Jalan Hidup Kiran

Jalan Hidup Kiran
BAB 59.MASIH MARAH


__ADS_3

"Maafkan aku.. " lirih Adit sambil memeluk istrinya dari belakang, ia menyandarkan kepalanya di bahu istrinya yang masih terisak, ditengah2 hujan gerimis yang mulai turun Kiran merasa bahunya yang mulai basah, awalnya ia merasa basah karena hujan, tapi lambat laun ia melihat bercak kemerahan mengalir di sela2 kaos putihnya, Kiran mendongak dan melihat luka di pelipis suaminya yang terus mengalirkan darah tiada henti.Ia pun menarik suaminya untuk berteduh di gazebo kecil disamping danau itu.


"Kenapa kau ceroboh sekali membiarkan luka dipelipismu begitu saja" omelnya sambil mengeluarkan tisu dari tasnya untuk membersihkan luka Adit.


"Darahnya tidak mau berhenti, ayo kita kerumah sakit saja" kiran beranjak menarik tangan Adit tapi Adit menahannya.


"Aku tidak apa2 sayang.. luka ini tak sebesar luka dihatimu saat ini karena aku" lirih Adit sambil berkaca2 menggenggam tangan Kiran lalu mengecupnya singkat.


"Cup.. maafkan aku sayang.. tolong jangan salah faham, aku gak bisa dicuekin gini sama kamu" mohon Adit tapi Kiran menghempaskan tangan Adit.


"Aku masih marah ya sama kamu" ucap Kiran sengit.


"Kamu boleh marah sama aku tapi tolong dengerin penjelasan aku"

__ADS_1


"Nanti setelah aku obatin luka kamu baru kita bicara lagi mau terusin hubungan kita atau selesai sampai disini" tegas Kiran.


Ada rasa nyeri di hati Adit mendengar ucapan menohok dari istrinya." Gak.. tolong jangan bicara seolah2 kamu mau ninggalin aku" Adit mulai berkaca2.


"Terus kamu maunya aku kayak gimana? " Terima perselingkuhan kamu gitu"


"Aku gak selingkuh sayangggg...! " jangan pancing2 dong."


"Kalau begitu biarkan aku tenang dulu, beri aku waktu buat berfikir.. aku... "


kamu hanya salah faham aja, biar aku jelasin"


"Kita pulang sekarang, ini sudah malam" Kiran beranjak dan Adit mengikutinya. malam itu juga mereka kembali ke Jakarta, Adit yang kepalanya masih pusing karena terbentur tadi tidak merasakannya lagi darahnya pun sudah mengering tanpa sempat ia bersihkan terlebih dahulu.

__ADS_1


Sesampainya dirumah mereka membersihkan diri dan setelah itu Kiran dengan hati2 mengobati luka di pelipis Adit dengan mata berkaca2, Adit tanpa berkata2 terus memandangi wajah istrinya dengan penuh rasa bersalah karena telah menyakiti wanita yang dicintainya itu.


"Sayang.. aku.. "


"Sekarang istirahatlah, ini sudah malam " Kiran beranjak meninggalkan suaminya. hatinya masih benar2 sakit karena ketidakjujuran suaminya, untuk saat ini ia masih sulit memaafkan. malam ini Kiran memutuskan untuk tidur di kamar tamu.


Semalaman Kiran berfikir jalan apa yang akan ia ambil untuk saat ini, ia tidur dengan air mata tiada henti.Sedangkan Adit dikamarnya tidak bisa memejamkan mata sama sekali, ia benar2 menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Sekitar jam 7 pagi Adit baru saja mengerjapkan matanya karena jam 2 matanya baru bisa terpejam, ia bergegas membersihkan diri dan mencari keberadaan istrinya ke kamar tamu tapi kosong.


"Sayang kamu dimana.. " teriaknya lalu ia beranjak ke dapur tapi nihil juga.Fikiran Adit mulai kacau ia berlari ke dalam kamar dan memeriksa baju2 istrinya dan ternyata kosong.


"Sayang.. tidak mungkin kau meninggalkan aku kan.. " Adit terduduk di depan lemari istrinya, untuk beberapa saat ia meratapi kepergian istrinya dan setelah itu Adit bangkit mengambil ponselnya untuk menghubungi Kiran tapi beberapa kali mencoba tlp istrinya itu masih tidak dapat dihubungi.

__ADS_1


"Sial.. " umpat nya


__ADS_2