
Sore itu setelah bebersih mereka berdua duduk diranjang dengan kesibukan masing-masing. Adit membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah tertunda dan Kiran tidur di pangkuannya sambil memainkan ponsel nya.
"Yang..udah selesai belum? " tanya Kiran.
"Sebentar lagi sayang, kamu tidur aja dulu nanti aku bangunin..kan malam ini kita mau ada acara" jawab Adit terus fokus ke laptopnya.
"Acara apa? " Dea membuka matanya yang sudah terpejam sambil mendongak.
"Makan malem aja sama rekan bisnis"
"Emang aku harus banget ikut ya? " tanyanya kemudian.
"Harus dong.. masak aku sendirian sih, nanti kalau ada yang deketin aku kamu ngamuk" goda Adit.
"Iya lah.. Laki-laki biasanya gitu diluar pinginnya kelihatan single" kesal Kiran cemberut.
"Ya Allah.. nggak sayang, buktinya cincin kawinnya tetap aku pakek" ujar Adit menunjukkan cincin kawinnya.
"Siapa tau di luaran kamu lepas"
"Ih pikirannya negatif melulu deh, kenapa sih..?
" Gak apa-apa jaga-jaga aja punya suami ganteng banyak pelakor bergentayangan" sindir nya asal.
"Asyikk.. diakuin kalau suaminya ganteng" Adit terkekeh.
"Ih nyebelin.. ya udah nanti aku ikut sekarang aku istirahat dulu ya.. " Dea mulai memejamkan matanya lagi.
"Iya sayangku.. kan tadi aku udah ngomong nanti aku bangunin dengan timpukan cinta dan kasih sayang" bucin Adit, melihat istrinya sudah mulai terpejam Adit melanjutkan pekerjaannya.
Adzan magrib berkumandang, Adit menutup laptopnya dan beranjak membangunkan istrinya.
"Yang bangun Yang.. udah magrib, kita siap-siap yuk" lirih Adit menepuk pipi istrinya tapi tidak ada pergerakan sama sekali hingga akhirnya Adit menggunakan cara jitu, ia mencium gemas pipi istrinya.
"Sayang.. ayo dong bangun" Adit mulai merusuh maksimal membuat Kiran terusik.
"Ih apa sih Yang.. rusuh deh" omel Kiran mengerjapkan matanya.
"Udah magrib, Siap-siap yuk" bisik Adit tepat di telinganya.
__ADS_1
"Masih ngantuk.. cepet banget dah magrib" keluh Kiran dengan suara serak bangun tidur.
"Ya udah aku bersiap dulu ya setelah itu kamu" pamit Adit dan Kiran pun mengangguk.
Setelah menyelesaikan ritualnya mereka ber siap-siap untuk pergi memenuhi undangan rekan bisnis Adit. Kiran memakai gaun malam berwarna hitam selutut dengan rambut dicemol keatas membuat penampilannya lebih segar dan menarik, ia memoles make up tipis-tipis dan liptint warna nude membuat penampilannya tampak anggun.
"Sayang.. gak usah dandan cantik-cantik nanti disana banyak pria mata keranjang yang akan melirikmu" sebal Adit.
"Biasa aja kok ini, kamunya aja yang terlalu posesif.. di hati aku sudah meluber nama kamu jadi gak mungkin dimasukin nama lain lagi" Dea merayu.
"Bener ya.. awas nanti kalau disana lirik sana sini"
"Enggak sayang.. aku milikmu" jawab Kiran.
"Baiklah,ayo kita berangkat sekarang" ajak Adit menggandeng tangan istrinya menaiki mobil.
"Sayang dimana acaranya? " tanya Kiran.
"Di sebuah hotel yang akan segera lounching sayang" jawab Adit menggenggam tangan istrinya dan sesekali menciumnya mesra. Tidak ada pembicaraan berarti sampai akhirnya mereka tiba di sebuah hotel bintang 5.
"Ayo sayang" ajak Adit membuka pintu mobil untuk istrinya, Adit menggandeng istrinya ke dalam mengenalkan dengan relasi bisnisnya.
"sama-sama Tuan, semoga acara ini berjalan dengan lancar.
" Aminn, sekali lagi terima kasih Tuan Adit silahkan dinikmati pestanya"pamit pria yang telah mengundang Adit.
"Ayo sayang kita gabung sama yang lain" ajak Adit sambil berjalan mendekati kumpulan temannya.
