
Setelah selesai berputar-putar didalam pusat perbelanjaan super besar itu. Kini keduanya memilih beristirahat sejenak di restoran yang ada didalam mall tersebut.
Mereka berdua sudah ditunggu oleh para sahabatnya. Karena Zidan meminta bertemu di jam makan siang, membuat mereka menyetujui ajakan Zidan. Karena memang cukup lama mereka tidak bertemu.
"Assalamualaikum" Sapa Zakia dan Zidan bersamaan saat memasuki ruangan.
Mereka memang sengaja memesan ruangan VIP mengingat Tania juga ikut kali ini. Menjaga mood Tania yang sedang baik, karena mereka tahu perjuangan Tania selama hamil.
"Waalaikumsalam" Jawab mereka serempak.
"Ngeborong kalian? " Tanya Alesha saat melihat beberapa kantong belanjaan yang dibawa Zidan.
"Tas sama sepatu Richi doang, sama beberapa keperluan kita" Jawab Zakia mengambil duduk di samping Tania.
"Ini mau 4 bulan kan, Mbak? " Tanya Zakia sambil mengelus perut Tania yang mulai membuncit.
"Iya Kia"
"Jadi acara 4 bulanannya kapan? "
"Kenapa? "
"Takut bentrok, soalnya Kia harus ke luar negeri setelah acara Kia"
"Kalau Mbak gak salah hitung, acara 4 bulanan Mbak satu hari sebelum acara kamu Kia" Jawab Tania.
4 keluarga besar sepakat memundurkan sedikit acara resepsi Zakia dan Zidan. Mengingat mereka hanya memiliki waktu dua minggu, membuat para sesepuh di keluarga mereka melayangkan protes. Mereka ingin seluruh anggota keluarga nya berkumpul. Terutama untuk keluarga Wijaya dan Lawrence, karena Zakia harus dikenalkan secara resmi.
"Acara 7 bulanan Mbak Danis 2 hari sebelum acara kita, sayang" Ucap Zidan.
"Kok Kia gak tau? " Zakia menatap Zidan penuh tanya.
"Bang Zain baru bilang semalem ke Mas. Belum bilang sama Ayah sama Ibu juga, masih mau diskusi sama Mbak Danis. Soalnya kan mepet acara kita" Jelas Zidan.
"Gue gak salah denger kan ini? " Rina mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Kenape lu? " Tanya Tania masih asik dengan menyuapkan makanan ke mulutnya.
__ADS_1
"Zidan ngomong panjang amat, biasanya cuma hmm, ya, nggak. Paling banyak gue ngitung dia lima kata doang dari dulu" Jelas Rina menggebu-gebu.
"Sejak ada pawangnya, dia tau cara berinteraksi dengan benar" Seloroh Tania membuat yang lain tertawa.
Sedangkan Zakia menatap sang kakak yang tampak sedikit pucat. Tidak biasanya Alesha terlihat pucat.
"Kakak sehat? " Tiba-tiba saja Zakia bertanya membuat Alesha mengernyit bingung.
"Sehat kok, ini buktinya Kakak bisa kesini sendiri" Yash sedang di rumah sakit karena ada jadwal operasi. Membuat Alesha harus berangkat sendiri.
"Kakak aneh"
"Dua hari ini Kakak bawaannya melow terus Kia, Kakak juga males mau gerak" Alesha tampak menghela napas berat.
Xavier tertawa di ujung meja, menggelengkan kepalanya saat melihat tatapan sendu Alesha.
"Jadwal operasi Yash emang padet banget, dia bahkan sudah dua hari gak pulang. Lebih memilih istirahat di ruangannya. Lo bisa susul dia ke rumah sakit, Al. Lo istrinya, ngapain nahan kangen sih"
"Loh bukannya Yash punya jadwal untuk operasinya? " Tanya James saat mendengar penjelasan Xavier.
"Dokter yang biasa gantian sama Yash lagi ngisi seminar, jadi mau gak mau Yash yang turun tangan"
"Emangnya gak ada ijin? "
"Kalau emang ada, gue bakal datengin dokter pengganti dia buat bantu Yash. Ini gak ada keterangan apapun, ini aja gue baru tau dari lo" Jelas James.
"Nanti sore Kia jemput, Kia antar ke rumah sakit ketemu Kak Yash ya? " Alesha hanya menganggukkan kepalanya.
"Mas? " Zakia memanggil Zidan yang tampak sibuk dengan ponselnya.
