Janda Kembang

Janda Kembang
Bab 152


__ADS_3

Zakia tertidur pulas setelah mendapat suntikan dari dokter. Jika ditanya kenapa, dirinya terpeleset. Zakia tak mendengar ketika art menyuruhnya diam dan jangan memasuki area dapur, Karena ada tumpahan minyak. Alhasil Zakia yang berniat mengambil minuman dingin itu terpeleset. Zakia langsung dilarikan ke rumah sakit oleh para art. Bahkan mereka baru menelfon majikannya setelah sampai di rumah sakit. Karena memang saat itu semuanya sedang beraktivitas diluar rumah.


"Harusnya Ibu gak ninggalin Kia sendirian di rumah" penyesalan Farida saat melihat wajah pucat menantunya.


"Kami tadi sudah memperingatkan Non Kia untuk tidak ke dapur, Bu. Karena belum dibersihkan. Saya masih ambil alat pel, mungkin Nona tidak mendengar saat saya kembali. Nona sudah jatuh dan meringis kesakitan" tunduk salah satu art yang menjelaskan kejadiannya.


"Saya tidak menyalahkan kalian, ini sudah takdir. Kalian sudah menjaga Nona kalian dengan cukup baik" Jawab Al Fatih. Dia mengapresiasi ketanggapan para art dirumahnya yang langsung melarikan Zakia ke rumah sakit. Karena menantunya itu sempat mengalami pendarahan.


"Sekali lagi maaf, kedepannya kita akan lebih berhati-hati lagi"


"Sudah-sudah, kalian boleh kembali ke rumah dan beristirahat" mereka hanya mengangguk dan berpamitan untuk kembali ke kediaman Al Fatih


Keluarga besar yang tengah melakukan aktivitas masing-masing itu seketika berkumpul di ruang rawat Zakia. Hanya Zidan yang masih dalam perjalanan, Zidan langsung meninggalkan rapat begitu saja saat mendapatkan kabar jika sang istri dilarikan ke rumah sakit.


Begitu juga dengan Zalia yang langsung menyusul sang putri ke rumah sakit, Riski sang ayah tiri juga langsung meninggalkan kantor saat mendengar Zakia terjatuh.


"Assalamualaikum" Zalia tampak terengah-engah saat memasuki ruang rawat Zakia.


"Waalaikumsalam"


"Gimana keadaan Kia, Mbak? "


"Alhamdulillah Zakia hanya shock saja, tidak terjadi hal serius pada bayinya" Zalia menghembuskan nafas lega saat mendengar keadaan putrinya.


Menatap Wajah yang sedikit tirus itu tengah terlelap dengan damai. Berat badan Zakia sempat turun secara drastis karena kondisinya yang sering drop. Zakia kehilangan pipi chubby nya hanya dalam hitungan minggu.


"Gimana ceritanya Zakia sampai jatuh, Mbak? " Zalia bertanya setelah menetralkan nafasnya.


Farida menjelaskan apa yang dikatakan art-nya tadi, Zalia hanya merespon dengan anggukan. Tak menampik, Zakia memang cukup ceroboh akan keselamatan dirinya. Berulang kali Zakia nyaris celaka karena terlalu ceroboh.


"Zidan sudah tau? "


"Zidan masih dalam perjalanan" Farida hanya menjawab seadanya, dirinya masih kaget ketika menantunya ini kembali masuk rumah sakit.


Sejak kehamilannya, Zakia sering keluar masuk rumah sakit karena kondisinya. Namun yang Farida acungi jempol adalah semangat Zakia untuk sehat demi buah hatinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Zidan hanya menyalami tangan kedua orang tua dan mertuanya tanpa mengatakan apapun. Selanjutnya, Zidan langsung melangkahkan kakinya menuju sang istri yang tengah terbaring. Menatap wajah pucat yang terlelap dengan damai itu. Zidan menghela napas berkali-kali, ujian rumah tangganya ada saat sang istri hamil. Kesehatan sang istri yang benar-benar diuji, berkali-kali dirawat membuat Zidan harus ekstra memperhatikan kesehatan Zakia yang sedang hamil.


Zidan beruntung karena Zakia tak pernah mengeluh akan kondisinya yang tak sama dengan kedua kakaknya ketika hamil. Zidan sering kali merasa bersalah melihat kondisi tubuh Zakia yang agak kurus sekarang. Namun, Zakia hanya menghibur dirinya dengan mengatakan jika nutrisinya diambil penuh oleh anaknya.


