Jalan Hidup Kiran

Jalan Hidup Kiran
BAB 70.RENCANA


__ADS_3

"Baik paduka.." Kiran terkekeh


"Bercanda mu tidak lucu" kesal Adit


"Aku tidak bercanda sayang.. ayo kita turun, semua orang nungguin kamu lo, " rayu Kiran.


Sebenarnya Adit masih marah dengan istrinya karena ia benar-benar sangat sensitif dengan sesuatu yang berbau-bau penghianatan meskipun itu hanya bercanda, tapi ia mencoba menekan egonya karena menghormati kedua orang tuanya. Adit pun ikut turun di gandeng oleh istrinya memasuki tempat party itu di adakan, begitu masuk orang yang pertama menyambutnya adalah Roy.


"Anda tidak apa-apa Bos" tanya Roy khawatir.


"Apa kau juga ikut konspirasi disini" ucap Roy dengan tatapan tajamnya membuat Roy bergidik ngeri.


"Sayang jangan marah padanya, aku yang memaksanya" cengir Kiran.


"Kau ini" omel nya


"Maaf.. " ucap Kiran memasang wajah imutnya.


"Selamat ulang tahun tahun sayang" ucap Mama beserta Papanya menghampiri.


"Makasih Ma..Pa"jawab Adit memeluk kedua orang tua nya bergantian.


" Udah tambah dewasa gak boleh ngambek an" goda Papanya terkekeh.Adit merengut mendengar sindiran Papanya.


"Selamat malam .. tolong ampuni saya Tuan Muda, dia yang sudah melibatkan saya" mohon Biru pada Adit sambil menuding ke arah Kiran.


"Maafkan aku" rengek Kiran lagi


"Apa aku mengenalmu sebelumnya? " tanya Adit menatap Biru tajam.

__ADS_1


"Saya adalah salah satu karyawan di perusahaan anak cabang anda" lirih Biru takut.


"Cabang Mana? " tanya Adit penasaran.


"Cabang yang ada di Bali Bos" sahut Roy


"Apa.. " mata Adit menyorot tajam pada Roy


"Apa kau yang sudah merencanakannya Roy. "


"Tidak Bos, saya tidak tau menahu tentang masalah ini. "elak Roy


" Lalu bagaimana kau bisa mengenal istriku? tanya Adit kemudian.


" Dia temanku Pak" jawab Meta singkat.


"Jadi kalian bekerja sama untuk mengerjai ku begitu? ".. Bagus, dan kalian sukses" omel Adit.


"Sayang sudahlah, ayo maju ke depan" rayu Kiran menarik tangan Adit.


Malam itu pesta berjalan dengan meriah dan dihadiri oleh teman dan karyawan Adit, pesta itu berjalan sampai tengah malam hingga mereka semua kembali ke peristirahatan masing-masing.


"Ehm.. Sayang apa kau ingin bebersih dulu? " tanya Kiran dan Adit pun mengangguk. Setelah Adit masuk ia segera menelpon Roy.


"Ya Nona " jawab Roy dari sebrang.


"Setelah ini kita jalanin rencana kita, kamu siap kan Roy? "


"Siap Nona"

__ADS_1


Setelah Kiran menutup telponnya Adit keluar hanya menggunakan handuk sebatas pinggang saja, rambutnya yang masih meneteskan butir-butir air terlihat **** dimata Kiran dan lagi wajahnya yang masih cemberut membuat Kiran semakin terpesona dan tidak bisa jauh darinya, Kiran Mendekat.


"Hpppp" ia memeluk suaminya dari belakang dengan lembut.


"I love you, jangan pernah tinggalkan aku ya.. berjanjilah" bisik Kiran di balik punggung suaminya, sebelum Adit menjawabnya ponselnya sudah berdering lebih dahulu dan terlihat nama Roy disana, Kiran melepas pelukannya dan Adit pun meraih ponselnya dan berjalan menuju balkon kamarnya.


"Ya Roy"


"Bos, Tuan besar menunggu Anda dibawah"


"Ada apa? "


"Beliau ingin menyampaikan sesuatu sebelum pergi"


"Apa Papa akan kembali malam ini juga? "


"Benar Bos, ada pekerjaan yang harus diselesaikan. "


"Baiklah aku turun" ucap Adit lalu menutup ponselnya dan berjalan masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya.


"Ada apa? " tanya Kiran


"Aku kebawah dulu, Papa memanggilku" jawab Adit datar.


"Baiklah" jawab Kiran sambil melihat suaminya itu beranjak keluar dari kamarnya.


"Ya ampun wajahnya kalau lagi mode marah gitu bikin gemes aja, jadi pingin cium. " Kiran terkekeh geli lalu beranjak membersihkan diri.


"Malam ini aku bakalan manjain kamu dan malam ini akan menjadi malam yang terindah dan tidak terlupakan untukmu" senyum Kiran

__ADS_1


__ADS_2