
"Sayang.. " Kiran mengejar suaminya ke bawah tapi Adit tetap melajukan mobilnya ke luar dari gerbang dengan kencang.
"Ya Allah sayang.. kok jadi pundungan melulu sih" sedih Kiran, tidak ada pilihan lain Kiran naik kembali ke kamarnya membiarkan dulu suaminya menenangkan dirinya, semoga saja saat pulang nanti hatinya sudah siap untuk mendengar penjelasannya. Kiran memutuskan untuk bebersih dahulu lalu menunggu suaminya pulang.
"Sudah jam 11 malam tapi yang ditunggu tiada datang membuat Kiran semakin khawatir hingga suara dering ponsel dari ponselnya mengagetkan nya.
" Iya hallo Roy.. ada apa? " khawatir Kiran.
"Nona Bos kecelakan.. " ucap Roy panik dari sebrang sana membuat Kiran menjatuhkan ponselnya.
Sedangkan Roy yang berusaha menghubungi Nona mudanya terlihat bertambah khawatir karena tiba-tiba Kiran tidak meresponnya.
"Nona.. hallo Nona apa anda masih disana? " tanya Roy kemudian.
"Dimana dia sekarang Roy? " tanya Kiran kemudian membuat hati Roy lega.
"Di RS. Medica center " jawab Roy singkat.
Kiran segera menutup ponselnya dan bergegas ke Rumah sakit melihat keadaan suaminya.
"Kenapa kamu nekat pergi dalam keadaan marah seperti itu sayang.. maafkan aku" lirih Kiran merutuki dirinya sendiri dengan deraian air mata, ia benar-benar merasa bersalah pada suaminya. Sesampainya di rumah sakit Kiran berlari di Koridor mencari dimana ruangan suaminya sampai akhirnya ia bertemu dengan asisten Roy.
"Roy dimana dia? " tanya Kiran panik
"Bos masih di ICU Nona? " sedih Roy.
"Kenapa bisa separah itu Roy" sesal Kiran.
"Dia menyetir dalam keadaan mabuk Nona, apa kalian sedang ada masalah? " tanya Roy menelisik.
"Dia salah faham padaku Roy" sendu Kiran.
"Saya sudah pernah bilang Nona, jangan main-main kalau masalah hati karena Bos sangat sensitif tentang itu" serius Roy.
"Maafkan aku Roy, aku tidak sengaja melakukannya, akhir-akhir ini dia suka ngambek gak jelas denganku.. dikit-dikit marah" curhat Kiran.
"Itu karena dia takut kehilangan anda Nona" ucap Roy meyakinkan.
"Aku tau itu.. "ucapan Kiran terjeda karena ada Dokter yang tiba-tiba datang.
" Keluarga Tuan Adit" teriak Dokter memanggil.
"Saya istrinya Dok..bagaimana keadaannya? " tanya Kiran.
"Nona Tuan Adit mengalami koma dan dia harus dirawat sampai ia sadar nanti" ucap Dokter yang menangani Adit.
"koma Dok.. berapa lama? " Kiran menjatuhkan air matanya.
__ADS_1
"Kita masih melakukan observasi, Mudah-mudahan ada kabar baik nantinya" ucap Dokter sungguh-sungguh.
"Apa saya boleh melihatnya" tanya Kiran khawatir.
"Silahkan.. saya permisi dulu kalau ada apa-apa segera hubungi tim medis"pesan Dokter itu sebelum pergi.
" Baik Dok.. Terima kasih" ucap Kiran.
"Nona saya permisi mengambil barang-barang yang diperlukan Bos" pamit Roy.
"Iya Roy pergilah" jawab Kiran kemudian masuk ke ruang rawat suaminya. terlihat sesosok laki-laki yang selama ini mengisi relung hatinya sedang terbaring tak berdaya dengan selang infus di mana-mana dengan wajah pucat tanpa pergerakan membuat rasa ngilu di hati Kiran semakin tercubit. Kiran mendekat meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat berharap akan ada keajaiban kalau-kalau suaminya tiba-tiba membuka matanya.
"Sayang.. maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang baik, maafkan aku yang tidak pernah bisa menjaga perasaanmu yang begitu sensitif itu" Kiran tersenyum getir merutuki kebodohannya yang berkali-kali membuat suaminya kecewa.
"Aku berjanji ini adalah yang terakhir, jadi bukalah matamu dan marahi aku sesukamu" bisik Kiran ditelinga Adit membuat suaminya itu meneteskan air mata dalam keadaan terpejam.
