Janda Kembang

Janda Kembang
Makam ayah Alam


__ADS_3

Cup.


''Eh? Abang! Ishhh.. suka amat sih curi kesempatan?!'' gerutu Rani saat Reza mengecup kening nya.


Rani menghapus jejak ciuman Reza dengan terus menggerutu kesal. Reza tertawa melihat nya.


Rani mencebik. ''Giliran cium aja, sosor sosoran!'' gerutu nya masih dengan berjalan masuk kerumah besar itu.


''Haha... kamu jangan marah dong.. habisnya kamu jutek amat sama Abang pagi ini! Tadinya aja lembut, manis, cakep kayak kue bolu karena ada maunya! giliran udah nggak ada mau nya, beuuhh kamu nya jutek lagi.'' celutuk Reza membuat Rani berhenti melangkah.


Ia menatap Reza dengan tatapan sendu. Reza terkejut melihat nya. ''Sayang...''


''Abang nggak pernah tau apa yang ada didalam hatiku saat ini. Seandainya Abang pun tau, Abang tak akan bisa mengobati nya.'' ucap Rani membuat Reza terdiam dari kekehan nya.


''Apa yang membuat mu menjadi sedih seperti ini?? Katakan! Abang bukan cenayang yang tau apa isi hatimu sayang..'' lirih Reza sembari mendekati Rani.


Rani menatap Reza. ''Aku ingin ke makam Ayah Alam! Apakah Abang bisa mengantar ku kesana?? Waktuku hanya sebentar disini...'' lirih Rani membuat Reza mengernyitkan dahinya.


''Sebentar?? Maksud nya??''


Rani menggeleng. ''Aku ingin cepat pulang, karena disini bukanlah rumah ku. Ini rumah mu dan juga Ibu. Aku tak punya rumah, jadi aku akan pergi setelah urusan ku selesai disini.'' imbuhnya, membuat Reza menatap nya dengan datar.


''Baik, jika itu yang menjadi keputusan mu! Abang akan mengikuti nya. Bersiaplah, kita akan segera ke makam Ayah Alam.'' sahut Reza, setelah nya ia berlalu dan meninggalkan Rani yang mematung mendengar ucapan nya.


Setelah sadar, Rani menghela nafas panjang. ''Maafkan Aku bang.. aku terpaksa.. aku sangat ingin bisa bersama mu.. tapi ada satu hal yang harus aku lakukan sebelum aku bisa menikah dengan mu..'' lirihnya dengan wajah sendu.


Seseorang dibalik pilar tercenung mendengar ucapan Rani baru saja.


''Ada apa? Kenapa aku merasa jika Rani sedang mencoba menghindar dari Reza??'' gumam orang itu, masih dengan menatap Rani.


Setelah dirasa tenang, Rani masuk kekamar nya dan ia mulai mengganti seluruh pakaian nya.


Rani akan pergi ke makam Ayah Alam. Berziarah untuk pertama kalinya. Sedangkan Reza sedang menatap sebuah kotak yang berisikan surat-surat penting yang ditujukan untuk dirinya dan Rani.


Kotak.


Ya, kotak yang dulu mereka pernah bicara kan kini sudah ada ditangan Reza. Ia menatap datar pada kotak itu.

__ADS_1


''Apakah sekarang waktunya untukku memberitahu kan nya? Aku takut, ketika ia tau, jika akulah orang yang dititah untuk menjadi suaminya dan juga mengurus harta Ayah Alam, akankah Rani akan tetap sama seperti sekarang ini??'' gumam Reza masih dengan menatap kotak itu dengan raut wajah datar.


''Sebaiknya aku harus menunjukkan ini padanya. Terserah apa maunya, setelah membaca surat ini.'' imbuhnya masih dengan menatap kotak yang Reza ambil dari kamar mama nya saat itu.


Mungkin saat ini, kedua orang tua kandung nya sedang marah-marah karena mengetahui jika kotak itu menghilang dari dalam lemari nya.


''Hanya ini harapan ku satu-satunya agar bisa mempertahankan Rani. Karena hanya Rani yang aku mau. Aku ingin memegang amanah Ayah Alam tentang Rani.'' gumam nya lagi.


''Aden...''


''Eh? Pak Rahmat! Sudah siap??''


