Janda Kembang

Janda Kembang
Jatuh ke dasar tebing


__ADS_3

Selesai dengan mengacak-ngacak para pesuruh Papa Rustam, Rani yang dikejar lari sambil tertawa, hingga kakinya tersangkut akar pohon dan..


Brruaaak..


''Aduhhhh... sssttt... akar Sialan!!'' seru Rani dengan mengumpat kasar.


Reza terkejut mendengar ucapan Rani. Ia tertawa karena Rani selama ini yang Reza kenal sebagai gadis lemah lembut dalam berkata, kini ia mengumpat Karena kakinya tersangkut akar pohon.


''Haha... kamu ini. Ayo bangun! Kok bisa kotor gitu sih itu mulut? hem?''


''Diam Abang! ishh... apa sih? Siapa coba yang pelihara pohon Segede gaban? Aduhh.. sssttt..'' keluh Rani dengan sedikit merintih kesakitan.


''Hahaha kamu bisa saja sih Dek! Udah ayo-,'' ucapan Reza terpotong karena suara suruhan Papa Reza sudah tiba di belakang mereka.


''Kejar mereka!! Buru sampai dapat! Jika dapat habisi sekalian! Dasar wanita sialaaaannn!! Gara-gara dia mataku hampir buta di buatnya! Awas kau sialaaaannn akan ku buru kau Sampai MATI!!!!''


Deg!


Deg!


Reza dan Rani saling pandang, secepat kilat Reza menarik tangan Rani untuk berlari. Mereka menghindari para pesuruh Papa Rustam itu.


Rani sempat berhenti untuk menarik nafasnya, namun cuma sebentar. Dari kejauhan dua ekor anj*ng sedang mengejar mereka.


Suara gonggongan anj*Ng sahut menyahut menyoraki Rani dan Reza. Sengaja untuk memberi petunjuk dimana keberadaan mereka.


Rani yang memakai gamis sehingga sangat kesusahan saat berlari. Ia menyentak tangan Reza yang sedang memegang tangannya.


Secepat kilat Rani membuka gamisnya dan membuangnya asal. Reza yang melihatnya terperangah.


''Dek!'' seru Reza.


Namun Rani tak peduli, ia sibuk mengeluarkan senjatanya untuk membidik musuh yang sedang berlari ke arahnya.


Dor!


''Aaarrgghhtt..''


Dor!


''Arrghhhtt..''


Suara pekikan itu sahut menyahut di telinga Reza. Ia terpaku di tempat. Ia menatap bengong pada Rani.


''Dek?''


''Ayo! Buruan! Paman Ali sudah menunggu kita di ujung jalan sana!'' serunya dengan berlari.

__ADS_1


Tangannya erat memegangi tangan Reza. Reza yang ditarik pasrah sekarang ini. Ia masih shock dengan apa yang baru saja di lihatnya.


''Rani? Memegang pist*l? Sejak kapan?'' gumam Reza sambil terus berlari.


Tiba di ujung jalan, terlihat seperti sinar lampu kelap kelip menyoroti mereka yang sedang berlari.


Rani semakin cepat berlari hingga tanpa sadar, kakinya terpeleset hingga jatuh ke tepi tebing yang ada di pinggir jalan itu.


''Aaarrgghhtt... '' pekik Rani.


Sementara Reza yang di pegangi oleh Rani, juga ikut tertarik jatuh ke dalam tebing yang curam itu.


Mereka berdua jatuh berguling-guling mengikuti curamnya tebing. Reza dengan cepat memeluk Rani untuk melindungi Wanita nya dari segala sesuatu yang akan menimpa mereka nantinya.


Hingga di dasar tebing tubuh mereka berdua berhenti berguling. Reza masih erat memeluk tubuh Rani sementara matanya terpejam.


Rani menarik nafasnya. Pertama kali merasakan di kejar musuh, jatuh hingga berguling ke dasar tebing bersama orang yang di cintai nya.


Sesaat pelukan itu serasa begitu nyaman dirasakan oleh Rani. Ia semakin erat memeluk tubuh itu.


Reza melindungi dirinya saat jatuh kedalam tebing tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Rani.


Rani mendongak kan kepalanya untuk melihat Reza. Ia pandang wajah itu yang ia terangi dengan cahaya ponsel.


''Bang? Bang Reza?'' panggil Rani.


''Abang! jangan buat Rani takut! Bangun Bang!'' seru Rani.


