
Saat ini Dewi sedang duduk menunggu kedua anaknya yang sedang bermain di dalam area playground.
"Kira-kira apa maksud dari ucapan perempuan itu?" tanya Dewi dalam hati.
Dirinya kini masih menerka-nerka maksud Siska yang mengatakan bahwa Andra dan Ara adalah calon anak-anaknya.
"Halu aja kali tu cewek," yakin Dewi.
Dewi tidak mau terlalu ambil pusing memikirkan omongan Siska, bukankah wanita itu memang terlalu sering berhalu pikirnya.
Selesai bermain di mall Dewi mengajak kedua anaknya untuk mengunjungi mami Lisa. Beliau tadi menghubungi Dewi dan menanyakan keberadaan mereka sehingga meminta mereka bertiga untuk mampir ke rumah oma dan opanya.
"Assalammualaikum," ucap Ara dan Andra kompak ketika mereka sudah sampai di rumah besar bagai istana milik papi Arya.
"Waalaikumsalam. Cucu-cucu Oma ayo masuk," ajak Mami Lisa.
Setelah masuk kedalam rumah perhatian anak-anak langsung teralihkan pada kelinci dan binatang lain yang dulunya adalah peliharaan Dewi ketika masih tinggal di rumah itu.
"Papi kemana, Mi?" tanya Dewi yang tidak melihat keberadaan papi Arya.
"Biasa, main golf sama teman-temannya. Mami bosan sendiri makanya mami telepon kamu. Oh iya, Reza kemana? Kenapa cuma kalian bertiga saja yang ke mall tadi?"
"Kak Reza ke Singapura hari ini, Mi. Katanya ada pekerjaan, Dewi juga ngga paham. Tapi sepertinya sedang ada masalah di kantornya. Mami tahu?" tanya Dewi.
"Mami ngga tahu, sayang. Nanti kamu coba saja tanyakan pada Papi, siapa tahu papi tau sesuatu," saran Mami Lisa.
Sudah menjelang malam Dewi dan kedua anaknya pamit. Papi Arya belum sampai di rumah ketika mereka pulang, terjebak macet katanya sehingga Dewi tidak sempat untuk bertanya mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh suaminya kini.
___
Hari Minggu biasanya digunakan oleh banyak orang untuk beristirahat atau berkumpul bersama keluarga. Namun hal ini tidak berlaku dengan Reza. Pria itu kini sedang berada dalam perjalanan menuju tempat pertemuannya dengan Chris. Kemarin ia tidak jadi bertemu dengan Chris karena pria itu harus menemani anaknya yang sedang sakit sehingga ia tidak dapat diganggu sama sekali. Dan hari ini Reza yang kembali ditemani Farel mencoba kembali membuat janji temu dan akhirnya Chris menyetujuinya.
Sampai di sebuah restoran, Reza langsung masuk ke ruangan private yang sebelumnya telah ia pesan. Masih ada waktu sekitar 15 menit sebelum pertemuan. Reza sengaja datang lebih awal agar ia tidak telat sehingga membuat Chris menunggunya terlalu lama. Dirinya kini sangat membutuhkan bantuan Chris demi kelangsungan perusahaannya.
10 menit menunggu akhirnya Chris datang. Tak menunggu waktu lama akhirnya Reza mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak Chris bertemu.
"Maaf saya tidak bisa."
"Wait, Chris kenapa kamu tidak bisa?"
__ADS_1
"Farel come on. Bagaimana aku bisa berinvestasi dengan perusahaan yang hampir gulung tikar seperti ini? Resikonya terlalu besar," kata Chris yang menolak untuk bekerja sama dengan perusahaan Reza.
"Tapi Chris...."
"Maaf, saya harus segera pergi. Putri saya masih sakit dan saya harus menemaninya," kata Chris yang langsung berdiri dari duduknya.
"Pak, saya mohon...."
"Za." Farel menahan tangan Reza yang ingin menyusul Chris.
"Rel, gue harus susul Chris, gue ngga bisa sia siain waktu," ucap Reza yang mulai emosi.
"Kita coba lain waktu, Za. Kalau sekarang lo maksa percuma. Lo sendiri juga dengar tadi dia mau nemuin anaknya yang sakit, terus ntar dia makin ngga mau investasi di perusahaan lo," jelas Farel.
