
"Jadi? " Tanya Al Fatih pada anak dan menantunya.
Kini mereka berkumpul di kediaman Lawrence untuk membahas tentang resepsi Zakia dan Zidan.
"Kakak bisa bantu buat gaun kamu Kia" Alesha langsung menyuarakan idenya.
"Kalau untuk resepsi mungkin kita cuma butuh satu gaun kan? " Tanya Zakia, lebih tepatnya meminta kepastian pada keluarga nya.
"Iya acaranya hanya satu, karena kalian sudah menikah. Dan berkas dari KUA sudah kan? Kalian udah dapat buku nikah kan? " Tanya Arya.
Arya dan Nita juga diikutkan dalam diskusi kali ini. Mengingat keduanya juga orang tua Zakia saat ini.
"Sudah Yah, setelah acara Kak Al buku nikahnya dikirim ke rumah Mas Zidan" Jawab Zakia.
"Jadi masalah gaun gimana? "
"Kalau gaun untuk resepsi sudah ada. Nanti Kia hubungi Gabby biar dikirim atau dia sendiri yang bawa ke sini" Jawab Zakia.
"Gabby yang siapin atau gimana, nak? " Zalia memastikan lagi, jujur dirinya tak enak hati jika harus melibatkan keluarga lain.
"Bukan Ma, ini Kia iseng-iseng minta bikinin sama salah satu temen kita di sana soal konsep dan lainnya pas kemarin Kia kembali buat souvenir pernikahan Kak Al"
"Jadi masalah gaun ini sudah kelar ya? " Tanya Alesha.
"Gaun aman, tinggal baju yang dipakai Mas Zidan. Nanti Kia telfon ke Gabby, bisa dibuat disana atau kita buat disini, nanti Kia tanya bahannya sekalian padu padan warnanya. Jadi Kak Al bisa bantu jahit aja kan? "
"Oke, gampang kalau masalah itu" Jawab Alesha.
"Ini acaranya mepet, emang bisa Kia? " Tania sendiri pesimis akan suksesnya acara Zakia. Mana mungkin membuat perhelatan besar dalam waktu 2 minggu.
Mungkin bukan hal sulit jika semua melibatkan uang. Namun Tania hafal betul bagaimana tingkah adiknya ini. Dia akan menggunakan konsep luar biasa bikin sakit kepala. Untung saja Zakia memiliki teman WO yang satu server dengannya. Bahkan pihak WO sendiri memang sudah menunggu untuk acara ini.
Yang membuat yang lain khawatir lagi adalah bagaimana mereka akan menghalau banyaknya wartawan nanti. Secara ini adalah acara bersatunya empat keluarga besar. Al Fatih, Wijaya, Lawrence, dan Sanjaya. Bahkan ayah tiri Zakia itu tak sungkan mengakui Zakia adalah putrinya, penerus keluarga Sanjaya selanjutnya. Mungkin akan menjadi beban berat bagi Zakia setelah ini.
"Bisa kok Mbak, masalah gedung dan lainnya sudah ya. Tinggal konsep aja, nanti Kia bahas ulang ya eonni. Sementara pakai yang pernah Kia sampaikan waktu itu" Kebetulan teman WO Zakia ada disana.
"Oke itu gampang, kalau ada perubahan atau apapun tinggal kabari aja" Balasnya pada Zakia.
Mereka hanya bisa menghirup napas dingin, rupanya Zakia sudah merencanakan acaranya dari jauh-jauh hari. Apa Zidan juga mengetahui ini, karena sejak tadi Zidan hanya diam tanpa merespon apapun.
"Dan? " Panggil Farida.
__ADS_1
"Zidan sudah tau, Bu. Semuanya sudah Kia diskusikan, Zidan memang mau mewujudkan wedding dream dia" Jawab Zidan dengan nada yang begitu tenang.
"Vendor venue aman. Sekarang souvenir" Ucap Riski.
"Aman Dad" Ucap Zakia lagi.
"Yakin? "
"Tanya Mas Zidan, bahkan sebelum pernikahan Kak Al, Mas Zidan udah buat" Jawab Zakia.
"Hah? " Semua orang tambah kaget dengan ulah Zidan.
"Emang kamu buat apa, Dan? " Tanya Farida berusaha menenangkan keterkejutan nya.
"Kalung, karya Zakia untuk pertama kalinya. Zidan produksi besar-besaran"
"Bukannya itu cuma kamu produksi 3? " Tanya Al Fatih, karena dirinya tahu. Hasil karya Zakia yang dilaunching kan pertama kali berupa kalung. Dirinya ingat, jika hanya ada 3 buah untuk seru tersebut, bahkan salah satunya di pakai oleh kakak ipar Zidan.
"Kan publik taunya segitu, tapi dibalik layar Zidan produksi banyak Yah" Jawab Zidan.
