap-siap keluar kamar. Tujuannya kali ini adalah restoran hotel untuk sarapan sebelum seminar dilangsungkan.
Tiba di restoran, Dewi memilih meja yang sedikit memojok, kemudian memesan makanannya. Sambil menunggu pesanannya diantarkan, Dewi mengedarkan pandangannya ke seluruh restoran untuk melihat apakah ada dokter-dokter kenalannya. Dilihatnya ada seorang dokter kenalannya dulu ketika mengikuti program spesialis semasa ia di Korea. Berniat untuk menyapa, tetapi pandangan di sebelah meja dokter itu yang jauh menarik perhatiannya. Disana Reza sedang duduk bersama dengan seorang wanita yang pakaiannya seperti kekurangan bahan.
“Ck masih kurang dua rupanya,” decak Dewi.
Pandangan Dewi tak berhenti melihat kedekatan Reza. Sebenarnya mereka hanya makan biasa saja, tetapi entah kenapa hati Dewi merasa tidak senang melihat kedekatan mereka. Sampai akhirnya Dewi dan Reza beradu pandang. Reza yang melihat Dewi langsung beranjak menuju meja Dewi. Wanita yang bersama dengan Reza melihat heran Reza yang tiba-tiba berdiri dan meninggalkannya.
“Siapa dia?” Bukannya menjawab Dewi malah bertanya balik.
“Rekan bisnis Kakak. Kamu belum menjawab pertanyaan Kakak tadi. Kamu nginap disini?”
“Hmm.”
“Ini siapa Mas Reza?” tanya perempuan yang bersama Reza. Merasa ditinggalkan ia memilih untuk menyusul Reza.
“Ini is—“
“Saya adik istrinya Kak Reza,” potong Dewi.
Reza yang mendengar jawaban Dewi menatap tak suka. Ia heran kenapa Dewi tidak jujur saja kalau dia adalah istrinya.
__ADS_1
“Oh. Perkenalkan saya Siska, rekan kerja Mas Reza,” ucap wanita yang bernama Siska itu sambil mengulurkan tangannya.
“Mas? Seakrab itukah?” batin Dewi yang baru sadar kalau sejak tadi wanita ini memanggil suaminya dengan sebutan Mas.
“Dewi.” Menerima uluran tangan Siska.
“Yasudah saya permisi dulu mau langsung ke ruang seminar,” pamit Dewi yang kemudian langsung berdiri.
Reza yang melihat Dewi akan pergi langsung mencekal tangan Dewi.
“Bukannya kamu belum makan?”
“Gak jadi laparnya,” ketus Dewi dan langsung menarik tangannya dan segera meninggalkan mereka.
Reza menatap kepergian Dewi keheranan. “Kenapa Dewi tiba-tiba kesal seperti itu?” batinnya.
“Tidak apa-apa, Mas, mungkin adiknya sedang terburu-buru,” kata Siska.
“Kita langsung saja ke kantornya Mr. Chung Bu Siska,” kata Reza.
“Sudah berapa kali saya bilang panggil Siska saja, Mas, biar lebih akrab.”
“Saya harus profesional dalam kerja,” jelas Reza dengan wajah datarnya.
“Lihat saja, malam ini kamu akan menjadi milikku,” ucap Siska yang melihat Reza semakin jauh meninggalkannya.
Siska sudah lama menaruh hati dengan Reza. Kepergiannya sekarang dengan Reza ke Singapura tentu saja adalah salah satu caranya untuk bisa bebas bersama Reza dan menakhlukkannya. Ia bertekad sebelum pulang ke Indonesia, Reza sudah harus menjadi miliknya.
Reza bukan tak tahu ada maksud lain dari Siska. Tetapi ia masih waras dan tak ingin bermain gila. Lagipula Siska sama sekali tidak menarik seperti Rena dan Dewi.
“Dewi? Kenapa gue jadi mikirin dia? Kenapa tadi dia seperti marah sama gue? Apa iya dia cemburu lihat gue sama Siska?” batin Reza
__ADS_1