"Tuan Adit bagaimana kabar anda" ucap salah satu rekan Adit saat melihatnya.
"Baik Tuan Andre, pernalkan ini istri saya Kiran" jawab Adit sedari memperkenalkan istrinya.
"Selamat malam Nyonya Adit, anda sangat cantik" puji rekan Adit.
"Terima kasih" jawab Kiran terasa kikuk, mereka ngobrol beberapa saat hingga Kiran merasa ingin ke toilet.
"Sayang.. aku ke Toilet bentar ya" ijin Kiran pada suaminya.
"Baiklah, apa perlu ku antar? " Adit menawari.
__ADS_1
"Tidak usah, aku akan segera kembali" Kiran berjalan mencari keberadaan toilet saat ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
"Deg" Kiran berjalan mendekati orang tersebut untuk memastikan kalau firasatnya benar.
"Kak Dendra.. " panggilnya dari jauh membuat yang dipanggil dan semua orang yang ada di sekelilingnya melihat ke arah teriakan itu.
"Hai.. " sapa laki-laki tampan tersebut saat Kiran berlari kecil menghampiri dan memeluknya erat.
"Bagaimana kabarmu gadis" tanya Dendra sumringah.
"Aku baik.. sangat baik, aku merindukan kamu kemana saja kau selama ini" tanya Kiran berkaca-kaca terharu.
"Aku juga merindukanmu, bagaimana dengan cita-citamu itu apa sudah tercapai? " tanya Dendra setengah mencibir.
"Aku sudah melupakannya, berikan nomor ponselmu.. kemana saja kau selama ini? sudah lama kita berpisah dan kau tidak pernah menghubungiku.. kau sudah janji bukan kalau kau akan datang ke pernikahanku nantinya dan kau bohong" kesal Kiran masih dalam pelukan Dendra.
"Apa kau sudah menikah gadis? " Kiran mengangguk.
"Siapa pangeran yang bisa meluluhkan hatimu? " Dendra terkekeh membuat Kiran bertambah kesal. Mereka berdua bertukar nomor ponsel dan mengobrol karena saling rindu. Sedangkan Adit yang merasa Istrinya lama tidak kembali pun berjalan mencarinya hingga dia menemukannya bersama seorang pria yang begitu dikenalnya, Adit melihat mereka bercanda sangat akrab membuat hatinya memanas dan berjalan menghampiri.
"Kiran.. " panggil Adit penuh emosi.
"Sayang.. maafkan aku lama tidak kembali aku bertemu dengan.. " Kiran tidak melanjutkan kaya-katanya melihat wajah dingin suaminya, ia lupa kalau suaminya itu sangan pencemburu saking senangnya bertemu orang di masa lalunya.
"Kita pulang.. " ajak Adit menggandeng tangan istrinya dengan tatapan penuh emosi pada Dendra membuat pria itu sedikit bertanya-tanya pada dirinya apakah Aditya adalah suami dari dari gadis yang sangat di sayanginya layaknya Adik sendiri.
"Selamat malam Tuan Adit" sapanya.
"Adit tidak merespon dan menarik tangan istrinya keluar dari hotel berbintang tersebut dengan penuh amarah, ia menuju parkiran mobil tanpa kata melajukan mobilnya dengan kencang dan tatapan tajam.
" Mampus .. doi marah lagi, apa yang harus aku lakukan" batin Dea melirik suaminya.
"Brengsek" Berkali-kali Adit memukul setir dengan mata merah menahan kemarahannya membuat Kiran terlonjak kaget.
"Sayang.. aku bisa jelaskan" lirih Kiran takut melihat suaminya. Adit menyorotnya tajam sedikit menahan air mata kekecewaannya pada istrinya tanpa menjawab Adit melajukan mobilnya dengan kencang sampai dirumah. tanpa kata ia keluar dari mobil meninggalkan istrinya, Kiran berlari mengejarnya tapi Adit tidak menghiraukan nya, ia terus berjalan menuju kamar dan membersihkan dirinya.
"Sayang.. tolong dengarkan aku" Kiran mengetuk pintu kamar mandi dan Adit keluar dengan tatapan dinginnya, berjalan ke ruang ganti dan keluar dengan rapi mengambil jaket dan pergi tanpa menghiraukan tangisan istrinya.
"Sayang.. " Kiran mengejar suaminya ke bawah.
__ADS_1