
Setelah mengantarkan Dewi ke ruangannya, Reza yang niat awalnya ingin berduaan dengan sang istri terpaksa pulang, karena Bik Asih yang menelepon mengabarkan kalau Ara menangis di rumah karena tidak mendapati Reza dan Dewi ketika ia bangun. Setelah mencium kening, pipi, kedua mata dan terakhir bibirnya Dewi, Reza segera pergi pulang.
Dewi duduk di kursi kerjanya dengan menyenderkan kepalanya sehingga kini ia menatap ke atas langit-langit. Ia kemudian memikirkan kembali mengenai janjinya dengan Siska.
"Kenapa juga kemaren sampai janjiin ke Siska sih. Kok b*go banget gue, nyodorin suami sendiri. Tapi kalau ngga gitu, dianya bunuh diri. Aaaaaargh...."
Semuanya terasa berputar dikepala Dewi. Disatu sisi ia tidak ingin membagi suaminya kepada wanita lain, tapi disisi lain ada rasa kemanusiaan yang tak mau seseorang harus kehilangan nyawa. Kemarin ia melihat sendiri yang mana Siska memang begitu nekad ingin mengakhiri hidupnya karena ditolak Reza. Ia sendiri juga yang memeriksa keadaan Siska ketika baru datang ke rumah sakit juga sudah dalam keadaan yang kritis.
Lamunan Dewi terhenti ketika mendengar dering ponselnya. Dokter Kiki mengatakan persiapan operasi telah siap, Ana sudah masuk dalam ruang operasi dan sudah anastesi. Segera Dewi beranjak mengganti bajunya dengan baju OK.
Setelah lebih kurang 3 jam melakukan operasi, Dewi keluar dari ruang operasi dan segera menemui kedua orangtua Ana untuk mengabari hasil operasi kali ini.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Selama operasi juga tidak ada kendala yang serius, semuanya bisa teratasi dengan baik. Saat ini kondisi Ana juga stabil, namun masih harus terus di observasi. Setelah ini Ana akan dipindahkan ke ruang PICU dan jika semakin membaik Ana bisa dipindahkan ke bangsal biasa lusa," jelas Dewi.
Chris dan Laura berpelukan dan mengucap syukur atas keberhasilan operasi anaknya. Kedua anaknya yang lain yang merupakan kakak-kakaknya Ana juga tampak senang.
"Terimakasih banyak, Dewi. Sekali lagi kamu selamatkan anak kami," ucap Laura sambil memegang kedua tangan Dewi.
"Sudah tugas Dewi, Kak. Lagipula ini bukan karena Dewi, Dewi hanya perantara saja. Ini juga semua berkat dukungan dari kalian sebagai keluarganya yang selalu menguatkan Ana dan selalu memberi semangat," kata Dewi.
"Tetap kami harus berterimakasih dengan anda, dok. Sekali lagi terimakasih," kata Chris yang masih setia merangkul istrinya.
"Sama-sama, Pak Chris. Sebentar lagi kalian bisa bergantian untuk menemui Ana. Kalau begitu saya permisi." Dewi pamit untuk kembali ke dalam ruangannya.
Dewi berjalan menuju lift. Tak lama pintu lift terbuka dan menampakkan seseorang yang sebenarnya sedang tidak ingin Dewi temui saat ini. Mau tak mau Dewi tetap masuk ke dalam lift, sehingga saat ini ia berdua dengan orang tersebut. Dewi hanya perlu bersabar sebentar karena kamar operasi berada di lantai 2 sedangkan kantornya berada di lantai 5, jadi cuma ada 3 lantai yang akan ia lewati bersama orang ini.
"Apa kamu tahu kalau suami kamu terancam di pecat dari posisi nya saat ini?" ucap orang itu yang memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Dewi heran.
"Perusahaan itu bukan perusahaan keluarga, yang menduduki jabatan adalah hasil polling suara dewan direksi. Kalau dalam minggu ini Reza tidak bisa mendapatkan proyek besar ataupun mencari investor lain, bukan tidak mungkin dia akan didepak dari kantornya itu," jelas orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Pak Wira, papanya Siska.
Dewi menatap tajam ke arah Pak Wira yang berdiri di sampingnya. Ia tak menyangka akan sampai seperti ini dampaknya.