"Kayaknya si Zidan udah ngincer adek gue dari lama deh" Celetukan tak biasa Tania lontarkan.
"Iya, buktinya dia udah persiapan segalanya dari beberapa tahun sebelumnya" Tambah Alesha.
"Seberapa banyak kamu buat? " Tanya Al Fatih seperti sedang menginterogasi lawannya.
"5000. Undangan kita batasi 5000 aja. 4 keluarga masing-masing dapat kuota undangan 1000. Sisanya temen-temen Zidan sama Kia" Jawaban Zidan membuat mereka menarik nafas dingin.
Cukup acara Alesha yang membuat publik geger dengan souvenir nya. Mereka berekspektasi untuk acara Zakia hanya geger dengan bersatunya empat keluarga besar. Namun tampaknya kini mereka harus menyiapkan mental tambahan dari serangan wartawan.
"Kalian berdua ini sengaja bikin kita jantungan bersamaan atau gimana sih" Nita memijit kepalanya pelan.
"Mental kita beneran kalian uji" Zalia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Bukan masalah biayanya, mereka yakin tanpa bantuan dana dari para orang tua keduanya mampu mewujudkan resepsi mewah mereka. Mereka hanya membayangkan selelah apa nanti. Acara Alesha dan Tania saja sudah cukup menguras tenaga, apalagi acara Zakia nanti.
Berbeda dengan pikiran para wanita. Para lelaki sibuk memikirkan bagaimana menghadapi para rekan bisnisnya nanti. Perusahaan mereka akan diserbu puluhan atau bahkan ratusan proposal kerja sama nantinya. Itu adalah beban baru untuk para kepala keluarga.
"HP kamu dimana sayang? " Zidan langsung menatap Zakia yang duduk diapit oleh kedua kakaknya.
"Di kamar, kenapa? "
__ADS_1
"Gabby nelfon kamu gak diangkat katanya"
"Ngechat Mas kah? " Zidan hanya mengangguk. "Apa katanya, Kia juga sudah kabari kalau bakal adain resepsi di sini"
"Gaun punya kamu mau di rombak ulang, tapi dia minta berlian buat hiasan di gaunnya" Jawab Zidan sambil mencebikkan bibirnya.
"Emang Kia punya? " Tanya Zakia entah pada siapa.
"Ada sayang, yang warna lavender sama putih. Di brankas Mas, terus yang kamu buat juga itu. Buat di mahkotanya, Mas sudah hubungi tim kamu buat rancang mahkota kamu. Desainnya Mas yang buat"
"Kayaknya itu baby pink deh, Mas"
"Yang kamu simpen di brankas kamu emang warna itu. Yang di brankas Mas warna lavender sama putih. Satu kotak kalau gak salah"
"Terus gimana cara Gabby buat ambil? "
"Nanti Mas suruh asisten Mas yang ambil" Jawab Zidan enteng.
Mahkota dan gaun bertabur berlian, mereka tak berani membayangkan se mewah apa pernikahan Zakia dan Zidan ini.
"Temanya apa Kia? " Tania tampaknya benar-benar melupakan jika sang adik adalah fangirl garis keras.
"Purple world" Jawab Zakia santai.
Mereka hanya mengiyakan, cukup shock therapy yang Zakia dan Zidan berikan sejak tadi. Mereka masih belum bangun dari rasa terkejut saat ini. Bisa dibayangkan se shock apa para saudaranya nanti.
"Mas besok sibuk gak? " Tanya Zakia saat Zidan tampak sibuk dengan ponselnya.
"Mau kemana sayang? " Zakia yang panggil sayang, mereka yang blushing. Selembut itu Zidan pada istrinya.
"Ke panti, Kia lama gak kesana" Jawabnya dengan sedikit cemberut.
"Besok Mas antar, mau belanja lagi? " Tanya Zidan menatap sang istri.
"Mbak kemarin dari sana Kia" Ucap Tania, memang Tania cukup rutin berkunjung ke panti tempat Zakia dibesarkan dulu. Bahkan dia dan Alesha memiliki jadwal rutin untuk berkunjung.
"Mereka gak kekurangan apa-apa kan, Mbak? " Zakia tampaknya memiliki kekhawatiran.
"Gimana mereka bisa kekurangan jika hasil restorasi sepenuhnya kamu alirkan ke panti. Omset restoran kamu bukan perkara lima atau sepuluh juta Kia. Restoran kamu bisa nyentuh omset ratusan juta per bulan. Mereka gak kekurangan apapun" Jawab Tania begitu menggebu-gebu.
"Syukur deh kalau mereka gak kekurangan apapun. Jadi Kia bisa bawa cemilan aja kali ya kesana. Anak-anak panti di undang kan Mas? "
__ADS_1
"Iya sayang"