"Zidan? " Zidan hanya menoleh ke arah pintu. "Ikut ke ruangan gue sebentar"


"Zidan titip Kia dulu" tanpa banyak bicara Zidan langsung meninggalkan ruangan sang istri.


Berjalan beriringan dan tanpa suara. Xavier memanggilnya, Zidan hanya berharap tidak ada kabar buruk yang akan dirinya dengar.


"Mom" Xavier memanggil wanita oaruh baya yang duduk di ruangannya itu.


"Langsung saja Zidan, duduk dulu. Mom tidak punya banyak waktu" Zidan hanya mengangguk dan menuruti keinginan ibu dari sahabatnya itu.


"Ini soal Zakia" Zidan hanya mengangguk ketika Xavier memulai pembicaraan mereka.


Hening...


Zidan menghela napas berat, berat sekali. Zidan memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya pada sofa yang dirinya duduki.


"Kondisi Zakia tidak baik-baik saja. Kita harus mengambil tindakan secepatnya, Mom hanya menunggu kamu untuk melakukan tindakan"


"Haruskah Mom? "


"Lo belum tahu kondisi terkini Zakia? "


"Gue baru datang"


"Keputusan ada ditangan kamu, Zidan. Mom tak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Ruang operasi sudah siap, Mom hanya butuh tanda tangan kamu untuk tindakan selanjutnya"


"Zakia sedang hamil, Mom. Sakit apa sebenarnya istriku, bukankah selama ini sakitnya hanya karena dirinya hamil yang memiliki hormon naik turun? "

__ADS_1


"Zakia harus operasi, ini efek dia terpeleset tadi. Kita hanya mengatakan bahwa Zakia baik-baik saja pada keluarga mu, karena Mom tau mereka akan shock. Mom menunggu persetujuan kamu, Zidan"


Xavier terpengarah melihat sudat mata Zidan basah. Sekelas Zidan Al Fatih menangis. Menangisi wanita mungil yang kini terbaring lemah diranjang pesakitan.


"Kandungan Zakia belum genap sembilan bulan Mom, bahkan lusa baru memasuki usia 7 bulan"


"Kita tak punya pilihan lain Zidan"


"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak ku, Mom" jawab Zidan setelah terdiam cukup lama.


Ibu dari sahabatnya itu langsung meninggalkan ruangan setelah Zidan menandatangani berkas yang disodorkan oleh Xavier.


"Gue balik" Xavier hanya mengangguk saat Zidan berpamitan. Zidan tampak kosong saat ini.


Zidan tak banyak bicara saat memasuki ruangan, langsung menuju bed dimana istrinya terbaring. Alih-alih duduk di kursi yang disediakan, Zidan malah naik dan duduk ditepian kasur. Menggenggam tangan mungil yang terbebas dari selang infus itu.


"Kuat ya sayang, aegi juga kuat ya nak. Papa sayang kalian" Zidan mengelus perut buncit sang istri dan menciumnya.


Kedua orang tuanya dan mertuanya hanya menatap Zidan dengan bingung. Tingkah laku Zidan yang tak setenang biasanya juga menjadi alasan mereka untuk menebak ada yang tidak beres.


"Dan, Kia... " Zalia belum menyelesaikan kalimatnya, namun pintu kembali terbuka.


"Dan" Zidan hanya mengangguk ketika Xavier datang.


"Pastikan anak dan istri gue selamat, Vier"


"Mom pasti akan berusaha yang terbaik untuk anak perempuannya" Zidan hanya mengangguk.


Zidan mengikuti langkah kaki Xavier yang mendorong bed Zakia bersama beberapa suster. Bahkan Zidan tak menjelaskan apapun kepada orang tuanya yang tengah kebingungan.


Setelah memastikan Zakia memasuki ruang operasi, Zidan langsung berbalik dan melangkahkan kakinya kembali.


"Dan? " tampaknya kedua orangtuanya mengikuti langkahnya tadi.


"Zidan mau ke musholla dulu. Ibu sama Ayah bisa kembali dulu, nanti Zidan hubungi jika operasi Zakia selesai. Mama juga bisa istirahat, biar Zidan yang menjaga Zakia. Zidan hanya sebentar di mushola"

__ADS_1


"Tidak, kita akan tetap disini menunggu Zakia" tak banyak bicara, para orang tua langsung duduk begitu saja. Mereka juga tau jika Zidan masih shock sama seperti mereka.


__ADS_2