
“Bunda….” Ara berlari ke arah ruang tamu setelah mendengar suara mobil Reza yang masuk perkarangan.
Dewi yang melihat Ara yang berlari ke arahnya kemudian berjongkok dan merentangkan kedua tangannya menyambut putri kecilnya.
“Sayang, jangan lari-lari dulu. Nanti lukanya sakit lagi, ntar Bunda di marahin sama om Leo, terus adek nanti di suruh tidur di rumah sakit lagi. Mau?” Dewi mendekap erat Ara yang menyambutnya pulang.
“Maaf, Bunda.”
“Iya sayang, jangan di ulangi lagi ya,” ucap Dewi sambil mencium pipi Ara.
Ara mengangguk anggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Bunda doang yang dicium, Papa enggak dicium ini?” Reza yang baru masuk langsung mendekati istri dan anaknya yang sedang bercengkrama di ruang tamu.
“Ngga usah di cium Papa, Papa bauk asem. Ayuk kita masuk.” Dewi menggendong Ara dan membawanya masuk ke dalam meninggalkan Reza seorang diri di ruang tamu.
Dewi mengajak Ara bergabung dengan Andra dan Ibu Ratna yang masih setia menunggu mereka pulang di ruang tv.
“Daritadi ribut mulu nanya kapan Papa sama Bundanya pulang nih si Ara,” ucap Ibu Ratna.
“Maaf, Bu tadi kami lihat rumah dulu,” jawab Dewi.
“Iya ngga apa-apa. Sudah kamu mandi dulu sana, Reza.”
“Iya, Bu.” Reza kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu ngga sekalian, Wi?” tanya Ibu Ratna yang melihat Dewi masih duduk menemani Ara bermain.
“Sebelum pulang tadi Dewi udah mandi dulu di rumah sakit, Bu.”
“Ara main sebentar sama Abang dulu ya, Nenek sama Bunda mau ada perlu dulu,” kata Ibu Ratna.
“Jangan lama-lama ya, Nek. Ara masih mau main sama Bunda,” jawab Ara.
“Bunda ngga lama kok. Adek tunggu sebentar ya,” ucap Dewi yang mendapat anggukan dari Ara.
Ibu Ratna mengajak Dewi untuk berbincang di dalam kamarnya.
“Mau ngomong apaan Nyai? Kok harus di kamar ngomongnya,” tanya Dewi ketika baru sampai di dalam kamar.
“Ih ini kebiasaannya ngga hilang-hilang. Manggil orangtua aneh-aneh mulu,” ucap Ibu Ratna sambil memukul pelan pundak Dewi.
“Aduh Ibu sakit,” keluh Dewi.
“Lebay ih cuma sedikit aja.” Walau kesal Ibu Ratna tetap mengelus pundak Dewi yang sebelumnya ia pukul.
“Kalau anak-anak kamu lihat kelakuan kamu ini, gimana tanggapan mereka, Wi.”
“Ya jangan sampai tahu, Bu. Hancur reputasi Dewi jadi orangtua. Udah sini kita duduk dulu.” Dewi duduk di pinggir ranjang diikuti oleh Ibu Ratna. “Ada apa Ebok?”
__ADS_1
Ibu Ratna menghela nafas.
“Jawab jujur ya.”
“Siap jawab jujur,” cepat Dewi.
“Ibu serius, Dewi!”
“Iya siapa juga yang ngga serius, Bu.”
“Kata Ara, kamu tidur berdua sama dia?” tanya Ibu Ratna.
Dewi menganggukkan kepalanya. “Kenapa emangnya, Bu?”
“Lalu Reza?” tanya Ibu Ratna lagi.
“Ya di kamarnya.”
“Kenapa kamu ngga tidur sama Reza? Kamu masih enggan? Atau karena itu kamarnya Rena?”
Dewi memejamkan mata sesaat dan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Ibu Ratna.
“Itu juga sih, Bu. Tapi begini ya, Bu. Kami itu sedang berusaha untuk memulainya semua dari awal. Jujur iya, masih ada rasa di dalam diri Dewi yang bilang kalau kak Reza ini suaminya mendiang kak Rena, kakaknya Dewi. Masih rada aneh aja rasanya. Orang yang selama ini Dewi tahu suami kakaknya Dewi sekarang juga jadi suaminya Dewi. Walaupun pernikahan ini udah berjalan hampir setahun, tapi Dewi masih berusaha untuk menerimanya, Bu. Lagipula ada Ara dan Andra. Memang mereka sejak lahir udah manggil Dewi dengan Bunda, anggap Dewi ibu mereka juga. Mereka juga tahunya selama ini Dewi adik mama mereka, adik papa mereka. Terus tiba-tiba melihat Dewi tidur sama papanya, Dewi takut mereka belum bisa terima. Belum ada penjelasan Dewi ke arah sana sama anak-anak, Bu,” jelas Dewi.
“Kamu salah, Wi. Andra sudah paham semuanya,” kata Ibu Ratna.
“Ya?”
“Bu….”
“Sekarang tinggal kamu yang buang jauh-jauh pemikiran yang tidak penting itu. Kamu ibunya anak-anak dan kamu istrinya Reza. Tidak ada yang marah atau merasa kamu merebut posisi Rena.”
Ibu Ratna bangkit dari duduknya menuju meja rias. Beliau terlihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Sebenarnya Ibu datang kesini karena mau memberi kamu ini. Kemarin Ibu kelupaan,” ucap Ibu Ratna sembari memberikan sebuah amplop kepada Dewi.