"Sayang.. kau mendengarku kan..?ku mohon berjuanglah demi cinta kita, aku mencintaimu Aditya Ramdan, aku akan selalu menunggumu..teruslah bersamaku.." bisik Kiran mengecup sendu tangan suaminya dengan deraian air mata,ia lebih bersemangat melihat respon dari suaminya.
*****
Tidak terasa 1 bulan sudah Adit tergeletak tidak sadarkan diri di ruang ICU hingga di suatu pagi saat Roy datang menjenguk.
"Nona bagaimana keadaan Bos? " tanya Roy pada istri Bisa nya.
"Masih sama seperti sebelumnya Roy" sendu Kiran.
"Aku akan selalu menunggunya Roy.. sampai kapanpun itu" janji Kiran pada Roy.
Setelah beberapa saat setelah Dokter memeriksa keadaan Adit.
"Roy aku titip suamiku sebentar ya"
"Nona mau kemana? "
"Aku ingin pulang sebentar mengambil beberapa keperluan ku" jelas Kiran.
"Baik Nona.. Hati-hati dijalan dan jangan khawatirkan Bos, hari ini Nona bisa istirahat dirumah saja.. nanti sore Nona bisa kembali lagi, saya yang akan menjaganya hari ini saya tidak ada kesibukan. " tutur Roy meyakinkan.
"Terima kasih Roy, hubungi aku kalau terjadi sesuatu" pesan Kiran.
"Siap Nona"
Hari itu tepat jam 11 siang Kiran pulang kerumahnya , ia melihat foto pernikahannya terbingkai dengan indah di sudut kamarnya. Kiran duduk diranjang mengingat moment-moment indah yang ia rasakan setelah menjadi seorang istri hingga terdengar ketukan di pintu.
Tok
Tok
__ADS_1
"Masuk" teriak Kiran.
"Permisi Non" Bik Sum mendekat
"Ada apa Bik? " tanya Kiran dengan muka pucat nya.
"Bagaimna keadaan Tuan Nona? " tanya Bik Sum khawatir.
"Masih belum ada perkembangan Bik, doakan saja yang terbaik ya" sendu Kiran.
"Iya Non, Bibik akan selalu mendoakan yang terbaik, Non Kiran tidak apa-apa? Nona terlihat Pucat sekali"ucap Bibik khawatir.
" Gak apa-apa Bik.. mungkin kurang istirahat aja" lirih Kiran sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu Non istirahat aja dulu.. kalau butuh apa-apa Non Kiran panggil Bibik aja, saya permisi mau kebelakang Non" ucap Bik Sum.
"Iya Bik.. Terima kasih, "Setelah kepergian Bik Sum Kiran mencoba memejamkan matanya yang beberapa hari ini sulit terpejam.
Sementara itu sore hari dirumah sakit Roy yang sedang menjaga Bosnya dikagetkan dengan pergerakan dari jari jemari Adit yang sedikit bergerak.
" Bos.. " teriak Roy kaget dan bahagia sehingga dia berlari memanggil dokter untuk memeriksa Bos nya.
"Dokter.. " teriak Roy memanggil Dokter, beberapa detik kemudian seorang Dokter tampan menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa Roy.. teriakan kamu bikin panik aja, apa yang terjadi dengan Adit.
" Ada pergerakan dari jemarinya Her.. " ucap Roy antusias.
"Benarkah.. biar aku periksa" respon Dokter Heru juga tidak kalah senangnya sama seperti Roy, Dokter Heru adalah teman Adit dan Roy sewaktu SMA mereka berteman dekat sampai sekarang dan kebetulan beberapa minggu ini Adit adalah salah satu pasien yang ditanganinya.
"Bagaimana Her..? " tanya Roy berbinar.
"Ini sebuah kemajuan pesat Roy, dan aku rasa dia sebenarnya sudah sadar" ucap Heru melirik sahabatnya.
"Apa.. jadi menurutmu dia sengaja ngerjain kita gitu? " umpat Roy.
"Tidak juga, sepertinya dia sudah sadar beberapa menit yang lalu tapi saat ini dia hanya pura-pura"
"Benar begitu Bos" sentak Roy memukul bahu Adit dengan keras.
"Auww.. kau gila ya Roy" Adit terduduk memegangi bahunya yang sedikit nyeri karena pukulan Roy.
"Dasar.. saya akan segera mengabari Nona" Roy hendak beranjak tapi Adit mencegahnya.
"Jangan.. " cegah Adit.
"Kenapa..? dia sangat menghawatirkanmu Bos, Berhari-hari dia sulit makan dan sulit tidur, kerjaan dia cuma menangis saja.. apa kalian ada masalah sebelumnya? " tanya Roy kepo.
__ADS_1