
"Aku hanya ingin tau bagaimana sebenarnya perasaannya kepadaku" sendu Kiran.
"Ayolah Bos.. Nona sangat mencintaimu aku bisa melihat itu" jelas Roy.
"Tapi dia masih belum bisa menjaga perasaanku Roy" Adit menceritakan semua kejadian yang terjadi selama ia di Bali dan sebelum ia kecelakaan, bagaimana Dea saat bertemu dengan Aldi dan juga Dendra.
"Wow..berarti banyak laki-laki diluar sana yang sangat mendabakan Nona Bos.. " ledek Roy yang mendapat polototan tajam dari Adit.
"Dan sepertinya Nona adalah gadis incaran pria-pria tampan jadi anda harus benar-benar menjaganya Bos" Roy terkekeh lagi.
"Diam kau Roy.. sekarang saat nya kau ikuti rencanaku" Adit berbisik pada Roy dengan tersenyum semirk.
"Anda serius Bos, kasihan Nona nanti" ucap Roy mempertimbangkan.
"Aku hanya ingin tau perasaan dia yang sebenarnya Roy, bagaimana kalau aku tiba-tiba pergi darinya" lirih Adit.
"Baiklah Bos, tapi aku tidak mau tanggung jawab kalau seandainya nanti Nona marah karena lelucon ini ? " peringat Roy.
"Iya.. bawel kau ini, lakukan saja perintahku" kesal Roy.
*****
Kiran terjaga dari tidurnya sore itu karena mendengar deringan dari ponselnya.
"Hallo.. Roy, apa terjadi sesuatu? " tanya Kiran khawatir.
"Nona, Bos kritis.. " ucap Roy dari sebrang.
"Apa.. aku segera kesana" jawab Kiran panik dan tergopoh-gopoh mengambil kunci mobilnya, ia ke Rumah sakit tanpa mengganti bajunya karena panik. Kiran mengendarai mobilnya dengan kencang bahkan dia menerobos lampu merah karena ingin segera mengetahui kabar suaminya. Setelah sampai di Rumah sakit ia berlari ke ruangan suaminya dan membuka pintu tanpa permisi, tapi saat masuk yang ia temukan suaminya sudah tertutup kain putih dan terbujur kaku di brankar. seketika air mata yang sudah ia tahan sejak tadi pun tumpah tanpa henti, ia meraung dan berteriak mendekati tempat dimana suaminya dibaringkan.
"Sayang.. ini bercanda kan.. ini sungguh tidak lucu" Kiran mendekat dan membuka penutup wajah suaminya, dan pada saat itu nampak jelas jasad suami nya terbujur kaku dan pucat.
"Gak.. Roy ini tidak benar kan" sendu Kiran mengusap air matanya yang terus mengalir membuat Roy tidak tega dan ingin keluar.
"Nona anda harus bersabar" ucap Roy menenangkan.
"Sayang tolong jangan seperti ini, jangan pergi sebelum kau mendengarkan penjelasan dariku" sedih Kiran.
"Aku akan sangat merasa bersalah kalau kau pergi dalam keadaan seperti ini, aku mencintaimu.. tidak ada orang lain dihatiku, Kak Dendra hanya seseorang yang pernah berjasa dalam hidupku, tolong bangunlah demi aku" Kiran masih meneteskan air matanya akan tetapi masih belum ada pergerakan dari suaminya.
__ADS_1
"Baiklah,kalau kau tidak mau bangun aku akan pergi saja" ucap Dea hendak beranjak tapi Seketika pandangan Kiran jadi kabur dan akhirnya ia tidak sadarkan diri.Adit yang mulai membuka matanya sontak terbangun melihat Istrinya tidak sadarkan diri.
"Roy..Roy " teriak Adit panik dan seketika Roy masuk bersama Dokter Hendra.
"Ada apa Dit.. " tanya Dokter Hendra yang syok melihat Kiran tidak sadarkan diri.
"Aku tidak tau, Tiba-tiba saja dia pingsan" jawab Adit dilema.
"Kau ini merepotkan saja, Jangan-jangan ini karena ulahmu yang pura-pura meninggal itu" kesal Hendra.
"Apaan sih malah nyalahin aku, mana kutahu kalau jadi seperti ini" Adit membuat pembelaan.
"Ya sudah Roy bantu aku mengangkatnya ke sofa" perintah Hendra, Roy mengangguk dan segera membantu. Setelah beberapa menit Hendra memeriksa.
"Ehmm.. detak jantungnya aneh" ucap Hendra bercanda.
"Apa maksudmu Hen..dia pucat sekali? " Adit mulai tidak sabar.
"Kapan terakhir priode? " tanya Hendra kemudian.
"Hah.. mana aku tau" jawab Adit kikuk.
"Kau ini suami macam apa? "
" Kalau prediksiku benar istrimu sedang mengandung" Hendra tersenyum penuh arti.
"Wah.. Bos mau bikin kejutan malah terkejut " ejek Roy mendapat tatapan tajam dari Adit.
"Apa kamu yakin Hen..? " tanya Adit sumringah.
"Untuk lebih yakin kau bawa dia ke Dokter kandungan" kesal Hendra.
"Tunggu apalagi, bawa dia kesana sekarang.. dan usahakan Dokternya perempuan" Adit meng ultimatum
"Iish..kau ini tidak sabaran sekali" jawab Hendra beralih mengambil benda pipihnya untuk memanggil seseorang.
"Iya Hallo.. Dokter Indi apa anda sedang sibuk? "
.....
__ADS_1
"Bisa datang ke ruangan 203
" Baiklah aku tunggu"Hendra menutup ponselnya.
"Setelah ini Dokter Indi spesialis kandungan akan segera kesini memeriksa Istrimu"
"Apakah.." ucapan Adit terpotong.
"Dan dia adalah Dokter perempuan sesuai kemauanmu" Hendra memotong perkataan Adit yang hendak mengajukan protesnya.
"Bagus.. "
Tidak berselang lama terdengar ketukan pintu.
Tok
Tok
"Permisi.. Dokter Hendra memanggil saya? " tanya Dokter Indi begitu membuka pintu.
"Iya.. Dokter Indi silahkan masuk" Hendra mempersilahkan.
"Ada yang bisa saya bantu? " Dokter Indi penasaran.
"Tolong Periksa Nona Kiran, aku mendiagnosa dia sedang hamil, aku ingin kau memastikannya" Hendra menjelaskan.
"Benarkah, tunggu sebentar biar aku periksa dulu" Dokter Indi duduk di samping sofa dan memeriksa Kiran dengan serius lalu tersenyum.
"Bagaimana Dok.. ? " Adit mulai penasaran.
"Anda benar Dokter, Nona Kiran sedang hamil, dan usia kandungannya saya prediksi masuk 3 minggu, selamat Tuan Adit.." ucap Dokter Indi sumringah.
"Alhamdulillah.. " ucap Adit dan Roy serentak.
"Selamat Bos.. akhirnya pecah telur juga" Roy menjabat tangan Bosnya.
"Kok kamu yang seneng Roy" ejek Hendra menahan tawa dan mendapat lemparan bantal dari calon ayah baru.
"Sialan lo" Adit menatap tajam pada sahabatnya.
__ADS_1
"Santai bro cuma bercanda aja" Hendra menghiba. Saat mereka sedang asyik ber argumen tiba-tiba Kiran mengerjapkan matanya sayu.
"Aku dimana.. "