“Apa ini, Bu?”
“Surat dari Rena, dia tulis ketika kamu pergi dulu.”
Dewi mengambil surat itu dan melihatnya lama. Timbul rasa penyesalan kenapa dulu dia memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa menemui Rena dulu. Ia tahu kalau Rena sempat datang menjenguknya di rumah sakit, tapi Dewi sama sekali tidak ingat apa saja yang Rena katakan dulu karena saat itu Dewi yang terpukul karena kehilangan janinnya.
“Sejak kamu pergi Rena suka diam. Dia tak banyak bicara selain sama Ara dan Andra. Sama Reza juga lumayan lama Rena mendiamkannnya. Rena marah sewaktu mendengar perbuatan Reza ke kamu. Rena juga bilang kalau Reza masih merasa keberatan dan tidak bisa menerima kamu juga sebagai istri, Rena minta Reza untuk melepaskan kamu. Rena minta Reza membiarkan kamu mencari kebahagiaan kamu sendiri, Wi. Tapi seperti yang ia duga, Reza tidak tahu. Kamu tahu kenapa? Karena Reza juga sudah mencintai kamu,” jelas Ibu Ratna.
Dewi melongo mendengar penjelasan Ibu Ratna.
“Kak Reza cinta sama aku?” batinnya.
Masih dengan pikirannya tentang cerita Ibu Ratna tadi, tiba-tiba pintu kamar Ibu Ratna dibuka oleh Andra dan Ara yang menangis.
__ADS_1
“Bunda, adek nangis nih cari Bunda,” kata Andra yang menggandeng adeknya masuk ke dalam kamar.
“Ulu-ulu kenapa nangis ini sayangnya Bunda.” Dewi segera menggendong Ara.
“Bunda lama. Ara kan, udah ngantuk.”
“Maaf ya, sayang. Yuk kita tidur, yuk. Pamit dulu sama Nenek,” ucap Dewi yang langsung mengarahkan Ara untuk salim dengan Ibu Ratna.
“Cucu Nenek mau tidur, ya. Maaf lama nenek pinjam Bundanya ya. Selamat tidur sayang, ya,” kata Ibu Ratna sembari mencium kedua pipi Ara.
“Dadah nenek,” kata Ara sambil melambaikan tangannya.
“Dadah.”
Dewi dengan menggendong Ara diikuti oleh Andra dibelakangnya segera keluar dari kamar Ibu Ratna menuju kamar Ara yang berada di lantai 2, di samping kamar Reza.
“Lho Abang kenapa ikut Bunda ke kamar Adek?” tanya Dewi yang melihat Andra ikut masuk ke kamar Ara.
“Malam ini Abang tidur sama Bunda juga, boleh?”
“Boleh dong. Ayok sini kita umpel-umpelan bertiga.”
Dewi mengelus kepala anak sambungnya ini secara bergantian. Setelah memastikan mereka berdua yang sudah tidur, Dewi mengecup puncak kepala mereka. Dewi yang sebenarnya juga kelelahan akhirnya ikut terlelap setelahnya.
Reza keluar dari kamar setelah satu jam lamanya pria itu masuk dan izin untuk mandi. Seusai mandi tadi ia mendapat telepon dari Lia, membicarakan tentang rapat yang rencananya akan diadakan besok pagi.
Melihat ruang tv yang sudah kosong, Reza melangkahkan kakinya ke kamar Ara dimana yang ia tahu Dewi juga berada disana menemani putrinya tidur.
“Kalian semua disini, tidur bareng-bareng, terus aku ditinggal lagi,” gumam Reza yang melihat Andra juga ikut tidur bersama.
Reza tersenyum kemudian mencium kepala Andra dan Ara bergantian. Untuk Dewi sengaja ia lihat wajah damai tidurnya wanita yang selama ini ia kenal sebagai wanita yang ceria. Belum pernah sekalipun ia melihat wajah sedih Dewi sebelum pernikahan mereka. Karena pernikahan ini, berkali-kali ia melihat kesedihan di wajah Dewi.
“Aku janji akan terus buat kamu bahagia. Cukup sekali kamu menangis karena kebodohan aku.”
Reza memperbaiki selimut ketiga orang yang ia sayangi itu, kemudian mencium dalam kening Dewi yang ketika itu tidur dalam keadaan terlentang.
“Curi cium satu boleh kali ya.”
Cup
Reza mencium bibir Dewi.
“Selamat tidur, sayang.”
Pagi harinya, Reza yang masih belum mengizinkan Dewi membawa mobil sendiri mengantarkan Dewi sedikit lebih cepat karena ada rapat yang harus ia pimpin pagi ini. Alhasil masih ada waktu sekitar satu jam buat Dewi bisa bersantai dulu sebelum ke poli prakteknya.
“Oh iya, surat yang tadi malam.” Dewi mencari surat yang diberikan Ibu Ratna tadi malam di dalam tas.
Dewi mulai membuka amplop, dan melihat panjangnya tulisan Rena disana. Sepertinya ini ungkapan-ungkapan yang belum sempat Rena bilang ke Dewi.
__ADS_1
Dewi membaca kata per kata yang tertuang di surat itu, air matanya tak berhenti menetes, mengalir seiring kalimat yang dibaca oleh Dewi.
“Kak Ren…,” lirihnya.