Izinkan Aku Untuk Bahagia

Izinkan Aku Untuk Bahagia
Bab 32


__ADS_3

Suara rintihan Dewi terdengar oleh seorang OB yang kebetulan melewati tangga.


“Toloooong.”


“Astaghfirullah. Dokter Dewi!”


Segera OB tersebut meminta pertolongan kepada perawat yang ada di lantai tersebut.


“Sus tolong, dokter Dewi terjatuh di tangga.”


Perawat itu langsung memanggil temannya agar membawakan ranjang dari kamar yang kosong. Mereka mengangkat dan memindahkan tubuh Dewi ke atas ranjang. Beruntung saat itu lift dalam keadaan kosong. Mereka kemudia membawa Dewi ke IGD yang berada di lantai 1.


“Dok tolong ini dokter Dewi terjatuh di tangga,” ucap sang perawat kepada dokter jaga.


Tania yang kebetulan berada di IGD melihat ranjang pasien yang didorong oleh perawat dan OB.


“Ya Tuhan, dokter Dewi kenapa?”


“Jatuh dok di tangga. Tadi ditemukan sama OB.”


“Ya Tuhan. Biar saya yang periksa.”


“Tan, perut gue sakit,” lirih Dewi yang merasa sakit luar biasa di perutnya.


“Lo gak usah khawatir ya Wi. Kita sama-sama berdoa semoga semuanya baik-baik aja.”


“Selamatkan anak gue Tan. Gue mohon,” pinta Dewi.


“Wi lo jangan banyak ngomong dulu ya.”


Tania langsung memeriksa Dewi secara menyeluruh. Sebelumnya ia juga meminta perawat IGD untuk menghubungi perawat di lantai 8 dan meminta Reza untuk turun ke ruang IGD.


Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Janin yang ada di rahim Dewi tidak dapat diselamatkan. Mungkin benturan tadi sangat keras sehingga menyebabkan pendarahan yang cukup parah. Dewi langsung dibawa ke ruang operasi untuk dilakukan kuret.


Sebelum dilakukan kuret, Tania kembali bertanya apakah Reza sudah hadir atau belum, dan ternyata Reza belum juga hadir. Dewi yang pada saat itu masih sadar kembali menangisi keadaannya. Ia merasa benar-benar tidak dianggap sama sekali sebagai istri oleh Reza. Bahkan disaat dia terpuruk saat ini, Reza tetap tidak mau menemaninya.


Leo dan Candra yang memang saat itu sedang di ruangan operasi mendapat kabar bahwa Dewi harus menjalani proses kuret. Mereka langsung menuju ruangan operasi Dewi.


“Kenapa bisa gini Tan?” tanya Candra.


“Katanya dia terjatuh ditangga,” jawab Tania.

__ADS_1


“Bukannya Dewi jadwal praktek pagi ya hari ini? Kenapa bisa ditangga?” Kali ini Leo yang bertanya.


“Aku dapat kabar dari dokter residen yang menemaninya di ruang praktek katanya Dewi langsung berlari setelah mendengar code blue tadi,” ujar Tania.


“Code blue tadi dari lantai 8 kan? Apa mungkin aja kak Rena?” tanya Leo.


“Mungkin aja iya makanya Dewi langsung lari.”


“Terus suaminya mana? Udah tau kondisi Dewi sekarang?”


Tania menggeleng.


“Dokter Tania proses anastesinya sudah selesai,” kata dokter anastesi yang pada saat itu bertugas.


“Terimakasih dok.”


“Sama-sama dokter.”


“Aku terpaksa membius total Dewi karena dari tadi dia gak berhenti menangis,” ujar Tania sambil melihat Leo dan Candra bergantian.


Leo dan Candra mengangguk.


“Emang dokter Dewi udah nikah ya? Kok saya tidak tau?”


“Udah nikah beberapa bulan lalu. Memang belum banyak yang tau hanya orang terdekat saja,” jawab Leo.


“Oooo.” Ia mengangguk tanda mengerti. Ia tidak ingin mencari tahu lebih masalah ini.