"Kenapa anda melakukan ini kepada kami?" tanya Dewi.
"Sebagai orangtua tentu saya akan melakukan apapun untuk anak saya agar dia bahagia."
"Termasuk menghancurkan kebahagiaan orang lain?"
"Ya," jawab Pak Wira tegas dan cepat. "Karena kamu tidak punya anak sendiri, jadi kamu tidak tahu rasanya seperti apa." Ucapan pak Wira tentu saja membuat Dewi meradang.
"Saya memang belum melahirkan seorang anak, tetapi saya mempunyai 2 anak sambung. Kalaupun saya mempunyai anak dari rahim saya sendiri, saya akan menjelaskan kepada anak saya mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Saya juga akan mengajarkan kepada anak-anak saya bahwa tidak semua yang mereka inginkan harus selalu dituruti, apalagi jika sampai hal itu akan menyakiti orang lain."
Dewi segera keluar dan bejalan tergesa menuju ruangannya. Dewi masuk ke dalam ruangannya dan membanting keras pintu. Ia segera berbaring di sofa, memijat pelan kepalanya yang terasa pusing. Ia kembali memikirkan perkataan awal Pak Wira tadi.
"Apa benar kak Reza akan diberhentikan makanya tadi malam kak Reza pulang telat? Bagaimana kalau dalam minggu ini kak Reza juga ngga bisa dapat investornya?"
Lamunan Dewi buyar karena pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Setelah Dewi meminta orang itu masuk, ternyata itu adalah Jimmy, direktur rumah sakit sekaligus teman semasa sekolah suaminya dulu.
"Ternyata benar dokter Dewi ada disini," kata Jimmy. Jimmy yang tidak mau timbul fitnah karena saat ini lorong juga sepi ia memilih untuk tetap berdiri di depan pintu.
"Ada apa ya, dok?" tanya Dewi.
"Saya dengar kamu barusan selesai operasi pasien dari Singapura itu. Bagaimana hasilnya?"
__ADS_1
"Operasinya lancar, dok, hanya tinggal di pantau di PICU."
"Oke, perlakukan baik mereka, ya. Mereka pasien penting kita, apalagi mereka termasuk pengusaha sukses, kan di negaranya. Bisa jadi nama rumah sakit kita jadi besar dan ramai nantinya setelah dia memberitahu teman-temannya tentang rumah sakit kita ini," kata Jimmy.
"Siap, dok. Oh iya ngapain dokter Jimmy hari libur di rumah sakit?" tanya Dewi.
"Apalagi, bagi yang tidak ayang seperti saya ngapain di rumah saja di hari libur. Mending di rumah sakit, banyak yang bisa dilihat."
"Makanya Pak Direktur, segera cari Ibu Direktur biar bisa ayang-ayangan kalau hari libur," ejek Dewi.
"Ini suami istri sama saja, suka sekali ngejek orang. Yasudah saya mau kembali dulu ke ruangan. Kamu juga dokter Dewi jangan terlalu lama di rumah sakit, bisa-bisa Reza marah sama saya karena mengira memperkerjakan istrinya di hari libur."
"Saya akan ke PICU dulu baru setelah itu akan pulang."
"Oke kalau begitu, saya pergi dulu."
Setelah Jimmy pergi, Dewi jadi ingat bahwa Chris adalah pengusaha sukses di negaranya. Entah kenapa terfikirkan oleh Dewi untuk meminta bantuan Chris agar pria itu mau menjalin kerja sama dengan perusahaan suaminya.
"Kalau aku minta, rasanya pasti Pak Chris mau, kan aku udah nyelamatin anaknya. Tapi salah tidak, ya?
___
Ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) adalah ruang perawatan intensif di rumah sakit, bagi anak dengan gangguan kesehatan serius atau yang berada dalam kondisi kritis. Anak-anak yang dirawat di PICU mulai dari bayi berusia 28 hari sampai anak remaja berusia 16 tahun.
kira-kira salah ngga kalau Dewi minta bantuan Chris? Termasuk pamrih ngga sih??
Kembang kopinya tolong jangan lupa ya readers. Like nya juga dikasih juga biar author semakin semangat. Gomawo
__ADS_1