"Mas nanti ada rapat, kamu gak papa sendiri? Atau minta anter sama supir deh, ya? "
"Kia bawa mobil sendiri aja nanti"
"Setelah ini kita mampir ke tempat undangan terus ke tempat Richi. Atau mau langsung ke tempat Richi aja, biar kamu ada waktu istirahat meskipun sebentar di rumah"
"Ke tempat undangannya besok aja ya" Zidan hanya mengangguk.
__ADS_1
"Kalian berdua gak pesen makanan? " Tanya Reta.
"Kia kenyang, Kia daritadi habis jajan di foodcourt. Mas mau pesen apa? " Zidan hanya menggelengkan kepalanya, matanya masih serius menatap ponselnya.
"Kalian kangen sama Rosa gak sih? " Tanya Rina. "Meskipun dia nyebelin dan pengen gue tenggelemin, tapi gak ada dia sepi ya"
"Ya gimana, meskipun dia biang masalah, mau gimanapun dia tetep sahabat kita" Tambah Alesha.
"Tapi gue salut sama itu anak, meskipun lagi diterpa masalah besar. Dia gak ada hubungi salah satu dari kita untuk minta bantuan kan? " Mereka semua mengangguk mendengar perkataan Romi
"Ya, gadis manja itu sudah berubah menjadi dewasa tampaknya meskipun dia didewasakan oleh keadaan, tapi gue harap dia baik-baik saja" Rian berucap dengan tulus.
"Sebenarnya bokap dia kena kasus apa sih, heran, bahkan media susah banget ngungkapnya. Padahal ini kan nyeret beberapa pebisnis besar juga" Dewa mulai membahas apa yang terjadi.
"Beberapa kabar yang gue dapet dari kantor sih, bokap Rosa terlibat pembunuhan berencana apa gimana gue juga gak tau terlalu jelas, karena beritanya juga simpang siur" Jelas Romi.
"Tapi gak ada pebisnis yang terbunuh atau kecelakaan dalam beberapa tahun ini kan? " Albert mulai tertarik pada kasus yang terjadi pada ayah sahabatnya itu.
"Mungkin dendam masa lalu, karena ini kasus lama yang dibuka kembali" Jawab Romi.
"Tapi gue salut sih yang buat laporan. Dia benar-benar menjaga privasi korban dan pelakunya, entah apa alasannya tapi gue beneran bangga sama yang ngelaporin. Dia beneran jaga privasi pelaku dan korban biar gak jadi konsumsi publik" Tambah Rian.
Karena memang tidak ada satu berita pun yang terlihat ketika ayah Rosa dibawa oleh pihak berwajib. Bahkan tidak ada perlawanan apapun, media juga berusaha mencari celah agar mendapat berita. Namun informasi tertutup begitu rapat seakan ada tabir tak kasat mata yang melindungi semuanya.
"Apapun yang terjadi kita doakan yang terbaik buat Mbak Rosa. Semoga dia dan keluarganya bisa menjalani ini semua dengan hati yang lapang agar dia juga bisa berkumpul dengan kita-kita lagi" Zakia menutup pembahasan mengenai Rosa dengan doa tulusnya.
"Kamu gak dendam atau rasa kecewa gitu sama Rosa, Kia? " Tanya Rina.
"Kenapa? " Zakia malah balik bertanya.
"Ya kita tahu bagaimana sikap dan perilaku Rosa sama kamu"
"Kia memaklumi itu, itu hanya bentuk rasa kecewa Mbak Rosa. Dia kecewa karena ternyata Mas Zidan berbohong padanya akan identitas sebenarnya. Dia kecewa karena ternyata Mas Zidan lepas dari genggaman nya, Mbak Rosa mencintai Mas Zidan, namun caranya saja yang salah" Jelas Zakia.
Mereka hanya bisa menatap takjub dengan apa yang Zakia lontarkan. Zakia paling bungsu diantara mereka, namun memiliki pemikiran paling dewasa, karena Zakia lebih memilih menggunakan logikanya sebelum melibatkan hatinya dalam setiap keputusan.
Kejadian masa lalu adalah pelajaran berharga untuk seorang Zakia. Dimana setiap wanita akan selalu mengedepankan hatinya dalam setiap keputusan, itu adalah alasan utama wanita selalu kecewa. Sama halnya dengan Zakia, yang memilih mempertahankan rumah tangganya saat bersama Tony, namun akhirnya takdir berkata lain.
__ADS_1
"Kalian gak mau balik kantor? Jam istirahat kalian bentar lagi selesai" Ucapan Zidan membuat mereka serentak melihat jam yang terpampang di ponsel mereka.
"Ya udah kita-kita balik duluan, kalian berdua kalau butuh bantuan atau apapun jangan sungkan buat hubungi kita" Zakia dan Zidan hanya mengangguk menanggapi permintaan Dewa.