“Br*ngs*ek.” Candra langsung keluar dari ruangan dengan tangan yang terkepal. Sepertinya emosinya sudah berada dipuncak saat ini. Leo yang melihat hal itu langsung berlari mengejar Candra.


“Can lo mau kemana?”


“Gue mau ngasih pelajaran sama cowok br*ngs*k itu.”


Leo berusaha menahan Candra agar tidak membuat keonaran di rumah sakit.


“Can lo gak boleh gegabah. Ini di rumah sakit jangan sampai lo buat keributan. Lo sendiri yang bakalan rugi,” ingat Leo.


“Terus lo mau kita diam aja. Lo lihat sendiri kan, Dewi kehilangan anaknya, dan ini semua gara-gara Reza si*lan itu,” murka Candra. Suaranya yang besar mengundang perhatian dari orang-orang yang ada di ruang OK.


“Tahan suara lo. Sekarang kita lagi di OK. Gue juga marah sama Reza, tapi kita gak bisa buat keonaran disini Can. Lebih baik saat ini kita terus berada disisi Dewi. Dewi lebih membutuhkan semangat dari kita.”

__ADS_1


Candra terlihat mulai tenang. Mungkin benar saat ini lebih baik mereka terus berada disisi Dewi agar Dewi tidak merasa sendiri dalam menghadapi musibah ini.


“Lo coba hubungi tante Lisa, minta supaya mereka pulang. Mereka berhak tahu apa yang terjadi dengan Dewi,” kata Leo lagi.


“Oke gue hubungi.”


——


Di lantai 8 ketegangan yang tadi sempat terjadi kini mulai mereda. Rena tadi sempat mengalami gagal jantung. Beruntung dokter Kiki yang sedang berada di lantai 8 bersama tim berhasil mengembalikan detak jantung Rena.


Tadi tim medis meminta Reza dan Ibu Ratna untuk keluar dari ruangan agar tim medis bisa bekerja dengan tenang. Di luar ruangan Ibu Ratna terus menangis mengingat kondisi anaknya. Ia memeluk sang menantu, mereka sama-sama berharap bahwa Rena akan baik-baik saja.


Ketika sedang menunggu tim dokter yang sedang menangani Rena di dalam, Reza dihampiri oleh seorang perawat.


“Pak Reza maaf anda diminta ke ruang IGD karena dokter Dewi sedang di IGD sekarang.”


“Nanti saya akan kesana,” jawab Reza.


“Tapi Pak.”


“Saya bilang nanti ya nanti. Istri saya sedang berjuang di dalam sana. Saya tidak akan meninggalkan istri saya,” tegas Reza yang membuat perawat tadi mundur.


“Nak Reza kebawah saja. Mungkin Dewi membutuhkan kamu. Biar Ibu disini yang akan menunggu Rena.”


“Tidak Bu, Reza tidak akan kemana-mana. Rena membutuhkan Reza sekarang,” kata Reza.


Ibu Ratna yang mendengar jawaban menantunya itu hanya mengangguk pasrah. Pikirannya saat itu benar-benar kacau.


Dokter Kiki dan para tim keluar dari ruangan Rena. Mereka mengatakan kalau saat ini detak jantung Rena sudah kembali. Ibu Ratna dan Reza mengucap syukur. Mereka juga telah diperbolehkan kembali untuk masuk.


Keheningan terjadi di ruangan itu. Ibu Ratna dan Reza duduk di sisi Rena. Ibu Ratna tak henti-hentinya menangis dan bersyukur karena Rena masih diberikan kesempatan untuk bersama dengan mereka. Keheningan itu terganggu karena deringan dari ponsel Reza. Reza pamit keluar untuk mengangkat telepon.


“Halo om.”


“DASAR SUAMI TIDAK BERGUNA KAMU!”


——


Double up nih hari ini. Jangan lupa jempolnya dooong. Kalau bisa kasih bunga juga 🤭😅


Sarangee yeorobun 😍😍🥰

__ADS_1


__ADS_2