Dari atas sana terdengar suara lolongan anjing yang terus mengejar mereka. Mereka berhenti tepat dimana Reza dan Rani tadi terjatuh.


Rani mengguncang tubuh Reza dan mencoba untuk lepas dari belitan tangannya. Tapi tak ada respon dari Reza.


Rani semakin panik. Hanya dengan cahaya ponsel miliknya, ia berusaha mencari apakah ada yang terluka pikir nya.


Ia meraba-raba seluruh tubuh Reza. Tidak ada apapun. Tapi saat ia meraba kepala nya, darah terlihat disana.


''Astaghfirullah! Abang! Bangun! Bangun Bang! Jangan buat Rani takut, Abang!'' sentak Rani.


Sama seperti tadi. Reza tetap terdiam. Ia begitu damai dalam tidurnya. Rani panik tidak tau harus berbuat apa.


Ia menangis. Wajahnya basah dengan air mata. Walaupun diserang panik, namun akal sehatnya masih berfungsi.


Dengan cepat ia mendial nomor paman Ali. Namun tidak terhubung. Karena tidak ada sinyal.


Rani menggerutu sebal. Ia mencoba menyadarkan Reza dengan caranya. Ia berbisik lirih di telinga Reza berulang kali, berharap Reza bangun.


Tapi tak kunjung bangun. Rani semakin panik. Ia tak tau harus berbuat apapun. Ia melepas pelukan dari tubuh Reza.

__ADS_1


Tapi tak juga berhasil. Rani menangis lirih. ''Bangun Bang.. hiks.. jangan buat Rani takut. Jangan tinggalin Rani, Abang! Rani sayang dan cinta sama Abang. Bangun.. bangun Bang.. hiks.. jangan buat Rani takut... jangan tinggalin Rani.. Rani tak bisa hidup tanpa Abang.. selama ini Rani bertahan karena memikirkan Abang agar terbebas dari pria tua bangkotan itu! Bangun Bang... hiks.. bangun..''


Samar sekali terdengar di telinga Reza seperti suara Rani yang menangis. Ia mencoba menguat kan raganya untuk bisa melihat Rani.


''Ehemmm.. sa-sayang.. sssstttt.. sakit sekali... pusing..'' lirih Reza ia mencoba membuka kedua matanya, namun tidak bisa.


Rani mendongak melihat wajah Reza. Sementara tubuhnya masih dalam pelukan Reza.


''Abang udah bangun? Mana yang sakit? sini, biar Rani obatin, hiks.''


''Kepalaku.. sssstt...''


''Sebentar! Abang lepas dulu belitan tangan Abang. Biar Rani bisa ngobatin luka Abang, hiks.'' ucap Rani masih dengan terisak.


''Ya,'' jawab Reza. Belitan tangan itu terlepas. Dengan segera Rani membuka baju kemeja biru miliknya.


Ia koyak kain itu hingga menjadi dua bagian. Sementara tubuh Rani polos tanpa baju. Hanya tertutup hijab panjang saja.


Rani membelitkan kain itu di kepala Reza setelah membawa Reza untuk duduk berhadapan dengan nya.


Saat tadi bangun, Reza merasakan kulit tangan Rani tanpa penghalang. Ia menatap Rani masih dengan sesekali sesegukan.


''Kamu nggak pakai baju Dek? Jangan bilang, baju kamu untuk nutupin luka Abang?'' tebak Reza.


Rani memilih diam. Ia tidak mau menyahuti pertanyaan Reza saat ini. Yang penting saat ini, mereka berdua bisa keluar dari hutan itu.


Hutan rimbun di balik gudang tua milik perkebunan Rani. Bukan hutan sih sebenarnya.


Namun ladang palawija. Yang sengaja di tanam di tepi tebing curam itu. Melihat Rani diam, Reza dengan segera menyentuh tangan Rani.


Dingin. Benar tebakan nya, jika Rani membuka baju untuk menahan darah yang terus keluar dari kepalanya.


''Tubuhmu dingin. Pakai baju Abang.'' titah Reza.


Dengan segera ia membuka baju kemeja miliknya dan ia berikan kepada Rani. Namun belum sempat Rani memakainya, terdengar suara lolongan anj*ng semakin mendekat.


''Bangun Bang! Kita lari. Ayo!''


''Itu mereka!''


Dor!


''Arrghhhtt **.. Raniiii...''


Deg!


💕

__ADS_1


__ADS_2