''Sudah Den.. Neng Rani pun sudah menunggu kita diluar.''


''Oke, ayo kita berangkat.''


Pak Rahmat mengangguk kan kepalanya. Setelah nya mereka berjalan ke depan dimana Rani sudah menunggu mereka dengan sesekali mencomot kue buatan Bu Ani.


Reza melihat sekilas, kemudian ia berlalu masuk duluan ke dalam mobil dan ikuti Rani masuk di bagian depan mobil.


Reza yang melihat itu, menghela nafas panjang. Setelah nya ia menatap datar keluar jendela, begitu juga dengan Rani.


Pak Rahmat menghela nafasnya. 'Kalian berdua seperti tikus dan kucing. Saat salah satu pergi, yang lain kehilangan. Begitu pun sebaliknya. Aku tak tau apa yang sebenarnya kalian inginkan.' gumam pak Rahmat dalam hati.


Sesekali ia menatap Reza yang wajahnya masih datar melihat keluar jendela. Begitu juga dengan Rani.


Raut wajah itu begitu sayu dan sendu. Rani memejamkan kedua matanya saat hatinya terasa tidak menentu.


Butuh waktu sekitar 37 menit untuk sampai di mesjid raya Medan. Saat tiba disana, Rani tercenung melihatnya.


Rani berpikir, kenapa pula Reza membawanya kesana. Apakah makam Ayah Alam ada disana? Sedangkan itu adalah mesjid. Pikir Rani.


Setelah turun, Reza berjalan menuju penjaga mesjid. Mereka berbicara sebentar, setelah nya Reza mengikuti orang itu yang menuju ke sebelah kiri mesjid raya Medan.



( Foto ini saat othor sedang pergi ke mesjid raya Medan. Mesjid raya Al- Mashun.)

__ADS_1


Mereka berjalan sebentar saja, ke arah kiri mesjid Raya Medan. Setibanya disana, terlihat banyak sekali makam-makam yang berbaris dengan rapi sesuai dengan urutan nya.


Rani berwudhu dulu sebelum memasuki makam Ayah Alam. Reza pun sama. Pak Rahmat menunggu mereka diluar makam.


Saat masuk ke dalam makam, hati Rani bergetar saat melihat sebuah nama yang sama dengan Ayah Alam.


Muhammad Alamsyah bin Mahmud Baharuddin Syah.


Mata Rani mengembun melihat makam yang selama ini di datangi nya di tempat asalnya, yaitu di Bogor.


Setibanya disana, terlihat Reza begitu khusyuk membaca doa dan mulai berbicara.


''Assalamualaikum Ayah.. Abang datang bawa adek kemari.. ia sangat ingin bertemu dengan ayah. Maaf, jika selama ini Abang sengaja menyembunyikan makam Ayah dari semua orang, termasuk adek.. jika bukan keinginan Ayah, Abang tidak ingin melakukan nya..'' lirih Reza dengan sesekali mengusap nisan bertuliskan nama Ayah Alam.


Mata Rani buram melihat makam Ayah Alam. Ternyata makam ayah Alam memang benar ada di Medan.


Lalu, makam siapa yang selalu Rani kunjungi pada setiap hari Jum'at?? Rani terisak memikirkan itu.


Bibirnya bergetar menahan tangis. Reza menoleh, mendapati Rani yang sudah terisak di belakang nya.


Reza memegang tangan Rani dan membawa nya ke hadapan makam Ayah Alam. Rani semakin menangis, bahunya berguncang.


Reza mengusap nya dengan sayang. Tak tahan, Rani memeluk Reza dengan erat. Reza membalas pelukan itu tak kalah erat.


''Sabar sayang.. jangan menangis.. doakan Ayah, agar Ayah tenang disana. Ayo, berdoalah! Kamu bawa Yasin kan??'' tanya Reza sembari mengusap bahu Rani dengan sayang.


Rani mengangguk kan kepalanya. Setelah dirasa tenang, Rani mulai membaca kan Yasin untuk Ayah Alam tepat di pusara nya.


Semakin jauh Rani membaca Yasin, semakin rapuhlah Rani. Ia semakin menangis. Reza masih setia menunggui nya.


Walau sesekali, air bening itu mengalir di pipi mulusnya.


💕


Like dan komen ya?? 😁😁


TBC

__ADS_1


__ADS_2