"Lo benar, Rel. Kita coba lagi besok." Akhirnya Reza dan Farel kembali pulang ke hotel tanpa ada hasil. Reza tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan terus berusaha agar Chris mau berinvestasi di perusahaannya. Kini nasib ribuan karyawannya berada ditangannya.
Sedangkan di tempat lain, Dewi sedang mampir ke sebuah restoran cepat saji untuk membeli pesanan ayam goreng Ara. Ia tadi mendapat telepon darurat dari rumah sakit sehingga di hari libur ini ia harus ke rumah sakit. Untung saja pasiennya masih bisa ia selamatkan dan sudah bisa ia tinggal di rumah.
Ketika keluar dari restoran cepat saji dan menuju parkiran, Dewi bertemu dengan Lia, sekretarisnya Reza yang hendak masuk ke dalam restoran.
"Lia," panggil Dewi.
"Lia ada yang mau saya tanyakan."
"Ada apa ya, dok?"
"Apa terjadi masalah yang serius di kantor? Kenapa Kak Reza pergi mendadak kemarin ke Singapura?" tanya Dewi. Ia terlalu penasaran dan berhubung saat ini ia bertemu dengan sekretaris suaminya ia akan mencoba mendapatkan jawabannya.
"Maaf, dok, saya tidak bisa menjawabnya," jawab Lia sambil mencoba untuk pergi dari Dewi.
"Kamu pikir bisa pergi dari saya begitu saja?" Dewi mencekal lengan Lia yang akan pergi.
Lia kemudian befikir, ia juga yakin kalau Dewi pasti tidak akan membiarkan dirinya pergi begitu saja.
"Perusahaan sedang tidak baik-baik saja, dok. Banyak investor yang menarik sahamnya secara tiba-tiba dan kerja sama perusahaan juga banyak yang dibatalkan secara sepihak oleh klien," ucap Lia hati-hati.
Dewi yang kaget menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Dewi setelah sadar dari keterkejutannya.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Pak Wira!"
"Pak Wira? Siapa dia?" tanya Dewi.
"Beliau adalah ayahnya ibu Siska, dok."
"Siska? Si wanita tak tahu malu itu?" tanya Dewi lagi.
"Betul, dok."
"Kenapa mereka melakukan itu semua? Apa salahnya Kak Reza?"
Lia menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Dewi. Ia yakin Dewi akan shock setelah mendengar jawaban dari Lia.
"Pak Reza menolak untuk menjadikan ibu Siska sebagai istri keduanya, dok," jawab Lia hati-hati.
Dewi bergeming mendengar penuturan Lia.
"Maksudnya apa ya, Lia?"
"Kemarin lusa pak Wira datang ke kantor, dok. Saya juga tidak begitu tahu, tapi yang saya dengar beliau meminta pak Reza untuk menikah dengan Bu Siska. Buntut dari penolakan itu, pak Wira menarik sahamnya dibarengi dengan beberapa investor yang lain. Ia dan beberapa klien yang lain juga membatalkan kerja sama, dok," jelas Lia.
"Astaghfirullah. Lalu kenapa kak Reza ke Singapura?"
"Pak Reza sekarang sedang meminta seorang pengusaha besar di Asia Tenggara yang berdomisili di Singapura agar mau berinvestasi di perusahaan, dok. Kalau mereka mau berinvestasi, dipastikan yang lain pasti akan kembali, dok karena beliau orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis."
Dewi tidak menyangka bahwa saat ini suaminya sedang mengalami masalah yang cukup berat, dan ia tidak diberi tahu sama sekali.
"Kak Reza, maafkan Dewi. Dewi sama sekali tidak tahu kalau kakak sedang menanggung beban seberat ini. Apa yang bisa Dewi bantu?" batin Dewi.
Ia ingat percakapan mereka suatu malam sebelum tidur. Reza mengatakan saat itu bahwa dirinya tidak akan pernah lagi berpoligami.
"Haruskah aku yang mengalah biar perusahaan bisa berjalan seperti sebelumnya?"
____
Hai hai hai, author mau ngucapin SELAMAT BERLEBARAN ya buat yang merayakan.
Taqabbalallahu minna wa minkum.. 🙏
__ADS_1
vote, like, komennya juga jangan dilupain ya 🤗🤗